Wednesday, April 25, 2012

Perang, Tawanan dan Merdeka dalam Manuskrip Aceh


Kata “perang, damai dan merdeka” di Aceh bukanlah kosakata baru. Ketiganya sudah melekat dalam perjalanan sejarah Aceh dan perkembangan peradabannya hingga sekarang ini. Pada saat ini, Aceh telah mencapai suatu kesepakatan perdamaian yang telah lama didambakan, melewati puluhan tahun peperangan, kekerasan, penindasan dan pelanggaran hak asasi manusia. Tumbuh dan mengikatnya trust and peace building semestinya tetap terpelihara dan terjaga hingga akhir zaman, terutama untuk mengubah “mitos” Aceh yang suka perang.
Mitologi tersebut sudah menjadi pengetahuan umum oleh masyarakat, perihal tersebut tidak terlepas dari sejarah Aceh, baik pada awal-awal proses Islamisasi di Aceh yang menjadi pintu gerbang Islam di Asia dan Nusantara. Hingga periode penjajahan Portugis, Belanda, Jepang dan pasca kemerdekaan Republik Indonesia. Negeri Aceh tetap berkobar dan berdarah. Terjadi penindasan, pengasingan, pembunuhan hingga penahanan atau tawanan. Banyak tokoh-tokoh  besar ulama dan umara’ Aceh di tawan, termasuk Sultan dan Panglima Perang.
Oleh karena itu, naskah karangan Abdurrahman al-Azhari al-Syahir masyhur dengan gelar “Al-Qabbani” di Aceh menjadi catatan penting, jika dianalisis isi naskah dengan konteks masyarakat atau bangsa Aceh ketika itu. Apabila ditinjau secara umum kandungan naskah merupakan fadhilat para syuhada Ahl Badar dengan bertawassul kepada mereka akan bebas dari tawanan (tahanan). Jika dilakukan kajian lebih mendalam, patut diberi tanda bahwa mereka bukan hanya sekedar menyalin ulang syair-syair syuhada Ahl Badar, akan tetapi juga keyakinan akan amalan tersebut, dengan cara tertentu dapat melepaskan mereka dari tawanan perang kolonial Belanda saat itu.

Post a Comment

Hermankhan Google+ Followers

Copyright © 2015 Herman Khan | Portal Manuskrip Aceh dan Malay | Distributed By Blogger Template | Designed By Blogger Templates
Scroll To Top