Tuesday, August 17, 2021

NEW



Manuskrip langka ini  tentang seruan memeriahkan kemerdekaan Indonesia pada tgl 17 Agustus 1951 yang diterbitkan dalam teks aksara Jawi oleh Kementerian Penerangan. Tepat 6 tahun setelah Indonesia merdeka. Kini naskah ini dikoleksi di Banda Aceh.

Berikut ini teks halaman pertama dari lembaran seruan perayaan Kemerdekaan Indonesia:

Seruan Kementerian Penerangan 

menyongsong hari 17 Agustus 1951 


Rakyat Indonesia!
Sebentar hari lagi kita bersama-sama merayakan hari 17 Agustus.

Kita rayakan hari 17 Agustus karena hari itu adalah hari yang memberikan kesempatan kepada Bangsa Indonesia untuk merebut kembali hak-haknya yang sekian abad lamanya telah tenggelam di dasar Samudra penjajahan 

Hari itu adalah harinya bangsa Indonesia mulai berhak lagi untuk membentuk pemerintahan sendiri, berhak mengatur bentuk masyarakat sendiri, berhak menentukan sikap sendiri terhadap segala soal. 

Malahan sebaliknya bangsa Indonesia tidak hanya berhak untuk berbuat itu semua, melainkan berkewajiban menentukan pemerintahan sendiri, berkewajiban mengatur bentuk masyarakat sendiri, berkewajiban menentukan sikap sendiri terhadap segala soal 

17 Agustus adalah hari bangsa Indonesia membela keselamatan diri dan miliknya 

Ini kali kita merayakan hari yang bersejarah itu untuk 6 kalinya



6 tahun lamanya kita telah berevolusi 
6 tahun revolusi yang ...
Tidak selalu lurus dan ...
Ada kalanya garis perjuangan...
Pasang naiknya dan ...
Kita.mengucap.... 
Kepulauan Indonesia....
Pengorbanan sudah ....
6 tahun... 
Itu ada suatu...


 

Manuskrip Kemerdekaan Indonesia

Read More

Tuesday, July 20, 2021



Pelayanan haji di masa Hindia Belanda di Nusantara mendapat sorotan tajam dari beragam pihak, termasuk pemerintahan Belanda di benua Eropa. Walaupun tidak semua tempat mendapat perlakuan yang sama, akan tetapi salah satunya apa yang terjadi di Sidoarjo menjadi perhatian beberapa delegasi. 

Kasus tersebut dapat dilihat pada tulisan Laffan "Sejarah Islam Nusantara" (2015: 198-199) menuliskan bahwa tentang sebuah surat yang dikirim kepada Snouck dari Singapura menyebutkan Sidoarjo dalam kaitannya dengan ketegangan yang meningkat di Riau. Setelah mengunjungi Tanjung Pinang pada Juni 1904, Haji ‘Abd al-Jabbar dari Sambas menyatakan “sangat terkejut” oleh perilaku pemerintah di sana:

"Belanda sangat buruk memperlakukan orang dan tidak menghargai Islam .... Seorang kepala kampung bernama Haji Muhammad Tayyib dipecat dari jabatannya karena menggelar maulid di rumahnya hingga pukul 2.00 dini hari, meskipun rumahnya berada di kampung Melayu yang sangat jauh dari permukiman Belanda. Sementara itu, orang-orang Belanda bisa melakukan apa pun yang mereka suka jika berpesta, baik di rumah maupun di ruang dansa, dengan musik band atau drum dan biola, menari dan membuat kebisingan lain sembari menyulut petasan hingga larut malam, padahal mereka dekat masjid tempat orang-orang sedang shalat. Yang lebih [mengejutkan] adalah mereka memaksa menanami kuburan orang-orang Muslim sehingga makam- makamnya hilang, yang dilakukan oleh para tahanan Belanda yang memerintah negeri ini. Semua muslim di negeri ini, dan negeri-negeri tetangga, sangat tersinggung. Mereka ingin mengeluh, tapi takut menghadapi kekuasaan. Mereka pun hanya mengeluh diam-diam. Jadilah itu potensi pemberontakan melawan pemerintah. Orang-orang selalu menyalahkan para Haji, mengatakan mereka menghasut orang. Oleh karena itu, saya menulis kepada Tuan dengan harapan Paduka Yang Mulia membantu mendiskusikan perilaku dan tindakan orang-orang Belanda yang tidak patut sehingga Orang-orang Besar Batavia bisa mengeluarkan kebijakan dan memberikan bimbingan yang lebih baik, agar tidak terjadi kerusuhan dan pemberontakan seperti yang baru saja terjadi di negeri Jawa, Sidoarjo. Karena Paduka Yang Mulia paling tahu tentang orang-orang Muslim, meskipun banyak yang tidak melaksanakan semua yang diwajibkan agama mereka". 


Perlakuan Belanda melarang acara-acara keagamaan seperti maulid, ceramah, takbiran, dan lain sebagainya. Tetapi di sisi lain, Belanda membolehkan dan membebaskan kaumnya sendiri berpesta meriah, ricuh dan membuat keributan di kampung-kampung orang Muslim. 

Aturan yang ketat kepada masyarakat muslim setempat, ditambah lagi tuduhan-tuduhan tidak beralasan yang dihubungkan dengan para tokoh-tokoh yang pulang dari haji yang kadang dianggap sebagai penghasut.

Perilaku buruk tersebut telah membuat banyak orang geram dan marah, terutama kawasan-kawasan utama Islam di Nusantara, termasuk Aceh. Kerajaan Aceh yang diindependen sebelum invansi Belanda 1873 telah mengirim beberapa kali laporan ke pihak Eropa dan Turki tentang tabiat buruk tersebut, khususnya juga tentang haji. 

Para jamaah haji dari Nusantara mendapat kesulitan dan beragam aturan yang sulit dipenuhi. Untuk mengetahui sejauh mana kesulitan tersebut dapat dilihat pada catatan visa haji ke Mekkah pada era Kolonial Hindia-Belanda

Pada catatan penting (peringatan) di dalam surat itu sebagaimana tercantum beberapa poin (a s/d d) yang harus dipatuhi oleh para calon jamaah haji dar  dalam gambar di bawah ini:



 





Pelayanan Haji Di Jawa Era Kolonial

Read More

Monday, July 19, 2021

Era kolonial Hindia-Belanda, tidak semua orang-orang di negeri ini dapat menunaikan ibadah haji, apalagi di daerah-daerah yang masih bergejolak. Beragam usaha perlawanan dilakukan rakyat di setiap wilayah, tetapi sebaliknya bermacam cara Belanda berusaha untuk mengendalikannya. Termasuk izin pergi ke Mekkah (Reispas naar Mekka) untuk menunaikan ibadah haji. 

Izin pergi haji atau semacam visa untuk dapat melewati perbatasan di Nusantara dan memasuki Mekkah menjadi wajib. Tanpa izin tersebut akan dapat banyak perkara, orang-orang tersebut yang pulang dari tanah Haram tersebut akan diawasi. 

Dua dokumen surat visa di bawah ini menunjukkan usaha-usaha Hindia-Belanda mengontrol masyarakat yang pergi dan pulang dari haji.





Dokumen pertama (gbr. 1 & 2) atas nama L. Mohd. Umar  berukuran 47 x 57 cm yang diterbitkan di Surabaya  tahun 1906. Ditulis dalam bahasa Belanda dan bahasa Jawa. Kini dikoleksi di Tropen Museum Belanda dengan nomor inventarisir TM-4353-1.

 


Sedangkan dokumen lainnya (gbr 3 & 4) diberikan izin kepada Moekamat Tamin bertanggal 27 Febr 1911 ditulis dalam aksara Latin berbahasa Belanda dan aksara Jawi berbahasa Indonesia (Melayu).  Dan kini menjadi koleksi digital The Khalili Collection.

Melihat bukti-bukti tersebut, tentu setiap daerah wilayah yang diduduki Hindia-Belanda memiliki surat izin atau visa haji. Namun, bagaimana proses mendapatkan surat tersebut, dan hal-hal lainnya yang berkaitan. 

Dan tentu, bagaimana pejuang-pejuang di setiap daerah yang ingin berhaji, bagaimana jalur menuju ke tanah yang diimpikan setiap muslim tersebut. 

Visa Haji ke Mekkah

Read More

Tuesday, April 20, 2021

 


Peunanggahan, itulah toponimi lama dari kata kampung yang dikenal sekarang Peulanggahan.

Tempat penobatannya dapat disaksikan dalam naskah Ma Bayyinas Salathin:

Dan pada 1230 [H] tahun alif pada 12 hari bulan Zulhijjah, hari Selasa,  waktu pukul Sepuluh pagi berkumpul orang Tiga Sagi dan segala rakyat Aceh ditabalkan Syarif Abdullah bin Sayyidina Husain bin Sayyidina Abdurrahman 'Aidid naik kerajaan dalam negeri Aceh Darussalam yang bernama tempat Peunanggahan  ialah yang bergelar Sultan Syarif Saiful Alam.




Sultan Syarif Saiful Alam Syah memiliki nama  aslinya adalah Sayyid Abdullah. Ia adalah putra Tuanku Sayyid Husain 'Aidid (biasanya dikenal sebagai Sayyid Husain), seorang pedagang kaya di Penang di lepas pantai barat Semenanjung Malaya, yang telah bekerjasama dengan Inggris sejak tahun 1786. 

Keluarga tersebut mengaku keturunan dari sultan Aceh Jamal ul -Alam Badr ul-Munir (1703-1726). Seorang putri sultan menikah dengan seorang sayyid dan diduga melahirkan Sayyid Husain.  Namun, silsilah itu kemudian dipertanyakan, karena ibu Sayyid Husain adalah orang lain selain sang putri. 

Keluarganya meninggalkan Aceh pada 1770-an dan menetap pertama kali di Kepulauan Riau dan kemudian Kuala Selangor sebelum pindah ke Penang. Sayyid Husain memiliki kepentingan komersial yang luas di Aceh. 

Dia mengumpulkan lada dari pantai barat dan sirih dari Pidie dan membawa opium dan tekstil sebagai gantinya.





Sultan Syarif Saiful Alam Naik Tahta Kerajaan Aceh Darussalam

Read More

Friday, March 12, 2021


Metode mengajar orang Aceh tempo doeloe dengan struktur syair  yang indah menunjukkan tingkat pemahaman dan struktur bahasa yang sangat bagus sekali.

Aléh (١ )hai aneuk tungkat abuwa.

Miseu huruf ب peuraho  laweung 

Nyoe ت hai adék meutiték dua.

Teuma huruf ث meuji_'ei linteung.


Nyoe ج ngon خ ح keunoeng that lagè.                                 

Tincu that ulè meuprut jih cateun.

Nyoe huruf ذ د meupingkoe-pingkoe.

Teuduk meuranjoe ban adoe aduen.


Miseu huruf ر parang cah duroe.

Miseu huruf ز parang cah uteun.

Di س deungon ش meu gigoe-gigoe.

Lagė gögajoe ngoen koh-koh papeun.


Di ص deungoen ض umpama sadeup.

Teumpat mat meugup teu eh teulinteung.

Nyoe ط deungoen ظ ureung raya prut.

Nibak gurè beut euntreuk tatumeung.


Di ع deungoen غ meutamse uleue.

Teungoh 'eu-'eu rab bineh ateung.

Dihuruf ق ف umpama jalô.

Atawa peurahô ka meupök kareung.


Teuma huruf ك hai bungong padé.

Babat ngon cah gle hana hi  peudeung.

Teuma huruf ل wahé boh hatě.

Ban mata kawé hanalé beuneung.


Meunyoe huruf م lagè glang tanoh.

Meunan keuh contoh di dalam jangeun.

Tahafai hai neuk malam ngon beungoh.

Mangat tatu'oh watę gop yue kheun.


Nyoe ن teulinteung meutalum titék.

Nyoe و hai adék meubungkôk udeung.

Meunyoe ھ èk leuk ban reuhueng bintéh.

Meunyoe لا rampagoe pineung.


Nyoe ء hai nyak  meuduroe kawat.

Nyoe ي saban that iték lague krueng.

Ngon وَالسّلام karangan tamat

Meunan geu surat le gurė zameun. 



Sumber: FB 


Syair Belajar Alif Ba Ta

Read More

Thursday, December 17, 2020


Nama Al-Asyi telah menunjukkan nisbat ke orang dari negeri Aceh. Namanya Abdullah, orang tuanya Ismail Al-Asyi. Tidak banyak data dan informasi biografi tokoh ini, namun karyanya berjudul Nuzhat al-Ikhwan fi Ta'lim al-Lughati wa Tafsir Ikhtilaf al-Lisani (disingkat Nuzhatul Ikhwan) telah membuat namanya dikenang hingga sampai saat ini.

Apalagi teks naskah Nuzhatul Ikhwan merupakan naskah pertama yang membahas tentang kamus dan panduan bahasa asing untuk sehari-hari. Ada empat bahasa yang disebutkan di dalamnya; Bahasa Arab, Bahasa Turki, Bahasa Melayu (Jawi), dan Bahasa Aceh.



Judul lengkap Nuzhatul Ikhwan sebagaimana disebut di atas diterjemahkan sendiri oleh pengarang; artinya tempat bersuka 2 hati segala saudara pada berlajaran empat bahasa, mula 2 bahasa Arab, dan Turki, dan Melayu, dan Aceh.


Kitab Nuzhatul Ikhwan ditulis dan diterjemah oleh Abdullah bin Ismail al-Asyi. Menurut Wan Shagir Abdullah, anak dan ayahnya ini meninggal dan dimakamkan di Mesir. Namun sejauh ini, belum diperoleh data lengkap tentang hal tersebut.


Namun sosok ayahnya, Ismail al-Asyi dapat dilihat pada situs Keluarga Mahasiswa Mesir (KMA); Syekh Ismail Al-Asyi: Ketua Mahasiswa Melayu Pertama di Mesir. Itu menunjukkan peranan besar sosok Ismail Al-Asyi pada masa ia berada di Mesir bagi pelajar dan intelektual Melayu di Mesir. 

Kitab-kitab yang diterbitkan dan dijual di toko buku Maktabah al-Halabi wa Awladuhu, di Mesir


Kitab Nuzhatul Ikhwan diterbitkan oleh Penerbit terkenal pada masanya "Mushtafa al-Bab al-Halabi wa awladuhu" di Mesir pada Rabiul Awal tahun 1349 H, bertepatan dengan September 1930 M. Sejauh ini, tidak diketahui ini cetakan ke berapa.


Kamus pegangan kosa kata dan ucapan sehari-hari dalam 4 bahasa dapat disebutkan sangat penting pada masa itu, mengingat para penuntut ilmu (thalibul 'ilmi) dari negeri Aceh dan Melayu Nusantara banyak di Mesir dan Haramain, di mana mereka berkomunasi dengan muslim dari negeri lain, terutama Arab dan Turki. 


Struktur pembahasannya dibagi pada 1 pembukaan, 6 pasal, 1 faidah, dan 1 khatimah (penutup).

Kamus Nuzhatul Ikhwan yang terdiri dari bahasa Arab, Turki, Melayu dan Aceh

 

Selanjutnya padanan kata dan susunan kalimat, juga dalam empat bahasa. 


Kitab ini masih relevan untuk digunakan pada masa sekarang dengan beberapa revisi dan penambahan kosa kata yang diperlukan pada saat ini.

Nuzhatul Ikhwan : Kamus Empat Bahasa Karya Abdullah bin Ismail Al-Asyi

Read More

Thursday, October 29, 2020

 اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِهٖ وَصَحْبِهٖ اَجْمَعِيْنَ

Allāhumma śalli 'alā Sayyidinā Muhammad wa 'ala ālihi wa śahbihi ajma'īn..

Seluruh alam bersuka cita atas kelahiran baginda Nabi Muhammad. Setiap kitab-kitab samawi sebelumnya telah menyebut akan datang Nabi dan Rasul terakhir untuk umat manusia. Selawat, pujian dan keteladanan mengalir tiada akhir.





Salah satu manuskrip terbaik yang dibaca di seluruh wilayah muslim adalah kitab "Dalail al-Khairat wa Syawariq al-Anwar fī dhikri aś-Śalāt 'alā an-Nabī al-Mukhtār " (Tanda2 kebaikan dan Cahaya Cemerlang dalam Berselawat kepada Nabi Pilihan) karangan Abu Abdillah Muhammad bin Sulaiman bin Abu Bakar al-Jazuli al-Samlali asal Maroko, meninggal tahun 1465 M. 



Keindahan beberapa manuskrip Dalailul Khairat sebagai persembahan terbaik kepada Baginda Nabi Muhammad. Iluminasi dan seni hias yang indah dihiasi tinta emas, kecantikan khat (kaligrafi) dikhususkan kepada kaligrafer handal guna menghasilkan karya yang indah.



Hingga ini, Dalailul Khairat merupakan salah satu kitab populer lintas zaman dan generasi yang digunakan mayoritas muslim di seluruh pelosok bumi untuk mengungkapkan kecintaan dan kerinduannya kepada Baginda Nabi, dengan harapan syafaat, kebaikan dan keberkahan darinya.


#MaulidNabiMuhammadSAW

#dalailulkhairat

Manuskrip Maulid Nabi: Dalail al-Khairat

Read More

Friday, October 02, 2020



Tak dapat dipungkiri, banyak artefak cagar budaya rusak dan hilang, baik diakibatkan bencana alam ataupun (lebih parah) bencana sosial manusia.

Dari tangan-tangan manusia yang tidak paham pentingnya warisan khazanah cara budaya tersebut ditambah lagi merusak makam-makam orang besar, alim ulama dan para sultan.

Museum Arkeologi di Istambul, Turki


Kasus perusakan akibat minimnya pengetahuan masyarakat terhadap makam-makam pusaka tidak dapat disalahkan sepenuhnya, perilaku mereka seperti menghancurkan batu nisan, mencabut, mengasah pisau atau perang, tempat jemuran, lahan sampah dan lainnya, akibat tidak ada pengetahuan dan sosialisasi pentingnya artefak yang tersisa saat ini.

Museum Arkologi di Mesir


Dua contoh museum arkeologi di dunia, The Grand Egyptian Museum di Mesir, dan Museum Arkeologi atau Istanbul Akeoloji Muzeleri di Turki telah menyedot perhatian dunia. Kedua museum tersebut bahkan mampu mendatangkan investasi besar-besaran dari berbagai negara.

Banda Aceh dengan SDM yang dimiliki, baik dari universitas maupun LSM di Aceh dengan disertai “good will” dari pemerintah Kota Banda Aceh akan terwujud dengan mudah dan berkelanjutan.

Dengan ratusan situs dan artefak berlimpah di Aceh, khususnya Banda Aceh, pertanyaan paling mendasar, mungkinkah Aceh memiliki museum arkeologi. !!

Baca juga: Pande Menuju Perlak 2 

Museum Arkeologi di Aceh, Mungkinkah!

Read More


KASUS
 cagar budaya di Gampong Pande dan sekitarnya, sepertinya akan terus terjadi kerusakan secara sistemik, tidak ada pada satu bagian saja. Akan tetapi telah terjadi banyak kerusakan, mulai dari pelestarian, perlindungan (konservasi), edukasi kepada publik, baik masyarakat ataupun dunia pendidikan, manajemen lintas sektoral, yang semuanya telah terjadi menahun, bukan hanya pada periode ini saja.

Oleh karena itu, Pemerintah Aceh dan khususnya Pemerintah Kota Banda Aceh harus memiliki sikap jelas terhadap UU Cagar Budaya Nomor 11 Tahun 2010, dan UU Pemajuan Kebudayaan nomor 5 Tahun 2017.

Tindak lanjut dari amanat negara di atas, setidaknya menjadi pelajaran penting bagi Pemerintah Kota Banda Aceh dan Pemerintah Aceh untuk menerbitkan Qanun Cagar Budaya, menetapkan wilayah-wilayah situs, sekaligus pengembangannya dalam pemajuan warisan benda.



Belajar dari Kerkhof

Sebanyak 2.200 orang serdadu dan non-militer Belanda (KNIL) pada perang Aceh dikuburkan di kompleks pemakaman Kerkhof yang memiliki lahan seluas 3,5 hektar. Lahan ini pada awalnya merupakan bagian halaman luar istana Kesultanan Aceh yang sekaligus dimakamkan keluarga Sultan Aceh pada abad ke-17 M.

Banyaknya pasukan dan pimpinan Belanda mati akibat perang, membuat lahan ini dicaplok untuk area kuburan Belanda. Saat Indonesia merdeka, seorang mantan serdadu Belanda menginisiasi perawatan dan perbaikan kuburan indatunya pada tahun 1970-an.

Awalnya dilakukan pengumpulan dana sosial dari generasi para veteran dan publik melalui Yayasan Dana Peutjut (Belanda: Stichting Peutjut Fonds). Akhirnya, pemerintah Belanda juga mengucurkan dana untuk perlindungan dan perawatan kuburan “pahlawan”nya.

Bahkan di tahun 2015, pihak Belanda melalui Kolonel CJ Kool, mantan Atase Militer Belanda ingin mengajukan kuburan Kerkhof menjadi warisan dunia di UNESCO. Lucunya, pihak Kota Banda Aceh tanpa rasa malu dengan semangat mengamini niat tersebut. Padahal, itu menjadi tamparan keras kepada pihak Aceh yang mengabaikan warisan cagar budaya yang telah berumur ratusan tahun dan lebih bernilai harganya.

Tentunya hanya generasi yang memiliki darah pejuang yang akan peduli terhadap indatunya, hanya darah “pejuang Aceh” yang mengalir di tubuhnya yang peduli kepada pendahulunya, dan hanya pemimpin atau orang yang memiliki jiwa kebangsaan yang memperhatikan nasib bangsanya.

Semestinya, kita belajar dari semangat dan kepedulian Belanda terhadap kuburan serdadunya walaupun jauh dari negerinya. Seharusnya kita malu karena makam-makam pahlawan, ulama dan pemimpin (sultan) di depan mata kita hancur dengan cara “sengaja”.



Pusat Arkeologi Asia Tenggara

Salah satu bagian yang dapat diwujudkan Kota Banda Aceh dengan warisan cagar budaya tersebut adalah menjadikan pusat atau museum arkeologi alam di Asia Tenggara. Nama ini tentu sudah dapat ditabal jika melihat sebaran artefak hasil karya pendahulu Aceh tidak hanya berada di Banda Aceh, akan tetapi menyebar hingga ke seberang laut, baik kepulauan di Indonesia ataupun negara-negara jiran.

Banyak negara-negara yang memiliki peradaban tinggi menjadikan cagar budaya menjadi objek wisata dan pusat keilmuan. Turki, Mesir, China, India, dan berbagai negara yang memiliki warisan peradaban cagar budaya menjadi contoh untuk ditiru. Kemajuan dan pemajuan kota serta negara tanpa mengabaikan peninggalan leluhurnya.

Oleh karena itu, daerah-daerah yang memiliki situs tertua dan langka dapat menjadi kawasan situs arkeologi untuk para peneliti, pelajar, pengunjung ataupun wisatawan umum. Dengan demikian, keberadaan situs-situs yang ada di ibukota Aceh juga dapat dipelihara dan dirawat dengan baik agar dapat mendatangkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) bagi Kota Banda Aceh.

Hal tersebut akan menambah daya tarik pengunjung ke Banda Aceh sekaligus membuka investasi dunia penelitian dan pendidikan, kepemudaan setempat, dan ekonomi masyarakat kecil di kawasan tersebut. Program itu juga sejalan dengan misi Kota Banda untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, pariwisata, dan kesejahteraan masyarakat



Museum Arkeologi

Tak dapat dipungkiri, banyak artefak cagar budaya rusak dan hilang, baik diakibatkan bencana alam ataupun (lebih parah) bencana sosial manusia.

Dari tangan-tangan manusia yang tidak paham pentingnya warisan khazanah cara budaya tersebut ditambah lagi merusak makam-makam orang besar, alim ulama dan para sultan.

Kasus perusakan akibat minimnya pengetahuan masyarakat terhadap makam-makam pusaka tidak dapat disalahkan sepenuhnya, perilaku mereka seperti menghancurkan batu nisan, mencabut, mengasah pisau atau perang, tempat jemuran, lahan sampah dan lainnya, akibat tidak ada pengetahuan dan sosialisasi pentingnya artefak yang tersisa saat ini.

Dua contoh museum arkeologi di dunia, The Grand Egyptian Museum di Mesir, dan Museum Arkeologi atau Istanbul Akeoloji Muzeleri di Turki telah menyedot perhatian dunia. Kedua museum tersebut bahkan mampu mendatangkan investasi besar-besaran dari berbagai negara.

Banda Aceh dengan SDM yang dimiliki, baik dari universitas maupun LSM di Aceh dengan disertai “good will” dari pemerintah Kota Banda Aceh akan terwujud dengan mudah dan berkelanjutan.



Pelestarian Bukan IPAL dan TPA

Proyek Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dan sebelumnya Tempat Pembuangan Akhir (TPA) telah merusak tatanan artefak cagar budaya. Kesimpulan itu telah disepakati bersama. Namun solusi dan tindak lanjut yang berbeda melahirkan arah kebijakan yang berbeda.

Cagar Budaya yang rusak dengan cara sengaja tidak dapat ditoleransi sesuai dengan Undang-undang negara.

Maka, pelestarian bukan sebatas penyelamatan yang bersifat penebusan kesalahan. Akan tetapi pelestarian adalah perlindungan dari kerusakan atau kemusnahan, pengawetan, konservasi, hingga menjadi pemanfaatan secara bijaksana.

Jika ada “janji-janji manis” bahwa akan diselamatkan setelah proyek IPAL dan proyek lainnya selesai, maka dapat dipastikan sebagian besar dan atau seluruh wilayah cagar budaya sudah punah. Jadi, apa yang ingin diselamatkan?

Sampai saat ini, sudah banyak sisa-sisa kerajaan Aceh Darussalam yang diceritakan megah justru telah punah, dan hanya tersisa artefak dan manuskrip. Sementara selebihnya hanya dapat ditemui dalam cerita hikayat.

Keraton kesultanan, benteng, makam-makam sultan, warisan intelektual, semua hampir tak terlihat dengan kasat mata bentuknya, apalagi untuk diurus oleh generasinya sendiri.

Jadi tidak tertutup kemungkinan jika kisah Pande juga akan sama menuju kisah Kerajaan Peureulak, yang disebut oleh beberapa ilmuwan sebagai pusat Islam pertama, juga akan punah warisan dan peninggalannya dengan cara yang berbeda.

Sources: https://sumaterapost.com/budaya/opini/2020/09/pande-menuju-perlak-2/

Pande Menuju Perlak (2)

Read More

Saturday, September 19, 2020


SEMINAR
 yang diselenggarakan pada 25-30 September 1980 di Aceh Timur menyimpulkan bahwa Islam pertama masuk ke Alam Melayu dan Indonesia dari Perlak (Peureulak), sekarang Aceh Timur.

Kesepakatan Islam pertama di Asia Tenggara tersebut berdasarkan beberapa sumber, terutama Risalah Idharul Haq fi Mamlakati Perlak wal Fasi dan beberapa tinggalan artefak arkeologis di kawasan tersebut.

Sayangnya, Risalah Idharul Haq tak pernah muncul dan terlanjur raib, demikian juga bukti-bukti artefak batu nisan peninggalan yang ada di kawasan tersebut rusak dan lenyap akibat kelalaian manusia.

Untuk memperkuat Islam pertama di Indonesia masih ada peninggalan artefak Islam lainnya di Aceh masih dapat dilihat di Pasai, Aceh Utara, walaupun tidak terawat seutuhnya.


Lama tak bersahut, tiba-tiba Presiden Indonesia Joko Widodo meresmikan titik nol Islam di Nusantara berada di Barus (2017). Tanpa didahului seminar ilmiah, kajian dan telaah tempat tersebut telah terdaftar sebagai titik awal Islam Nusantara.

Aceh pun berang, penelitian-penelitian digiatkan untuk memperkuat jejak Islam terawal masih di Aceh, bahkan dikemudian hari memperjelas bukti-bukti arkeologis di beberapa kawasan lainnya di Aceh seperti Lamuri (Lamreh) di Aceh Besar dan Gampong Pande sekitarnya di Kota Banda Aceh.

Kota Banda Aceh menjadi pusat kerajaan Islam di Asia Tenggara, menggantikan posisi sebelumnya kerajaan Malaka dan Kesultanan Pasai. Beberapa sumber seperti Eropa, Arab, Turki, dan Asia sendiri telah mencatat nama “Kesultanan Aceh Darussalam” yang berpusat di Bandar Aceh, yaitu di ujung pulau Sumatera titik koordinat negeri di bawah angin.



Beberapa sumber manuskrip menyebutkan bahwa pusat kerajaan Aceh berada di Kuta Raja (sekarang termasuk Gampong Pande, Jawa, Peulanggahan, dan Kuala) dan sekitarnya sebelum pindah ke kawasan Baiturrahman dan sekitarnya.

Penelitian terkini juga mengungkapkan bahwa pada saat Sultan Iskandar Muda (1607-1636), pusat pemerintahan berada di “Dalam” Kerajaan Aceh (sekarang Pendopo Gubernur). Sebaliknya anak kandungnya Sultanah Safiatuddin Syah yang bersuami Sultan Iskandar Tsani tinggal di kawasan Lamdingin dan Kuala Aceh. Mereka pindah ke Dalam Kesultanan Aceh setelah meninggal Sultan Iskandar Muda.

Sedangkan pesisir pantai Aceh seperti Gampong Pande, Peulanggahan, Kuala, Lamdingin dan lainnya tetap menjadi sentral perdagangan, perindustrian, dan pusat keagamaan.



Buktinya, kawasan ini telah banyak berdiri pusat-pusat ziwayah/zawiyah (pesantren) seperti Ziwayah Menara dipimpin Syekh Addurrauf Al-Fansuri, Zawiyah Meucat dipimpin oleh Teungku Pante Ulama Raya, ataupun pusat keagamaan Tgk Di Kandang, pusat keagamaan Tgk Di Anjong, dan lain sebagainya.

Selain pusat keagamaan, wilayah inti pesisir pantai Banda Aceh yang berada di kawasan Kecamatan Syiah Kuala dan Kuta Alam merupakan pusat keagamaan. Sedangkan di Kecamatan Kuta Raja, sesuai namanya kawasan para raja-raja kesultanan telah menjadi pusat pemerintahan kerajaan di Banda Aceh.

Maka, kawasan-kawasan tersebut menjadikan sebagai wilayah inti Banda Aceh. Terbukti di kawasan inilah disepakati didirikan tugu titik nol Kota Banda Aceh sebagai cikal bakal kerajaan Aceh Darussalam pada 22 April 1205 M (1 Ramadhan 601)

Sayangnya, tugu yang didirikan telah menjadi tempat idola kambing menginap dan bermain di sana. Lebih parahnya lagi, kawasan yang dideklarasikan asal mula Islam di kota Banda Aceh kini menjadi tempat pembuangan sampah dan menyusul menjadi tempat penampungan pengolahan limbah (IPAL).



Padahal, pemerintah Aceh dan khususnya Kota Banda Aceh harus bersyukur masih terselamatnya artefak-artefak batu nisan dari gempa dan tsunami 2004 lalu sebagai peninggalan bersejarah dan historis. Sayangnya selamat dari bencana alam, tetapi rusak di tangan-tangan manusia. Ini terbukti apa yang tertera dalam Alquran bahwa kerusakan di bumi dan laut ini diakibatkan oleh tangan manusia.

TPA dan IPAL adalah bukti nyata dan secara massif telah merusak cagar budaya dan aliran sungai Krueng Aceh. Penghilangan jejak-jejak Islam di Banda Aceh dilakukan dengan sadar. Akibatnya Pande akan menuju nasib yang sama seperti Perlak dengan cara yang berbeda, di mana bukti-bukti arkeologis dan sumber-sumber filologis sedang menuju pemusnahan.

Kasus perusakan kawasan situs di gampong Pande dan sekitarnya terjadi di tengah pelaksaanaan UU Cagar Budaya Nomor 11 Tahun 2010 dan UU Pemajuan Kebudayaan nomor 5 Tahun 2017.

Lebih jauh lagi, perusakan dan pengabaian terhadap artefak-artefak makam tokoh penting dalam Islam (alim ulama dan para sultan Aceh) telah melanggar ruh Islam dan bertentangan dengan slogan “gemilang dalam bingkai syariat Islam”. [bersambung]

Source: https://sumaterapost.com/headline/2020/09/pande-menuju-perlak-1/


Pande Menuju Perlak (1)

Read More

Wednesday, September 09, 2020

 


Jenderal Belanda bernama Johannes Benedictus van Heutsz Van Heutsz (1851-1924) menjadi juru penyelamat terhadap pemerintah kolonial Belanda yang mulai  kehilangan akal dengan kerugian sumberdaya manusia dan ekonomi akibat Perang Aceh. 

Di awal perang Van Heutsz hanya seorang letnan dua, pangkatnya melesat menjadi gubernur militer di Aceh pada 1898.


Untuk menaklukan Aceh, Van Heutsz berkonsultasi  dengan Christiaan Snouck Hurgronje (1857-1936) seorang kontroversi di Aceh atas statusnya. Ia menjadi penasihat kolonial bidang bahasa-bahasa Timur dan hukum Islam. 


Taktik van Heutsz dijalankan sesuai saran dari Snouck Hurgronje dengan taktik adu domba pemimpin Aceh, garda depan perlawanan gerilya rakyat Aceh, kaum ulama dan uleebalang (bangsawan).


Van Heutsz juga melakukan restrukturisasi pasukan Belanda dan pasukan Marsose, yang secara resmi diterjunkan ke Aceh pada tanggal 20 April tahun 1890 untuk menggantikan pasukan Belanda yang banyak mati di Aceh.


Taktik kejahatan perang juga dilakukan seperti bumi hangus setiap kampung dan wilayah yang melawan Belanda. Perang di Batee Iliek menjadi saksi kejahatan perangnya. 

Penyerbuan Belanda ke Batee Iliek

Aksi kejahatan lainnya adalah  pembantaian di beberapa wilayah di Aceh. 

Berkat aksinya di Aceh, pamor Van Heutsz kian naik sampai puncak menjadi gubernur jenderal Hindia Belanda (1904-1909).


Dia memperkenalkan sekolah dasar di desa-desa untuk pengajarannya diwajibkan menggunakan bahasa Indonesia (penggunaan aksara Latin dan dialek Melayu)


Tanggal 9 September 1904, ratu Belanda mengangkat van Heutsz menjadi gubernur jenderal, singgasana kolonial yang tertinggi di tanah Hindia Belanda. Perkembangan ini dengan sendirinya menarik perhatian untuk dapat dipahami serta sedikit mengenai latar belakang dari "Gayo-tocht" yang telah diselesaikan oleh van Daalen tersebut. (Said: 338)

Kuburan van Heutsz


Guna mengenang jasanya, maka pemerintahan Belanda memberikan beberapa kehormatan kepadanya:

  • Kapal Van Heutsz diluncurkan pada Maret 1926. Kapal penumpang ini melayari rute Hindia Belanda ke Singapura dan Cina dalam naungan Perusahaan Pelayaran Kerajaan Belanda (KPM). Selama Perang Dunia II, Van Heutsz disewakan kepada Kementrian Transportasi Perang Inggris terhitung sejak 25 Juni 1942, sebelum akhirnya berhenti beroperasi pada 1957. Dua tahun kemudian jadi besi tua.

  • Nama jalan tak jauh dari Monumen Van Heutsz di Menteng, terdapat jalan Van Heutsz Boulevaard. Ketika Belanda membangun kawasan elite Menteng pada 1920-1930, jalan raya lebar ini dibangun untuk memfasilitasi kawasan elite Menteng yang penuh dengan bangunan-bangunan mewah. Ketika Indonesia merdeka, Taman Cut Mutia dan Jalan Tengku Umar di dekatnya pada masa Belanda dinamakan Van Heutsz Boulevaard (Jalan Raya Van Heutsz) (kini Jalan Teuku Umar pahlawan dari Aceh)., terdapat dua buah boulevard (jalan raya lebar) lainnya, yakni Oranye Boulevard (kini Jalan Diponegoro) dan Nassau Boulevard (kini Jalan Imam Bonjol).

  • Resimen untuk citra militeristik Van Heutsz hidup kembali dalam nama resimen infantri tentara Kerajaan Belanda, Regiment van Heutsz, yang dibentuk pada 1 Juli 1950. Resimen yang berperan dalam aksi pertahanan udara ini dibentuk sebagai “pembawa tradisi KNIL (Tentara Kerajaan Hindia Belanda)” dan dipersiapkan sebagai partisipasi Belanda dalam Perang Korea (1950-1953)

  • Lagu mars militer pun merekam Nama Van Heutsz yang turut diabadikan, seperti tercantum dalam sebuah situs tentang Van Heutsz (vanheutsz.nl). Mars tersebut, yang dinamakan Mars Van Heutsz, diciptakan oleh A. Van Veluwen dan dipentaskan untuk kali pertama pada 1954. Mars ini menjadi mars milik Resimen Van Heutsz. Komposisi mars ini kemudian menginspirasi lagu yang populer di kalangan komunitas Indo-Belanda

  • Monumen van Heutsz di Taman Cut Mutia Menteng Jakarta Pusat. Kemudian tugu monumen dengan gambarnya setengah badan dihancurkan pada tahun 1960an. 


Resource:

- Historia.id

- republika.co.id

- Wikiwand

Van Heutsz, Penjahat Perang di Aceh

Read More

Friday, August 14, 2020

Bendera-bendera Aceh masih terpancang tinggi di setiap pelabuhan di Aceh sebelum tahun 1874, wilayah-wilayah di luar "Dalam" (Keraton Aceh) di Banda Aceh masih utuh milik Kesultanan dan masyarakat Aceh.

Pada eranya, bendera yang dalam bahasa Aceh disebut "alam" muncul bervariasi mengikuti kekuasaan dan karakteristik masing, di mana bendera-bendera tersebut bukanlah sebuah kedaulatan negara (kesultanan), akan tetapi panji (bendera) perang ataupun wilayah otonomi. 

Oleh karena itu, panji-panji rampasan perang oleh Belanda di Aceh sangat beragam. Demikian pula beberapa kesultanan yang berdaulat ke Kerajaan Aceh juga memiliki perbedaan benderanya dengan Aceh. 

Demikian saat perang melawan Belanda tahap 1 tahun 1873 dan tahap 2 tahun 1874 terus berkecamuk di Aceh, setiap sejengkal tanah di Aceh harus dibayar mahal dengan marwah dan nyawa.  
Sejak peperangan berlangsung, bendera-bendera panji perang terus dipertahankan di Aceh.

Demikian juga saat keterlibatan Teungku Chik di Tiro atau disebut juga Syekh Saman di Tiro Pidie, yang mengibarkan panji (bendera) jihad terhadap kolonial Belanda.

Bendera Teungku Chik di Tiro bukan sebuah bendera kedaulatan, tetapi adalah panji (bendera) perang, di mana bendera itu dikibarkan akan menunjukkan itu tanda wilayah kekuasaan Tgk. Chik Di Tiro, markas dan pasukannya.


Benderanya tersebut memiliki warna dasar merah dan abu-abu coklat muda. Walau tampak sepertinya merah dan putih, hanya saja warna putih sudah mulai memudar. Warna merah menunjukkan simbol keberanian, sebuah warna yang umum digunakan pada bendera-bendera lainnya periode tersebut di Aceh dan alam Melayu. Sedangkan warna putih dimaknai suci, bersih dan shafa (bening). 

Sedangkan di dalamnya terdapat dua gambar pedang saling berhadapan. Gambar pedang tersebut juga digunakan pada beberapa panji bendera di Aceh lainnya, di mana dimaknai sebagai peudeung Saidina Ali r.a. 


Di bawahnya didapati juga tulisan "انيله علامة (عا)لم تغكو دي تيروي " (Inilah alamat Alam Teungku Di Tiro) yang ditempel di atas kain warna abu-abu kecoklatan.

Sejauh ini belum diketahui di mana disimpan bendera Teungku Chik Di Tiro. Dulu saya menemukannya pada blog kleinnagelvoort.file.wordpress.com. Sayangnya, situs tersebut telah kadaluwarsa, sehingga tidak mengetahui dari mana asal dan dimana koleksi bendera tersebut.

Biografi Singkat Tgk. Chik Di Tiro

Teungku Muhammad Saman adalah putra dari Teungku Syekh Ubaidillah. Sedangkan ibunya bernama Siti Aisyah, putri Teungku Syekh Abdussalam Muda Tiro. 

Dengan semangat perang sabilnya, satu persatu benteng Belanda dapat direbut. Begitu pula wilayah-wilayah yang selama ini diduduki Belanda jatuh ke tangan pasukannya. 

Keberhasilannya terbesar pada bulan Mei tahun 1881, pasukan Tgk Di Tiro  dapat merebut benteng Belanda di Lam Baro, Aneuk Galong, Montasiek dan lain-lain. Belanda akhirnya terjepit di sekitar kota Banda Aceh dengan mempergunakan taktik lini konsentrasi (concentratie stelsel) yaitu membuat benteng yang mengelilingi wilayah yang masih dikuasainya.

Teungku Chik di Tiro adalah tokoh yang kembali menggairahkan Perang Aceh setelah menurunnya kegiatan penyerangan terhadap Belanda. Selama ia memimpin peperangan terjadi 4 kali pergantian gubernur Belanda yaitu:
  1. 1. Abraham Pruijs van der Hoeven (1881-1883)
  2. 2. Philip Franz Laging Tobias (1883-1884)
  3. 3. Henry Demmeni (1884-1886)
  4. 4. Henri Karel Frederik van Teijn (1886-1891)
Pada bulan Januari 1891 beliau menghembus nafas terakhir di benteng Aneuk Galong .



Sumber:
https://kleinnagelvoort.files.wordpress.com/2016/09/rv-1429-212.jpg?w=648

Bendera Teungku Chik Di Tiro

Read More

Thursday, August 06, 2020

Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) adakan peluncuran dan bedah tiga buku sekaligus, antaranya buku Smong Purba, Khutbah Jum’at Kebencanaan dan Jejak Bencana di Aceh. 

Acara peluncuran dan bedah buku diadakan pada hari Kamis 19 Desember 2019 di Aula BPBA Banda Aceh yang dipandu oleh Hermansyah, dosen filologi di Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry Banda Aceh sekaligus salah seorang penulis buku tersebut.

Acara yang langsung diresmikan oleh Kepala Pelaksana BPBA, Ir. Sunawardi, M. Si ini dalam sambutannya menginformasikan bahwa 70 (tujuh puluh) peserta yang hadiri kegiatan ini terdiri dari masyarakat umum dan para akademisi kampus.

“Penanganan bencana hanya 30% tugas BPBA dan BPBD namun upaya mitigasi merupakan tugas semua lapisan masyarakat dan ini yang harus kita maksimalkan” ungkap Sunawardi.
Beliau menambahkan bahwa BPBA tidak hanya menerbitkan 9 (sembilan) buku pada tahun 2019 ini BPBA juga masuki jalur sosialisasi dengan lagu-lagu dan jingle-jingle kebencanaan bahkan baru-baru ini film karya anak bangsa berjudul “Ajari Aku Aceh” banyak mendapatkan perhatian dari Pemerintah Nasional.

Registrasi Acara Peluncuran dan Bedah Buku (Foto: BPBA)

Turut pula menghadiri Asisten II Sekda Aceh sekaligus sebagai penulis buku Smong Purba dan Jejak Bencana di Aceh, H.T. Ahmad Dadek, SH. Beliau mengingatkan masyarakat dan akedemisi agar meningkatkan budaya menulis dan membaca khususnya dalam bidang kebencanaan demi memperkaya ilmu mitigasi bencana individu masing-masing keluarga dan masyarakat luas pada umumnya.

“Buku Smong Purba ini tidak hanya tentang smong saja tapi juga menceritakan sejarah tsunami di Aceh dengan nama-nama yang berbeda sebagai contoh bahwa masyarakat Simeulu berhasil menggunakan istilah ini dan mewariskan ke generasi selanjutnya” Jelas Dadek.

Beliau juga berharap dengan penerbitan buku-buku kebencanaan oleh BPBA ini dapat memperkaya literasi sejarah Aceh tentang bencana-bencana yang pernah terjadi sehingga korban akibat bencana tersebut dapat berkurang dengan mitigasi yang baik melalui informasi turun-menurun dari generasi ke generasi.

“Kita dianggap bernilai bukan dari apa yang kita bicarakan tapi dari karya apa yang kita hasilkan” tutup Dadek.

Bpk Kalak BPBA Aceh, Ir. Sunawardi, M.Si., dan para Narasumber Bpk T. Ahmad Dadek, Yarmen Dinamika, Ust. Masrul Aidi, dan moderator Bpk. Hermansyah (Foto: BPBA)

Pimpinan Dayah Babul Maghfirah, Ustaz Masrul Aidi yang juga turut berkontribusi dalam penulisan buku Khutbah Jum’at Kebencanaan mengemukakan alasan kenapa informasi kebencanaan disampaikan melalui kutbah jum’at , tidak lain dikerenakan keyakinan masyarakat Aceh yang lebih mempercayai apa yang agama mereka katakan.

“Pendekatan agama menjadi mitigasi bencana paling tepat yang digunakan oleh BPBA saat ini dan saya setuju itu” sebut Ust. Masrul.

Peserta yang hadir dalam acara Peluncuran dan Bedah Buku (Foto BPBA)

Lanjutnya untuk membuat persepsi yang bagus kepada jama’ah khutbah maka pesan kebencanaan harus dengan kesan dan cara yang tepat.

“Mudah-mudahan dengan kita sudah patuh kepada ajaran agama untuk menjaga alam maka kita juga akan dengan mudah mengikuti peraturan negara yang mengikatnya demi kesiapan menghadapi bencana” tutup Ustaz Masrul mengakhiri.

Source: BPBA
Baca juga: satuacehnews.com

Peluncuran dan Bedah Buku Khutbah Kebencanaan di Aceh

Read More

Copyright © 2015 Herman Khan | Portal Manuskrip Aceh dan Malay | Distributed By Blogger Template | Designed By Blogger Templates
Scroll To Top