Saturday, August 20, 2016

NEW
Terus terang, hingga saat ini saya masih penasaran dengan Kerajaan Pasai yang pernah berjaya dan  menguasai Melayu Nusantara sekaligus pelopor Islam di Nusantara. Kejayaan berabad-abad  tetapi tidak memiliki peninggalan kuat di bidang intelektual yang dapat dijadikan sumber-sumber saat ini. Syukurnya, selain peninggalan numismatik dan arkeologis nisan yang mengagumkan bersemanyam di sana. Dalam khazanah literatur tertulis, hanya Hikayat Raja-raja Pasai jadi sumber saat ini. 

Hikayat Raja-raja Pasai untuk pertama kali dikaji oleh Dr. Ed. Duraurier, guru dalam bahasa Melayu pada "L'Ecolades Legues Orientales" di Paris. Ia telah mengutip selengkapnya isi hikayat itu dalam huruf Arab (Jawi) sendiri, hanya didahului oleh sepanjang 31/2 halaman mukaddimah dan diterbitkan  oleh "Imprimerie Nationale Paris", 1849.

Sesudah Dulaurier, menyusul Aristide Marre, tahun 1874, dengan karyanya membuat salinan seluruh teks hikayat tersebut dalam bahawa Perancis, berjudul "Histoire des Reois de Pasay" dengan annotasi beberapa halaman sekaligus kutipan mukaddimah Dulaurier. Keduanya tidak membicarakan kapan dan di mana serta oleh siapa hikayat itu ditulis melainkan sama-sama menyebut saja bahwa naskah itu disalin dari pada naskah koleksi Raffless no. 67, sebagai yang diungkap oleh suatu katalogus van der Tuuk.

Selain kepada keduanya di atas, ikut serta ambil bagian J.P Mead karyanya diterbitkan di tahun 1916 ke dalam huruf Latin sekaligus  terjemahan dalam bahasa Inggris. Orientalis terkenal Sir Richard Winstedt tampil mempelopori pengupasan tentang kapan kiranya hikayat itu ditulis, sambil membuat ringkasan isinya, dikatakannya bahwa hikayat itu telah ditulis sesudah tahun 1350 dan tidak lebih lama dari tahun 1536. Dalam suatu monograf tentang kesusasteraan Melayu lama berjudul "A History of Classical Malay Literature" Sir Richard menegaskan lagi pendapat tersebut. 

Ternyata, menurut Mohammad Said (2: 69-72) tentang "Hikayat Raja-raja Pasai" sejauh ini ditemukan hanya salinan di Demak, dalam tulisannya bahwa  "sepanjang diketahui naskah hikayat ini belum pernah ditemukan di daerah Aceh sendiri, khususnya di Pasai. Keganjilannya yang menarik perhatian ialah bahwa hikayat ini hanya dikenal dari salinan naskahnya, itupun tidak ditemukan di tanah air, melainkan di London, Inggris".

Sambungnya demikian "Peristiwa demikian. Segera setelah Inggris berhasil merampas pulau Jawa dari Belanda di tahun 1811, lalu ditempatkanlah Raffles menjadi Letnan Gubernur di sana. Ia gemar mengumpul bahan-bahan sejarah terutama naskah-naskah. Dalam kesempatan berada di sana antara lain ia mengetahui ada sebuah naskah "Hikayat Raja-raja Pasai" di tangan seseorang Bupati di Jawa.

Mungkin karena tidak begitu tertarik untuk membeli dan memiliki naskah tersebut, atau mungkin pula karena si pemilik tidak bersedia menyerahkannya, maka ia hanya berhasil meminta salinkan saja naskah tersebut. Catatan si penyalin di kolofon naskah tersebut memberitahu naskah telah selesai disalin dari aslinya pada tanggal 21 Muharram 1230 H atau bertepatan dengan 2 Januari 1814. Di bawah sekali terdapat lagi catatan ditulis dengan aksara Jawa. Bunyinya sebagai yang telah disalin dan dihuruf-latinkan oleh Dr. A.H. Hill, adalah: "Sangking Kyai Suradimanggala, Bupati Sapuhpu negeri Demak negeri Bogor, warsa 1742".

Tidak lama setelah meninggalkan pulau Jawa, Raffles pindah ke Singapura, seterusnya ke Bengkulen, sesudah itu kembali ke London dan meninggal di sana. Pada tanggal 16 Januari 1830 Nyonya Sophia, janda Raffles menyerahkan salinan naskah ini kepada Lembaga Royal Asiatic Society, London, untuk disimpan dan dimanfaatkan demi penelitian ilmiah.

Saya bersyukur atas informasi Annabel Teh Gallop, naskah yang disalin Raffles sekarang masih disimpan dalam Royal Asiatic Society; Sedangkan naskah Hikayat Raja Pasai di British Library merupakan naskah lain sekali, yang baru ditemui tahun 1986, tetapi ternyata disalin di Jawa pula, di Semarang, tetapi bukan atas permintaan orang asing, melainkan orang Makasar, pada tahun 1797. Kini naskah itu dapat diakses di British Library (Or. 14350).



Apa yang disebutkan oleh Mohammad Said bahwa belum  ditemukannya naskah "Hikayat Raja-Raja Pasai" selain dari catatan Raffles masih menjadi misteri. Bahwa kemudian saya menemukan "Hikayat Raja-Raja Pasai" sesuai penuturan Tgk Ibrahim PMTOH di Aceh Utara. Setidaknya ini menjawab "setengah" penasaran kisah Kesultanan Pasai yang kian hari tergerus dilupakan. Penemuan  naskah "Hikayat Raja-Raja Pasai" lainnya versi bahasa Aceh beraksara Jawo (Jawi) di Aceh Utara koleksi Tgk Ibrahim PMTOH, hasil copian yang selamat pasca gempa tsunami 2004. Kitabnya ini pun sudah terendam air lumpur, beberapa bagian rusak parah, dan sulit terbaca.

Maka jika dibandingkan kedua naskah Hikayat Raja-Raja Pasai koleksi di Inggris berbahasa Melayu ditulis dalam bentuk prosa, sedangkan Hikayat Raja-Raja Pasai koleksi Aceh Utara berbahasa Aceh yang ditulis dalam bentuk puisi dibagi dua kolom. Bahkan dapat diasumsikan bahwa naskah Hikayat Raja-Raja Pasai (Aceh,  dan Inggris) memiliki kesamaan judul dan ketokohan salah satunya Ahmad, namun belum tentu memiliki kesamaan isinya.


Perlu penelitian dan bandingan alur isi naskah untuk menjawabnya, penasaran saya belum terjawab dan menyisakan beragam pertanyaan, terkait hubungan kedua naskah ini (koleksi Aceh dan koleksi Inggris), apakah memiliki kesamaan isi, alur cerita, tokoh. Mungkin butuh waktu dan para peneliti lainnya yang bersedia untuk meneliti. Selain itu, apa yang disebut Mohammad Said belum ditemukannya Hikayat Raja-raja Aceh di Aceh sendiri, seakan-akan menjadi asing di negerinya sendiri. []


Futher reading:
Annabel Teh Gallop, Hikayat Raja Pasai: the oldest Malay history. 24 October 2013.
A.H. Hill, ‘Hikayat Raja-raja Pasai: a revised romanised version of Raffles MS 67, together with an English translation’, Journal of the Malayan Branch of the Royal Asiatic Society, 1960, 33 (2): [1]-215. 
E.U. Kratz, ‘Hikayat Raja Pasai: a second manuscript’, Journal of the Malaysian Branch of the Royal Asiatic Society, 1989, 62 (1):1-10. 
Russell Jones, (ed.), Hikayat Raja Pasai (Kuala Lumpur: Yayasan Karyawan and Fajar Bakti, 1999).
Hermansyah, ‘Terkuburnya naskah Hikayat Raja Pasai’, 2 Feb 2013 [blogpost]



Naskah Hikayat Raja Pasai; Antara Aceh dan Inggris

Read More

Tuesday, August 16, 2016


Musim panas kali ini hadir di Denmark sedikit berbeda, lebih singkat dari biasanya. Namun, masyarakat Denmark sudah mengantisipasinya. Salah satunya mengadakan acara musim panas lebih awal dan dimanfaatkan oleh mereka dengan sebaiknya, dengan beragam kegiatan yang diadakan di berbagai tempat, seperti di tengah kota, di taman, ataupun tempat-tempat yang disediakan. Demikian acaranya juga sangat beragam, mulai dari olah raga, pameran, kegiatan sosial hingga tampilan seni dan budaya. 

Siang itu di Kota Aalborg, salah satu kegiatan yang diadakan pada akhir minggu bulan Juli ini adalah keanekaragaman seni dan budaya “Mangfo Idighedsdag 2016” atas kerjasama 6 organisasi internasional, antara lain Red Cross, Red Barnet Ungdom, Ungdommens Red Cross, Asylforum (Forum Suaka Politik), DFUNK, Danske Handicaporganisationer (Organisasi untuk orang cacat dan difabilitas), dan Network Dobbeltminoriteter (Gabungan organisasi minoritas) yang terdiri dari 9 organisasi, salah satunya  World Acehnese Association (WAA)

Kegiatan seni dan sosial tersebut dimanfaatkan sebaiknya oleh masyarakat Aceh di Denmark yang tergabung dalam WAA di Denmark, salah satunya yang ikut ambil bagian adalah grup Putro Aceh untuk menampilkan tarian-tarian Aceh. Bagi masyarakat Aceh di sana dan lembaga-lembaga sosial di Eropa mengenal WAA sebagai salah satu organisasi yang sudah lama eksis dalam melestarikan tradisi, budaya dan isu-isu sosial Aceh, dan kini diketuai oleh Nek Hasan Basri.   

Acara keanekaragaman kali ini yang diikuti oleh WAA dan Putro Aceh dengan menampilkan tarian Ranup Lampuan dan Rateb Meuseukat. Dua tarian yang cukup mashyur seantero Nusantara. Tarian tersebut ditampilkan oleh anak-anak Aceh di Denmark yang dilatih oleh Nurmala dapat memukau para penonton di kota Aalborg. Sebelum tampil acara tarian yang pertama, tarian Ranup Lampuan, ketua WAA menyampaikan sekilas informasi tentang Aceh dan komunitas Aceh di Denmark kepada penonton yang hadir.  

Sebagai pembukaan, tarian Ranup Lampuan sebagai simbol penyambutan “welcome to Aceh” yang ditampilkan oleh anak-anak berumur antara 7-10 tahun. Mereka cukup lincah untuk ukuran anak-anak Aceh yang tidak pernah mengenyam pendidikan tari ataupun tidak pernah menikmati “keunikan” di Aceh.  

Pada sesi selanjutnya, anak-anak Aceh di Denmark kembali tampil dengan jumlah lebih banyak untuk menampilkan tarian Rateb Meuseukat. Sebuah tarian heroik Aceh yang membutuhkan kecekatan, kecepatan dan konsentrasi penuh serta kekompakan tim. Lagi-lagi, bagi saya mereka sudah cukup baik penampilannya, jika tidak ingin kita sebut profesional.


Para penonton yang hadir berusia muda dan tua di arena acara cukup menikmati penampilan anak-anak Aceh, bahkan sebagian besar adalah anak-anak bule berambut pirang ikut antusias mengikuti gerak tarian Aceh di halaman panggung. Mereka ikut bergoyang, atraksi tangan dan kepala mengikuti tarian Rateb Meuseukat sebagaimana sang penari di atas panggung.

Ajang acara tahunan kali ini diadakan di pusat taman kota Aalborg centrum, tepatnya di taman Tivoli  Karolinelund. Sejak masuk pintu taman tersebut, para pengunjung sudah disuguhkan dengan peta taman dan papan informasi dalam bahasa Denmark. Dalam catatannya, taman ini dibangun tahun 1874, dan diresmikan untuk umum sebagai taman kota tanggal 20 April 1947, kemudian dipercantik pada tahun 2007 dan 2010. Bagi saya, dan bagi pengunjung yang datang akan cukup mendapat informasi dan gambar sejarah taman Karolinelund. 

Ternyata, informasi yang saya peroleh dari ketua WAA, kerjasama semacam ini sudah terjalin cukup lama antara WAA dan Putro Aceh dengan LSM di Denmark. Mereka terlibat dalam beragam kegiatan positif, terutama sosial budaya, seni dan promosi. Bagi masyarakat Aceh di Denmark, ikut serta acara seperti ini bukan hanya merawat seni budaya Aceh kepada anak cucu mereka di Denmark, tetapi juga mempromosikan Aceh dan parawisatanya.

Bagi saya ini merupakan nilai lebih dari itu, bukan sebatas pameran kesenian atau promosi parawisata, tetapi juga betapa sungguh-sungguh masyarakat Aceh di Denmark menjaga identitas Aceh dan keacehan serta mewariskan adat budaya kepada anak cucunya yang menetap di Eropa. []


Source: www. portalsatu.com (16 Agustus 2016)

Akhir Musim Panas, Tarian Aceh Hibur Warga Denmark

Read More

Friday, July 29, 2016

Sekolah itu bernama Madrasah Ahmadiyah Islamiah. Tak perlu khawatir dengan kata “Ahmadiyah” yang tersemat pada nama sekolah ini. Sekolah tingkat rendah ini digagas oleh seorang ulama Melayu masa lalu, Ahmad bin Haji Usman. Itu sebab, sekolah ini diberi nama Ahmadiyah, yang diambil dari nama penggagasnya.

Oleh karena itu, kata “Ahmadiyah” pada sekolah ini sama sekali tak ada sangkut paut dengan kelompok Mirza Ghulam Ahmad. Letak sekolah ini di sebuah kampung bernama Yingo—ada juga yang menyebutnya Jeringo–Provinsi Narathiwat, selatan Thailand. Orang-orang selatan Thailand mengenal sekolah ini dengan nama Sala Anak Ayam.

Tidak ada ciri khusus yang membedakan sekolah ini dengan sekolah-sekolah umumnya di Indonesia. Ruang belajar hanya berupa bilik-bilik sederhana dari papan. Hanya saja, di sini ada asrama bagi murid-murid sekolah. Kesannya, seperti pondok pesantren. Mungkin karena itu, mereka menyebutnya dengan madrasah.

“Sekolah ini dulunya memang pondok (bahasa Aceh: dayah). Baru resmi menjadi sekolah dan mendapat pengakuan kerajaan Thailand sekitar 60 tahun lalu,” ujar Ustaz Lutfee H. Samae, pimpinan Madrasah Ahmadiyah Islamiah Salam Anak Ayam.

Hal yang sangat menarik, di sekolah ini tersimpan ratusan manuskrip kuno peninggalan masa lalu. Manuskrip-manuskrip itu sebagian besar masih berupa tulisan tangan. Naskah tempoe doeloe ini berasal dari berbagai negara. Ada dari Yaman, Arab Saudi, Turky, Mesir, Mindanao (Filipina), dan sebagian besar dari Indonesia.

Usia naskah-naskah itu berkisar 250-470 tahun. Pengakuan Lutfee, dari semua manuskrip yang ada, tiga puluh persen berasal dari Aceh. Selebihnya dari berbagai daerah lain.

Sontak saja saya terkejut sekaligus takjub. Pena di tangan kanan yang saya gunakan untuk mencatat hasil interview bersama Ustaz Lutfee sempat jatuh, begitu mendengar 30 persen naskah kuno di sekolah ini berasal dari Aceh. Selama ini, saya hanya mengetahui bahwa manuskrip tentang Aceh hanyak banyak terdapat di perpustakaan Belanda.

Nyatanya, “sejarah Aceh” juga banyak tersimpan di selatan Thailand ini. Tentu saja pikiran saya langsung melayang pada sejarah masa silam, tentang sesosok ulama dari Pasai. Syeh Said, begitu orang-orang Patani menyebut namanya. Syeh asal Pasai, Aceh, itu dianggap sebagai pembawa Islam ke selatan Thailand. Hal ini termaktub dalam buku sejarah Patani.

Kembali pada manuskrip kuno di Sala Anak Ayam. Bukan hanya naskah dari Aceh, beberapa manuskrip Jawa juga masih tersimpan di sekolah ini. Naskah-naskah itu masih ditulis dalam bahasa Melayu Jawi langgam lama. Beberapa di antaranya ada yang dilengkapi corak wayang golek. Ada juga kesan motif pinto Aceh.

Lutfee sendiri mengaku tidak semua isi naskah ia pahami. Apalagi, kata dia, ada yang masih aksara palawi, ada yang kentara dialek Jawa, dialek Aceh, dan mungkin dialek bahasa lain di Nusantara. Sebagai orang yang dipercaya memimpin sekolah tersebut, Lutfee hanya berusaha menjaga semua manuskrip itu dengan rapi dan aman.

“Sudah lama naskah ini tersimpan di gudang tanpa disentuh. Alhamdulilah Januari 2014 sekolah kami dapat membuat Pameran Kesenian Islam (PKI). Untuk pertama kalinya, naskah-naskah ini kami keluarkan dalam pameran,” tuturnya.

Sejak pameran sederhana Januari 2014 itu, rencananya, sekolah ini akan melakukan kegiatan yang sama setiap tahun. Tujuannya, agar naskah tempoe doeloe ini dikenal oleh setiap generasi. Lutfee merasa tidak berkepentingan apa pun terhadap naskah itu, kecuali menjaganya sebagai bentuk warisan terdahulu.


“Ini Pameran Kesenian Islam I (pertama) kami adakan. Mudah-mudahan kegiatan seperti ini akan berlanjut tiap tahun sehingga generasi penerus tahu bahwa naskah-naskah ini punya nilai sejarah yang tinggi,” ujar Lutfee


Melusuri naskah-naskah yang diletakkan di lemari kaca itu. Beberapa kitab tertulis dalam aksara Jawi dengan ejaan Melayu. Namun, ada juga kitab-kitab yang saya tak kuasa membacanya, karena aksara “Arab-Jawi” yang belum dibubuhi baris dan mungkin saja bukan ejaan Melayu.

Di antara naskah-naskah yang dipamerankan oleh Madrasah Ahmadiyah itu, terdapat kitab al-shirat al-mustaqim (shirathalmustaqim). Menurut sebagian ulama, ini adalah kitab fiqh berbahasa Melayu yang pertama sekali dikarang di Nusantara. Kitab ini merupakan hasil goresan tangan Nuruddin ar-Raniry, ulama asal India yang lama menetap di Aceh.

Selain shirathalmustaqim, terdapat pula manuskrip tentang sejarah penulisan Alquran, yang juga karangan Nuruddin. Selain itu, di sekolah ini juga tersimpan sejumlah karangan Hamzah Fansuri, sastrawan Aceh yang menjadi ikon sastra tulis Melayu.

Seperti saya jelaskan sebelumnya, kitab-kitab yang terdapat di sekolah ini sebagian besar memang dari Aceh. “30 persen manuskrip di sini berasal dari Aceh, selebihnya dari berbagai daerah lain di dunia,” kata pimpinan Madrasah Ahmadiyah Islamiah, Ustaz Lutfee H. Samae.

Selain dalam bahasa Jawi (Jawoe), naskah-naskah kuno di sana juga ditulis dalam bahasa Arab. Ejaan yang digunakan masih ejaan lama. Terkait kertas dan alat tulis, kebanyakan kertas dari Eropa. Alat tulis yang digunakan untuk menulis Alquran dan manuskrip kuno itu masih memanfaatkan alam sekitar. Tintanya diambil dari campuran teras kayu leban, haram kayu, getah damar (tusam) dan getah terea, lalu dicampur sedikit dengan dawat India atau Cina. Adapun penanya diambil dari pohon kabung, buluh (bambu), bulu burung merak, dan lidi landak. Warna hiasan tintanya dari buah-buahan dan bunga-bunga, itu sebab beberapa isi dalam naskah kuno ini ada yang berwarna cerah.

Lutfee kemudian mengajak saya keliling arena pameran sederhana itu. Didamingi beberapa mahasiswa Fatoni University, saya mengamati kitab-kitab lama itu. Saya sempat tertegun dan terkesima pada mushaf Surat al-Kahfi yang mempunyai lima cahaya lukisan air emas. Sampul Alquran ini dari kulit hewan. Berdasarkan keterangan tertulis di bawahnya, usianya mushaf ini sekitar 300 tahun lebih.

Saya pindah ke sebuah kitab yang terdapat dalam lemari kaca. Manuskrip itu diletakkan di atas kulit kayu, dibalut dengan kain putih. Di sana tertera keterangan, “Alquran tulis tangan asal Aceh,” yang usianya hampir 300 tahun silam.

“Zaman dulu, banyak orang Aceh yang sampai ke Patani. Ada yang datang belajar, ada juga yang datang mengajar. Boleh jadi, kitab-kitab ini hasil peninggalan mereka yang dulu datang kemari,” tutur Lutfee.

Lebih lanjut, Lutfee mengatakan ada orang Aceh yang bukan sekadar mengajar dan mendirikan pondok pesantren di sini, tapi juga mendirikan masjid yang kemudian dianggap sebagai masjid bersejarah.

“Saya pernah dengar ada Wan Husen Sadawi yang pernah ke Aceh lalu sampai ke sini. Ia mendirikan sebuah masjid yang seluruh bahannya dari kayu. Masjid itu dinamakan Masjid Teluk Manok. Itu salah satu masjid bersejarah di selatan Thailand ini, selain Masjid Kersik,” paparnya.

Upaya Penyelamatan

Menindaklanjuti penyelematan manuskrip kuno itu yang perlahan tampak usang, pihak Madrasah Ahmadiyah Islamiah sudah berencana akan menyalin seluruh naskah tersebut dalam bentuk digital. Kata pimpinan sekolah itu, niat seperti ini sebenarnya sudah ada sejak beberapa tahun lalu, tapi terkendala dana.

“Sekarang sudah ada pihak yang membantu sekolah kami. InsyaAllah kami akan bekerja sama dengan Kementerian Kebudayaan Thailand dan Negara Turky untuk menyalin naskah-naskah ini ke dalam bentuk digital,” ucapnya.

Jika sudah ada dalam bentuk digital, Lutfee mengatakan, semua orang di penjuru dunia tidak perlu repot-repot sampai ke Thailand untuk mencari naskah-naskah lama ini. Menurutnya, hal ini mereka lakukan demi menjaga keberlangsungan keselamatan manuskrip-manuskrip tersebut.

Lutfee kemudian memperlihatkan deluwang, salah satu kertas yang digunakan oleh ulama Melayu masa lalu untuk menulis manuskrip dan mushaf Alquran. Menurut sejarah, deluwang muncul sekitar tahun 1400 Masehi. Di Indonesia, deluwang diolah dari kulit pohon waru yang memiliki serat kuat pada kulitnya. Ulama tempoe doeloe menulis di atas deluwang karena kerta tersebut dianggap awet.

Sesaat langkah kaki saya terhenti pada sebuah almari kecil. Dalam almari itu terdapat sebuah mushaf mungil ukuran 17 x 12 sentimeter. Tebalnya 2 sentimeter. Diberi keterangan bahwa mushaf ini ditulis pada tahun 987 Hijriyah oleh Al-Marfu Maula Muhamamd al-Bassari. Artinya, usia mushaf ini nyaris empat setengah abad. Namun, mushaf tersebut masih tampak awet.

Jika ditilik dari usia naskah-naskah di sini, agaknya benar yang diutarakan Lutfee, madrasah ini sudah ada sejak zaman dahulu kala, sejak sekolah ini masih berupa pondok pesantren tradisional. Pondok ini berubah menjadi sebuah sekolah yang diakui oleh Kerjaan Thailand sekitar 60-an tahun lalu.

Di sekolah inilah banyak disimpan berbagai manuskrip kuno yang sebagian besar dari Aceh. Kiranya, Pemerintah Indonesia penting mengambil peranan di sekolah ini, menyelamatkan sebagian naskah dari Indonesia. Demikian halnya pihak Pemerintah Aceh, harus ada itikad penelusuran dan penyelamatan naskah-naskah asal Aceh.

Badan Arsip dan Perpustakaan Provinsi Aceh yang memiliki bidang pengarsipan mestinya sampai ke sekolah ini, di Jeringa, Provinsi Narathiwat, selatan Thailand. Bukankah Badan Arsip punya bidang yang khusus ganti rugi naskah? Ini kesempatan, sebelum didigitalkan oleh Pemerintah Turki.


Tulisan ini dari Herman. RN (pernah mengajar di Fatoni University)
dipublis di
- http://pikiranmerdeka.co/2015/10/09/menelusuri-manuskrip-kuno-aceh-di-thailand-bag-1-2/
- http://pikiranmerdeka.co/2015/10/10/menelusuri-manuskrip-kuno-aceh-di-thailand-bag-2tamat/



Manuskrip Aceh di Sala Anak Ayam Thailand

Read More

Thursday, July 14, 2016

Ini menjadi edukasi awal belajar bahasa Aceh, yang agak sedikit sulit dan tanpa struktur (?) dalam penulisannya. Sejauh ini pun di Aceh belum ada panduan belajar baca tulis bahasa Aceh. Selain itu, penulisan Arab-Jawi dalam bahasa Aceh ini tidak lagi diajarkan di sekolah-sekolah Aceh, walaupun ceritanya ingin mengembalikan sejarah, identitas, marwah dan sebagainya. Walhasil banyak generasi buta akan bahasa Aceh, terutama penulisannya. 
Dan tentu ini akan bermanfaat bagi peneliti dan pembaca di luar Aceh yang berminat tentang "ke-Aceh-an". Bagi penulis sendiri juga ini merupakan ajang belajar membaca bahasa tulisan Aceh, sebab selama ini tidak ada di kurikulum sekolah, mulai dari dasar hingga perguruan tinggi.

Berikut ini dasar bacaannya, nomor ganjil (baris pertama) bahasa Melayu, dan nomor genap (baris kedua) bahasa Aceh.

1) Bab         adapun        tetapi         jikalau                jika              maka        itu           yaitu   
2) Pinto       napeu          bit peu      beukeusut         beukeu       teuma       nyan       yang nyan



1) Ini           ia                 jua            kemudian           dahulu          pada            daripada 
2) Nyo        nyan            jeh (?)        dudoe                 dilee              bak            nibak


Salah satu naskah koleksi Museum Aceh, Banda Aceh terdapat dua  halaman naskah tentang belajar bahasa Jawi (Melayu) - Aceh, tentu dengan penulisan (aksara) Arab-Jawi. Naskah ini merupakan kumpulan karangan, nomor Inv. 07.185. Beberapa halamannya sudah belobang dan rusak beberapa bagian dan bekas lumpur, sepertinya pernah terendam air atau lumpur selama berada di tangan masyarakat

Akan berlanjut pada sesi berikutnya.. 







Belajar Baca Tulis Bahasa Aceh (1)

Read More

Friday, July 08, 2016


Berita di Serambi Indonesia tentang musibah  kebakaran rumah di Gampong Pante Aree Garot, Kec. Delima, Kab. Pidie pada tanggal 18 April 2016, pukul 22.20 WIB silam bukan hanya menghanguskan tiga rumah dan harta benda pemilik yang digunakan sehari-hari. Tetapi juga menghanguskan manuskrip-manuskrip yang tersimpan di rumah tersebut.

Alkisah, kejadian kebakaran rumah masyarakat tersebut di malam hari tidak dapat menyelamatkan berang-barang mereka lebih banyak, termasuk manuskrip-manuskrip tersebut sebagai pusaka warisan indatu yang disimpan di dalam rumah. Sehingga semua pusaka penting -baik milik pribadi ataupun warisan- hangus terbakar.

Selama ini, masyarakat menyimpan manuskrip berharga tersebut ala kadarnya; di rak buku, lemari kayu, atas plafon rumah, bahkan di tempat yang kurang layak. Sejauh ini, tidak ada pengamanan yang baik bila terjadi musibah seperti kebakaran ataupun banjir. Hal ini dapat dimaklumi karena, selain tanpa ada dana untuk penyimpanan yang layak, masyarakat juga kurang memahami bagaimana memperlakukan dan menyelamatkan naskah-naskah tersebut. Mayoritas mereka hanya mewarisi dari keluarga sebelumnya.


Lembaran-lembaran naskah yang terbakar dikumpulkan dalam ember hitam


Gambar di atas merupakan lembaran-lembaran mushaf al-Qur'an yang telah hangus terbakar saya peroleh dari sdr. Irfan M Nur kiriman dari sdri. Qurratun Ainiah. Manuskrip  tutong (naskah terbakar) ini saya istilahkan setelah manuskrip-manuskrip itu terbakar sebagian besarnya yang tidak dapat dibaca lagi, dan tersisa sebagian kecilnya yang terlihat tulisannya.

Manuskrip tersebut berada di rumah korban kebakaran pada saat itu dan dikumpulkan kembali pasca kebakaran, sayangnya banyak lembaran-lembaran yang tidak dapat diselamatkan.

Wilayah Pidie memang menjadi salah satu sentral penyimpanan dan penyebaran naskah-naskah di Aceh, bahkan di sini terdapat naskah-naskah penting yang tidak dimiliki di Banda Aceh. Sebab, Negeri Pedir (sekarang Pidie dan Pidie Jaya) menjadi salah satu sentral kerajaan Aceh periode kolonial Belanda, saat Banda Aceh dan Aceh Besar (Tiga Sagi) mulai dalam genggaman Belanda, maka Sultan Aceh dan seluruh pemimpin mengungsi ke Keumala Pidie.

Inilah babak baru dari sejarah Pidie yang pernah dimilikinya sebelum Banda Aceh (Kesultanan Aceh) berjaya. Semua sentral pergolakan dan perlawanan, pendidikan dan pengembangan keilmuan serta penyalinan manuskrip pindah ke Pidie. Namun, sejauh manakah perhatian Pidie terhadap khazanah dan warisan indatunya.? Tentu sangat miris dan jauh dari harapan.

Sejauh ini, naskah-naskah kuno di sana hanya tersimpan di rumah sang kolektor naskah atau di rumah-rumah pewaris manuskrip. Semua naskah tersebut kurang mendapat perawatan, dan sejauh ini juga -menurut beberapa pengoleksi naskah- belum pernah mendapat perhatian pemerintah setempat (Pidie) atau pemerintah Aceh, baik dalam rangka penyelamatan, perawatan ataupun identifikasi. Sebagian dari pengoleksi naskah tersebut hanya mendapat kunjungan dari negeri peneliti negeri jiran, atau beberapa peneliti dalam proses identifikasi, digitalisasi ataupun penelitian yang bersifat sementara.

Sudah saatnya, Pemerintah Kab. Pidie memiliki program berkelanjutan dalam penyelamatan manuskrip-manuskrip tersebut, sebab inilah kekayaan Pidie yang tidak dimiliki di daerah lain. Ini menjadi langkah awal untuk memperkenalkan kekayaan khazanah Aceh (khususnya Pidie) kepada publik. Pidie sudah memiliki kekayaan berharga yang selama ini belum diberdayakan, salah satunya manuskrip-manuskrip di Pidie.  Salah satu program yang dapat dilakukan adalah mengidentifikasi kembali manuskrip koleksi masyarakat Pidie, kemudian digitalisasi untuk backup data dan menerbitkannya dalam bentuk katalog.

Note: Terima kasih foto naskah tutong dari sdr. Irfan M Nur, bersumber dari sdri. Qurratun Ainiah

Manuskrip Tutong di Pidie

Read More

Sunday, July 03, 2016

Setelah 1157 tahun bersemanyam salah satu perpustakaan tertua di dunia dibuka untuk umum, terletak di Fez, Maroko, tepatnya di al-Qarawwiyin University. Perpustakaan kini terus mendapat renovasi dan mempercantik diri, kini tampilannya menunjukkan keangungan Islam di sana, terutama untuk memamerkan koleksi-koleksi baru untuk dunia, khususnya peneliti, pelajar dan masyarakat umum.

"Koleksi emas" yang dimiliki koleksi ini adalah, mushaf al-Qur'an abad ke-9 Masehi yang masih ditulis dengan khat Kufi (Kaufi), salah satu bentuk khat (tulisan) kaligrafi paling tua dan terawal yang digunakan periode pra-Islam dan pada masa Rasulullah.

Mushaf al-Quran tulisan khat Kufi pada abad ke-9 Masehi

Sepertinya, jika melihat lembaran yang ditampilkan di websitenya, mushaf ini merupakan kitab "salinan" terawal yang masih menggunakan titik satu dan titik dua di beberapa huruf hijaiyyah, tetapi belum digunakan titik tiga. Selain itu, ini merupakan bukti konkret tentang penjilidan dan penyebaran Islam di benua Afrika, termasuk penulisan-penulisan kitab suci dalam bentuk aslinya.

Selain itu, naskah asli "Muqaddimah" Ibnu Khaldun juga tersimpan di sini. Nama lengkapnya, Abu Zayd 'Abdurrahman ibn Muhammad ibn Khaldun al-Hadrami (lahir 27 Mei 1332 - meninggal 19 Maret 1406), adalah seorang sejawran muslim dari Tunisia dan mendapat julukan bapak pendiri ilmu historiografi, sosiologi dan ekonomi. karya terkenalnya adalah "Muqaddimah".

Kitab Muqaddimah Ibnu Khaldun, intelektual Muslim terkenal di dunia


Menurut beberapa sumber, mesjid dan universitas al-Qarawiyyin telah dijadikan sebagai "Muslim Heritage" karena masih menyimpan originalitas seni hias dan arsitektur Islam pada masa lampau. Selain itu, universitas ini juga menyimpan 4000 manuskrip dalam berbagai bidang keilmuan, baik karya-karya ulama atau intelektual Islam terkenal ataupun karya-karya lainnya yang tidak diketahui (anonim). Demikian juga menyimpan beberapa koleksi utama sebagai "warisan" Islam yang sangat berharga.

Setelah sebulan dibuka untuk umum, perpustakaan dan museum ini para pengunjungnya membludak.
Lihat beberapa tampilannya klik disini 




Reseources:
  http://www.techinsider.io
  - http://www.fez-guide.com
  - http://www.muslimheritage.com

4000 Manuskrip Penting di Al-Qarawiyyin University

Read More

Wednesday, June 29, 2016



Rumoh Aceh tempat menyimpan naskah ini terbagi tiga, sebagaimana umumnya arsitektur Rumoh Aceh di Aceh, yaitu terdiri dari Seuramo Keue atau Seuramoe Reungeun (Serambi Depan atau Serambi Tangga), Seuramoe Teungoh (serambi tengah) yang biasanya disebut juga Seuramoe Inoeng (Serambi Perempuan) atau ruang utama keluarga, dan ketiga; Seuramoe Likoet (serambi belakang) yang biasanya digunakan untuk dapur.

Kami berada di serambi depan, dan saat pemilik rumah mengambil beberapa naskah di serambi belakang untuk dipersembahkan di hadapan kami, saya sudah familiar dan membaca perbagian secara sepintas, terdapat beberapa judul yang termasuk langka ditemui naskah di Aceh saat ini.

Namun, saat saya dipersilahkan melihat ke serambi belakang, tempat disimpannya naskah, saya terkejut karena naskah disimpan dalam satu lemari dengan kondisi yang sangat mengkhawatirkan, saya jamah satu baris saja mengingat waktu yang sempit, beberapa naskah memang tidak dapat terbaca lagi. Dari sepintas lemari tersebut saya melihat beberapa mushaf di tempat himpitan paling bawah.

Lebih menyedihkan saat sang pemilik berkata "dalam umpang dan plastik mirah nyan kertah-kertah kitab sion-on yang lon peusapat" (Dalam empang dan plastik merah itu lembaran naskah yang sudah copot saya kumpulkan). Padahal awalnya saya menduga itu adalah bagian perkakas dapur.

Lemari penyimpan naskah yang sebenarnya digunakan untuk simpan gelas, piring dan bahan-bahan dapur

Dalam kondisi seperti ini, kita bersyukur naskah belum musnah akibat bencana alam. Tetapi tidak dapat dipungkiri naskah-naskah tersebut tidak akan bertahan lama dari kerusakan alami yang memang terjadi secara alamiah. 

Bagaimanapun pemerintah harus memberi perhatian lebih kepada perawat-perawat naskah yang telah menghabiskan sebagian hidupnya dan hartanya untuk penyelamatan ini. Bagi saya akan aneh bila ingin dibandingkan bahwa bagi perawat benda cagar budaya seperti benteng, mesjid tuha, candi dan artefak lainnya selalu mendapatkan kucuran dana pemerintah bahkan digaji perbulan untuk jasa perawatan tersebut. Tetapi, mengapa untuk perawat naskah atau lebih kepada khazanah intelektual dan kekayaan budaya Aceh tidak mendapat perhatian apa-apa.

Pemerintah Aceh agar dapat menginventarisir pemilik-pemilik naskah (koleksi) dan bekerjasama dengan mereka dalam bentuk perawatan dan penyelamatan. Para kolektor manuskrip menjadi "partner kerja" bukan "objek kerja" alias "proyek tarek peng", mereka dapat dibiayai negara sebagai penjaga khazanah dan benda-benda cagar budaya, yang -sebenarnya-  sama fungsinya dengan penjaga benteng, mesjid tua, candi, ataupun petugas di museum, perpustakaan dan badan arsip, yang sama-sama tugasnya menjaga khazanah warisan budaya. 

Tentunya hal ini dapat menghemat biaya dinas-dinas (Pemerintah Aceh) daripada membeli naskah-naskah tersebut dengan harga tak terjangkau, sebab selama ini selalu berkilah tidak cukup anggaran. Hal itu itu mengajarkan masyarakat itu merawat khazanahnya, keterlibatan dan kepedulian masyarakat Aceh merupakan hal penting untuk keberlangsungan khazanah di Aceh.

Kolofon Kitab Syarah Matan Fi 'Isyrin, selesai disalin pada malam 24 Ramadhan waktu Isya'.

Masih ada beberapa naskah yang bisa diselamatkan, baik fisik ataupun isinya. Naskah-naskah ini menjadi bahan kajian kepada para pelajar, peneliti dan intelektual di dalam maupun luar negeri, baik pada saat ini ataupun di kemudian hari. Kita patut belajar dari Malaysia, Leiden Belanda, Inggris dan Jerman, mereka mengumpulkan banyak literatur-literatur lama dari berbagai negara dan membuka peluang bagi peneliti untuk berkunjung ke negaranya, dengan demikian telah memberikan investasi kepada negeri melalui pendidikan dan kerjasama penelitian -sekaligus meningkatkan devisa negara-, yang mereka sebut investasi jangka panjang dan berkesinambungan akan memberi dampak positif kepada bidang-bidang lainnya.

Misal diantaranya mengkaji kembali hubungan bisnis Aceh dengan negara luar, baik dalam perdagangan rempah-rempah dan bisnis kertas. Kertas salah satunya di bawah ini merupakan produksi Sanderstead, London UK dicetak pada tahun 1788 dan beberapa tahun kemudian diperdagangkan. Aceh pada posisi tersebut sudah mulai lemah dari sisi ekonomi bisnis dan kekuasaannya, tetapi masih sanggup membeli kertas produk Inggris yang harga melangit karena kualitas bagus.

Salah satu lembaran yang menunjukkan watermark (cap kertas) (Sanderstead, London 1788 M)
Lantas, sampai kapan naskah di Aceh dapat selamat di tangan-tangan koleksi pribadi masyarakat yang mereka awam terhadap manuskrip. Jika mereka tidak disuguhi dengan pengetahuan cara baik dan bijak merawat naskah, tidak diberi pengetahuan tentang penyelematannya, tidak diinformasikan pentingnya karya ulama dan intelektual diwariskan. Maka, saat musnah semuanya Aceh dikenal bangsa tidak punya sejarah dan tidak berperadaban, maka pemerintah Aceh (dan kita) menyuguhkan "Aceh negeri dongeng" kepada generasi selanjutnya.



Baca sebelumnya bagian 1

Manuskrip Lampanah: Antara Kepedulian dan Warisan (bag. 2)

Read More

Tuesday, June 28, 2016



SUDAH dua pekan menjalani puasa di Jerman, terutama di Hamburg. Kota Hamburg merupakan kota kedua terpadat dan salah satu kota tersibuk di dunia, itu sebab posisinya dialiri sungai Elbe dan Alster yang menjadi andalan utama sebagai kota maritim dan pelabuhan ternama di Eropa.
Hamburg juga memiliki populasi muslim yang cukup banyak, terutama dari Turki, Albania, Afrika Arab dan (baru-baru ini) dari Timur Tengah, khususnya dari Syiria.

Ramadhan tahun ini merupakan puasa pertama kali saya di Eropa, sebagai negara minoritas muslim, tentu banyak perbedaan dan pastinya memiliki keunikan dan tantangan tersendiri.
Hamburg, kota dengan pelabuhan tersibuk di Eropa

Tantangan utama adalah waktu berpuasa siang hari sangat panjang, hal tersebut dikarenakan puasa kali ini berada pada puncak musim panas, dan Jerman salah satu negara yang terkena siklus tersebut. Waktu Subuh atau imsak 2.55 pagi hari, sedangkan Maghrib atau berbuka pada pukul 9.50 malam.
Itu artinya muslim di sana berpuasa dari Imsak Subuh hingga menjelang berbuka selama 19 jam. Dan sisanya 4 jam lagi harus digunakan semaksimal mungkin untuk shalat Magrib, Isya’, Terawih dan persiapan sahur.

Tidak hanya waktu berpuasa 19 jam, suhu udara panas mencapai 30-32 celcius dan diterpa angin laut juga menjadi cobaan untuk beraktifitas di luar.

Beruntungnya 2-3 hari dalam sepekan ini diguyur hujan dan mendung menyelimuti wilayah Hamburg Tantangan lainnya tidak kalah sengit, yaitu muslim berpuasa di antara mayoritas orang-orang yang tidak berpuasa. Mereka yang menikmati hidangan di restoran, market, mall, jual makanan, minuman, eskrim dan lainnya di setiap sudut kota, stasiun, dan tempat-tempat umum.
Salah satu sudut daerah Staindamm di kota Hamburg, sentral masyarakat Muslim mayoritas bekerja di sektor gastronomi

Itu merupakan godaan bagi seseorang yang sedang menunaikan ibadah puasa dan menahan hawa makan dan minum. Termasuk warung dan restoran Muslim tetap buka siang hari, walaupun pengunjung muslim berkurang, tetapi pelanggan non-muslim tetap harus dilayani dengan baik. Mayoritas pendatang muslim di Jerman bekerja di sektor gastronomi atau terkait dengan dunia kuliner dan waralaba makanan.

Uniknya lagi, warung dan restoran Islam di sini tidak tutup saat Jumat berlangsung, bila tiba waktu Jumat para pelayan diganti oleh kaum perempuan atau lelaki non-muslim, sedangkan para lelaki berangkat ke mesjid. Demikian juga menjelang shalat terawih. Hal tersebut dilakukan karena pelanggan yang ada banyak berasal dari orang-orang Eropa -terutama Jerman- yang bukan Islam.
Tantangan alam dan lingkungan menjadi ujian berpuasa bagi muslim hidup di Eropa, terlebih lagi jauh dari pangawasan aparat bersifat simbolistik.

Semua kembali pada diri masing-masing untuk kontrol dan taat beragama. Bagi seorang muslim, tantangan tersebut sebagai uji kekebalan iman dan spiritual dalam menjalani puasa, maka saya cukup salut jika kemudian melihat mesjid-mesjid di Jerman selama Ramadhan tidak pernah sepi dari pemuda dan orang tua di siang dan malam hari untuk membaca al-Qur’an.


Pembangunan dan peletakan menara di salah satu mesjid Turki di Staindamm Hamburg. Ini adalah salah satu mesjid yang mendapat izin untuk menggunakan menara.


Tentu tantangan tersebut berbeda jauh dengan di Aceh dan Indonesia, durasi waktu berpuasa lebih cepat dan ditambah lagi aturan larangan berjualan dan membuka warung siang hari hingga menjelang sore untuk ketentraman. Memang, lain ladang lain ilalang, lain lubuk lain ikannya.

Tulisan ini sudah dipublikasi di Serambi Indonesia >>Klik here

Menikmati Tantangan Puasa di Jerman

Read More

Tuesday, June 21, 2016

Berawal dari informasi ibu Nurul, salah seorang dosen di UIN Ar-Raniry Banda Aceh, kami bersama-sama dengan beberapa orang para dosen UIN Ar-Raniry Banda Aceh mengunjungi pemilik naskah di kawasan Aceh Besar, Gampong Lampanah, di sebuah rumah dengan konstruksi kayu peninggalan masa lalu, disebut rumoh Aceh. Walau kelihatan tonggak kayu utama miring, tetapi masih kokoh. Rumah yang telah mengalami beberapa tahap renovasi dan penambahan dapur ke bawah itu memberikan kami informasi penting, betapa kaya ilmu tersimpan di rumah yang sederhana dan berumur tua.

Perjalanan ditempuh satu jam dari Kota Banda Aceh melalui jalan utama Banda Aceh-Medan, kemudian memasuki kawasan Gampong Lampanah, Kemukiman Lampanah, Aceh Besar. Rumah penduduk disini termasuk kawasan padat, tampak sepanjang jalan gampong tidak ada lagi lahan dan tempat bermain di tanah lapang, pilihan terakhir adalah bermain di bawah rumah panggung dan rumoh Aceh, atau di halaman sekolah dan halaman mesjid.

Tujuan utama melihat manuskrip tersebut di rumah salah seorang pemilik dan pewaris dari kakeknya secara turun-temurun. Kami hanya mendapat sedikit informasi bagaimana naskah-naskah ini berada di tangannya sekarang, termasuk perlakuan dan perawatan. Namun, kami kaya akan banyak data yang tersimpan di dalam naskah-naskah kuno yang mayoritasnya sudah tidak sempurna lagi, setidaknya itu harapan pertama. Menurut ahl bait pewaris naskah, semua naskah ini dibawa dari Pidie, saat mereka hijrah ke Aceh Besar, di sini (Lampanah) kakeknya membuka dayah atau tempat pengajian kepada penduduk setempat saat itu (tahun ?).

Kitab Mujib An-Nida' Ila Syarah Qatr An-Nida', termasuk kitab langka dalam ilmu bahasa dan grammatika, daripada kitab utamanya Qatr An-Nida' yang banyak salinannya di Aceh.

Ini merupakan informasi awal, kami menduga bahwa kitab-kitab (manuskrip) di sini umumnya dalam bidang al-Quran dan tafsir, fiqih dan faraid, tauhid dan tasawuf,  baik dalam bahasa Arab ataupun bahasa Jawi (Melayu).  Dan kemungkinan besar didominasi oleh teks-teks berbahasa Arab, karena di sini sentral pengajian untuk Gampong Lampanah dan sekitarnya.

Saat kami mulai ditunjukkan tiga naskah, sangat disayangkan, naskah-naskah yang disimpan tidak terawat dengan baik, walaupun menurut pemilik sudah menjaga dengan baik. Namun, saya memaklumi atas hal demikian karena ini adalah pengetahuan mereka, maka yang terbersit dalam benak saya adalah membangunkan pemerintah Aceh -terutama SKPA terkait- yang terlena dan tertidur selama ini. Paling utama perlu adanya edukasi kepada masyarakat yang masih "setia" menyimpan naskah, mereka tidak menggadai ke luar negeri, mereka tidak tergiur dengan mata uang asing, jadi harus ada pengetahuan bagaimana mereka merawat dan menyimpan naskah dengan baik.

Edukasi yang diperlukan ini baik dalam bentuk sosialisasi ataupun pelatihan-pelatihan yang diberikan Pemerintah Aceh kepada mereka, misalnya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Dispudbar), Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB), Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB), Kemenag, Badar Arsip dan Perpustakaan (BAP) Lembaga Wali Nanggroe (LWN), Badan Dayah Aceh (BDA) dan Majelis Adat Aceh (MAA), atau lembaga lainnya yang memiliki tugas fungsi dalam penyelamatan khazanah dan budaya Aceh. Semua lembaga tersebut memiliki keistimewaan dan karakteristik di Aceh terutama pada khazanah warisan Aceh, bukan pada proyek "infrastruktur" semata.

Kondisi ini tidak bisa ditunda dan dibiarkan, sebab setiap harinya naskah-naskah ini akan rusak secara alami, baik dimakan rayap, aus ketajaman zat tinta, bencana alam, dan sebagainya. Salah satunya kitab di bawah ini, kitab Tafsir yang semakin hari akan hancur kertas akibat ketajaman tinta. Maka perlu segera penanganan lebih lanjut, antaranya digitalisasi atau foto naskah untuk penyelamatan isi kandungan manuskrip tersebut.

Teks Tafsir al-Qur'an.
Kepedulian sang pewaris telah berusaha semaksimal dan dengan segala penuh upaya menyelamatkan manuskrip tersebut dari dulu; mulai sejak periode perang Aceh-Belanda, konflik Aceh-Indonesia, gempa-tsunami Aceh, dan hingga kini era damai. Butuh kepedulian dari masyarakat dan terutama pemerintah Aceh (dinas-dinas) untuk penyelamatan ini, lantas lembaga apalagi yang perlu di Aceh agar naskah-naskah kuno itu selamat? (bersambung bag. 2)





Manuskrip Lampanah: Antara Kepedulian dan Warisan (bag. 1)

Read More

Tuesday, June 14, 2016


Tidak banyak manuskrip Aceh yang mencatat hal-hal keseharian yang (mungkin) dianggap tidak ada kaitannya dengan agama, tasawuf dan pendidikan. Tetapi bukan berarti tidak ada sama sekali, salah satunya catatan akte kelahiran. Di Aceh, manuskrip yang mencatat hal-hal demikian masih terbilang jari, atau sebaliknya selama ini filologi dan peneliti sejarah pernaskahan belum konsen dengan perihal tersebut.

Misalnya, catatan harian harga sembako masa kerajaan Aceh, di mana salah seorang ibu rumah tangga mencatat barang-barang dan harga yang dibelinya di pasar dengan mata uang yang digunakan pada masa itu seperti dirham (deureuham),  kupang, pardu, tahil, atau Aceh pernah menggunakan riyal dan ringgit Aceh. Pada saat ini, tentu itu menjadi penting, bukan hanya untuk bidang sejarah dan arkeologi, tetapi juga perbankan dan ekonomi, bagaimana kemudian Aceh mentransformasi dan konversi penggunaan uang hingga menjadi rupiah.

Demikian dengan catatan kelahiran anak, akan menjadi sangat penting saat mereka menjadi besar, dan lebih utama lagi ia mengetahui nasab nenek moyangnya, tidak salah jika kemudian di Aceh muncul istilah "aneuk ureung meupo, cucoe  ureung meuso,  kawom peudong nanggroe". Bahkan dalam Islam diwajibkan mengetahui silsilah kepada kakeknya hingga tujuh level ke atas. Lantas mampukah diingat jika tidak direkam (catat) dalam tulisan.

Salah satu temuan di sini adalah Abu Chik Tanoh Abee yang sadar akan hal tersebut dan mencatatnya dalam kumpulan kitab. Dengan demikian, sudah barang tentu kitab ini pernah berada di tangan ulama besar dan berpengaruh di Aceh dan merupakan salah seorang mursyid utama dalam tarekat Syattariyah di Aceh abad ke-19 M.

Abu Chik Tanoh Abee dikenal dengan Teungku Chik Tanoh Abee dengan nama aslinya Syekh Abdul Wahab al-Baghdady, menurut Muhajir al-Fayrusi dalam bukunya Teungku Chik Tanoh Abee hidup antara 1810-1894, itu artinya beliau hidup dalam dua situasi Aceh, pra dan periode perang Aceh melawan Belanda mulai tahun 1873. Tentunya beliau menjadi salah satu saksi, pejuang dan penasehat perang Aceh. Hal tersebut senarai dengan Abdullah M Saad dan Zainuddin bahwa Teungku Chik Tanoh Abee seperiode (atau lebih tua) dari Teungku Chik Di Tiro, Panglima Polem dan Teungku Chik Abbas Kutakarang.

Dari sisi intelektual, Teungku Chik Tanoh Abee merupakan orang sangat berjasa yang banyak menyalin dan merawat manuskrip di Tanoh Abee, yang hingga kini masih bisa kita lihat dan temukan ratusan -bahkan ribuan sebelum perang Aceh dengan Belanda- koleksinya di Tanoh Abee. Salah satu catatannya yang tersimpan di dalam naskah ini yang dikoleksi oleh British Library Inggris dengan nomor Or. 16768, di halaman 17r disebutkan:

"Adapun kemudian daripada hijrah Nabi saw 1248 tahun, pada tahun "ba", pada hari Kamis pada waktu Dhuha, pada bulan Jumadil Akhir, ketika itu maka jadi seorang kanak-kanak laki-laki anak Teuku Abu Tanoh Abee, pada negeri Bithaq. Allahumma thawil 'umrahu wa-katssir rizqahu wa-shahhih badanahu wa-tasbbit qalbahu 'ala tha'atika ya arhama ar-rahimin. Amin."

Jika dikonversi bulan Jumadil Akhir 1248 H bertepatan dengan Oktober/November 1832 M. Tepat berada pada periode Sultan Muhammad Syah (1823-1838), jauh periodenya sebelum Belanda menyerang Aceh tahun 1873. Namun, dalam catatan tersebut tidak ditulis nama anaknya, itu artinya catatan tersebut antara hari 1-6 sebelum pemberian nama pada hari ke tujuh. Sisi lain, dengan adanya tempat dan hari kelahiran tentu dapat diketahui dikemudian dari keturunannya siapa yang lahir di Bithaq, Kuta Cot Glie Aceh Besar.

Naskah ini merupakan kumpulan teks setebal 42 halaman, kertas Eropa dengan kondisi teks masih bagus dan terbaca. Pada halaman 1-14 berisi penggalan ayat al-Qur'an, Halaman 15-16 dengan lembaran lebih kecil bukan bagian dari naskah utama berisikan tentang pembelajaran tajwid metode Qurani. Halaman 17 kolofon teks Anis al-Muttaqin, setelahnya terdapat catatan kelahiran seorang anak laki-laki dari keluarga Abu Chik Tanoh Abee. Dan teks terakhir tentang fiqh yang membahas apakah wajib memenuhi nazar atau tidak. Naskah ini dapat diakses online di website British Library (Or. 16768).

Lihat linknya: http://www.bl.uk/manuscripts/FullDisplay.aspx?ref=Or_16768

Catatan Abu Chik Tanoh Abee

Read More

Hermankhan Google+ Followers

Copyright © 2015 Herman Khan | Portal Manuskrip Aceh dan Malay | Distributed By Blogger Template | Designed By Blogger Templates
Scroll To Top