Translate

Tuhfatul Ahbab: Afiliasi Terbaru dari Aceh ke Bawean

Tidak banyak yang tahu akan kitab Tuḥfat al-Aḥbāb  (baca: Tuhfatul Ahbab) merupakan karangan Abdurrahman al-Bawwani (atau al-Bawani). Mendengar kata "al-Bawan/al-Bawwan" memang sedikit langka, apalagi belum banyak orang menelitinya. Sejauh ini, saya berkesimpulan adalah merujuk pada nama tempat disebut Bawean atau Pulau Bawean.
Pulau Bawean terletak di Laut Jawa, sekitar 80 mil atau 120 kilometer sebelah utara Gresik. Secara administratif sejak tahun 1974, pulau ini termasuk dalam wilayah Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur di mana tahun sebelumnya sejak pemerintahan kolonial pulau Bawean masuk dalam wilayah Kabupaten Surabaya. Belanda (VOC) masuk pertama kali ke Pulau ini pada tahun 1743.
Tokoh pengarang kitab ini bernama Syeikh Abdurrahman, ia merupakan tokoh besar dan ulama penting di daerahnya, sebab karya ini menunjukkan bahwa ia karang kitab tersebut atas permintaan rekan-rekannya tentang i'tikad Ahlussunnah dan tentang tasawuf (sufi).
"Adapun kemudian dari itu maka berkata faqir yang dhaif Abdurrahman nama, Bawani nama negeri, mazhabnya Asy'ari nama i'tikadnya, Syattari nama tarekatnya, sanya telah meminta kepadaku setengah daripada sahabatku akan bahwasanya yakni Ahlussunnah wal-Jama'ah, kuperbuat suatu risalah yang simpan dengan bahasa Jawi pada menyatakan asal i'tikad yang sempurna dan pada menyatakan martabat wujud Allah". 
Penelitian tentang ajaran Syattariyah yang pernah dilakukan oleh banyak penulis/peneliti, Oman Fathurahman atau Fakhriati misalnya, belum menyebut afiliasi Abdurrahmah al-Bawani ini, pun demikian beberapa penulis lainnya yang tidak berbasis pada kajian filologi. Buku Azra tentang Jaringan Ulama Nusantara, yang cukup komplek dalam analisis dan penampilan data bersumber pada beberapa manuskrip pada abad ke-17 dan 18 masehi,  juga belum menyentuh ini tokoh.
Jaringan ajaran Syattariyah Abdurrauf terkenal di seluruh Nusantara dan Melayu (Malaysia dan Fathani). Banyak ulama-ulama di luar Aceh belajar kepadanya. Periode tersebut (1661-1693 M) menjadi sentral keagamaan dan pengembangan tasawuf di Aceh, khususnya di zawiyah Menara Abdurrauf al-Jawi al-Fansuri.
Banyak murid-murid Abdurrauf al-Fansuri yang mengembangkan ajarannya pasca wafatnya Abdurrauf. Di Jawa misalnya, murid yang terkenal Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan. Terdapat juga Syeikh Burhanuddin Ulakan di Minangkabau, Syeikh Abdul Malik di Terengganu (Tok Pulau Manis) yang terkenal di semenanjung Melayu dengan puluhan karyanya, Syekh Yusuf al-Makassari, ulama terkenal di Sulawesi dan Afrika Selatan, dan ulama lainnya
Ini menjadi sumber terbaru bagi kajian ulama Nusantara, bahwa sudah adanya afiliasi dan jaringan guru-murid antara Aceh dengan kepulauan-kepualau di luar Sumatra, Jawa dan atau pulau-pulau besar lainnya.
Sejauh ini, belum didapatkan informasi Abdurrahman mendalam tentang tempatia meninggal, dan tentu lebih penitng lagi adalah jaringannya di kemudian hari, murid-muridnya serta perkembangan ajarannya. Sebab, kitab Tuhfatul Ahbab karya Abdurrahma al-Bawani hanya satu varian yang ditemui. Di dalamnya menujukkan informasi ringkas gurunya:

Antara Tinta dan Kertas: Bersatu dan Berbeda

Alat penyimpan pena dan tinta,
Koleksi Museum Aceh
Pada saat Birmingham University menemukan bagian parkamennya dari al-Quran tertua yang diperkirakan berasal pada era Rasulullah. Disebutkan bahwa naskah berbahan kulit kambing tersebut berasal antara 568 hingga 645 M, tak lama setelah Nabi Muhammad wafat (632 M). Kesimpulan tersebut diperoleh atas uji radiokarbon pada dua lembar perkamen naskah M 1572a berisi penggalan teks Alquran koleksi Perpustakaan the University of Birmingham oleh Alba Fedeli untuk disertasinya telah membanggakan banyak pihak, termasuk universitasnya, yang kini naik peringkat di dunia.
Antara keterkejutan dan atau euforia tersebut, tidak semuanya serta merta menerima, dan tentu penuh tanda tanya. Misalnya saja, kenapa saat ini diumumkan?, kemudian darimana asal manuskrip ini diperoleh? Dimana disimpan sebelumnya? Bagaimana proses penilaian media naskah (parkemen) tersebut sehingga menghasilkan kesimpulan yang sangat mengejutkan.? Akan tetapi, tidak jauh berbeda dengan penemuan lainnya, seperti penemuan kitab Injil di Turki, dan lain sebagainya.
Sebenarnya banyak tulisan yang kemudian "sedikit" menyangkal pemberitaan di atas, beberapa media mungkin sedikit memojokkan, akan tetapi, dalam dunia keilmuan dan intelektual, ini harus diapresiasi, sebagai sebuah perhatian dan perkembangan dunia intelektual, terutama dunia pernaskahan.
Ada dua hal penting, di antara yang lainnya, bahwa menilai naskah tidak hanya satu sisi penilaian, misalnya hanya melihat media (bahan) naskah, kertas Eropa, loka, papirus, atau bahan lainnya yang digunakan sebagai alat untuk menulis.
Perhatian lainnya yang harus dilihat adalah tinta tulisan yang digunakan untuk menulis. Tentu akan sangat berbeda tinta pada setiap zamannya. Dalam hal ini, ada benarnya Helit Eren dari Penelitian Sejarah Islam, Seni, dan Budaya di Turki untuk memeriksa kembali tinta yang digunakan. Dalam beberapa kasus, perbedaan tersebut terkadang mencapai setengah abad ataupun lebih.
Kasus ini sama dengan beberapa naskah yang saya temukan di Luar Negeri, Beberapa koleksi di Malaysia dan Aceh misalnya, naskah yang tersimpan di beberapa museum (kolektor) perlu diteliti keakuratan melalui media alat tulis (tinta), walaupun terkadang naskah atau kertas yang digunakan memiliki watermark, namun penulisan naskah dan tentunya tinta yang digunakan pada era selanjutnya, termasuk pena (alat tulis) yang digunakan antara masa lalu dengan sekarang.
Dalam dunia pernaskahan Jawi (dan termasuk Aceh), paleografi teks juga merupakan salah satu media untuk mengukur umur penulisan naskah, sebab tradisi di Nusantara, naskah-naskah dapat mengalami perubahan -baik penambahan ataupun pengurangan- di tangan penyalin naskah. Dalam teks Arab, perkembangan kaligrafi merupakan salah satu bagian yang tidak dapat dipisahkan era penulisan teks.

Birmingham Qur'an manuscript dated among the oldest in the world

Radiocarbon analysis has dated the parchment on which the text is written to the period between 568Ce and 645CE
A Qur’an manuscript held by the University of Birmingham has been placed among the oldest in the world thanks to modern scientific methods.

The Qur’an manuscript will be on public display at The Barber Institute of Fine Arts, University of Birmingham, from Friday 2 October until Sunday 25 October.

Radiocarbon analysis has dated the parchment on which the text is written to the period between AD 568 and 645 with 95.4% accuracy. The test was carried out in a laboratory at the University of Oxford. The result places the leaves close to the time of the Prophet Muhammad, who is generally thought to have lived between AD 570 and 632.

Quran 7th century 1 Cadbury Research LibraryResearchers conclude that the Qur’an manuscript is among the earliest written textual evidence of the Islamic holy book known to survive. This gives the Qur’an manuscript in Birmingham global significance to Muslim heritage and the study of Islam.

Susan Worrall, Director of Special Collections (Cadbury Research Library), at the University of Birmingham, said: ‘The radiocarbon dating has delivered an exciting result, which contributes significantly to our understanding of the earliest written copies of the Qur’an. We are thrilled that such an important historical document is here in Birmingham, the most culturally diverse city in the UK.’

The Qur’an manuscript is part of the University’s Mingana Collection of Middle Eastern manuscripts, held in the Cadbury Research Library. Funded by Quaker philanthropist Edward Cadbury, the collection was acquired to raise the status of Birmingham as an intellectual centre for religious studies and attract prominent theological scholars.

Consisting of two parchment leaves, the Qur’an manuscript contains parts of Suras (chapters) 18 to 20, written with ink in an early form of Arabic script known as Hijazi. For many years, the manuscript had been misbound with leaves of a similar Qur’an manuscript, which is datable to the late seventh century.

Susan Worrall said: ‘By separating the two leaves and analysing the parchment, we have brought to light an amazing find within the Mingana Collection.’

Malam Lailatul Qadar Dalam Naskah Kuno Aceh

Teks "Lailatul Qadar" 
SEPULUH terakhir bulan Ramadhan menjadi puncak seorang hamba mengabdi kepada sang Khaliq, sebab pada momen ini merupakan hari-hari perpisahan dengan bulan berkah dan terdapat malam paling mulia disebut Lailatul Qadar.
Tidak ada kepastian malam itu datang, dan tidak ada yang dijamin orang-orang akan mendapatkan, kecuali mereka bersungguh-sungguh ingin menggapainya, dan tentunya tidak ada tanda (bekas) bagi mereka yang mendapat nikmat di malam turunnya para Malaikat ke bumi.
Dalam beberapa catatan, terdapat yang “unik” bahwa ada kiat-kiat untuk mengenal malam tersebut. Saya pun penasaran, dalam sebuah naskah yang cukup singkat dan padat, hanya satu halaman tertulis tentang mengenal Lailatul Qadar dimulai dengan
“Bismillahi. Bab ini alamat pada mengenal malam lailatul qadar, telah menyebut barang yang diberi rahmat kiranya Allah Ta’ala akan dia apabila adalah awal bulan Ramadhan itu pada hari Jumat adalah malam lailatul qadar dua puluh Sembilan”.
Demikian dilanjutkan lagi
Dan apabila awalnya pada hari sabtu adalah malam lailatul qadar pada malam dua puluh satu. Dan apabila awalnya pada hari Ahad adalah malam lailatul qadar pada malam dua puluh tujuh...” dan seterusnya menurut hari permulaan puasa.
Tentunya, sang penulis kitab menutup dengan “Bermula qaul [perkataan] Nabi ini terlebih asahh (terlebih benar] daripada segala qaul yang lainnya ini. Wallahu a’lam bis-shawab”.
Manuskrip ini tidak ditemui penanggalannya, namun dilihat dari ciri-ciri kertas ditulis pertengahan abad ke-18 Masehi.

Mushaf Al-Qur'an Milik Mesjid Raya Baiturrahman Aceh Ada di Leiden Belanda

Setiap orang Aceh pasti tahu jenderal Belanda yang tewas ditembak di depan Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh saat memimpin perang ke Aceh 1873.
Hampir semua buku merekamnya dan juga terdapat monumen mencatatnya yang terletak di sebelah Masjid Raya di bawah pohon Geulumpang besar. Orang mengenalnya “pohon kohler”.
Namun, jika sebaliknya ditanyai, siapa imam Masjid Raya Baiturrahman yang syahid saat agresi Belanda ke Aceh? Tentu banyak orang tidak tahu jawabannya, dan banyak buku tidak merekamnya.
Cukup sulit mencari sumber informasi tentang “pahlawan syahid Aceh” saat perang itu terjadi. Padahal semua orang tahu awal kisah bencana perang Aceh dengan Belanda pada tahun 1873.
Mushaf Alquran milik Masjid Raya Baiturrahman adalah bagian dari barang-barang pusaka dalam Masjid yang diambil dan terbang ke Belanda pasca meletusnya perang tersebut. (baca : Museum Mushaf Alquran Aceh)
Syukurnya, saya dapat mengakses Alquran resmi yang digunakan Imam Mesjid Raya yang didigital oleh Erlangen dari Jerman atas izin Leiden University sebagai pihak pengoleksi.

Museum Mushaf Al-Qur'an Aceh

Halaman awal Mushaf al-Qur'an dengan hiasan iluminasi khas Aceh
Koleksi Tarmizi A Hamid, Banda Aceh
Dalam lintas sejarah mushaf Al-Qur’an, Aceh telah menuai ekor tersendiri. Bahkan dalam bidang mushaf al-Qur’an ini, Aceh telah mewakili seluruh bidang, mulai dari kandungan al-Qur’an kalam Ilahi tersebut, hingga pada sisi-sisi kesenian lainnya.
Namun sayang, khazanah tersebut hampir –bahkan sudah- terlupakan oleh generasinya, salah satunya masyarakat tidak pernah tahu ciri-ciri mushaf Aceh.
Padahal Al-Quran merupakan pondasi negeri bersyariat dan masyarakat Aceh. Tulisan singkat ini akan mengungkap rekor Mushaf Aceh, dan semoga menambah pengetahuan akan Mushaf Aceh serta melahirkan sebuah rekomendasi bersama untuk dapat diaplikasikan.
Selama ini, kita merujuk kepada mushaf Ustmani, atau setidaknya pada standar Mushaf Al-Quran yang disusun oleh Kementerian Agama RI yang juga mengikuti rasm Ustmani.
Di Aceh, saya meyakini sudah ada mushaf Al-Quran yang ditulis oleh orang Aceh dengan karakter ke-Aceh-an, dimulai sejak Kesultanan Samudera Pasee (Pasai), berlanjut hingga Kesultanan Aceh dan berakhir pada periode kemerdekaan.
Karakter yang dimaksud adalah tanda baca, sistem penulisan, iluminasi dan ilustrasi yang mengacu kepada konteks Aceh, sesuai dengan pengetahuan Aceh tanpa menanggalkan aturan Mushaf Ustmani. Inilah rekor yang pertama bahwa Aceh yang dinobatkan masuknya Islam pertama, tentu memiliki al-Quran yang pertama ditulis di Nusantara.
Sampai detik ini, keberadaan Mushaf Aceh yang tertulis tangan diketahui kurang lebih 400 (empat ratus) buah dengan ciri dan corak yang berbeda, baik dalam bentuk utuh atau tidak. Semuanya tulisan tangan, dengan ukuran rata-rata besar dan tebal mayoritas menggunakan media kertas Eropa.
Penulis telah menginventarisir ratusan mushaf manuskrip yang memiliki pola dan hiasan yang berbeda-beda di Aceh, seperti koleksi Museum Aceh, Ali Hasjmy, Tarmizi A Hamid, atau di luar Aceh, PNRI Jakarta, Malaysia, Belanda, Brunai, Inggris dan Denmark.
Inilah rekor Mushaf Aceh paling banyak varian di Nusantara dengan ragam dan ciri yang berbeda-beda jika dibandingkan dengan wilayah-wilayah Islam lainnya di Asia Tenggara.
Rekor Mushaf Aceh lainnya adalah Tafsir Mushaf al-Qur’an pertama berbahasa Melayu (Indonesia) karya Syekh Abdurrauf al-Fansuri berjudul Tarjuman al-Mustafid.

Ini Wasiat Abdurrauf Syiah Kuala Untuk Kita

Teks "Mawa'id al-Badi' (al-Badi'ah)" karya Syekh
Abdurrauf  al-Fansuri
ABDURRAUF BIN ALI AL JAWI AL FANSURI adalah salah seorang ulama besar di Aceh dan pengembang utama tarekat Syattariyah di Aceh dan Asia Tenggara.
Nama lengkapnya ialah Aminuddin Abdul Rauf bin Ali Al-Jawi Tsumal Fansuri As-Singkili. Selain penasihat empat Sultanah di Kerajaan Aceh, ia juga termasuk ulama yang paling aktif menulis kitab sepanjang abad di berbagai bidang ilmu berjumlah kurang lebih 38 judul kitab.
Ia menulis mulai bidang ubudiyah, muamalah, tauhid, tasawuf, tafsir Quran, etika dan lainnya di bidang sosial dan kearifan masyarakat Aceh khususnya, dan masyarakat Melayu umumnya.
Salah satu kitabnya berjudul Mawa’id al-Badi’ (al-Badi’ah) diartikan Pengajaran yang indah-indah (berguna) yang berisikan 50 wasiat pengajaran (poin) Syekh Abdurrauf kepada manusia.
 “Dan kunamai akan dia Mawa’id al-Badi’ artinya segala pengajaran yang indah-indah. Hai segala anak Adam laki-laki dan peremppuan, percayakan oleh kamu akan segala pengajaran ini, jangan engkau syak (ragu) akan dia, karena segala pengajaran ini setengahnya (sebagiannya) aku ambil dari perkataan Allah, dan dari Rasulullah, para Sahabat, Aulia Allah, hukama, dan ulama..”.
Pesan tersebut dimulai dengan sebuah anjuran supaya dikaji ulang pada setiap hari atau seminggu sekali atau sekurang-kurangnya sebulan sekali. Faidah membaca kitab ini menurut ulama pengarang kitab tafsir  berbahasa Melayu (Indonesia) pertama kali supaya hati manusia menjadi lembut.
Bahkan, barangsiapa yang telah membacanya dan tidak mengamalkan isinya akan termasuk orang yang merugi. Maka, maklum saja jika kitab ini diperoleh banyak sekali variannya.
Kitab ini disalin oleh banyak orang dalam beberapa tahun berikutnya hingga masa kemerdekaan.
Apabila dipersentasekan isi kitab ini, wasiat pengajaran Abdurrauf banyak membahas tentang etika dan karakter seorang muslim. Anjuran-anjuran di dalamnya mengutamakan sikap bersosial terhadap orang lain, sepuluh peringatan pertama seluruhnya menyebutkan tentang sikap manusia.
Pertama yang diungkapkan oleh Abdurrauf adalah kematian (maut) dan proses di hari kiamat. Epistemologi tersebut merupakan langkah utama bagi manusia yang dianggap baligh dan berakal sebagai tujuan akhir hidup ini.
Kemudian, pada peringatan kedua ia menegaskan tentang tauhid.

 

Education

Loading...

adsense

National Geographic Photos

Manuscript

Loading...