Monday, March 11, 2019

NEW
James Loudon (1872-1873) hanya menjabat satu tahun sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda sebagai pengambil keputusan untuk memerangi Aceh. Perang yang diperkirakan hanya berlangsung beberapa minggu, ternyata tidak berjalan sesuai dengan rencana. Bahkan, petaka perang paling lama dengan kerugian paling besar dalam sejarah Pemerintah Hindia Belanda.

Bukan hanya sebatas itu, perang ini juga merupakan tragedi paling merugikan bagi Belanda, di mana 75% keuangan negara harus dialokasi untuk memerangi pejuang Aceh. Pantas, negeri-negeri jajahan lainnya dipaksa kerja bertahun, tanpa gaji dan tidak ada tunjangan demi menutupi kerugian tersebut.

James Loudon kelahiran tahun 1824 berdarah keturunan Inggris yang datang dan masuk ke Hindia Belanda. Ia menjadi warga negara Belanda dan jadi pengusaha monopoli gula. Itu sebabnya kedekatan Belanda-Inggris pada tukar guling wilayah yang akan dijajah dan terjajah beberapa tahun sebelum perang pecah.

Kini, tak lama menjabat, dia harus menanggung malu dan berselisih pendapat terhadap keputusannya tersebut dengan para pejabat di Belanda. Akibatnya, sejumlah Menteri Kabinet Belanda mengundurkan diri sebagai tanda tidak setuju. Sebagian lainnya menentang untuk secepatnya dihentikan. Alhasil, Loundon pun akhirnya terpaksa berhenti juga setelah mengalami kekalahan pada perang Belanda-Aceh pertama.

Gubernur Jenderal Hindia Belanda, James Loudon (1872
James Loundon juga orang yang paling bertanggung jawab atas banyaknya kematian selama agresi pertama terjadi, bukan hanya terhadap orang-orang Aceh, tetapi juga terhadap bumiputera (orang lokal) yang disewa Belanda, para perwira Belanda dan terkhusus terhadap Jenderal Köhler.

Köhler yang terkenal itu mengalami sial saat hendak merayakan kemenangannya di tanah Aceh, beberapa hari melihat kondusi semakin kondusif, berharap pasukan mujahidin Aceh telah kalah dan mundur dari Mesjid Raya Baiturrahman. Tetapi, di depan mesjid raya, ia tewas ditembak oleh pejuang Aceh. Akibatnya, pasukan ini harus kembali lebih awal ke Batavia (Jakarta).


Dalam laporan James Loundon di Bogor, bulan Mei 1873, menyebutkan bahwa saat mengetahui Jenderal Kohler mati, maka saya (red. Loundon) mengangkat Jenderal Verspijck menjadi Kepala Staf Armada. Sementara para komisaris Pemerintah Belanda urusan Aceh mulai mempertimbangkan untuk berhenti bertempur dengan Aceh, dan mencari alasan yang tepat atas penarikan pasukan  untuk dilaporkan ke Pemerintah di Belanda.

Salah satu alasan yang dibuat-buat adalah musim penghujan sudah tiba dan menghambat hubungan antara daratan dengan tempat-tempat kapal berlabuh. Dengan tidak adanya hubungan pasokan dari kapal utama ke para prajurit Belanda di darat, maka sudah tepat untuk kembali ke Batavia dan menunggu cuaca yang mendukung, sekaligus mencari dana dan kekuatan yang lebih besar. Sebab, agresi pertama ini Belanda mengalami kerugian besar.

James Loudon (source: Wikipedia)

Walaupun James Loundon mengucapkan “selamat datang kembali (kepada armada agresi pertama) di tengah-tengah kami semua....”, yang pada akhirnya ia pun berhenti (dipecat) atas kegagalan ini.

Dalam laporannya juga disebutkan bahwa, para prajurit Belanda berbahagia, sebab pejuang-pejuang Aceh tidak menembak kapal-kapal dengan meriam yang dimiliki. Hingga saat berlayar kembali, semuanya tampak kondisi tenang dan kondusif, walaupun gejolak keduanya tidak dapat dibendung.

Tentu saja masih banyak pertanyaan yang harus diuraikan tentang teknik dan strategi orang Aceh berperang, apakah membiarkan musuh yang telah merusak tatanan di Aceh dibiarkan pergi, atau memang kondisi Aceh yang tidak memiliki persenjataan besar lagi, seperti meriam untuk membantai kapal-kapal Belanda yang bersandar di perairan Aceh.
Penjelasan tentang Perang Aceh dengan Belanda tertera di bagian ruang di Museum Bronbeek, Belanda. Photo: Hermankhan

Namun, amatan saya juga melihat duka mendalam bagi para pejuang Aceh, selain mesjid terbakar akibat meriam bola api, juga syahidnya Imam mesjid raya (anonim). Syahidnya sang Imam Mesjid Raya Baiturrahmah terekam jelas pada catatan di dalam Mushaf Aceh yang kini disimpan di Perpustakaan Universitas Leiden.

Baca juga tentang Mushaf Mesjid Raya Baiturrahman: Darah Imam di Mushaf Mesjid Raya Baiturrahman


*Rujukan dari berbagai sumber  

Loudon: Selamat Jalan Kohler, Aku Dipecat.

Read More

Saturday, March 02, 2019

Jumat pagi, 7 Maret 1873, cuaca cerah menyinari kota Batavia. Upacara pelepasan pasukan Belanda dengan senjata penuh menuju perairan Aceh telah disiapkan. Kapal-kapal perang dan kapal laut sipil siap dikerahkan ke perairan Aceh. Belanda cukup mengetahui kekuatan Aceh, walau tidak sehebat dan setangguh periode sebelumnya. Informasi tentang itu sepertinya diperoleh dari internal orang Aceh, atau orang dari serumpun (yang kemudian diistilahkan dengan bumiputera). Memang, kemunduran Aceh diawali konflik (perang) internal di Kesultanan Aceh disebabkan perebutan (pembagian) kekuasaan, sebagaimana disebut dalam Hikayat Po Tjut Muhammad.

Kekuatan Belanda yang dikerahkan pada agresi pertama sebenarnya tergolong besar. Tidak kurang dari 7 tujuh kapal perang berlayar menuju Aceh, kapal perang milik Belanda "Citadel van Antwerpen", "Marnix", "Coehoorn", "Bronbeek". Kapal pemerintahan sipil (kemungkinan kapal milik kesultanan lainnya di kepulauan Melayu dan Nusantara) bernama "Siak", "Djambi", "Soerabaja", dan "Sumatra" yang dioperasionalkan untuk mengangkut para pekerja dan pasukan bayaran dari daerah lain.


Secara detail terdapat 5 barkas (kapal laut kecil), 8 buah kapal peronda, 1 buah kapal komando, 6 buah kapal pengangkut, serta 5 buah kapal layar, masing-masing ditarik oleh kapal pengangkut, yaitu 3 buah untuk pasukan artileri, kavaleri dan para pekerja, 1 buah untuk amunisi dan perlengkapan, serta satu buah kapal untuk kedokteran dan palang merah.

Komandan armada ialah kapten laut J.F. Koopman. Angkatan darat dan laut itu yang seluruhnya terdiri dari 168 orang perwira (140 orang Eropah, 28 orang bumiputera), 3198 orang bawahan (1098 orang Eropah dan 2100 orang bumiputera), 31 ekor kuda untuk perwira, 149 ekor kuda pasukan, 1000 orang pekerja paksa dengan 50 orang mandor, 220 orang wanita bumiputera (8 orang setiap kompi) serta 300 orang laki-laki bumiputera sebagai pelayan perwira-perwira, dipimpin oleh mayor jenderal J.H.R. Köhler, dibantu oleh wakilnya merangkap komandan infanteri kolonel E.C. van Daalen, disertai pula oleh kepala dan wakil kepala staf, ajudan-ajudannya, komandan-komandan batalion, Zeni, kesehatan dan topografi.

Keberangkatan kapal-kapal perang tersebut diharapkan pertengahan bulan Maret 1873, sehingga sebelum ultimatum itu dikumandangkan, kapal-kapal telang memblokade perairan Aceh. Tujuannya untuk menutupi akses laut Aceh dari bala bantuan dan hubungan Kesultanan Aceh dengan negara-negara tetangga atau yang masih mengakui kedaulatan Aceh. Tujuan lainnya untuk menunjukkan bahwa pihak Belanda memiliki kekuatan penuh yang dapat menaklukkan Aceh seketika.

Kapal Perang Ustmani Ertugrul sekitar tahun 1863. Kemungkinan besar kapal perang sejenis ini digunakan di Aceh pada periode abad ke 18-19 M.  (Project Ertugrul/Syamina)

Namun sejauh ini, perlu dikaji kembali apakah pasukan Aceh pernah menyerang kapal-kapal Belanda yang akan berlabuh dan mengepung Aceh pada detik-detik hubungan Aceh dengan Belanda semakin panas. Sebagaimana dalam riwayat, bahwa Kesultanan Aceh memiliki kapal perang, kapal laut sipil dan beberapa kapal yang ditakuti di jalur selat Malaka dan perairan Aceh [Bersambung]




Detik-detik Perang Belanda-Aceh: Pasukan dan Peralatan Perang Belanda (2)

Read More


Dari Riau, kapal Laut "Marnix" kemudian bersandar di pelabuhan yang tidak terlalu besar di Singapura. Salah satu penumpangnya adalah beberapa orang utusan dari Aceh yang ingin mengadakan hubungan dengan konsulat Amerika dan Italia. 

Pada dasarnya, Konsul Amerika sendiri bersama para utusan tersebut mempersiapkan sebuah konsep perjanjian kerja sama sederajat antara Amerika dan Aceh dalam menghadapi ancaman Belanda. 

Hubungan Aceh dengan Amerika sudah terjalin sebelumnya, pernah membaik dan memburuk, khususnya antara tahun 1831-1832 saat penyanderaan kapal "Friendship" milik Amerika oleh Aceh dan penyerangan balasan oleh Amerika dengan kapal laut USS "Potomac" di wilayah Barat Daya Aceh yang dikenal “Quallah Battoo” atau Kuala Batee. Inilah serangan pertama sekali negara Amerika ke Asia Tenggara.



Belanda sendiri telah mengawasi gerak-gerik para saingannya, terutama Amerika dan Italia dan menemukan bukti konsul-konsul tersebut telah membantu kedudukan Aceh. 


Tepat tanggal 18 Febr 1873 Para penguasa di Nederland memerintahkan James Loudon untuk mengirim pasukan angkatan laut  ke Aceh untuk mewaspadi gerakan lain yang berkoalisi dengan Aceh. Wilayah perairan Aceh diblokade dari bantuan luar negeri.

Belanda khawatir jika dikemudian Amerika akan membantu Aceh. Maka pada 1 Maret 1873 Gubernur Belanda mengangkat F.N Nieuwenhuyzen sebagai Komisaris Pemerintah Hindia Belanda.

Pada tanggal 2 Maret 1873, ia mendapat tugas utama dan berat yaitu dikirim sebagai delegasi ke Aceh dengan misi membujuk dan mengusahakan Sultan Aceh agar mengakui kedaulatan Belanda. 

Andaikata Aceh mau mengakui kedaulatan Hindia Belanda yang berpusat di Batavia (sekarang Jakarta), maka tidak akan ada pengiriman pasukan untuk penyerangan Aceh.

Namun, Kesultanan dan rakyat Aceh adalah bangsa yang merdeka dan berdaulat, mengetahui bahwa Belanda sedang menjajah beberapa negeri serumpun di kepulauan kecil dan besar, pulau Jawa, pulau Sumatera dan lainnya. Penjajahan dan penindasan inilah yang ditolak oleh Aceh. [bersambung] 


* Gambar pertama Surat Sultan Aceh Mansur Syah bin Sultan Jauhar Alam Syah kepada Sultan Ottoman Turki SUltan Abdul Majid Khan bin Sultan Mahmud Khan.
* Gambar kedua lukisan peperangan kapal Potomac milik Amerika ke daerah Kuala Batee di Aceh Barat Daya

Note: Referensi dari berbagai sumber.
- Dr İsmail Hakkı Kadı, Dr Annabel Teh Gallop and Dr Andrew Peacock. Islam, Trade and Politic Across the Indian Ocean.
- Teuku Ibrahim Alfian, Perang Dijalan Allah: Perang Aceh 1873-1912.
- Anthony Reid, The Contest for North Sumatra: Aceh, the Netherlands and Britain, 1858-1898



Detik-detik Perang Belanda-Aceh: Diplomasi Dalam Perang (1)

Read More

Saturday, December 29, 2018


Puluhan naskah Ta’bir Gempa memiliki struktur sama dalam penulisan secara periodik, mulai dari bulan Hijriyah, pergantian waktu pagi, siang, sore dan malam, serta waktu-waktu shalat lima waktu. Perbedaannya antara satu teks dengan teks gempa lainnya adalah dampak akibat gempa, yang selama ini dianggap sebuah tafsiran (ramalan). Potret dampaknya tersebut akan mencerminkan lokalitas naskah yang identik dengan penduduk setempat, misalnya pertanian, perdagangan, pemerintahan (kesultanan) dan pengetahuan agama.


Apabila dibandingkan seluruh naskah-naskah gempa akan ditemui perbedaan peristiwa dan dampak akibat gempa itu satu dengan lainnya yang menunjukkan rekaman gempa. Gempa-gempa yang terjadi ditulis (disalin) sesuai dengan kondisi alam, situasi politik, ekonomi dan tradisi pengetahuan masyarakat. Oleh karena itu, satu penyalin dengan penyalinnya akan berbeda cara pandang saat mengalami gempa yang sama karena berdasarkan situasi dan kondisi serta psikologi masyarakat saat itu.

Naskah koleksi Museum Negeri Aceh


Teks Ta’bir Gempa bukan sebatas tulisan dan bacaan, bahkan bukan ramalan yang disusun tempo dulu untuk menerawang masa depan. Akan tetapi Ta’bir Gempa merupakan ingatan kolektif masyarakat pada periode tertentu untuk mewariskan pengetahuan tentang bencana gempa. Oleh karena itu, teks-teks Ta’bir Gempa mayoritas berada di antara teks-teks naskah bacaan harian, seperti doa, zikir, hizib dan lainnya sebagai tanda menjadi salah satu bacaan umum untuk memahami bencana.


Sayangnya, tradisi merawat pengetahuan dalam bentuk dokumen (manuskrip) tidak menjadi fokus utama dalam bidang keilmuan kecuali dalam bidang keagamaan, tata bahasa dan tasawuf. Manuskrip-manuskrip yang ditemui pada saat ini mayoritasnya merupakan produksi di lembaga keagamaan, yang fokus terhadap bidang-bidang keagamaan dan pendidikan. Di lembaga keagamaan (zawiyah dan dayah) di Aceh dengan tradisi transfer knowledge dan tradisi transmisi keilmuan dalam bentuk tulisan masih kental terawat.

Tradisi Mewarat Pengetahuan Mitigasi Gempa

Read More

Thursday, November 01, 2018

BANDA ACEH - Dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry, Hermansyah, M.A.Hum., beserta rekan lainnya sejak tahun 2017, bersama Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI telah melakukan penelitian untuk mengajukan Hikayat Aceh didaftarkan sebagai Memory of The World (MoW) 2019, Unesco.

Pengajuan itu telah dibahas dalam Focus Group Discussion (FGD) Praregistrasi Hikayat Aceh sebagai Memory of The World 2019, di Aula Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh, 25 Oktober 2018.

Hermansyah mengatakan, naskah Hikayat Aceh terpilih karena merupakan salah satu naskah tertua tahun1600-an. Salinan itu semuanya ada tiga naskah dengan isi yang sama, dua naskah berada di Leiden, Belanda, dan satu lagi tersimpan di Perpusnas RI. Selain Hikayat Aceh, bersamaan dengan itu ada beberapa naskah dari wilayah Nusantara lainnya yang diajukan didaftarkan di Unesco, termasuk naskah dari Sunda.

“Hikayat Aceh ini menceritakan tokoh utama Sultan Iskandar Muda, dimulai dari masa kecilnya, kepemimpinan dan keberhasilannya dalam mengelola Kerajaan Aceh, hingga eksistensi Kesultanan Aceh dan pencapaian puncaknya pada awal masa kakeknya dan diteruskan oleh Sultan Iskandar Muda. Selain itu, naskah Hikayat Aceh merupakan kitab sastra yang istimewa karena mewakili tradisi penulisan sejarah yang ditulis atas dasar genre sastra Islam,” kata Hermansyah, 28 Oktober 2018.

Hermansyah mengatakan, para peneliti telah menentukan bahwa teks dari naskah tersebut dikarang antara tahun 1606-1636, karena menyebutkan pada periode-periode keemasannya, terutama gelar atasnya ‘Paduka Syah Alam’.

“Dalam naskah Hikayat Aceh, pengarang menyebutkan bahwa tokoh utama adalah Pancagah,  kemudian digelar dengan Johan Alam,  dan kemudian selanjutnya dikenal dengan Perkasa Alam.  Sedangkan nama Iskandar Muda tidak ditemui dalam naskah ini melainkan hanya dalam naskah Bustan as-Salatin dan dalam Hikayat Malem Dagang," ujarnya.

"Dalam teks naskah terakhir ini juga disebut nama Hikayat Meukuta Alam, nama Melayunya ‘Mahkota Alam’, selain teks Hikayat ‘Euseukanda’ bahasa Melayunya disebut ‘Hikayat Iskandar Muda’. Dalam suratnya kepada Raja James I Inggris pada tahun 1024 H/ 1612, di mana sultan menyebut dirinya ‘Seri Sultan Perkasa Alam Johan Berdaulat, yang bergelar Mahkota Alam’,” kata Hermansyah.

Hermansyah merincikan, bagian awal Hikayat Aceh menceritakan tentang asal usul raja-raja Aceh, silsilah dari pihak ayah dan ibu Iskandar Muda. Selanjutnya beralih kepada kebesaran dan kekuatan yang dimiliki oleh neneknya Sultan Iskandar Muda dari pihak ibu, Sultan Alauddin Riayat Syah Sayyid al-Mukammil atau Syah Alam. Berlanjut kepada kandungan Hikayat Aceh menceritakan kehebatan masa kecil Sultan Iskandar Muda,  belajar ilmu bela diri atau kegiatan-kegiatan yang terpuji lainnya.

"Maka Perth menyifatkan karya tersebut sebagai riwayat asal usul dan masa kanak-kanak seorang raja.  Sultan Iskandar Muda juga disebutkan banyak pengaruhnya di beberapa kerajaan  di Nusantara," ujarnya.

Menurutnya, karya-karya intelektual yang ditulis oleh para cendekiawan Aceh, pada zaman keemasan Aceh Darussalam abad ke-16 dan 17 M dengan berbagai disiplin ilmunya yang hingga saat ini berbagai naskah-naskah itu masih bisa ditemui tersimpan di berbagai museum, lembaga swasta dan koleksi personal. "Dan naskah-naskah yang dilahirkan dalam berbagai keilmuan yang lebih didominasi dalam bahasa Jawi (Melayu/Indonesia) daripada bahasa Aceh, kecuali naskah ranah hikayat," kata Hermansyah.

Zaman itu, kata Hermansyah, dalam perkembangan transisi keilmuan sudah menjadi kewajiban bagi seorang santri ataupun pengajar untuk menyalin naskah-naskah yang dibutuhkan. Lembaga pendidikan tradisional di Aceh seperti zawiyah ataupun dayah, seperti Zawiyah Tanoh Abee di Aceh Besar, sang guru akan mewajibkan muridnya untuk menyalin minimal tiga kitab/buku sebagai syarat menjadi murid ‘meudagang’ di lembaga pendidikan tersebut. Tradisi tersebut masih terawat hingga akhir abad ke-20 dan menjadi kekhassan tersendiri di zawiyah-zawiyah  di seluruh Aceh.

“Sayangnya, tradisi tersebut hanya terwarisi dalam naskah-naskah keagamaan dan tata bahasa Arab. Sedangkan naskah-naskah dengan tema lainnya seperti sejarah, perobatan, pemerintahan, etika dan termasuk hikayat akan sangat sedikit penyalinannya,” kata Hermansyah.

Mengingat naskah hikayat itu belum ditemukan halaman awal, maka tentunya tidak ditemukan judul asli terhadap naskah tersebut. Sebagaimana umumnya naskah-naskah klasik periode tersebut akan disebutkan pada pembukaan (exordium) sebagaimana naskah Taj as-Salatin, naskah Sulalat as-Salatin, dan juga Bustan as-Salatin.

Sedangkan naskah Hikayat Aceh dimulai dari pertengahan naskah. Sehingga judul naskah Hikayat Aceh bukan dari penyalin ataupun pengarang dalam judul naskah, akan tetapi kemungkinan besar  diambil dari teks salinan “Ini hikayat raja Aceh daripada asal turun temurun”.

Hermansyah membandingkan, jika pengarang Hikayat Aceh itu dalam gaya penulisannya dipengaruhi oleh judul-judul ketokohan seperti Hikayat Seri Rama, Hikayat Iskandar Zulkarnaen,  Hikayat Muhammad Hanafiyyah,  ataupun Hikayat Malem Diwa, karya-karya yang fokus pada nama tokoh utama dalam judulnya,  maka Hikayat Iskandar Muda adalah nama yang sesuai. Judul terakhir tersebut hampir serupa dengan judul Hikayat Mahkota Alam dalam versi bahasa Melayu,  sebagaimana yang telah dialihaksara oleh Cowan dan Imran Teuku Abdullah.

Sementara Braginsky sendiri dalam kajiannya lebih cenderung melihat bahwa Hikayat Aceh sangat dipengaruhi oleh genre sastra Persia yang menggambarkan pemerintahan hanya satu penguasa dalam bentuk yang lebih baik dalam riwayat naskah-naskah kesusasteraan dan sejarah.

“Braginsky  membandingkan tiga kandungan naskah antaranya Hikayat Aceh, dengan Malfuzat Timuri dan Akbar nama. Banyak persamaan yang ditemui ke dalam tiga naskah tersebut, mulai dari mitos putri dalam buluh, tanda kebaikan dan kehebatan, kekuasaan yang besar dan pujian lainnya,” kata Hermansyah.

Sumber: portalsatu.com

Kata Hermansyah Tentang Naskah Hikayat Aceh yang Didaftarkan ke UNESCO

Read More

Wednesday, October 31, 2018

Naskah kuno berjudul “Hikajat Atjeh” (Hikayat Aceh) yang ditulis pada paruh kedua abad 17 dan diyakini sebagai karya Syamsuddin As-Sumatrani, kini sedang diperjuangkan Perpustakaan Pusat Nasional (Perpusnas) RI untuk diterima Unesco sebagai warisan Memory of the World (MoW) Tahun 2019.

Terkait dengan upaya itu, Kamis (25/10/2018) pagi dilaksanakan Focus Group Discussion (FGD) Praregistrasi Hikayat Aceh sebagai Memory of The World 2019 di Aula Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh.

FGD itu diperlukan untuk memperkaya upaya penyusunan naskah nominasi, karena pengusulan MoW harus disertai kajian akademik.

FGD yang dihadiri 20 pakar itu dibuka Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh, Dr Wildan MPd dan difasilitasi Redaktur Pelaksana Harian Serambi Indonesia, Yarmen Dinamika.

Mengawali FGD, Prof Dr Wardiman Djojonegoro (mantan menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada masa Orde Baru) dan Hermansyah (Dosen Filologi Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry) tampil sebagai narasumber utama membahani para peserta yang notabene juga narasumber FGD.

Prof Wardiman yang saat ini berusia 83 tahun dengan penuh semangat membeberkan bahwa Unesco (Badan Resmi PBB untuk Urusan Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan) akan kembali membuka pendaftaran MoW, diperkirakan pada Mei 2019.

Untuk itu, Kepala Perpusnas, Dr Syarif Bando, mengusulkan dua naskah sastra kuno untuk didaftarkan (diregister) sebagai nominee MoW dari Indonesia.

Naskah tersebut adalah Sang Hyang Sikusa dan Hikajat Atjeh. Alasan pengajuan karena naskah Hikajat Atjeh termasuk tua, merupakan warisan sastra kuno, masih tersimpan dengan baik dan aman (di Perpusnas dan di Universitas Leiden, Belanda), dan luput dari bencana tsunami.

Kepala Perpusnas, kata Prof Wardiman, juga setuju untuk mengundang Pemerintah Aceh menjadi salah satu co-nominator, di samping Universitas Leiden.

“Pemerintah Aceh diajak sebagai co-nominator, agar para ilmuwannya dapat ikut aktif mengkaji pengusulan naskah ini,” kata Wardiman didampingi Dr Ahmad Masykuri, Kepala Pusat Reservasi Bahan Pustaka Perpusnas RI.

Menurut Wardiman, untuk ukuran sebuah manuskrip Indonesia, naskah Hikajat Atjeh itu tergolong sangat tua (ditulis antara 1650-1700), karena naskah di Indonesia biasanya cepat rusak akibat kelembaban yang tinggi, mengingat Indonesia negeri tropis.

MoW ini, kata Wardiman, bertujuan untuk melestarikan warisan arsip dunia dengan teknologi mutakhir dan meningkatkan preservasi dari arsip-arsip yang mempunyai arti global, maupun arsip yang mempuyai nilai regional atau nasional.

Tujuan lainnya adalah meningkatkan kepedulian para negara anggota atas arsip-arsip mereka, khususnya arsip yang mempunyai nilai warisan dan arti global.
Ms. Hikayat Aceh koleksi Perpustakaan Nasional RI, Jakarta

Narasumber lainnya, Hermansyah merekomendasikan perlu adanya reproduksi naskah, alih media modern, dan sosialisasi naskah Hikajat Atjeh yang akan didaftarkan ke Unesco itu.

Ia menyebut nakah tersebut sebagai salah satu dari Naskah Agung Aceh yang berdasarkan kajian Dr Hoesein Djajadiningrat maupun Dr Teuku Iskandar, diyakini sebagai karya Syamsuddin As-Sumatrani yang pernah menjadi Mufti Agung pada masa Kerajaan Aceh.

Aceh sendiri, menurutnya, memiliki 5.141 naskah yang sudah terdata, tapi baru 944 yang didigitalisasi.

Ia berharap, naskah kuno lainnya dari Aceh sepanjang ditemukan naskah aslinya layak diusulkan ke Unesco sebagai MoW.

Di antaranya Hikayat Raja-raja Pase yang lebih tua dibanding Hikajat Atjeh.

Para peserta FGD seluruhnya setuju dan gembira jika naskah Hikajat Atjeh diregister ke Unesco untuk mendapatkan MoW tahun 2019, karena hal itu menunjukkan tingginya tamadun dan peradaban Aceh pada abad 17 yang bukti fisiknya masih ada hingga kini.


Artikel ini telah tayang di Serambinews.com
http://aceh.tribunnews.com/2018/10/26/hikayat-aceh-dinominasikan-masuk-memory-of-the-world-unesco

Hikayat Aceh Dinominasikan Masuk Memory of the World UNESCO

Read More

BANDA ACEH - Naskah kuno berjudul “Hikajat Atjeh” (Hikayat Aceh) yang ditulis pada paruh kedua abad 17 dan diyakini sebagai karya Syamsuddin As-Sumatrani, akan diusul dan sedang diperjuangkan Perpustakaan Pusat Nasional (Perpusnas) RI untuk diterima Unesco sebagai warisan Memory of the World (MoW) Tahun 2019.

Terkait dengan upaya itu, Kamis (25/10) siang dilaksanakan Focus Group Discussion (FGD) Praregistrasi Hikayat Aceh sebagai Memory of The World 2019 di Aula Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh. FGD itu diperlukan untuk memperkaya upaya penyusunan naskah nominasi, karena pengusulan MoW harus disertai kajian akademik.

FGD yang dihadiri 20 pakar itu dibuka Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh, Dr Wildan MPd dan difasilitasi Redaktur Pelaksana Harian Serambi Indonesia, Yarmen Dinamika.

Mengawali FGD, Prof Dr Wardiman Djojonegoro (mantan menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada masa Orde Baru) dan Hermansyah (Dosen Filologi Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-

Raniry) tampil sebagai narasumber utama membahani para peserta yang notabene juga narasumber FGD.

Prof Wardiman yang saat ini berusia 83 tahun dengan penuh semangat membeberkan bahwa Unesco (Badan Resmi PBB untuk Urusan Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan) akan kembali membuka pendaftaran MoW, diperkirakan pada Mei 2019. Untuk itu, Kepala Perpusnas, Dr Syarif Bando, mengusulkan dua naskah sastra kuno untuk didaftarkan (diregister) sebagai nominee MoW dari Indonesia. Naskah tersebut adalah Sang Hyang Sikusa dan Hikajat Atjeh. Alasan pengajuan karena naskah Hikajat Atjeh termasuk tua, merupakan warisan sastra kuno, masih tersimpan dengan baik dan aman di Perpusnas dan di Universitas Leiden, Belanda, serta luput dari bencana tsunami.

Kepala Perpusnas, kata Prof Wardiman, juga setuju untuk mengundang Pemerintah Aceh menjadi salah satu co-nominator, di samping Universitas Leiden. “Pemerintah Aceh diajak sebagai co-nominator, agar para ilmuwannya dapat ikut aktif mengkaji pengusulan naskah ini,” kata Wardiman didampingi Dr Ahmad Masykuri, Kepala Pusat Reservasi Bahan Pustaka Perpusnas RI.

Menurut Wardiman, untuk ukuran sebuah manuskrip Indonesia, naskah Hikajat Atjeh itu tergolong sangat tua (ditulis antara 1650-1700), karena naskah di Indonesia biasanya cepat rusak akibat kelembaban yang tinggi, mengingat Indonesia negeri tropis.

MoW ini, kata Wardiman, bertujuan untuk melestarikan warisan arsip dunia dengan teknologi mutakhir dan meningkatkan preservasi dari arsiap-arsip yang mempunyai arti global, maupun arsip yang mempuyai nilai regional atau nasional. Tujuan lainnya adalah meningkatkan kepedulian para negara anggota atas arsip-arsip mereka, khususnya arsip yang mempunyai nilai warisan dan arti global.

Para peserta FGD seluruhnya setuju dan gembira jika naskah Hikajat Atjeh diregister ke Unesco untuk mendapatkan MoW tahun 2019, karena hal itu menunjukkan tingginya tamadun dan peradaban Aceh pada abad 17 yang bukti fisiknya masih ada hingga kini.

Ms. Hikayat Aceh koleksi Perpustakaan Nasional RI, Jakarta 

Perlu Reproduksi Naskah
Narasumber lainnya, Hermansyah merekomendasikan perlu adanya reproduksi naskah, alih media modern, dan sosialisasi naskah Hikajat Atjeh yang akan didaftarkan ke Unesco itu. Ia menyebut nakah tersebut sebagai salah satu dari Naskah Agung Aceh yang berdasarkan kajian Dr Hoesein Djajadiningrat maupun Dr Teuku Iskandar, diyakini sebagai karya Syamsuddin As-Sumatrani yang pernah menjadi Mufti Agung pada masa Kerajaan Aceh.

Aceh sendiri, menurutnya, memiliki 5.141 naskah yang sudah terdata, tapi baru 944 yang didigitalisasi. Ia berharap, naskah kuno lainnya dari Aceh sepanjang ditemukan naskah aslinya layak diusulkan ke Unesco sebagai MoW. Di antaranya Hikayat Raja-raja Pase yang lebih tua dibanding Hikajat Atjeh.


Artikel ini telah tayang di serambinews.com.
 http://aceh.tribunnews.com/2018/10/27/hikayat-aceh-diusul-masuk-mow-unesco.  Editor: hasyim

Manuskrip Hikayat Aceh Diusul Masuk MoW UNESCO

Read More

Tuesday, September 11, 2018


Tahun Baru Islam diawali pada bulan Muharram merupakan bulaan yang penuh sejarah dan pelajaran bagi seluruh ummat Islam di dunia ini, dan manusia secara umum.

Tahun baru itu ditetapkan oleh para sahabat sebagai peringatan paling bersejarah dalam perjalanan agama terakhir di dunia ini, yaitu merujuk kepada peringatan peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Kota Mekkah ke Kota Madinah pada tahun 622 Masehi.

Hijrahnya Nabi Muhammad ke Kota Yatsrib (nama lama sebelum Madinah) membuka lembaran baru bagi kehidupan Rasulullah, para sahabat dan pengikutnya. Tahun itu juga ditandai tidak ada perbedaan antara kabilah-kabilah di dalam Islam, tidak ada "asoe lhok" pribumi dengan "ureung luwa" pendatang, antara kaum Anshar dan kaum Muhajirin. Semua sama dalam Islam.

Maka, para sejarawan dan ulama memiliki beragam penafsiran terhadap peristiwa tersebut, bahkan ia tidak hadir dengan sendirinya, dan dipenuhi dengan berbagai harapan, asa dan doa yang luar biasa.

Maka, dianjurkan setiap akhir tahun untuk berdoa, sebagaimana disebutkan dalam naskah ini.


Inilah doa akhit tahun, yaitu hendaklah dibaca tiga kali pada akhirnya waktu Ashar hari Dua Puluh Sembilan atau Tiga Puluh dari pada bulan Zulhijjah. Maka barang siapa membaca doa ini daripada waktu yang telah tersebut.

Maka berkatalah setan "kesesuhanlah bagiku dan sia-sialah pekerjaanku menggoda anak Adam pada setahun ini".

Maka dibinasakan dengan satu saat jua dengan sebab membaca doa ini. Maka diampuni Allah sekalian dosanya yang setahun ini. inilah doanya:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ 
اَللَّهُمَّ مَا عَمِلْتُ فِى هَذِهِ السَّنَةِ مِمَّا نَهَيْتَنِى عَنْهُ فَلَمْ اَتُبْ مِنْهُ وَلَمْ تَرْضَهُ وَلَمْ تَنْسَهُ وَحَلِمْتَ عَلَىَّ بَعْدَ قُدْرَتِكَ عَلَى عُقُوْبَتِى وَدَعَوْتَنِى اِلَى التَّوْبَةِ مِنْهُ بَعْدَ جَرْا ئَتِى عَلَى مَعْصِيَتِكَ فَإِنِّى اَسْتَغْفِرُكَ فَغْفِرْلِى وَمَا عَمِلْتُ فِيْهَا مِمَّا تَرْضَاهُ وَوَعَدْتَنِى عَلَيْهِ الثَّوَابَ
 فَاَسْأَلُكَ اَللَّهُمَّ يَاكَرِيْمُ يَاذَ الْجَلاَلِ وَاْلاِكْرَامِ اَنْ تَتَقَبَّلَهُ مِنِّى وَلاَ تَقْطَعَ رَجَائِى مِنْكَ يَاكَرِيْمُ
 وَصَلَى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ


Artinya:
Dengan menyebut nama Allhh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Dan Allah tetap melimpahkan Rahmat dan Salam kepada junjungan dan penghulu kita Muhammad beserta keluarga dan sahabat beliau.
Ya Allah. Apa yang saya lakukan pada tahun ini tentang sesuatu yang Engkau larang aku melakukannya, kemudian belum bertaubat, padahal Engkau tidak meridhai, tidak melupakannya, dan Engkau bersikap lembut kepadaku setelah Engkau berkuasa menyiksaku dan Engkau seru aku untuk bertaubat setelah aku melakukan kedurhakaan kepada-Mu.
Maka sungguh aku mohon ampun kepada-Mu, ampunilah aku! Dan apapun yang telah aku lakukan dari sesuatu yang Engkau ridhai dan Engkau janjikan pahala kepadaku, maka aku mohon kepada-Mu ya Allah, Zat Yang Maha Pemurah, Zat Yang Maha tinggi lagi Maha Mulia, terimalah permohonanku dan janganlah Engkau putus harapanku dari-Mu wahai Zat Yang Maha Mulia.
Semoga Allah tetap melimpahkan Rahmat dan Salam kepada junjungan kita Nabi Muhammad beserta keluarga dan sahabat sekalian.

Manuskrip Akhir Tahun Baru Islam dan Do'anya

Read More

Monday, May 07, 2018

"Wa kāna al-farāgh min taswīd hādhā al-qirtas fī syahr Jumādi al-Akhir fī Lailati al-Khamis fi Ziwāyah Lamkruet [Lam Kruet], wa hiya maqām syaikhunā Ahmad Lampu'uk, radhiya 'anhu. Wa shāhibuhu wa kātibuhu Muhammad Sa'id at-Tiro'i baladuhu wa baituhu"

Begitulah kira-kira isi catatan terakhir dalam sebuah kitab agama yang ditulis oleh Muhammad Sa'id Tiro saat berada di zawiyah (pondok/pesantren) Lam Kruet.

Tidak ada informasi lebih jauh biografi pemilik sekaligus penulis kitab tersebut, Muhammad Sa'id asal Tiro. Tiro di Pidie merupakan sentral perkembangan tarekat pada abad ke-18 M dan pusat pertahanan Kesultanan Aceh satu periode berikutnya.

Demikian juga tidak banyak informasi tentang sosok Syaikh Ahmad Lampu'uk, kecuali disimpulkan bahwa beliau berasal dari Lampu'uk, Aceh Besar. Lampu'uk yang hari ini terkenal sebagai tempat wisata pantai laut yang indah, dan sekaligus wilayah terparah saat gempa-tsunami Aceh 2004 menimpa.



Fokus utama lainnya adalah, Ziwayah atau zawiyah Lam Kruet. Salah satu tempat utama (sentral) pendidikan berasrama di wilayah Lhok Nga (red. Lhoknga). Dalam amatan saya, Zawiyah Lam Kruet menjadi pusat kegiatan keagamaan dan pendidikan, saban seperti Zawiyah Tanoh Abee dan Zawiyah Awee Geutah. Alasan utamanya adalah, Muhammad Sa'id asal Tiro Pidie menuntut ilmu dan menyelesaikan kitabnya di Lhoknga Aceh Besar.

Zawiyah memiliki kekhususan dan karakter tersendiri, berbeda dengan Dayah, Meunasah dan Balee Beut (Balai Pengajian). Peran ziwayah pun dikemudian hari tergulung oleh kolonialisme Belanda, yang menghapus peranan zawiyah dan menghentikan aktifitas keagamaan di Aceh periode tersebut.

Kolonial Belanda bukan satu-satunya pemain periode tersebut. Para aristokrat Aceh ketika itu juga ikut menghancurkan lembaga pendidikan tersebut. Atas dalil tak mampu bersaing dengan modernitas dan globalisasi. Salah satunya, memasukkan anak-anak untuk bisa baca tulis aksara Latin dan menanggalkan tulisan Jawi, mewajibkan bacaan buku Belanda dan meninggalkan bacaan buku agama dalam bahasa Arab dan Jawi.

Alhasil, buktinya saat ini, tidak banyak kita ketahui nama-nama zawiyah serta tempatnya di Aceh, sebagai tempat pusat pendidikan agama dan mentalitas orang Aceh, pembinaan akhlak dan karakter orang Aceh, sekaligus sentral pengetahuan dan pembentukan pemikiran orang Aceh terhadap agama, bangsa dan negaranya.

Ziwayah Lam Kruet terkenal sebagai area domisili Syaikh Ahmad Lam Pu'uk, tokoh agama setempat yang dihormati. Penyebutan tenpat pendidikan menunjukkan wilayah tertentu, yang kadang kala tetap dipertahankan pada periode tertentu, misalnya Zawiyah Menara (red. Meunara) yang merupakan lembaga pendidikan Syaikh Abdurrauf al-Jawi al-Fansuri atau disebut juga Syiah Kuala, tokoh utama pengembang tarekat Syattariyah di Nusantara, penasehat Kesultanan Aceh, dan ulama terkemuka.

Baca juga: Zawiyah Menara: Pustaka Ulama di Banda Aceh

Namun, itu bukan standar baku penggunaannya di dalam masyarakat, sebagian lainnya  menggunakan nama daerah atau gampong sebagai bagian dari lembaga pendidikan, misalkan Zawiyah Tanoh Abee, Zawiyah Lampeune'eun, ataupun Zawiyah Awee Geutah, dan sebagainya.

Catatan sampul kitab "Asrar as-Suluk" oleh Teungku Muhammad Dahlan al-Fairusy al-Baghdadi
Nazir Zawiyah Tanoh Abee.


Namun demikian, peranan zawiyah -dalam persepsi saya- lebih besar dari sebuah lembaga dayah, institusi yang sama-sama bergelut dalam dunia pendidikan keagamaan dan kemasyarakatan. Akan tetapi jenjang-jenjang pendidikan memiliki perbedaan satu dengan lainnya, baikt tingkat pelajaran, kurikulum maupun sistem. Perbedaan-perbedaan tersebut telahpun disinggung oleh Prof. Ali Hasjmy (alm) dan Prof. Hasbi Amiruddin.

Dalam catatan historis,  zawiyah terus berkurang dan lenyap di Aceh. Sebaliknya dayah terus bertahan dan berkembang di beberapa wilayah, walaupun perannya terus menurun. Faktor lenyapnya ziwayah inilah yang perlu terus dikaji, bahkan pada era kemerdekaan Indonesia, tidak ada catatan satupun berapa jumlah zawiyah di Aceh, sistem pendidikan, kurikulum, metode hingga kitab apasaja digunakan.

Setali tiga uang, dayah-dayah di Aceh yang disebut masih ada, pun terus mengalami penurunan dari  peran dan ruang yang sesungguhnya. Lembaga yang mengembangkan baca tulis Arab-Jawi mulai lenyap, beralih ke dunia lain sebab mereka tidak mendapat peran dan ruang di berbagai tempat, mereka dikungkung, diasingkan oleh media dan pemerintahnya sendiri. Padahal daerah-daerah lain di Indonesia terus menghidupkan tulisan lokal (etnis) nya seperti Jawa, Batak, Bugis dan lainnya.

Ruang-ruang untuk berkarya seperti dilakukan oleh Tgk Sa'id Tiro dan Tgk Dahlan Tanoh Abee tidak ada lagi (halusnya semakin berkurang). Kongkretnya, sebut saja mana zawiyah dan dayah di Aceh yang masih eksis mengembangkan penulisan Arab-Jawi?. Dan lucunya, Pemerintah Aceh yang berperan dalam hal itu ikut andil menguburkannya. []



Ziwayah Lam Kruet dalam Rekaman Sa'id Tiro

Read More

Copyright © 2015 Herman Khan | Portal Manuskrip Aceh dan Malay | Distributed By Blogger Template | Designed By Blogger Templates
Scroll To Top