Saturday, December 03, 2016

NEW



Pernyataan Belanda di Museum Bronbeek, Arnhem-Belanda "Kenangan Pahit yang harus dikenang".

Hampir semua lini masyarakat Aceh mengambil bagian melawan Belanda pada era kolonial. Bukan hanya murni pejuang, para Sultan, Uleebalang, ulama, kepala-kepala Mukim, perempuan, dan termasuk anak-anak. Banyak korban (syahid) dari pihak Aceh, bukan berarti berhenti dari perjuangan. Bahkan, perlawanan, demi perlawanan terus digalakkan untuk merebut wilayah-wilayah yang dikuasai Belanda.

Menurut Belanda, tahun-tahun terakhir syahidnya para "keluarga Tiro" merupakan akhir dari perjuangan dan perlawanan Aceh terhadap Belanda. Sebab setelah melumpuhkan Kesultanan Aceh, menguasai Mukim-mukim Aceh Besar, sentral perang Aceh pindah ke Pidie,  mampu mengubur "Kesultanan Pidie", beralih pada kepemimpinan ulama.

Dalam tahun 1910-1911 dianggap akhir dari perjuangan Tiro, karena pada tahun ini hampir semua keluarga Tiro syahid. Pada tahun 1910 yang syahid banyak nama-nama pejuang dan ulama pejuang Aceh. Di wilayah Aceh Utara, tewas Teungku Di Buket (21 Mei 1910), Teungku Tjhi' Harun alias Teungku Di Pineung (21 Mei 1910), dan Teungku-teungku ulama; Teungku Ali dari Teutue, Teungku Ismail Gluempang Payeung, Teungku Pi dari Iboih, Teungku Jit dari Lho' Kayu, Teungku Deah dari Geumpang, Teungku Saleh dari Tangse, Teungku Rahman dari Tiro (Said, 459), dan Teungku Mahyiddin alias Teungku Chik Mayet.

Nama terakhir adalah putra kedua Teungku Chik Saman di Tiro yang syahid pada 5 September 1910. Teungku Mahyiddin Tiro pernah mengirim surat kepada Tuanku Raja Keumala dan para pemimpin di Samalanga bahwa ia akan terus berjuang melawan Belanda hingga syahid. Surat itu ditemukan Belanda yang berisikan beberapa peristiwa dalam waktu itu. Baca: Surat Peunutoh Teungku Mahyiddin Tiro

Cap/stempel yang ditemukan pada jenazah Teungku Chi' Maye't syahid 5 September 1910
Tulisannya: Mahyiddin bin Syekh Muhammad Saman Tiro
(The seal with the inscription "Mahyiddin bin Syekh Muhammad Saman Tiro", found on the body or Teungku Chi' Maye't, who died on September 5, 1910)

Pada tahun 1911 masih terjadi perang di seluruh Aceh dan beberapa orang ulama syahid. Pada tanggal 21 Oktober 1911 Teungku Mohamad Akbar bin Aridin, pada September 1911 juga Teungku Alee Tu tue, Teungku Maruful Krus, Teungku Abdul Wahab Tanah Abe alias Teungku Di Cot Minyeu (29 September 1911). Teungku Saleh bin Mohamad Amin Di Tiro (3 Desember 1911). dan tanggal 3 Desember 1911 syahid Teungku Ma'at, putera terakhir dari Teungku Di Tiro. Kejadian ini dianggap oleh Belanda adalah akhir dari "garis Tiro" dan berakhirnya perang Pidie, sebab semua keluarga Tiro telah meninggal. Penilaian itu ternyata salah, bahkan perang terus berkecamuk dan meluas.



Cap/stempel ditemukan pada jenazah Teungku Ma'at, syahid 3 Desember 1911.
inkripsinya "Sahèh Syaikh Ma'at bin Muhammad Amin Tiro.
(Seal found on Teungku Ma'at body, who died on December 3, 1911, with the inscription: Sahèh Syaikh Ma'at bin Muhammad Amin Tiro)

Esoknya, tanggal 4 Desember 1911 dijadikan hari berduka karena meninggalnya Teungku Ma'at sebagai generasi terakhir dari Teugnku Chik Muhammad Saman di Tiro. Setahun sebelumnya pahlawan-pahlawan perang dari keluarga Tiro juga ikut syahid. Oleh tanggal inilah Hasan Tiro mendeklarasikan gerakannya sebagaimana disebutkan dalam bukunya "The Price of Freedom" (h. 15).

Namun demikian,  perjuangan dan perlawanan Belanda tetap berkecamuk, pada tahun yang sama kepemimpinan perang dipimpin oleh setiap panglima di negeri masing-masing, Aceh Besar kepada Pang Bintang, Pang Abaih dari Kulu (25 Mukim) dan Pang Mat dari Pijeueng dari 22 Mukim. Bahkan perang meluas hingga ke Gayo, Rojo Kahar, Lahidin, Teungku Muda Pendeng dan Pang Manaf di Gayo adalah bagian pemimpin dan pejuang yang syahid di Gayo (1914). (Said, 461).

Meriam Aceh di Museum Bronbeek Arnhem Belanda, Latar belakang foto Jendral Belanda "Si Mata Satu"

Perjuangan di Tiro adalah bagian kecil dari peperangan dan perjuangan besar Aceh. Jika melihat kalkulasi korban selama perang Aceh yang disebut Said, maka masih banyak bagian-bagian Aceh yang belum terekam. Menurut data jumlah yang mati dalam perang menurut catatan  resmi Belanda  selama agresi di Aceh dari tahun 1873 s/d 1914.
  • >> Tewas sebanyak 1216 orang
  • >> Luka-luka 13011 di antaranya meninggal kemudian 793 sehingga yang tewas berjumlah 2009.
  • >> Jumlah serdadu Belanda sakit karena tugas antara 1873 s/d 1880 menurut Kielstra 6898, menurut Kruisheer yang sakit antara 1893 s/d 1896 = 818 orang. 
  • >> Untuk 10 tahun 7716. Yang meninggal akibat sakit antara 1873 sampai dengan 1914 = 10.000 orang. 
  • >> Jumlah orang hukuman yang tewas sampai dengan 1881 saja sekitar  8250. Menurut Sid bahwa orang-orang yang terkena hukuman turut dijadikan umpan perang dan "pion" terdepan.

Bila dikalkulasikan kerugian Belanda dari tahun 1873 s/d 1914 sebanyak 2009 orang tewas, 10.500 orang meninggal karena sakit, 25.000 orang karena hukuman. Dengan sendirinya angka tewas di pihak Belanda tanpa memasukkan orang-orang yang terkena hukuman 2009 + 10.500 = 12.509.

Sedangakn merujuk pada catatan resmi Belanda mengenai syahidnya para pejuang Aceh dalam masa:
  • >> Tahun 1873 s/d 1880 sebanyak 30.000 orang. 
  • >> Tahun 1899 s/d 1914 berjumlah 23.198 orang. 
  • >> Total keseluruhan yang syahid berjumlah  53.198 orang. 
Kalau dihimpun dengan masa 17 tahun, antara 1881 s/d 1898 menjadi semua dalam waktu yang sama seperti diatas berkisar antara 70.000 orang. Taksiran Encyclopedia van Ned. Indie menurut Paul van 't Veer jiwa penduduk Aceh ditahun 1890 sebanyak 500.000 orang, atas dasar angka kematian 50.000 orang, maka dapat dicatat setiap 10 orang tewas orang Aceh 10%. Menurut Said,  angka kematian itu sangat dilebih-lebihkan oleh pihak Belanda, tapi dapat dicatat bahwa semua rakyat Aceh telah mengambil bagian aktif berjuang. (h. 462)

Maka, jika merujuk kembali pada kerugian ril dan materil, Aceh mengalami banyak kerugian, walaupun tetap mampu bertahan, dan tidak seperti wilayah lainnya di Indonesia. Sepatutnya, survival masyarakat Aceh tersebut dijadikan momentum dan pembelajaran untuk ke depan, bertahan dalam beragam bencana yang terjadi, sebab ini semua bukan akhir dari perjuangan Aceh. []


Sumber:
Mohammad Said, Aceh Sepanjang Abad II. Diterbitkan oleh: PT. Harian Waspada Medan, dicetak oleh: PT. Percetakan Prakarsa Abadi Press. Tp. h. 462
Tim. Perang Kolonial Belanda di Aceh, Bandung: PT. Harapan Offset, 1977.
Hasan Tiro, The Price of Freedom: the Unfinished Diary of Tengku Hasan di Tiro. Published by National Liberation Front of Acheh Sumatra, 1984.

Bukan Akhir Perjuangan Aceh

Read More

Sunday, November 27, 2016


Bismillah phön lön surat  #  That bereukat nama Tuhan
Bismillah kumulai surat  #  Sangat berkat nama Tuhan

Rahmān Rahīm dua sifeut  #  Berkat that soe amaikan
Rahmān Rahīm dua sifat  #  Berkat sekali siapa yang amalkan

Berkat Nabi lön Muhammad  #  Ngön mukjizat seukalian
Berkat Nabiku Muhammad  #  Dengan mukjizat sekalian

Ngön berkah Mekkah Madinah  #  Baitullah Hajar Mòn Zamzam
Dengan berkah Mekkah dan Madinah  #  Baitullah, Hajar Aswad dan sumur Zamzam

Berkat guré tèngku Syeikh  #  Berkat ayah ummi sajan
Berkat guru, teungku, syekh  #  Berkat ayah-ummi sekalian

Beuköng iman lon ya Allah  #  Beu meutuwah nyawöng badan
Kuatkan iman lon ya Allah  #  Serta bertuah nyawa badan

Lön meng peujeut saböeh kisah  #  Keu zaujah istri laman
Saya buatkan sebuah kisah  #  Untuk istriku sebagai tanggungjawaban

Keu syédara deungön ayah  #  "Aneuk lidah" lön sajan
Untuk saudara dengan ayah  #  Anakku satu-satunya semata wayang 

Bandum sinöe ulön kisah  #  Beumeutuwah sekalian
Disini semua ku kisahkan  #  Semoga semua "berbakti" sekalian

Keu gantö panton syair   #  Seubab haté that syagulan
Sebagai pengganti pantun syair"  #  Sebab hati ini penuh keresahan

Hikayat untuk "Istri Laman" dan "Aneuk Lidah"

Read More

Thursday, November 03, 2016

Bagaimana masyarakat tempo dulu mengirim uang sebelum ada kantor pos? belum ada wesel, ATM, Money changer, atau transaksi canggih lainnya yang dinikmati di era modern seperti sekarang ini.

Secarik kertas kecil datang dari seberang, tanpa alamat. Surat rindu dan tanggung jawab seorang suami di pengasingan kepada istrinya di kampung halaman, Aceh. Dalam keadaan perang, ia berada di seberang pulau Sumatra. Tidak ada keterangan sebab musabab, akan tetapi kumpulan surat-surat di Bandung dalam peti rampasan Belanda dibawa sebrang Eropa untuk disimpan di Belanda. Kini, berada di perpustakaan Leiden. 

Surat ini menunjukkan seorang suami yang sedang berpisah dengan istri dan keluarganya akibat perang. Ia masih bertanggung jawab nafkah untuk keluarganya. Maka sepucuk surat yang dititip melalui Teuku Wahhab untuk disampaikan kepada "adinda" sang istri yang dicintai dengan beberapa amanah.

Selembar kertas tersebut dititip kepada melalui Teuku Wahhab disertai uang 10 riyal. Penggunaan riyal di Aceh sepatutnya dikaji ulang, sebab selain dinar, dirham, oeang Belanda, dan Rupiah Indonesia, Aceh juga pernah menggunakan riyal. Sebab, tidak tertutup kemungkinan pada masa sultan-sultan dari Arab berkuasa ingin menggunakan uang riyal. Akan tetapi ini masih asumsi kasar yang perlu dilakukan kajian secara komprehensif. 





Ini riyal ditangan Teuku Wahhab
sepuluh boh. Maka yang [de]lapan
riyal adinda unjuk pada Teuku Wahhab
suruh unjuk akan Teungku Syekh 
akan harga padi dua gunca. Dan
yang dua riyal akan belanja adinda.
Itulah hal adanya berbanyak-2 doa
akan kaya tip-2 ketika, jangan putus 
sekali-2.

Uang 10 riyal tidak seluruhnya diberikan kepada istrinya, tetapi 8 riyal untuk dibelanjakan padi, sisanya untuk keperluan sang adinda. Uang 8 riyal untuk membeli 2 gunca padi pada Teungku Syekh. Tentu sang suami sudah mengenal siapa saja yang menjual beras padi dengan harga yang baik dan terjangkau. Dengan demikian harga padi 1 gunca sama dengan 4 riyal. 

Gunca merupakan istilah yang digunakan oleh masyarakat Aceh dulu (sekarang kemungkinan hanya di perkampungan) sebagai ukuran untuk benda-benda kering, tidak ada bentuk fisiknya, tetapi disetarakan dengan 10 naléh atau 1/10 kunyan.  1 naléh sama dengan 16 arè atau 8 gantang.

Sebagai penutup, sang suami memohon untuk tidak pernah putus asa memohon doa semoga tercapai cita-cita menjadi kaya pada suatu hari nanti. 

Namun sayangnya, kemungkinan surat ini tidak sampai di tangan adinda (istri) karena surat-surat di Aceh dan sejenis ini sudah "diborgol" oleh tentara kolonial Belanda, dikumpulkan bersama surat-surat lainnya dan dikirim ke Belanda sejak tahun 1908.

Surat "Nafkah" untuk Adinda

Read More

Monday, October 10, 2016


Ashabul Kahfi atau dikenal The Seven Sleepers atau cerita penghuni guha selama ratusan tahun, yang perna mati dan hidup kembali. Cerita ini mendunia, memiliki beberapa versi dan beragam aspek. Tidak hanya dalam Islam, sebelumnya agama damai ini datang, cerita penghuni guha tersebut juga telah disebut dalam Bible (Injil) yang asli. Kisah Ashabul Kahfi dengan seekor anjingnya dari Efesus in digolongkan ke dalam legenda mitologi Kristen. Versi yang paling terkenal dari cerita ini muncul dalam karya Jacobus de Voragine, Legenda Emas.

Pasca Nabi Isa diangkat ke langit ratusan tahun silam sebelum Islam, pengikut-pengikut Isa yang setia pada cerita AShabul Kahfi semakin berkembang, hingga datangnya nabi Muhammad membawa risalah Islam. Untuk menguji pengetahuan Umar (saat itu menjadi pemimpin), para pendeta kristen  menanyakan beberapa perihal histori masa lampau yang sangat terkenal di kalangan mereka, apabila bisa dijawab mereka akan masuk Islam. Umar dibantu Saydina Ali, mereka bertanya akan tentang perihal kebiasaan binatang dan cerita Ashabul Kahfi. Di sinilah perdebatan (tanya-jawab) terjadi yang membuat pendeta Yahudi tersebut mengakui kebenaran Islam.

Asal usul kronologi di atas berawal dari Hikayat Ashabul Kahfi (The Seven Sleepers), saat seorang pendeta bertemu dengan Ali dan menanyakan tentang sesuatu yang susah dijawab oleh masyarakat umumnya. Dalam sastra Aceh dikenal sebagai Hikayat Aulia Tujoh. Disebut demikian, karena mereka tujuh orang yang melarikan diri Raja zalim dan tinggal di guha. Dari tujuh orang tersebut; 6 orang adalah menteri kerajaan dulu, dan 1 orang adalah pengembala kambing. Si pengembala kambing akhirnya juga mengajak anjingnya ikut serta dalam pelarian tersebut. Hikayat Aulia Tujoh ini telah ditransliterasi untuk kesekian kalinya dan terakhir kali oleh Ramli Haron (1981).

Pada baris sebelumnya sang pendeta bertanya tentang suara kokok ayam dan suara kuda menyebut apa. Dalam Hikayat Ashabul Kahfi:
     Manok kuku' u' peu jipeugah?
     Meuhik-hik purih peukheun kuda?


Jawaban Saydina Ali  membuat pendeta tersebut masuk Islam:
         Manok kuku' u' teungoh malam
         Peu jikheun nyan hai maulana
         Udhkurullāh yā Ghāfilin
         Peuingat insan soe yang lupa

(Ayam berkokok tengah malam 
Apa yang disebutnya hai maulana
Berzikirlah wahai para pelupa
Pengingat bagi manusia yang lupa)

           Hik-hik kuda peu jikheun nyan 
           Jaweub janjongan neu calitra 
           Allahumma unshur ibādaka al-mu’minīn ‘alā
           al-Kāfirīn Doa keu mukmin barangjan masa

(Hik-hik kuda apa disebutnya
Jawab janjungan dengan cerita
Ya Allah bantulah hamba para Mukminin dari 
orang-orang kafir ∴ Doa ke mukmin sepanjang masa)

Dalam Hikayat Ashabul Kahfi, kisah penghuni gua selama 309 tahun bukan hanya sebuah cerita, tetapi juga pembelajaran dan manfaat dari hikayat tersebut yang disampaikan oleh penyair kepada pendengar. Cerita-cerita bermanfaat seperti ini, apalagi berdasarkan sumber al-Quran, yang kini jarang didengar dari oleh anak-anak kecil. [] 

            




Hewan Beristighfar untuk Manusia?

Read More

Friday, October 07, 2016

Pagi cerah dengan sengatan matahari, saya kian asyik foto manuskrip (naskah) di Perpustakaan Universitas Leiden tak terasa sudah menunjukkan jam satu lewat. Hari itu hari Jum'at. Ini merupakan Jum'at pertama bagi saya di Leiden khususnya, di negeri yang penuh sepeda. Sebagaimana waktu shalat di Jerman, saya bergegas menuju mesjid di kampung Leiden ini.

Sebelum melangkah ke mesjid, saya sejenak menggunakan google map untuk mencari mesjid terdekat dengan kampus Leiden. Sekitar 4 mesjid terdeteksi oleh sistem nomor wahid ini. Saya memilih masjid terdekat mengingat kerjaan di perpustakaan Leiden harus saya selesaikan segera. Masjid (Belanda: Moskee) al-Hijrah adalah pilihan tepat, hanya 6-7 menit jalan kaki, berseberangan jalan dengan Perpustakaan Leiden atau juga berderetan dengan gedung KITLV. Sebuah lembaga yang megah di Aceh dan Indonesia atas konstribusinya mendigital buku-buku langka era kolonial Belanda.

Setelah mendapat titik lokasi mesjid, saya wudhu di kamar mandi perpustakaan. Dalam asumsi saya seperti di Jerman akan banyak antri di tempat wudhu' masjid. Kemudian saya menuju ke Masjid al-Hijrah, tiba lebih awal, awalnya saya pikir banyak shaf kosong, ternyata mesjid ini memiliki beberapa tingkat. Beberapa jamaah duduk bersandar sambil membaca al-Quran, ini sebuah kebiasaan yang baik saya dapatkan di sini, bahkan di hampir seluruh Eropa. Sepatutnya tradisi membaca Quran di masjid digalakkan dan membuang kebiasaan bicara yang tidak penting di dalam mesjid atau bahkan asyik "poh cakra" di luar mesjid saat Jumat berlangsung hingga khatib membaca rukun khutbah.

Gedung Mesjid al-Hijrah ini berada di deratan dengan gedung lain, sekilas tidak tampak mesjid, tidak ada kubah, tidak ada toa di luar, kecuali di atas pintu utama tertampang tulisan "Moskee al-Hijra" dan dalam tulisan Arab  مسجد الهجرة. Masjid ini tiga tingkat (atau disebut tingkat dasar dan tingkat 1-2). Pada tingkat pertama digunakan tempat utama dimana mimbar dan khatib berkhutbah. Di sini juga aktivitas berlangsung seperti pengajian, pengumuman dan lainnya. 

Di tingkat pertama ini juga terdapat banyak al-Qur'an dan terjemahan dalam beragam bahasa, baik dari negara-negara di Asia, Afrika atau Eropa. Qur'an-qur'an tersebut merupakan hibah dari jamaah muslim yang tiba di sini, saya tidak tahu bagaimana prosesnya, namun kemungkinan besar merupakan hibah mahasiswa muslim yang pernah berada di Leiden.

Selain itu, bagi saya juga menarik lemari kaca dalam ukuran besar yang memuat beragam kitab Islam, mulai dari kitab-kitab tafsir, hadist, fiqih, ushul fiqh, dan buku-buku Islam lainnya yang terkenal. Kitab ini dapat dibaca ditempat, tidak ada kunci untuk menutup seseorang untuk membaca kitab-kitab tersebut. Hal ini menunjukkan tradisi baca sangat kuat sekali di Leiden, sehingga mesjid-mesjid sekecil ini menyediakan beberapa referensi primer keilmuan Islam. 

Memasuki shalat Jum'at, sang muazzin mengumandangkan azan. Sang khatib yang sudah berumur naik ke mimbar melalui depan jamaah. Mimbar tersebut terbuka depan dengan 3 anak tangga, cukup sederhana. Dengan dua tiang kiri dan kanan pintu dan gapura di depan mengikuti mimbar Nabi Muhammad. Sang khatib tidak pegang tongkat, ia memegang kertas teks yang berisikan khutbahnya \disampaikan sepenuhnya dalam bahasa Arab. Jika mendengar dari bacaan bahasa Arab fushahnya, ia berasal dari Arab Timur Tengah, perkembangan Islam yang menarik yang biasanya mayoritas oleh para muslim Turki dan Albania.

Khutbahnya sangat panjang sekali, ia hampir berdiri di atas mimbar lebih dari 30 menit. Usai dua rukun khutbah dan sebelum muazzin iqamah untuk menunaikan shalat Jum'at, maka seorang yang masih muda tanpa peci dengan baju biasa dan jaket bangun di depan jamaah dan berceramah dalam bahasa Belanda. Ia merupakan penerjemah ke dalam bahasa Belanda dan sekaligus menyimpulkan ceramah dari sang khatib untuk orang-orang (jamaah) yang tidak paham bahasa Arab. Maka proses shalat Jumat dilakukan dari awal sampai akhir hampir satu jam penuh. 

Tradisi ini juga pernah saya jumpai di Jerman, saat shalat Jumat di Mesjid Afrika dan atau Jumat di Mesjid Albania di Hamburg. Hanya berbeda teknis pelaksanaannya. di Mesjid al-Hijra Leiden terjemahan disampaikan setelah usai semua rukun dua khutbah dan sebelum muazzin mengumandangkan iqamah. 

Di penghujung isi khutbah sang khatib, selain mengajak para muslim untuk berhijrah ke arah yang baik sebagai tanda masuknya bulan Muharram sebagai awal tahun baru dalam Islam, juga mengajak bersama-sama membangun Mesjid baru dan Islamic center yang sedang dalam tahap pembangunan. Demikian imbauan sang penerjemah dalam bahasa Belanda kepada jamaah yang kurang paham bahasa Arab, berhijrah kepada yang lebih baik.  

  

Jumat di Masjid Leiden

Read More

Monday, September 26, 2016


Sejauh ini sangat sedikit ditemukan catatan-catatan perjalanan seseorang yang ditulis oleh orang-orang terdahulu akan eksistensi dan keberadaannya pada suatu tempat saat itu. Catatan-catatan traveling (ravel) seperti yang dilakukan pelaut-pelaut Barat dan para musafir Timur Tengah.  Hal ini tentu menjadi sebuah tanda tanya mengapa masyarakat di Melayu Nusantara tidak menulis dirinya atau perjalanannya?. Jawabannya tentu akan banyak hal yang dapatkan. 

Namun, sebuah naskah koleksi Museum Aceh ini bagi saya, dan bagi peneliti manuskrip akan menarik. Menarik bukan karena ia menulis catatan perjalanannya, akan tetapi karena terdapat dua kolofon (catatan akhir) yang berbeda, dua nama yang berbeda dan dua tempat asal yang berbeda. 

Adanya dua kolofon yang berbeda sebenarnya juga terdapat di beberapa naskah Aceh dan Melayu. Lantas masih menarikkah naskah ini?. Tentu saja, salah satu keistimewaannya adalah naskah ini berasal dari barat selatan Aceh. Suatu wilayah yang jarang sekali didengar akan kiprahnya dalam dunia manuskrip dan tentunya sejarah. Daerah ini (Meulaboh dan Daya [sekarang Aceh Jaya]) adalah dua wilayah yang memiliki kiprah besar sejak Kesultanan Aceh berada pada puncak dan hingga kolonial Belanda, akan tetapi sedikit terekam dalam literatur sejarah. Hikayat Potjut Muhammad, Hikayat Tgk di Meukek dan Hikayat Ranto sudah cukup menjadi bukti keterlibatan Barat Selatan Aceh di Kutaradja, Aceh Besar, Pidie dan kawasan lainnya. 

"Yang empunya nadham ini Shayk
Hasan Lhoeng Meunasah Pudeung 
Zaman tertulis pada
Sanah 1335 pada
bulan Rabi' al-Awwal
Tammat kalam
Amin"

Berkaitan dengan Rabi' al-Awwal 1335 H bertepatan dengan akhir tahun 1916 atau awal 1917. Jika saja dikonversi tanggal 1 Rabi' al-Awwal 1335 H, maka akan bertepatan dengan hari Selasa 26 Desember 1916. Maka pada akhir tahun itulah Muhammad Saroeng Meulaboh menyelesaikan tulisan nadhamnya yang dipinjam dari Shayk Hasan Lhoeng Meunasah Pudeung. 

Di luar dari kolofon juga tertulis catatan tentang niat shalat gerhana bulan. Catatan-catatan seperti ini adalah hal biasa pada saat itu di naskah-naskah keagamaan yang ditulis oleh seseorang semasa atau setelahnya. Jika melihat karakter tulisan maka mulai  "Ini sembahyang gerhana bulan: ushalli Sunnat Khusuf rak'ataini lillahi Ta'ala. Artinya aku sembahyang akan sunnah gerhana bulan dua raka'at karena Allah Ta'ala", maka dapat disebut ini tulisan lain dari si penyalin. Ketebalan tinta dan jenisnya juga berbeda, karakter kaligrafi (khat) juga tidak sama pada banyak huruf.

Jika melihat laqap (gelar) Shayk yang ditabalkan pada Hasan Lhoeng, maka kemungkinan besar ini adalah senior di satu seperguruan atau memang gurunya di tempat pendidikan tersebut. Paling tidak, ia adalah sesepuh yang dihormati di tempat itu, yaitu di Negeri Daya (Aceh Jaya). Tampaknya pertemuan mereka di Negeri Daya (Aceh Jaya), bisa jadi antara guru-murid, atau antara senior (berumur tua) dengan junior (muda) 

"Yang tulis ini Nadham Muhammad
Saroeng Meulaboh zaman
musafir di Negeri Daya
Kuala Lambada
nama []
adanya"

Teks ini menunjukkan bahwa tulisan tangan yang tertera di dalam lembaran tersebut dari Muhammad Saroeng Meulaboh yang melakukan perjalanan (musafir) ke Aceh Jaya. Barangkali untuk saat ini, ia seorang tokoh yang dikenal atau teungku di Meulaboh atau Aceh Jaya yang masih dikenal, sebab tahun penulisan masih pada abad ke-20 masehi.

Peta di bawah ini menunjukkan tempat para musafir para penuntut ilmu, hubungan antara Aceh Besar, Aceh Jaya dan Meulaboh (Aceh Barat). Bila disebut tahun penulisan, maka dapat diasumsi saat itu sudah dapat ditempuh dengan jalur darat antara satu dengan lainnya, walaupun memerlukan beberapa hari untuk mencapai tempat tujuan.


Tentu jaringan antara Barat Selatan-Aceh Darussalam sebagai sentralnya- dengan Timur Utara Aceh telah terjalin sejak dulu. Jaringan bisnis, kedaulatan kerajaan, hingga hubungan personal antara satu dengan lainnya. Hubungan itu terjalin sejak keduanya belum terhubung jalan aspal Belanda, melewati pergunungan, lembah, hutan belantara, atau jalur melalui jalur laut.

Sayangnya, daerah-daerah (jalur) pesisir pantai barat ini musnah akibat tsunami beberapa kali, bukan kali tahun 2004 saja, tetapi kuat dugaan juga terjadi pada tahun 1906/1907 dan sebelumnya, yang disebut oleh orang Nias sebagai smong, orang Aceh Rayeuk mengatakan ie beuna, dan orang-oran di Meulaboh mengenalnya Pasie Karam.


Dari Meulaboh ke Negeri Daya

Read More

Sunday, September 11, 2016


Setiap tahunnya, orang-orang Islam di seluruh penjuru dunia berkumpul di Arafah, menuju Mina, Muzdalifah dan kembali lagi ke Mekkah, tawaf di lingkaran Ka'bah memenuhi seluruh rangkaian haji. Haji merupakan salah satu rukun Islam dalam agama Islam. Pelaksanaan haji diperuntukkan bagi setiap muslim yang mampu. Kriteria "kemampuan" (manistata'a ilaihi sabila) tersebut tidak dapat distandarisasi bagi setiap negara (wilayah), status ataupun kategori tertentu. Akan tetapi, yang pasti, setiap muslim (laki-laki dan perempuan) selalu mendambakan panggilan Ilahi untuk haji.

Rindu (kembali) sujud langsung di depan Ka'bah, tawaf mengelilingi bangunan segi empat yang dimuliakan, minum air zam-zam,  shalat di dalam Ka'bah (Hijr Ismail), wukuf di Arafah, mabit di Mina, lembar Jumrah di Muzdalifah, dan kegiatan-ibadah ibadah lainnya merupakan hal yang selalu dirindukan oleh setiap jamaah haji.

Untuk mewujudkan itu, beberapa ulama seperti Syaikh Abdurrahman As-Sa’di menyebutkan dalam Taisir Karim Ar-Rahman (h. 427), Fairuz Abadi dalam Tanwir al-Miqbas, (h. 214). Maka dianjurkan untuk selalu berdoa dan memohon kecenderungan hati untuk mendapat kesempatan dan kemampuan untuk memenuhi panggilan tersebut, sebagaimana doa dari nabi Ibrahim ‘alaihis salam yang disebut dalam al-Quran:

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

“Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Rabb kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur” (QS. Ibrahim: 37).

Setiap muslim akan selalu merindukannya, baik yang belum ataupun sudah pernah sampai ke sana. Bahkan kerinduan tersebut akan lebih besar  bagi orang yang telah pernah ke sana daripada yang belum, walaupun rindu itu sama-sama memuncak,  sebab setiap kali seorang hamba pergi bolak-balik ke Ka’bah maka semakin bertambah kerinduannya, semakin besar kecintaannya. Setiap muslim  yang menunjukkan mereka sangat ingin dan cenderung hati mereka untuk melihat dan menyentuh Ka’bah secara langsung dan menunaikan ibadah haji maka berdoalah untuk hati akan rindu ke sana.

Semoga suatu hari akan dapat memenuhi panggilan Ilahi dengan ucapan:

Labbaika Allahumma labbaika. Labbaika laa syarika laka labbaika. Innal hamda wanni’mata laka wal mulka. laa syarika laka. 

(Ya Allah, aku datang karena panggilan-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu. Segala ni’mat dan puji adalah kepunyanMu dan kekuasaan-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu). 

Naskah-naskah Haji

Lembaran naskah ini koleksi Perpustakaan Leiden University, berasal dari Aceh (?). Di dalamnya menggambarkan do'a-do'a yang dibacakan saat mengelilingi Ka'bah. Di dalam area Masjidil Haram masih terlihat beberapa menara tempat shalat jamaah Mazhab, semuanya ada 4 (empat) mazhab. Para jamaah akan shalat sesuai dengan mazhabnya masing-masing.

Berikut sketsa dan posisi para jamaah seluruh dunia bertumpu sebelum direkonstruksi (Al-Fasi: 461)

Keterangan Gambar : 1. Ka'bah 2. Hijiril Ismail. 3. Makam Nabi Ibrahim a.s.4. Sumur Zamzam 5. Mimbar 6. Tempat shalat mazhab Syafi'i 7. Tempat Shalat mazhab Hanafi8. Tempat shalat mazhab Hambali. 9. Al-Mataf. 10. Tempat shalat mazhab Maliki. 


Pada tahun 1343 Hijriah (1925 M), ketika Dinasti Sa'udi di bawah pimpinan Raja 'Abd al-'Aziz bin 'Abd al-Rahman Al Sa'ud memperluas area Mesjidil Haram dan menghilangkan "kubu mazhab" atau  menggabung seluruh jamaah shalat fardhu di Masjid Haram menjadi satu jamaah dengan satu orang imam. Demikian juga berlaku untuk jamaah shalat Jum'at, shalat Terawih, dan shalat Hari Raya menjadi satu jamaah saja. Dua tahun setelah itu,  Rabiul Akhir tahun 1345 H dalam pertemuan ulama memperkuat kebijakan Raja 'Abd al-'Aziz Al-Sa'ud atas aturan yang baru tersebut untuk persatuan dan kesatuan ummat. Untuk itu mereka meminta dipilih tiga orang imam untuk mewakili empat mazhab sunni, sehingga semuanya berjumlah 12 orang. Mereka inilah yang secara bergantian menjadi imam shalat fardhu lima kali sehari, imam dan khatib Shalat Jum'at serta imam Shalat Tarawih. (Al-Zahrani, 84-98)

Hal ini menunjukkan ummat Islam tetap bersatu. Semoga kita dapat memenuhi panggilan Allah dengan sebaik-baiknya.


Sumber:
Abdullah Sa`id Al-Zahrani, A’immat al-Masjid al-Haram wa Mu’adzdzinuh, Mathba`ah Bahadur, Makkah, cet. 1, 1998
Al-Fasi al-Makki al-Maliki, Taqiyuddin Muhammad bin Ahmad bin `Ali (775-832 H) , Syifa’ al-Gharam bi Akhbar al-Balad al-Haram, (dengan tahqiq Mushthafa Muhammad al-Dzahabi), jilid 2, Maktabah al-Nahdhah al-Haditsah, Mekkah, cet. 2, 1999
http://alyasaabubakar.com/2014/02/ulama-wahabi-dan-penguasa-saudi-tentang-pelaksanaan-ibadat-di-masjid-haram/
http://www.artikelsiana.com/2014/10/sejarah-masjidil-haram-sejarah-kabah-mekah.html

Rindu ke Ka'bah Baitullah

Read More

Thursday, September 08, 2016


A letter written by Teungku Mahidin, alias Teungku Chik Mayet, secon son of Teungku Syeh Saman di Tiro who met his sacred death on September 5, 1910. It is addressed to Tuanku Raja Keumala, Panglima Polem’s brother-in-law, and to all Moslem in Samalanga. The letter described the war situation in Pidie and the death of Teungku di Tungkop. (top)

Begitulah keterangan dalam buku Belanda tentang sebuah sarakata (surat) dari Panglima Perang Aceh di Pidie saat perang Aceh-Belanda berkecamuk. Catatan di atas dapat diartikan sebagai berikut:
"Sepucuk surat Teungku Mahidin alias Teungku Chik Mayet, putra kedua Teungku Syeh Saman di Tiro, syahid pada tanggal 5 September 1910 yang ditujukan kepada Tuanku Raja Keumala, ipar Panglima Polem dan kaum muslimin di Samalanga, antara lain mengenai berkecamuknya peperangan di Pidie dan syahidnya Teungku di Tungkob". Wilayah Tungkop yang dimaksud adalah Tungkop di Pidie.

Informasi tambahan sebenarnya juga terdapat dalam surat tersebut, yaitu saat Teungku di Tungkop syahid, lalu penggantinya Teungku di Buket Muhammad ‘Ali Zainal ‘Abidin. Dalam kondisi perang, "struktur panglima perang" sebagai pemegang komando perang sangat penting sebagai pemberi komando (peunutoh), saat satu pimpinan tertinggi syahid dalam perang, maka secara mufakat atau struktural akan digantikan oleh yang lain sesuai dengan kesepakatan. Sepertinya, inilah yang dimaksud dalam surat tersebut "negeri empunya peunutoh meualon-alon" secara struktural dan terorganisir.


Berikut transkripsi teks perbaris:

1. Hadharat Seri Paduka yang mulia Taunku Raja Keumala serta segala yang
2. ikutannya daripada saudara Muslimin dalam negeri  Samarlanga [Samalanga] ada semuanya.
3. Wa ba’du. Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakutuhu. Maka ahwal Pedir [Pidie] semua
4. dalam gaduh perang tiap-tiap ketika tiada khali sekali-kali melainkan setengah tempat
5. ada yang terima surat kafir, serta tiada apa-apa atas kami sekali-kali melainkan
6. syahid Teungku di Tungkob  dengan garis takdir dalam Nisfu awal Sya’ban ini
7. serta sudah dijadi ia ditandanya Teungku di Buket Muhammad ‘Ali Zainal ‘Abidin
8. akan gantinya dengan izin Tuhan Rabb al-‘Alamin, melainkan harap
9. kami bahwa berbanyak-banyak doa tuanku serta doa tuan-tuan akan keduanya
10. dan akan kami yang tinggal dalam negeri empunyai peunutoh meualon-alon seperti
11. di-ek troen u bineh pasi adanya. Wassalam ‘ala man ittaba’a al-huda.
12. Daripada perhamba [poe hamba] faqir Mahyiddin Tiro.

11 Sya’ban 1318 H

Kedengaran Teuku Dua Ploh Dua 
sudah sampai dalam Gloeng Tiro.




Surat Peunutoh Teungku Mahyiddin Tiro

Read More

Friday, September 02, 2016


Kitab Ihya' Ulumuddin atau Al-Ihya' (The Revival of the Religious Sciences) merupakan kitab yang membahas tentang kaidah dan prinsip dalam menyucikan jiwa (Tazkiyah an-Nafs) yang membahas perihal penyakit hati, penentramnya atau pengobatannya, dan mendidik hati. Kitab ini merupakan karya yang paling terkenal dari Imam Al-Ghazali. Nama lengkapnya Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali ath-Thusi asy-Syafi'i (lahir di Thus; 1058 / 450 H – meninggal di Thus; 1111 / 14 Jumadil Akhir 505 H; umur 52–53 tahun) adalah seorang filosof dan teolog muslim Persia, yang dikenal sebagai Algazel di dunia Barat abad Pertengahan.

Ia berkuniah Abu Hamid karena salah seorang anaknya bernama Hamid. (?) Gelar dia al-Ghazali ath-Thusi, tempat kelahirannya di Ghazalah di Bandar Thus, Khurasan, Persia (Iran). Sedangkan gelar asy-Syafi'i menunjukkan bahwa dia bermazhab Syafi'i. Ia berasal dari keluarga yang miskin. Ayahnya mempunyai cita-cita yang tinggi yaitu ingin anaknya menjadi orang alim dan saleh.  Al-Ghazali adalah seorang ulama, ahli pikir, ahli filsafat Islam yang terkemuka yang banyak memberi sumbangan bagi perkembangan kemajuan manusia. Ia pernah memegang jawatan sebagai Naib Kanselor di Madrasah Nizhamiyah, pusat pengajian tinggi di Baghdad. Imam Al-Ghazali meninggal dunia pada 14 Jumadil Akhir tahun 505 Hijriah / 1111 Masehi di Thus. Jenazahnya dikebumikan di tempat kelahirannya.

Kitab Ihya' Ulumudin memiliki tema utama tentang kaidah dan prinsip dalam penyucian jiwa yakni menyeru kepada kebersihan jiwa dalam beragama, sifat takwa, konsep zuhud, rasa cinta yang hakiki, merawat hati serta jiwa dan sentiasa menanamkan sifat ikhlas di dalam beragama. Kandungan lain dari kitab ini berkenaan tentang wajibnya menuntut ilmu, keutamaan ilmu, bahaya tanpa ilmu, persoalan-persoalan dasar dalam ibadah seperti penjagaan thaharah (kesuciaan) dan shalat, adab-adab terhadap al-Qur'an, dzikir dan doa, penerapan adab akhlak seorang muslim di dalam pelbagai aspek kehidupan, hakikat persaudaraan (ukhuwah), obat hati, ketenangan jiwa, bimbingan memperbaiki akhlak, bagaimana mengendalikan syahwat, bahaya lisan, mencegah sifat dengki dan emosi, zuhud, mendidik rasa bersyukur dan sabar, menjauhi sifat sombong, ajakkan sentiasa bertaubat, pentingnya kedudukan tauhid, pentingnya niat dan kejujuran, konsep mendekatkan diri kepada Allah (muraqabah), tafakur, mengingati mati dan rahmat Allah, dan mencintai Rasulullah

Namun demikian, walaupun kitab ini fenomenal bukan berarti tidak memiliki kritikan terhadap isinya. Hal ini menunjukkan tidak ada manusia yang semurna, Imam Ghazali merupakan seorang ulama namun dia bukanlah seorang yang pakar dalam bidang hadits, sehingga ikut tercantumlah hadits-hadits tidak ditemukan sanadnya, berderajat lemah maupun maudhu. Hal ini menyebabkan banyak ulama dan para ahli hadits yang kemudian berupaya meneliti, memilah dan menyusun ulang terhadap takhrij hadits yang termuat di dalam Ihya Ulumuddin. Di antaranya  Imam Ibn al-Jauzi, Imam Ibnu Qudamah al-Maqdisi, Abu Bakr Muhammad bin al-Walid Ath-Thurthuusyi, Adz-Dzahabi, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Ibn Aqil al-Hanbali, dan lainnya. Bahkan Ibn al-Jauzi mengarang kitab mukhtasar untuk memperbaiki [melengkapi] kitab ini dengan Minhajul Qashidin wa Mufidush Shadiqin. (klik di sini untuk PDF) 

Akan tetapi, juga banyak ulama lainnya yang memuji kitab ini seperti Imam Nawawi, Imam Abdullah Al-‘Idrus dan anaknya Syeikh Abdul Qadir Al-‘Idrus, dan Syeikh Ismail bin Muhammad al-Hadrami. Bahkan kini memiliki organisasi dan website sendiri untuk eksistensi kitab dan ajaran-ajaran yang terkandung di dalam kitab ini. Websitenya: http://www.ghazali.org

Bahkan beberapa kajian kitabnya sudah dicetak berkali-kali dan ditranslite dalam beragam bahasa, seperti Inggris, Perancis, Jerman, Turki, Bengali, Indonesia, Urdu, dan lainnya.
Untuk lihat naskah-naskah (kitab) dalam beragam bahasa klik di sini: http://www.maktabah.org/en/item/59-ihya-ulum-al-din-by-imam-ghazali



Referensi:
dari berbagai sumber.
http://www.ghazali.org
http://www.maktabah.org/en/item/59-ihya-ulum-al-din-by-imam-ghazali
http://www.wikipedia.org
https://generasisalaf.wordpress.com/2014/05/21/pembelaan-terhadap-kitab-ihya-ulumiddin-imam-ghazali/





Ihya' Ulumuddin al-Ghazali di Nusantara dan Dunia

Read More

Saturday, August 20, 2016

Terus terang, hingga saat ini saya masih penasaran dengan Kerajaan Pasai yang pernah berjaya dan  menguasai Melayu Nusantara sekaligus pelopor Islam di Nusantara. Kejayaan berabad-abad  tetapi tidak memiliki peninggalan kuat di bidang intelektual yang dapat dijadikan sumber-sumber saat ini. Syukurnya, selain peninggalan numismatik dan arkeologis nisan yang mengagumkan bersemanyam di sana. Dalam khazanah literatur tertulis, hanya Hikayat Raja-raja Pasai jadi sumber saat ini. 

Hikayat Raja-raja Pasai untuk pertama kali dikaji oleh Dr. Ed. Duraurier, guru dalam bahasa Melayu pada "L'Ecolades Legues Orientales" di Paris. Ia telah mengutip selengkapnya isi hikayat itu dalam huruf Arab (Jawi) sendiri, hanya didahului oleh sepanjang 31/2 halaman mukaddimah dan diterbitkan  oleh "Imprimerie Nationale Paris", 1849.

Sesudah Dulaurier, menyusul Aristide Marre, tahun 1874, dengan karyanya membuat salinan seluruh teks hikayat tersebut dalam bahawa Perancis, berjudul "Histoire des Reois de Pasay" dengan annotasi beberapa halaman sekaligus kutipan mukaddimah Dulaurier. Keduanya tidak membicarakan kapan dan di mana serta oleh siapa hikayat itu ditulis melainkan sama-sama menyebut saja bahwa naskah itu disalin dari pada naskah koleksi Raffless no. 67, sebagai yang diungkap oleh suatu katalogus van der Tuuk.

Selain kepada keduanya di atas, ikut serta ambil bagian J.P Mead karyanya diterbitkan di tahun 1916 ke dalam huruf Latin sekaligus  terjemahan dalam bahasa Inggris. Orientalis terkenal Sir Richard Winstedt tampil mempelopori pengupasan tentang kapan kiranya hikayat itu ditulis, sambil membuat ringkasan isinya, dikatakannya bahwa hikayat itu telah ditulis sesudah tahun 1350 dan tidak lebih lama dari tahun 1536. Dalam suatu monograf tentang kesusasteraan Melayu lama berjudul "A History of Classical Malay Literature" Sir Richard menegaskan lagi pendapat tersebut. 

Ternyata, menurut Mohammad Said (2: 69-72) tentang "Hikayat Raja-raja Pasai" sejauh ini ditemukan hanya salinan di Demak, dalam tulisannya bahwa  "sepanjang diketahui naskah hikayat ini belum pernah ditemukan di daerah Aceh sendiri, khususnya di Pasai. Keganjilannya yang menarik perhatian ialah bahwa hikayat ini hanya dikenal dari salinan naskahnya, itupun tidak ditemukan di tanah air, melainkan di London, Inggris".

Sambungnya demikian "Peristiwa demikian. Segera setelah Inggris berhasil merampas pulau Jawa dari Belanda di tahun 1811, lalu ditempatkanlah Raffles menjadi Letnan Gubernur di sana. Ia gemar mengumpul bahan-bahan sejarah terutama naskah-naskah. Dalam kesempatan berada di sana antara lain ia mengetahui ada sebuah naskah "Hikayat Raja-raja Pasai" di tangan seseorang Bupati di Jawa.

Mungkin karena tidak begitu tertarik untuk membeli dan memiliki naskah tersebut, atau mungkin pula karena si pemilik tidak bersedia menyerahkannya, maka ia hanya berhasil meminta salinkan saja naskah tersebut. Catatan si penyalin di kolofon naskah tersebut memberitahu naskah telah selesai disalin dari aslinya pada tanggal 21 Muharram 1230 H atau bertepatan dengan 2 Januari 1814. Di bawah sekali terdapat lagi catatan ditulis dengan aksara Jawa. Bunyinya sebagai yang telah disalin dan dihuruf-latinkan oleh Dr. A.H. Hill, adalah: "Sangking Kyai Suradimanggala, Bupati Sapuhpu negeri Demak negeri Bogor, warsa 1742".

Tidak lama setelah meninggalkan pulau Jawa, Raffles pindah ke Singapura, seterusnya ke Bengkulen, sesudah itu kembali ke London dan meninggal di sana. Pada tanggal 16 Januari 1830 Nyonya Sophia, janda Raffles menyerahkan salinan naskah ini kepada Lembaga Royal Asiatic Society, London, untuk disimpan dan dimanfaatkan demi penelitian ilmiah.

Saya bersyukur atas informasi Annabel Teh Gallop, naskah yang disalin Raffles sekarang masih disimpan dalam Royal Asiatic Society; Sedangkan naskah Hikayat Raja Pasai di British Library merupakan naskah lain sekali, yang baru ditemui tahun 1986, tetapi ternyata disalin di Jawa pula, di Semarang, tetapi bukan atas permintaan orang asing, melainkan orang Makasar, pada tahun 1797. Kini naskah itu dapat diakses di British Library (Or. 14350).



Apa yang disebutkan oleh Mohammad Said bahwa belum  ditemukannya naskah "Hikayat Raja-Raja Pasai" selain dari catatan Raffles masih menjadi misteri. Bahwa kemudian saya menemukan "Hikayat Raja-Raja Pasai" sesuai penuturan Tgk Ibrahim PMTOH di Aceh Utara. Setidaknya ini menjawab "setengah" penasaran kisah Kesultanan Pasai yang kian hari tergerus dilupakan. Penemuan  naskah "Hikayat Raja-Raja Pasai" lainnya versi bahasa Aceh beraksara Jawo (Jawi) di Aceh Utara koleksi Tgk Ibrahim PMTOH, hasil copian yang selamat pasca gempa tsunami 2004. Kitabnya ini pun sudah terendam air lumpur, beberapa bagian rusak parah, dan sulit terbaca.

Maka jika dibandingkan kedua naskah Hikayat Raja-Raja Pasai koleksi di Inggris berbahasa Melayu ditulis dalam bentuk prosa, sedangkan Hikayat Raja-Raja Pasai koleksi Aceh Utara berbahasa Aceh yang ditulis dalam bentuk puisi dibagi dua kolom. Bahkan dapat diasumsikan bahwa naskah Hikayat Raja-Raja Pasai (Aceh,  dan Inggris) memiliki kesamaan judul dan ketokohan salah satunya Ahmad, namun belum tentu memiliki kesamaan isinya.


Perlu penelitian dan bandingan alur isi naskah untuk menjawabnya, penasaran saya belum terjawab dan menyisakan beragam pertanyaan, terkait hubungan kedua naskah ini (koleksi Aceh dan koleksi Inggris), apakah memiliki kesamaan isi, alur cerita, tokoh. Mungkin butuh waktu dan para peneliti lainnya yang bersedia untuk meneliti. Selain itu, apa yang disebut Mohammad Said belum ditemukannya Hikayat Raja-raja Aceh di Aceh sendiri, seakan-akan menjadi asing di negerinya sendiri. []


Futher reading:
Annabel Teh Gallop, Hikayat Raja Pasai: the oldest Malay history. 24 October 2013.
A.H. Hill, ‘Hikayat Raja-raja Pasai: a revised romanised version of Raffles MS 67, together with an English translation’, Journal of the Malayan Branch of the Royal Asiatic Society, 1960, 33 (2): [1]-215. 
E.U. Kratz, ‘Hikayat Raja Pasai: a second manuscript’, Journal of the Malaysian Branch of the Royal Asiatic Society, 1989, 62 (1):1-10. 
Russell Jones, (ed.), Hikayat Raja Pasai (Kuala Lumpur: Yayasan Karyawan and Fajar Bakti, 1999).
Hermansyah, ‘Terkuburnya naskah Hikayat Raja Pasai’, 2 Feb 2013 [blogpost]



Naskah Hikayat Raja Pasai; Antara Aceh dan Inggris

Read More

Hermankhan Google+ Followers

Copyright © 2015 Herman Khan | Portal Manuskrip Aceh dan Malay | Distributed By Blogger Template | Designed By Blogger Templates
Scroll To Top