Monday, September 26, 2016

NEW

Sejauh ini sangat sedikit ditemukan catatan-catatan perjalanan seseorang yang ditulis oleh orang-orang terdahulu akan eksistensi dan keberadaannya pada suatu tempat saat itu. Catatan-catatan traveling (ravel) seperti yang dilakukan pelaut-pelaut Barat dan para musafir Timur Tengah.  Hal ini tentu menjadi sebuah tanda tanya mengapa masyarakat di Melayu Nusantara tidak menulis dirinya atau perjalanannya?. Jawabannya tentu akan banyak hal yang dapatkan. 

Namun, sebuah naskah koleksi Museum Aceh ini bagi saya, dan bagi peneliti manuskrip akan menarik. Menarik bukan karena ia menulis catatan perjalanannya, akan tetapi karena terdapat dua kolofon (catatan akhir) yang berbeda, dua nama yang berbeda dan dua tempat asal yang berbeda. 

Adanya dua kolofon yang berbeda sebenarnya juga terdapat di beberapa naskah Aceh dan Melayu. Lantas masih menarikkah naskah ini?. Tentu saja, salah satu keistimewaannya adalah naskah ini berasal dari barat selatan Aceh. Suatu wilayah yang jarang sekali didengar akan kiprahnya dalam dunia manuskrip dan tentunya sejarah. Daerah ini (Meulaboh dan Daya [sekarang Aceh Jaya]) adalah dua wilayah yang memiliki kiprah besar sejak Kesultanan Aceh berada pada puncak dan hingga kolonial Belanda, akan tetapi sedikit terekam dalam literatur sejarah. Hikayat Potjut Muhammad, Hikayat Tgk di Meukek dan Hikayat Ranto sudah cukup menjadi bukti keterlibatan Barat Selatan Aceh di Kutaradja, Aceh Besar, Pidie dan kawasan lainnya. 

"Yang empunya nadham ini Shayk
Hasan Lhoeng Meunasah Pudeung 
Zaman tertulis pada
Sanah 1335 pada
bulan Rabi' al-Awwal
Tammat kalam
Amin"

Berkaitan dengan Rabi' al-Awwal 1335 H bertepatan dengan akhir tahun 1916 atau awal 1917. Jika saja dikonversi tanggal 1 Rabi' al-Awwal 1335 H, maka akan bertepatan dengan hari Selasa 26 Desember 1916. Maka pada akhir tahun itulah Muhammad Saroeng Meulaboh menyelesaikan tulisan nadhamnya yang dipinjam dari Shayk Hasan Lhoeng Meunasah Pudeung. 

Di luar dari kolofon juga tertulis catatan tentang niat shalat gerhana bulan. Catatan-catatan seperti ini adalah hal biasa pada saat itu di naskah-naskah keagamaan yang ditulis oleh seseorang semasa atau setelahnya. Jika melihat karakter tulisan maka mulai  "Ini sembahyang gerhana bulan: ushalli Sunnat Khusuf rak'ataini lillahi Ta'ala. Artinya aku sembahyang akan sunnah gerhana bulan dua raka'at karena Allah Ta'ala", maka dapat disebut ini tulisan lain dari si penyalin. Ketebalan tinta dan jenisnya juga berbeda, karakter kaligrafi (khat) juga tidak sama pada banyak huruf.

Jika melihat laqap (gelar) Shayk yang ditabalkan pada Hasan Lhoeng, maka kemungkinan besar ini adalah senior di satu seperguruan atau memang gurunya di tempat pendidikan tersebut. Paling tidak, ia adalah sesepuh yang dihormati di tempat itu, yaitu di Negeri Daya (Aceh Jaya). Tampaknya pertemuan mereka di Negeri Daya (Aceh Jaya), bisa jadi antara guru-murid, atau antara senior (berumur tua) dengan junior (muda) 

"Yang tulis ini Nadham Muhammad
Saroeng Meulaboh zaman
musafir di Negeri Daya
Kuala Lambada
nama []
adanya"

Teks ini menunjukkan bahwa tulisan tangan yang tertera di dalam lembaran tersebut dari Muhammad Saroeng Meulaboh yang melakukan perjalanan (musafir) ke Aceh Jaya. Barangkali untuk saat ini, ia seorang tokoh yang dikenal atau teungku di Meulaboh atau Aceh Jaya yang masih dikenal, sebab tahun penulisan masih pada abad ke-20 masehi.

Peta di bawah ini menunjukkan tempat para musafir para penuntut ilmu, hubungan antara Aceh Besar, Aceh Jaya dan Meulaboh (Aceh Barat). Bila disebut tahun penulisan, maka dapat diasumsi saat itu sudah dapat ditempuh dengan jalur darat antara satu dengan lainnya, walaupun memerlukan beberapa hari untuk mencapai tempat tujuan.


Tentu jaringan antara Barat Selatan-Aceh Darussalam sebagai sentralnya- dengan Timur Utara Aceh telah terjalin sejak dulu. Jaringan bisnis, kedaulatan kerajaan, hingga hubungan personal antara satu dengan lainnya. Hubungan itu terjalin sejak keduanya belum terhubung jalan aspal Belanda, melewati pergunungan, lembah, hutan belantara, atau jalur melalui jalur laut.

Sayangnya, daerah-daerah (jalur) pesisir pantai barat ini musnah akibat tsunami beberapa kali, bukan kali tahun 2004 saja, tetapi kuat dugaan juga terjadi pada tahun 1906/1907 dan sebelumnya, yang disebut oleh orang Nias sebagai smong, orang Aceh Rayeuk mengatakan ie beuna, dan orang-oran di Meulaboh mengenalnya Pasie Karam.


Dari Meulaboh ke Negeri Daya

Read More

Sunday, September 11, 2016


Setiap tahunnya, orang-orang Islam di seluruh penjuru dunia berkumpul di Arafah, menuju Mina, Muzdalifah dan kembali lagi ke Mekkah, tawaf di lingkaran Ka'bah memenuhi seluruh rangkaian haji. Haji merupakan salah satu rukun Islam dalam agama Islam. Pelaksanaan haji diperuntukkan bagi setiap muslim yang mampu. Kriteria "kemampuan" (manistata'a ilaihi sabila) tersebut tidak dapat distandarisasi bagi setiap negara (wilayah), status ataupun kategori tertentu. Akan tetapi, yang pasti, setiap muslim (laki-laki dan perempuan) selalu mendambakan panggilan Ilahi untuk haji.

Rindu (kembali) sujud langsung di depan Ka'bah, tawaf mengelilingi bangunan segi empat yang dimuliakan, minum air zam-zam,  shalat di dalam Ka'bah (Hijr Ismail), wukuf di Arafah, mabit di Mina, lembar Jumrah di Muzdalifah, dan kegiatan-ibadah ibadah lainnya merupakan hal yang selalu dirindukan oleh setiap jamaah haji.

Untuk mewujudkan itu, beberapa ulama seperti Syaikh Abdurrahman As-Sa’di menyebutkan dalam Taisir Karim Ar-Rahman (h. 427), Fairuz Abadi dalam Tanwir al-Miqbas, (h. 214). Maka dianjurkan untuk selalu berdoa dan memohon kecenderungan hati untuk mendapat kesempatan dan kemampuan untuk memenuhi panggilan tersebut, sebagaimana doa dari nabi Ibrahim ‘alaihis salam yang disebut dalam al-Quran:

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

“Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Rabb kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur” (QS. Ibrahim: 37).

Setiap muslim akan selalu merindukannya, baik yang belum ataupun sudah pernah sampai ke sana. Bahkan kerinduan tersebut akan lebih besar  bagi orang yang telah pernah ke sana daripada yang belum, walaupun rindu itu sama-sama memuncak,  sebab setiap kali seorang hamba pergi bolak-balik ke Ka’bah maka semakin bertambah kerinduannya, semakin besar kecintaannya. Setiap muslim  yang menunjukkan mereka sangat ingin dan cenderung hati mereka untuk melihat dan menyentuh Ka’bah secara langsung dan menunaikan ibadah haji maka berdoalah untuk hati akan rindu ke sana.

Semoga suatu hari akan dapat memenuhi panggilan Ilahi dengan ucapan:

Labbaika Allahumma labbaika. Labbaika laa syarika laka labbaika. Innal hamda wanni’mata laka wal mulka. laa syarika laka. 

(Ya Allah, aku datang karena panggilan-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu. Segala ni’mat dan puji adalah kepunyanMu dan kekuasaan-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu). 

Naskah-naskah Haji

Lembaran naskah ini koleksi Perpustakaan Leiden University, berasal dari Aceh (?). Di dalamnya menggambarkan do'a-do'a yang dibacakan saat mengelilingi Ka'bah. Di dalam area Masjidil Haram masih terlihat beberapa menara tempat shalat jamaah Mazhab, semuanya ada 4 (empat) mazhab. Para jamaah akan shalat sesuai dengan mazhabnya masing-masing.

Berikut sketsa dan posisi para jamaah seluruh dunia bertumpu sebelum direkonstruksi (Al-Fasi: 461)

Keterangan Gambar : 1. Ka'bah 2. Hijiril Ismail. 3. Makam Nabi Ibrahim a.s.4. Sumur Zamzam 5. Mimbar 6. Tempat shalat mazhab Syafi'i 7. Tempat Shalat mazhab Hanafi8. Tempat shalat mazhab Hambali. 9. Al-Mataf. 10. Tempat shalat mazhab Maliki. 


Pada tahun 1343 Hijriah (1925 M), ketika Dinasti Sa'udi di bawah pimpinan Raja 'Abd al-'Aziz bin 'Abd al-Rahman Al Sa'ud memperluas area Mesjidil Haram dan menghilangkan "kubu mazhab" atau  menggabung seluruh jamaah shalat fardhu di Masjid Haram menjadi satu jamaah dengan satu orang imam. Demikian juga berlaku untuk jamaah shalat Jum'at, shalat Terawih, dan shalat Hari Raya menjadi satu jamaah saja. Dua tahun setelah itu,  Rabiul Akhir tahun 1345 H dalam pertemuan ulama memperkuat kebijakan Raja 'Abd al-'Aziz Al-Sa'ud atas aturan yang baru tersebut untuk persatuan dan kesatuan ummat. Untuk itu mereka meminta dipilih tiga orang imam untuk mewakili empat mazhab sunni, sehingga semuanya berjumlah 12 orang. Mereka inilah yang secara bergantian menjadi imam shalat fardhu lima kali sehari, imam dan khatib Shalat Jum'at serta imam Shalat Tarawih. (Al-Zahrani, 84-98)

Hal ini menunjukkan ummat Islam tetap bersatu. Semoga kita dapat memenuhi panggilan Allah dengan sebaik-baiknya.


Sumber:
Abdullah Sa`id Al-Zahrani, A’immat al-Masjid al-Haram wa Mu’adzdzinuh, Mathba`ah Bahadur, Makkah, cet. 1, 1998
Al-Fasi al-Makki al-Maliki, Taqiyuddin Muhammad bin Ahmad bin `Ali (775-832 H) , Syifa’ al-Gharam bi Akhbar al-Balad al-Haram, (dengan tahqiq Mushthafa Muhammad al-Dzahabi), jilid 2, Maktabah al-Nahdhah al-Haditsah, Mekkah, cet. 2, 1999
http://alyasaabubakar.com/2014/02/ulama-wahabi-dan-penguasa-saudi-tentang-pelaksanaan-ibadat-di-masjid-haram/
http://www.artikelsiana.com/2014/10/sejarah-masjidil-haram-sejarah-kabah-mekah.html

Rindu ke Ka'bah Baitullah

Read More

Thursday, September 08, 2016


A letter written by Teungku Mahidin, alias Teungku Chik Mayet, secon son of Teungku Syeh Saman di Tiro who met his sacred death on September 5, 1910. It is addressed to Tuanku Raja Keumala, Panglima Polem’s brother-in-law, and to all Moslem in Samalanga. The letter described the war situation in Pidie and the death of Teungku di Tungkop. (top)

Begitulah keterangan dalam buku Belanda tentang sebuah sarakata (surat) dari Panglima Perang Aceh di Pidie saat perang Aceh-Belanda berkecamuk. Catatan di atas dapat diartikan sebagai berikut:
"Sepucuk surat Teungku Mahidin alias Teungku Chik Mayet, putra kedua Teungku Syeh Saman di Tiro, syahid pada tanggal 5 September 1910 yang ditujukan kepada Tuanku Raja Keumala, ipar Panglima Polem dan kaum muslimin di Samalanga, antara lain mengenai berkecamuknya peperangan di Pidie dan syahidnya Teungku di Tungkob". Wilayah Tungkop yang dimaksud adalah Tungkop di Pidie.

Informasi tambahan sebenarnya juga terdapat dalam surat tersebut, yaitu saat Teungku di Tungkop syahid, lalu penggantinya Teungku di Buket Muhammad ‘Ali Zainal ‘Abidin. Dalam kondisi perang, "struktur panglima perang" sebagai pemegang komando perang sangat penting sebagai pemberi komando (peunutoh), saat satu pimpinan tertinggi syahid dalam perang, maka secara mufakat atau struktural akan digantikan oleh yang lain sesuai dengan kesepakatan. Sepertinya, inilah yang dimaksud dalam surat tersebut "negeri empunya peunutoh meualon-alon" secara struktural dan terorganisir.


Berikut transkripsi teks perbaris:

1. Hadharat Seri Paduka yang mulia Taunku Raja Keumala serta segala yang
2. ikutannya daripada saudara Muslimin dalam negeri  Samarlanga [Samalanga] ada semuanya.
3. Wa ba’du. Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakutuhu. Maka ahwal Pedir [Pidie] semua
4. dalam gaduh perang tiap-tiap ketika tiada khali sekali-kali melainkan setengah tempat
5. ada yang terima surat kafir, serta tiada apa-apa atas kami sekali-kali melainkan
6. syahid Teungku di Tungkob  dengan garis takdir dalam Nisfu awal Sya’ban ini
7. serta sudah dijadi ia ditandanya Teungku di Buket Muhammad ‘Ali Zainal ‘Abidin
8. akan gantinya dengan izin Tuhan Rabb al-‘Alamin, melainkan harap
9. kami bahwa berbanyak-banyak doa tuanku serta doa tuan-tuan akan keduanya
10. dan akan kami yang tinggal dalam negeri empunyai peunutoh meualon-alon seperti
11. di-ek troen u bineh pasi adanya. Wassalam ‘ala man ittaba’a al-huda.
12. Daripada perhamba [poe hamba] faqir Mahyiddin Tiro.

11 Sya’ban 1318 H

Kedengaran Teuku Dua Ploh Dua 
sudah sampai dalam Gloeng Tiro.




Surat Peunutoh Teungku Mahyiddin Tiro

Read More

Friday, September 02, 2016


Kitab Ihya' Ulumuddin atau Al-Ihya' (The Revival of the Religious Sciences) merupakan kitab yang membahas tentang kaidah dan prinsip dalam menyucikan jiwa (Tazkiyah an-Nafs) yang membahas perihal penyakit hati, penentramnya atau pengobatannya, dan mendidik hati. Kitab ini merupakan karya yang paling terkenal dari Imam Al-Ghazali. Nama lengkapnya Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali ath-Thusi asy-Syafi'i (lahir di Thus; 1058 / 450 H – meninggal di Thus; 1111 / 14 Jumadil Akhir 505 H; umur 52–53 tahun) adalah seorang filosof dan teolog muslim Persia, yang dikenal sebagai Algazel di dunia Barat abad Pertengahan.

Ia berkuniah Abu Hamid karena salah seorang anaknya bernama Hamid. (?) Gelar dia al-Ghazali ath-Thusi, tempat kelahirannya di Ghazalah di Bandar Thus, Khurasan, Persia (Iran). Sedangkan gelar asy-Syafi'i menunjukkan bahwa dia bermazhab Syafi'i. Ia berasal dari keluarga yang miskin. Ayahnya mempunyai cita-cita yang tinggi yaitu ingin anaknya menjadi orang alim dan saleh.  Al-Ghazali adalah seorang ulama, ahli pikir, ahli filsafat Islam yang terkemuka yang banyak memberi sumbangan bagi perkembangan kemajuan manusia. Ia pernah memegang jawatan sebagai Naib Kanselor di Madrasah Nizhamiyah, pusat pengajian tinggi di Baghdad. Imam Al-Ghazali meninggal dunia pada 14 Jumadil Akhir tahun 505 Hijriah / 1111 Masehi di Thus. Jenazahnya dikebumikan di tempat kelahirannya.

Kitab Ihya' Ulumudin memiliki tema utama tentang kaidah dan prinsip dalam penyucian jiwa yakni menyeru kepada kebersihan jiwa dalam beragama, sifat takwa, konsep zuhud, rasa cinta yang hakiki, merawat hati serta jiwa dan sentiasa menanamkan sifat ikhlas di dalam beragama. Kandungan lain dari kitab ini berkenaan tentang wajibnya menuntut ilmu, keutamaan ilmu, bahaya tanpa ilmu, persoalan-persoalan dasar dalam ibadah seperti penjagaan thaharah (kesuciaan) dan shalat, adab-adab terhadap al-Qur'an, dzikir dan doa, penerapan adab akhlak seorang muslim di dalam pelbagai aspek kehidupan, hakikat persaudaraan (ukhuwah), obat hati, ketenangan jiwa, bimbingan memperbaiki akhlak, bagaimana mengendalikan syahwat, bahaya lisan, mencegah sifat dengki dan emosi, zuhud, mendidik rasa bersyukur dan sabar, menjauhi sifat sombong, ajakkan sentiasa bertaubat, pentingnya kedudukan tauhid, pentingnya niat dan kejujuran, konsep mendekatkan diri kepada Allah (muraqabah), tafakur, mengingati mati dan rahmat Allah, dan mencintai Rasulullah

Namun demikian, walaupun kitab ini fenomenal bukan berarti tidak memiliki kritikan terhadap isinya. Hal ini menunjukkan tidak ada manusia yang semurna, Imam Ghazali merupakan seorang ulama namun dia bukanlah seorang yang pakar dalam bidang hadits, sehingga ikut tercantumlah hadits-hadits tidak ditemukan sanadnya, berderajat lemah maupun maudhu. Hal ini menyebabkan banyak ulama dan para ahli hadits yang kemudian berupaya meneliti, memilah dan menyusun ulang terhadap takhrij hadits yang termuat di dalam Ihya Ulumuddin. Di antaranya  Imam Ibn al-Jauzi, Imam Ibnu Qudamah al-Maqdisi, Abu Bakr Muhammad bin al-Walid Ath-Thurthuusyi, Adz-Dzahabi, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Ibn Aqil al-Hanbali, dan lainnya. Bahkan Ibn al-Jauzi mengarang kitab mukhtasar untuk memperbaiki [melengkapi] kitab ini dengan Minhajul Qashidin wa Mufidush Shadiqin. (klik di sini untuk PDF) 

Akan tetapi, juga banyak ulama lainnya yang memuji kitab ini seperti Imam Nawawi, Imam Abdullah Al-‘Idrus dan anaknya Syeikh Abdul Qadir Al-‘Idrus, dan Syeikh Ismail bin Muhammad al-Hadrami. Bahkan kini memiliki organisasi dan website sendiri untuk eksistensi kitab dan ajaran-ajaran yang terkandung di dalam kitab ini. Websitenya: http://www.ghazali.org

Bahkan beberapa kajian kitabnya sudah dicetak berkali-kali dan ditranslite dalam beragam bahasa, seperti Inggris, Perancis, Jerman, Turki, Bengali, Indonesia, Urdu, dan lainnya.
Untuk lihat naskah-naskah (kitab) dalam beragam bahasa klik di sini: http://www.maktabah.org/en/item/59-ihya-ulum-al-din-by-imam-ghazali



Referensi:
dari berbagai sumber.
http://www.ghazali.org
http://www.maktabah.org/en/item/59-ihya-ulum-al-din-by-imam-ghazali
http://www.wikipedia.org
https://generasisalaf.wordpress.com/2014/05/21/pembelaan-terhadap-kitab-ihya-ulumiddin-imam-ghazali/





Ihya' Ulumuddin al-Ghazali di Nusantara dan Dunia

Read More

Saturday, August 20, 2016

Terus terang, hingga saat ini saya masih penasaran dengan Kerajaan Pasai yang pernah berjaya dan  menguasai Melayu Nusantara sekaligus pelopor Islam di Nusantara. Kejayaan berabad-abad  tetapi tidak memiliki peninggalan kuat di bidang intelektual yang dapat dijadikan sumber-sumber saat ini. Syukurnya, selain peninggalan numismatik dan arkeologis nisan yang mengagumkan bersemanyam di sana. Dalam khazanah literatur tertulis, hanya Hikayat Raja-raja Pasai jadi sumber saat ini. 

Hikayat Raja-raja Pasai untuk pertama kali dikaji oleh Dr. Ed. Duraurier, guru dalam bahasa Melayu pada "L'Ecolades Legues Orientales" di Paris. Ia telah mengutip selengkapnya isi hikayat itu dalam huruf Arab (Jawi) sendiri, hanya didahului oleh sepanjang 31/2 halaman mukaddimah dan diterbitkan  oleh "Imprimerie Nationale Paris", 1849.

Sesudah Dulaurier, menyusul Aristide Marre, tahun 1874, dengan karyanya membuat salinan seluruh teks hikayat tersebut dalam bahawa Perancis, berjudul "Histoire des Reois de Pasay" dengan annotasi beberapa halaman sekaligus kutipan mukaddimah Dulaurier. Keduanya tidak membicarakan kapan dan di mana serta oleh siapa hikayat itu ditulis melainkan sama-sama menyebut saja bahwa naskah itu disalin dari pada naskah koleksi Raffless no. 67, sebagai yang diungkap oleh suatu katalogus van der Tuuk.

Selain kepada keduanya di atas, ikut serta ambil bagian J.P Mead karyanya diterbitkan di tahun 1916 ke dalam huruf Latin sekaligus  terjemahan dalam bahasa Inggris. Orientalis terkenal Sir Richard Winstedt tampil mempelopori pengupasan tentang kapan kiranya hikayat itu ditulis, sambil membuat ringkasan isinya, dikatakannya bahwa hikayat itu telah ditulis sesudah tahun 1350 dan tidak lebih lama dari tahun 1536. Dalam suatu monograf tentang kesusasteraan Melayu lama berjudul "A History of Classical Malay Literature" Sir Richard menegaskan lagi pendapat tersebut. 

Ternyata, menurut Mohammad Said (2: 69-72) tentang "Hikayat Raja-raja Pasai" sejauh ini ditemukan hanya salinan di Demak, dalam tulisannya bahwa  "sepanjang diketahui naskah hikayat ini belum pernah ditemukan di daerah Aceh sendiri, khususnya di Pasai. Keganjilannya yang menarik perhatian ialah bahwa hikayat ini hanya dikenal dari salinan naskahnya, itupun tidak ditemukan di tanah air, melainkan di London, Inggris".

Sambungnya demikian "Peristiwa demikian. Segera setelah Inggris berhasil merampas pulau Jawa dari Belanda di tahun 1811, lalu ditempatkanlah Raffles menjadi Letnan Gubernur di sana. Ia gemar mengumpul bahan-bahan sejarah terutama naskah-naskah. Dalam kesempatan berada di sana antara lain ia mengetahui ada sebuah naskah "Hikayat Raja-raja Pasai" di tangan seseorang Bupati di Jawa.

Mungkin karena tidak begitu tertarik untuk membeli dan memiliki naskah tersebut, atau mungkin pula karena si pemilik tidak bersedia menyerahkannya, maka ia hanya berhasil meminta salinkan saja naskah tersebut. Catatan si penyalin di kolofon naskah tersebut memberitahu naskah telah selesai disalin dari aslinya pada tanggal 21 Muharram 1230 H atau bertepatan dengan 2 Januari 1814. Di bawah sekali terdapat lagi catatan ditulis dengan aksara Jawa. Bunyinya sebagai yang telah disalin dan dihuruf-latinkan oleh Dr. A.H. Hill, adalah: "Sangking Kyai Suradimanggala, Bupati Sapuhpu negeri Demak negeri Bogor, warsa 1742".

Tidak lama setelah meninggalkan pulau Jawa, Raffles pindah ke Singapura, seterusnya ke Bengkulen, sesudah itu kembali ke London dan meninggal di sana. Pada tanggal 16 Januari 1830 Nyonya Sophia, janda Raffles menyerahkan salinan naskah ini kepada Lembaga Royal Asiatic Society, London, untuk disimpan dan dimanfaatkan demi penelitian ilmiah.

Saya bersyukur atas informasi Annabel Teh Gallop, naskah yang disalin Raffles sekarang masih disimpan dalam Royal Asiatic Society; Sedangkan naskah Hikayat Raja Pasai di British Library merupakan naskah lain sekali, yang baru ditemui tahun 1986, tetapi ternyata disalin di Jawa pula, di Semarang, tetapi bukan atas permintaan orang asing, melainkan orang Makasar, pada tahun 1797. Kini naskah itu dapat diakses di British Library (Or. 14350).



Apa yang disebutkan oleh Mohammad Said bahwa belum  ditemukannya naskah "Hikayat Raja-Raja Pasai" selain dari catatan Raffles masih menjadi misteri. Bahwa kemudian saya menemukan "Hikayat Raja-Raja Pasai" sesuai penuturan Tgk Ibrahim PMTOH di Aceh Utara. Setidaknya ini menjawab "setengah" penasaran kisah Kesultanan Pasai yang kian hari tergerus dilupakan. Penemuan  naskah "Hikayat Raja-Raja Pasai" lainnya versi bahasa Aceh beraksara Jawo (Jawi) di Aceh Utara koleksi Tgk Ibrahim PMTOH, hasil copian yang selamat pasca gempa tsunami 2004. Kitabnya ini pun sudah terendam air lumpur, beberapa bagian rusak parah, dan sulit terbaca.

Maka jika dibandingkan kedua naskah Hikayat Raja-Raja Pasai koleksi di Inggris berbahasa Melayu ditulis dalam bentuk prosa, sedangkan Hikayat Raja-Raja Pasai koleksi Aceh Utara berbahasa Aceh yang ditulis dalam bentuk puisi dibagi dua kolom. Bahkan dapat diasumsikan bahwa naskah Hikayat Raja-Raja Pasai (Aceh,  dan Inggris) memiliki kesamaan judul dan ketokohan salah satunya Ahmad, namun belum tentu memiliki kesamaan isinya.


Perlu penelitian dan bandingan alur isi naskah untuk menjawabnya, penasaran saya belum terjawab dan menyisakan beragam pertanyaan, terkait hubungan kedua naskah ini (koleksi Aceh dan koleksi Inggris), apakah memiliki kesamaan isi, alur cerita, tokoh. Mungkin butuh waktu dan para peneliti lainnya yang bersedia untuk meneliti. Selain itu, apa yang disebut Mohammad Said belum ditemukannya Hikayat Raja-raja Aceh di Aceh sendiri, seakan-akan menjadi asing di negerinya sendiri. []


Futher reading:
Annabel Teh Gallop, Hikayat Raja Pasai: the oldest Malay history. 24 October 2013.
A.H. Hill, ‘Hikayat Raja-raja Pasai: a revised romanised version of Raffles MS 67, together with an English translation’, Journal of the Malayan Branch of the Royal Asiatic Society, 1960, 33 (2): [1]-215. 
E.U. Kratz, ‘Hikayat Raja Pasai: a second manuscript’, Journal of the Malaysian Branch of the Royal Asiatic Society, 1989, 62 (1):1-10. 
Russell Jones, (ed.), Hikayat Raja Pasai (Kuala Lumpur: Yayasan Karyawan and Fajar Bakti, 1999).
Hermansyah, ‘Terkuburnya naskah Hikayat Raja Pasai’, 2 Feb 2013 [blogpost]



Naskah Hikayat Raja Pasai; Antara Aceh dan Inggris

Read More

Tuesday, August 16, 2016


Musim panas kali ini hadir di Denmark sedikit berbeda, lebih singkat dari biasanya. Namun, masyarakat Denmark sudah mengantisipasinya. Salah satunya mengadakan acara musim panas lebih awal dan dimanfaatkan oleh mereka dengan sebaiknya, dengan beragam kegiatan yang diadakan di berbagai tempat, seperti di tengah kota, di taman, ataupun tempat-tempat yang disediakan. Demikian acaranya juga sangat beragam, mulai dari olah raga, pameran, kegiatan sosial hingga tampilan seni dan budaya. 

Siang itu di Kota Aalborg, salah satu kegiatan yang diadakan pada akhir minggu bulan Juli ini adalah keanekaragaman seni dan budaya “Mangfo Idighedsdag 2016” atas kerjasama 6 organisasi internasional, antara lain Red Cross, Red Barnet Ungdom, Ungdommens Red Cross, Asylforum (Forum Suaka Politik), DFUNK, Danske Handicaporganisationer (Organisasi untuk orang cacat dan difabilitas), dan Network Dobbeltminoriteter (Gabungan organisasi minoritas) yang terdiri dari 9 organisasi, salah satunya  World Acehnese Association (WAA)

Kegiatan seni dan sosial tersebut dimanfaatkan sebaiknya oleh masyarakat Aceh di Denmark yang tergabung dalam WAA di Denmark, salah satunya yang ikut ambil bagian adalah grup Putro Aceh untuk menampilkan tarian-tarian Aceh. Bagi masyarakat Aceh di sana dan lembaga-lembaga sosial di Eropa mengenal WAA sebagai salah satu organisasi yang sudah lama eksis dalam melestarikan tradisi, budaya dan isu-isu sosial Aceh, dan kini diketuai oleh Nek Hasan Basri.   

Acara keanekaragaman kali ini yang diikuti oleh WAA dan Putro Aceh dengan menampilkan tarian Ranup Lampuan dan Rateb Meuseukat. Dua tarian yang cukup mashyur seantero Nusantara. Tarian tersebut ditampilkan oleh anak-anak Aceh di Denmark yang dilatih oleh Nurmala dapat memukau para penonton di kota Aalborg. Sebelum tampil acara tarian yang pertama, tarian Ranup Lampuan, ketua WAA menyampaikan sekilas informasi tentang Aceh dan komunitas Aceh di Denmark kepada penonton yang hadir.  

Sebagai pembukaan, tarian Ranup Lampuan sebagai simbol penyambutan “welcome to Aceh” yang ditampilkan oleh anak-anak berumur antara 7-10 tahun. Mereka cukup lincah untuk ukuran anak-anak Aceh yang tidak pernah mengenyam pendidikan tari ataupun tidak pernah menikmati “keunikan” di Aceh.  

Pada sesi selanjutnya, anak-anak Aceh di Denmark kembali tampil dengan jumlah lebih banyak untuk menampilkan tarian Rateb Meuseukat. Sebuah tarian heroik Aceh yang membutuhkan kecekatan, kecepatan dan konsentrasi penuh serta kekompakan tim. Lagi-lagi, bagi saya mereka sudah cukup baik penampilannya, jika tidak ingin kita sebut profesional.


Para penonton yang hadir berusia muda dan tua di arena acara cukup menikmati penampilan anak-anak Aceh, bahkan sebagian besar adalah anak-anak bule berambut pirang ikut antusias mengikuti gerak tarian Aceh di halaman panggung. Mereka ikut bergoyang, atraksi tangan dan kepala mengikuti tarian Rateb Meuseukat sebagaimana sang penari di atas panggung.

Ajang acara tahunan kali ini diadakan di pusat taman kota Aalborg centrum, tepatnya di taman Tivoli  Karolinelund. Sejak masuk pintu taman tersebut, para pengunjung sudah disuguhkan dengan peta taman dan papan informasi dalam bahasa Denmark. Dalam catatannya, taman ini dibangun tahun 1874, dan diresmikan untuk umum sebagai taman kota tanggal 20 April 1947, kemudian dipercantik pada tahun 2007 dan 2010. Bagi saya, dan bagi pengunjung yang datang akan cukup mendapat informasi dan gambar sejarah taman Karolinelund. 

Ternyata, informasi yang saya peroleh dari ketua WAA, kerjasama semacam ini sudah terjalin cukup lama antara WAA dan Putro Aceh dengan LSM di Denmark. Mereka terlibat dalam beragam kegiatan positif, terutama sosial budaya, seni dan promosi. Bagi masyarakat Aceh di Denmark, ikut serta acara seperti ini bukan hanya merawat seni budaya Aceh kepada anak cucu mereka di Denmark, tetapi juga mempromosikan Aceh dan parawisatanya.

Bagi saya ini merupakan nilai lebih dari itu, bukan sebatas pameran kesenian atau promosi parawisata, tetapi juga betapa sungguh-sungguh masyarakat Aceh di Denmark menjaga identitas Aceh dan keacehan serta mewariskan adat budaya kepada anak cucunya yang menetap di Eropa. []


Source: www. portalsatu.com (16 Agustus 2016)

Akhir Musim Panas, Tarian Aceh Hibur Warga Denmark

Read More

Friday, July 29, 2016

Sekolah itu bernama Madrasah Ahmadiyah Islamiah. Tak perlu khawatir dengan kata “Ahmadiyah” yang tersemat pada nama sekolah ini. Sekolah tingkat rendah ini digagas oleh seorang ulama Melayu masa lalu, Ahmad bin Haji Usman. Itu sebab, sekolah ini diberi nama Ahmadiyah, yang diambil dari nama penggagasnya.

Oleh karena itu, kata “Ahmadiyah” pada sekolah ini sama sekali tak ada sangkut paut dengan kelompok Mirza Ghulam Ahmad. Letak sekolah ini di sebuah kampung bernama Yingo—ada juga yang menyebutnya Jeringo–Provinsi Narathiwat, selatan Thailand. Orang-orang selatan Thailand mengenal sekolah ini dengan nama Sala Anak Ayam.

Tidak ada ciri khusus yang membedakan sekolah ini dengan sekolah-sekolah umumnya di Indonesia. Ruang belajar hanya berupa bilik-bilik sederhana dari papan. Hanya saja, di sini ada asrama bagi murid-murid sekolah. Kesannya, seperti pondok pesantren. Mungkin karena itu, mereka menyebutnya dengan madrasah.

“Sekolah ini dulunya memang pondok (bahasa Aceh: dayah). Baru resmi menjadi sekolah dan mendapat pengakuan kerajaan Thailand sekitar 60 tahun lalu,” ujar Ustaz Lutfee H. Samae, pimpinan Madrasah Ahmadiyah Islamiah Salam Anak Ayam.

Hal yang sangat menarik, di sekolah ini tersimpan ratusan manuskrip kuno peninggalan masa lalu. Manuskrip-manuskrip itu sebagian besar masih berupa tulisan tangan. Naskah tempoe doeloe ini berasal dari berbagai negara. Ada dari Yaman, Arab Saudi, Turky, Mesir, Mindanao (Filipina), dan sebagian besar dari Indonesia.

Usia naskah-naskah itu berkisar 250-470 tahun. Pengakuan Lutfee, dari semua manuskrip yang ada, tiga puluh persen berasal dari Aceh. Selebihnya dari berbagai daerah lain.

Sontak saja saya terkejut sekaligus takjub. Pena di tangan kanan yang saya gunakan untuk mencatat hasil interview bersama Ustaz Lutfee sempat jatuh, begitu mendengar 30 persen naskah kuno di sekolah ini berasal dari Aceh. Selama ini, saya hanya mengetahui bahwa manuskrip tentang Aceh hanyak banyak terdapat di perpustakaan Belanda.

Nyatanya, “sejarah Aceh” juga banyak tersimpan di selatan Thailand ini. Tentu saja pikiran saya langsung melayang pada sejarah masa silam, tentang sesosok ulama dari Pasai. Syeh Said, begitu orang-orang Patani menyebut namanya. Syeh asal Pasai, Aceh, itu dianggap sebagai pembawa Islam ke selatan Thailand. Hal ini termaktub dalam buku sejarah Patani.

Kembali pada manuskrip kuno di Sala Anak Ayam. Bukan hanya naskah dari Aceh, beberapa manuskrip Jawa juga masih tersimpan di sekolah ini. Naskah-naskah itu masih ditulis dalam bahasa Melayu Jawi langgam lama. Beberapa di antaranya ada yang dilengkapi corak wayang golek. Ada juga kesan motif pinto Aceh.

Lutfee sendiri mengaku tidak semua isi naskah ia pahami. Apalagi, kata dia, ada yang masih aksara palawi, ada yang kentara dialek Jawa, dialek Aceh, dan mungkin dialek bahasa lain di Nusantara. Sebagai orang yang dipercaya memimpin sekolah tersebut, Lutfee hanya berusaha menjaga semua manuskrip itu dengan rapi dan aman.

“Sudah lama naskah ini tersimpan di gudang tanpa disentuh. Alhamdulilah Januari 2014 sekolah kami dapat membuat Pameran Kesenian Islam (PKI). Untuk pertama kalinya, naskah-naskah ini kami keluarkan dalam pameran,” tuturnya.

Sejak pameran sederhana Januari 2014 itu, rencananya, sekolah ini akan melakukan kegiatan yang sama setiap tahun. Tujuannya, agar naskah tempoe doeloe ini dikenal oleh setiap generasi. Lutfee merasa tidak berkepentingan apa pun terhadap naskah itu, kecuali menjaganya sebagai bentuk warisan terdahulu.


“Ini Pameran Kesenian Islam I (pertama) kami adakan. Mudah-mudahan kegiatan seperti ini akan berlanjut tiap tahun sehingga generasi penerus tahu bahwa naskah-naskah ini punya nilai sejarah yang tinggi,” ujar Lutfee


Melusuri naskah-naskah yang diletakkan di lemari kaca itu. Beberapa kitab tertulis dalam aksara Jawi dengan ejaan Melayu. Namun, ada juga kitab-kitab yang saya tak kuasa membacanya, karena aksara “Arab-Jawi” yang belum dibubuhi baris dan mungkin saja bukan ejaan Melayu.

Di antara naskah-naskah yang dipamerankan oleh Madrasah Ahmadiyah itu, terdapat kitab al-shirat al-mustaqim (shirathalmustaqim). Menurut sebagian ulama, ini adalah kitab fiqh berbahasa Melayu yang pertama sekali dikarang di Nusantara. Kitab ini merupakan hasil goresan tangan Nuruddin ar-Raniry, ulama asal India yang lama menetap di Aceh.

Selain shirathalmustaqim, terdapat pula manuskrip tentang sejarah penulisan Alquran, yang juga karangan Nuruddin. Selain itu, di sekolah ini juga tersimpan sejumlah karangan Hamzah Fansuri, sastrawan Aceh yang menjadi ikon sastra tulis Melayu.

Seperti saya jelaskan sebelumnya, kitab-kitab yang terdapat di sekolah ini sebagian besar memang dari Aceh. “30 persen manuskrip di sini berasal dari Aceh, selebihnya dari berbagai daerah lain di dunia,” kata pimpinan Madrasah Ahmadiyah Islamiah, Ustaz Lutfee H. Samae.

Selain dalam bahasa Jawi (Jawoe), naskah-naskah kuno di sana juga ditulis dalam bahasa Arab. Ejaan yang digunakan masih ejaan lama. Terkait kertas dan alat tulis, kebanyakan kertas dari Eropa. Alat tulis yang digunakan untuk menulis Alquran dan manuskrip kuno itu masih memanfaatkan alam sekitar. Tintanya diambil dari campuran teras kayu leban, haram kayu, getah damar (tusam) dan getah terea, lalu dicampur sedikit dengan dawat India atau Cina. Adapun penanya diambil dari pohon kabung, buluh (bambu), bulu burung merak, dan lidi landak. Warna hiasan tintanya dari buah-buahan dan bunga-bunga, itu sebab beberapa isi dalam naskah kuno ini ada yang berwarna cerah.

Lutfee kemudian mengajak saya keliling arena pameran sederhana itu. Didamingi beberapa mahasiswa Fatoni University, saya mengamati kitab-kitab lama itu. Saya sempat tertegun dan terkesima pada mushaf Surat al-Kahfi yang mempunyai lima cahaya lukisan air emas. Sampul Alquran ini dari kulit hewan. Berdasarkan keterangan tertulis di bawahnya, usianya mushaf ini sekitar 300 tahun lebih.

Saya pindah ke sebuah kitab yang terdapat dalam lemari kaca. Manuskrip itu diletakkan di atas kulit kayu, dibalut dengan kain putih. Di sana tertera keterangan, “Alquran tulis tangan asal Aceh,” yang usianya hampir 300 tahun silam.

“Zaman dulu, banyak orang Aceh yang sampai ke Patani. Ada yang datang belajar, ada juga yang datang mengajar. Boleh jadi, kitab-kitab ini hasil peninggalan mereka yang dulu datang kemari,” tutur Lutfee.

Lebih lanjut, Lutfee mengatakan ada orang Aceh yang bukan sekadar mengajar dan mendirikan pondok pesantren di sini, tapi juga mendirikan masjid yang kemudian dianggap sebagai masjid bersejarah.

“Saya pernah dengar ada Wan Husen Sadawi yang pernah ke Aceh lalu sampai ke sini. Ia mendirikan sebuah masjid yang seluruh bahannya dari kayu. Masjid itu dinamakan Masjid Teluk Manok. Itu salah satu masjid bersejarah di selatan Thailand ini, selain Masjid Kersik,” paparnya.

Upaya Penyelamatan

Menindaklanjuti penyelematan manuskrip kuno itu yang perlahan tampak usang, pihak Madrasah Ahmadiyah Islamiah sudah berencana akan menyalin seluruh naskah tersebut dalam bentuk digital. Kata pimpinan sekolah itu, niat seperti ini sebenarnya sudah ada sejak beberapa tahun lalu, tapi terkendala dana.

“Sekarang sudah ada pihak yang membantu sekolah kami. InsyaAllah kami akan bekerja sama dengan Kementerian Kebudayaan Thailand dan Negara Turky untuk menyalin naskah-naskah ini ke dalam bentuk digital,” ucapnya.

Jika sudah ada dalam bentuk digital, Lutfee mengatakan, semua orang di penjuru dunia tidak perlu repot-repot sampai ke Thailand untuk mencari naskah-naskah lama ini. Menurutnya, hal ini mereka lakukan demi menjaga keberlangsungan keselamatan manuskrip-manuskrip tersebut.

Lutfee kemudian memperlihatkan deluwang, salah satu kertas yang digunakan oleh ulama Melayu masa lalu untuk menulis manuskrip dan mushaf Alquran. Menurut sejarah, deluwang muncul sekitar tahun 1400 Masehi. Di Indonesia, deluwang diolah dari kulit pohon waru yang memiliki serat kuat pada kulitnya. Ulama tempoe doeloe menulis di atas deluwang karena kerta tersebut dianggap awet.

Sesaat langkah kaki saya terhenti pada sebuah almari kecil. Dalam almari itu terdapat sebuah mushaf mungil ukuran 17 x 12 sentimeter. Tebalnya 2 sentimeter. Diberi keterangan bahwa mushaf ini ditulis pada tahun 987 Hijriyah oleh Al-Marfu Maula Muhamamd al-Bassari. Artinya, usia mushaf ini nyaris empat setengah abad. Namun, mushaf tersebut masih tampak awet.

Jika ditilik dari usia naskah-naskah di sini, agaknya benar yang diutarakan Lutfee, madrasah ini sudah ada sejak zaman dahulu kala, sejak sekolah ini masih berupa pondok pesantren tradisional. Pondok ini berubah menjadi sebuah sekolah yang diakui oleh Kerjaan Thailand sekitar 60-an tahun lalu.

Di sekolah inilah banyak disimpan berbagai manuskrip kuno yang sebagian besar dari Aceh. Kiranya, Pemerintah Indonesia penting mengambil peranan di sekolah ini, menyelamatkan sebagian naskah dari Indonesia. Demikian halnya pihak Pemerintah Aceh, harus ada itikad penelusuran dan penyelamatan naskah-naskah asal Aceh.

Badan Arsip dan Perpustakaan Provinsi Aceh yang memiliki bidang pengarsipan mestinya sampai ke sekolah ini, di Jeringa, Provinsi Narathiwat, selatan Thailand. Bukankah Badan Arsip punya bidang yang khusus ganti rugi naskah? Ini kesempatan, sebelum didigitalkan oleh Pemerintah Turki.


Tulisan ini dari Herman. RN (pernah mengajar di Fatoni University)
dipublis di
- http://pikiranmerdeka.co/2015/10/09/menelusuri-manuskrip-kuno-aceh-di-thailand-bag-1-2/
- http://pikiranmerdeka.co/2015/10/10/menelusuri-manuskrip-kuno-aceh-di-thailand-bag-2tamat/



Manuskrip Aceh di Sala Anak Ayam Thailand

Read More

Thursday, July 14, 2016

Ini menjadi edukasi awal belajar bahasa Aceh, yang agak sedikit sulit dan tanpa struktur (?) dalam penulisannya. Sejauh ini pun di Aceh belum ada panduan belajar baca tulis bahasa Aceh. Selain itu, penulisan Arab-Jawi dalam bahasa Aceh ini tidak lagi diajarkan di sekolah-sekolah Aceh, walaupun ceritanya ingin mengembalikan sejarah, identitas, marwah dan sebagainya. Walhasil banyak generasi buta akan bahasa Aceh, terutama penulisannya. 
Dan tentu ini akan bermanfaat bagi peneliti dan pembaca di luar Aceh yang berminat tentang "ke-Aceh-an". Bagi penulis sendiri juga ini merupakan ajang belajar membaca bahasa tulisan Aceh, sebab selama ini tidak ada di kurikulum sekolah, mulai dari dasar hingga perguruan tinggi.

Berikut ini dasar bacaannya, nomor ganjil (baris pertama) bahasa Melayu, dan nomor genap (baris kedua) bahasa Aceh.

1) Bab         adapun        tetapi         jikalau                jika              maka        itu           yaitu   
2) Pinto       napeu          bit peu      beukeusut         beukeu       teuma       nyan       yang nyan



1) Ini           ia                 jua            kemudian           dahulu          pada            daripada 
2) Nyo        nyan            jeh (?)        dudoe                 dilee              bak            nibak


Salah satu naskah koleksi Museum Aceh, Banda Aceh terdapat dua  halaman naskah tentang belajar bahasa Jawi (Melayu) - Aceh, tentu dengan penulisan (aksara) Arab-Jawi. Naskah ini merupakan kumpulan karangan, nomor Inv. 07.185. Beberapa halamannya sudah belobang dan rusak beberapa bagian dan bekas lumpur, sepertinya pernah terendam air atau lumpur selama berada di tangan masyarakat

Akan berlanjut pada sesi berikutnya.. 







Belajar Baca Tulis Bahasa Aceh (1)

Read More

Friday, July 08, 2016


Berita di Serambi Indonesia tentang musibah  kebakaran rumah di Gampong Pante Aree Garot, Kec. Delima, Kab. Pidie pada tanggal 18 April 2016, pukul 22.20 WIB silam bukan hanya menghanguskan tiga rumah dan harta benda pemilik yang digunakan sehari-hari. Tetapi juga menghanguskan manuskrip-manuskrip yang tersimpan di rumah tersebut.

Alkisah, kejadian kebakaran rumah masyarakat tersebut di malam hari tidak dapat menyelamatkan berang-barang mereka lebih banyak, termasuk manuskrip-manuskrip tersebut sebagai pusaka warisan indatu yang disimpan di dalam rumah. Sehingga semua pusaka penting -baik milik pribadi ataupun warisan- hangus terbakar.

Selama ini, masyarakat menyimpan manuskrip berharga tersebut ala kadarnya; di rak buku, lemari kayu, atas plafon rumah, bahkan di tempat yang kurang layak. Sejauh ini, tidak ada pengamanan yang baik bila terjadi musibah seperti kebakaran ataupun banjir. Hal ini dapat dimaklumi karena, selain tanpa ada dana untuk penyimpanan yang layak, masyarakat juga kurang memahami bagaimana memperlakukan dan menyelamatkan naskah-naskah tersebut. Mayoritas mereka hanya mewarisi dari keluarga sebelumnya.


Lembaran-lembaran naskah yang terbakar dikumpulkan dalam ember hitam


Gambar di atas merupakan lembaran-lembaran mushaf al-Qur'an yang telah hangus terbakar saya peroleh dari sdr. Irfan M Nur kiriman dari sdri. Qurratun Ainiah. Manuskrip  tutong (naskah terbakar) ini saya istilahkan setelah manuskrip-manuskrip itu terbakar sebagian besarnya yang tidak dapat dibaca lagi, dan tersisa sebagian kecilnya yang terlihat tulisannya.

Manuskrip tersebut berada di rumah korban kebakaran pada saat itu dan dikumpulkan kembali pasca kebakaran, sayangnya banyak lembaran-lembaran yang tidak dapat diselamatkan.

Wilayah Pidie memang menjadi salah satu sentral penyimpanan dan penyebaran naskah-naskah di Aceh, bahkan di sini terdapat naskah-naskah penting yang tidak dimiliki di Banda Aceh. Sebab, Negeri Pedir (sekarang Pidie dan Pidie Jaya) menjadi salah satu sentral kerajaan Aceh periode kolonial Belanda, saat Banda Aceh dan Aceh Besar (Tiga Sagi) mulai dalam genggaman Belanda, maka Sultan Aceh dan seluruh pemimpin mengungsi ke Keumala Pidie.

Inilah babak baru dari sejarah Pidie yang pernah dimilikinya sebelum Banda Aceh (Kesultanan Aceh) berjaya. Semua sentral pergolakan dan perlawanan, pendidikan dan pengembangan keilmuan serta penyalinan manuskrip pindah ke Pidie. Namun, sejauh manakah perhatian Pidie terhadap khazanah dan warisan indatunya.? Tentu sangat miris dan jauh dari harapan.

Sejauh ini, naskah-naskah kuno di sana hanya tersimpan di rumah sang kolektor naskah atau di rumah-rumah pewaris manuskrip. Semua naskah tersebut kurang mendapat perawatan, dan sejauh ini juga -menurut beberapa pengoleksi naskah- belum pernah mendapat perhatian pemerintah setempat (Pidie) atau pemerintah Aceh, baik dalam rangka penyelamatan, perawatan ataupun identifikasi. Sebagian dari pengoleksi naskah tersebut hanya mendapat kunjungan dari negeri peneliti negeri jiran, atau beberapa peneliti dalam proses identifikasi, digitalisasi ataupun penelitian yang bersifat sementara.

Sudah saatnya, Pemerintah Kab. Pidie memiliki program berkelanjutan dalam penyelamatan manuskrip-manuskrip tersebut, sebab inilah kekayaan Pidie yang tidak dimiliki di daerah lain. Ini menjadi langkah awal untuk memperkenalkan kekayaan khazanah Aceh (khususnya Pidie) kepada publik. Pidie sudah memiliki kekayaan berharga yang selama ini belum diberdayakan, salah satunya manuskrip-manuskrip di Pidie.  Salah satu program yang dapat dilakukan adalah mengidentifikasi kembali manuskrip koleksi masyarakat Pidie, kemudian digitalisasi untuk backup data dan menerbitkannya dalam bentuk katalog.

Note: Terima kasih foto naskah tutong dari sdr. Irfan M Nur, bersumber dari sdri. Qurratun Ainiah

Manuskrip Tutong di Pidie

Read More

Sunday, July 03, 2016

Setelah 1157 tahun bersemanyam salah satu perpustakaan tertua di dunia dibuka untuk umum, terletak di Fez, Maroko, tepatnya di al-Qarawwiyin University. Perpustakaan kini terus mendapat renovasi dan mempercantik diri, kini tampilannya menunjukkan keangungan Islam di sana, terutama untuk memamerkan koleksi-koleksi baru untuk dunia, khususnya peneliti, pelajar dan masyarakat umum.

"Koleksi emas" yang dimiliki koleksi ini adalah, mushaf al-Qur'an abad ke-9 Masehi yang masih ditulis dengan khat Kufi (Kaufi), salah satu bentuk khat (tulisan) kaligrafi paling tua dan terawal yang digunakan periode pra-Islam dan pada masa Rasulullah.

Mushaf al-Quran tulisan khat Kufi pada abad ke-9 Masehi

Sepertinya, jika melihat lembaran yang ditampilkan di websitenya, mushaf ini merupakan kitab "salinan" terawal yang masih menggunakan titik satu dan titik dua di beberapa huruf hijaiyyah, tetapi belum digunakan titik tiga. Selain itu, ini merupakan bukti konkret tentang penjilidan dan penyebaran Islam di benua Afrika, termasuk penulisan-penulisan kitab suci dalam bentuk aslinya.

Selain itu, naskah asli "Muqaddimah" Ibnu Khaldun juga tersimpan di sini. Nama lengkapnya, Abu Zayd 'Abdurrahman ibn Muhammad ibn Khaldun al-Hadrami (lahir 27 Mei 1332 - meninggal 19 Maret 1406), adalah seorang sejawran muslim dari Tunisia dan mendapat julukan bapak pendiri ilmu historiografi, sosiologi dan ekonomi. karya terkenalnya adalah "Muqaddimah".

Kitab Muqaddimah Ibnu Khaldun, intelektual Muslim terkenal di dunia


Menurut beberapa sumber, mesjid dan universitas al-Qarawiyyin telah dijadikan sebagai "Muslim Heritage" karena masih menyimpan originalitas seni hias dan arsitektur Islam pada masa lampau. Selain itu, universitas ini juga menyimpan 4000 manuskrip dalam berbagai bidang keilmuan, baik karya-karya ulama atau intelektual Islam terkenal ataupun karya-karya lainnya yang tidak diketahui (anonim). Demikian juga menyimpan beberapa koleksi utama sebagai "warisan" Islam yang sangat berharga.

Setelah sebulan dibuka untuk umum, perpustakaan dan museum ini para pengunjungnya membludak.
Lihat beberapa tampilannya klik disini 




Reseources:
  http://www.techinsider.io
  - http://www.fez-guide.com
  - http://www.muslimheritage.com

4000 Manuskrip Penting di Al-Qarawiyyin University

Read More

Hermankhan Google+ Followers

Copyright © 2015 Herman Khan | Portal Manuskrip Aceh dan Malay | Distributed By Blogger Template | Designed By Blogger Templates
Scroll To Top