Translate

Nasib Manuskrip Aceh: Kini dan Nanti (1)

Di era orde baru dan awal reformasi, perhatian terhadap pelestarian naskah belum memadai dikarenakan beberapa faktor, antaranya situasi politik Aceh dengan konflik vertikal berkepanjangan, ternyata banyak mempengaruhi ke sektor lain, termasuk pendidikan, budaya dan penelitian keilmuan. Faktor lainnya yang mempengaruhi lemahnya regulasi pemerintah terhadap pelestarian warisan tulis adalah minimnya sumber daya manusia (SDM) di Aceh. Akibatnya, pengetahuan seputar ilmu filologi dan pernaskahan (manuskrip) tidak diketahui oleh banyak orang, termasuk pelajar dan para pewaris manuskrip itu sendiri.
Sebenarnya, program kegiatan pemeliharaan (preservation) sudah dikenal sejak dahulu, dan pasca gempa-Tsunami 2004 terus tumbuh berkembang dalam dunia pernaskahan Aceh, preservasi masa mendatang dapat meliputi; Inventarisasi naskah, Katalogisasi, Restorasi naskah, Digitalisasi naskah, Database (pangkalan data), dan Tipologi kajian (analisis) teks, naskah serta kajian kontekstual. Sebahagiannya sudah dilakukan secara berkelanjutan, walaupun belum ada prioritas kebijakan terhadap program-program tersebut, sehingga belum ada sinerginitas antara satu lembaga dengan lainnya. Secara periodik, perhatian terhadap preservasi naskah di masyarakat dapat dipilah menjadi dua bagian sesuai dengan situasi dan kondisi Aceh, yaitu pra dan pasca bencana alam dan bencana kemanusiaan. Hal itu untuk memudahkan melihat regulasi pemerintah dan perhatian masyarakat terhadap kearifan dan pengetahuan untuk merevitalisasi pengetahuan budaya dan kultur masa lalu dengan konteks sekarang dengan jumlah ribuan naskah di Aceh.
Akumulasi angka tersebut tentu akan mencapai jumlahnya jika dirunut sebelum tragedi gempa dan tsunami Aceh-Nias pada 26 Desember 2004 atau sesudahnya. Hingga sebelum tragedi bencana dunia tersebut, Aceh memiliki beberapa lembaga yang mengoleksi naskah-naskah Jawi (Bahasa Aceh dan Melayu) dan Arab, seperti di Museum Negeri Aceh, Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh (PDIA), Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional, Yayasan Pendidikan dan Museum Ali Hasjmy (YPAH) berlokasi di Banda Aceh. Zawiyah Tanoh Abee di Seulimuem, Aceh Besar, dan Dayah Awee Geutah, Bireuen.

Tradisi Pengobatan Meurajah dalam Manuskrip Aceh

Kajian perobatan medis di Aceh telah mencapai fase keselarasan, pada saat tema-tema keagamaan dan kebudayaan mendapat “lahan utama” di dunia intelektual dan para peneliti (researchers), baik dalam tatanan pemerintahan (kesultanan) maupun masyarakat bawah (grassroots). Pada hakikatnya, ranah kajian medical ataupun perobatan secara tradisional dan modern telah mendapat tempat yang sama dengan kajian keagamaan, seperti ilmu tasawuf, tauhid dan syariat yang selama ini dan sebelumnya mendapat sorotan utama.
Informasi tersebut dapat ditelusuri dari banyaknya karya tulis di bidang kedokteran yang dihasilkan oleh para intelektual atau tokoh-tokoh agama di Aceh pada beberapa abad yang silam. Karya tulis tangan (manuskrip) atau naskah klasik merupakan sumber primer dan bukti kejayaan yang digapai oleh Aceh dalam bidang-bidang tersebut, seperti pencetus munculnya sistem tulisan aksara Arab-Jawi di dunia Melayu-Nusantara, atau lahirnya sistem/kaidah syair (puisi) dari Hamzah Fansuri, dan lain sebagainya.
Artikel ini melihat konteks rajah dari sudut pandang antro-filologis, yang bertahan sejak periode kesultanan, peperangan hingga kemerdekaan. Mengapresiasi semangat leluhur dengan hanya menyimpan warisan yang telah mereka wariskan kepada kita tidaklah cukup. Demikian manuskrip-manuskirp rajah yang dipandang sebagai salah satu pengobatan alternatif tidak hanya sebatas bacaan dan dinikmati kandungan isi, akan tetapi lebih bermakna untuk dieskplorasi lebih mendalam, secara medis dan filosofisnya melalui multidisipliner ilmu. Termasuk masyarakat memeliharanya sedemikian rupa dan mewarisi fisik manuskripnya, dan hanya sedikit yang mewarisi ilmunya.

Mi‘rāj al-Sālikīn: Survivalitas Ajaran Tarekat Syatariyah di Aceh Periode Kolonial

This article discusses the development of Syattariyah Sufi order as one of religious traditions in Aceh in the colonial era based on the manuscript of Muhammad Khatib Langien’s Mi‘rāj al-Sālikīn ilá Martabat al-Wāsilīn bi-Jāh Sayyid al-Mursalīn. The Syattariyah teachings in Mi‘rāj al-Sālikīn have proved the existence of Muhammad Khatib Langien in the Malay-archipelago world. In applying his teachings, Muhammad Khatib Langien has the different procedures than that one of  ‘Abd al-Raūf al-Fansuri. In addition to practical teachings, Muhammad Khatib Langien employs local symbols such as wearing skullcaps and turbans in the swear oath (bay‘ah) process. This tradition is meant to respond the foreign culture as well as to show the identity of each members of Syattariyah sufi order. It is proved that Muhammad Khatib Langien’s teachings that can be accepted by all people and groups even without having support from the local authorities at the time.

Di Aceh, jalur ‘Abd al-Raūf al-Fansuri (Abdurrauf Syiah Kuala) bukanlah satu-satunya penghubung tarekat Syatariyah dari dunia Islam (Mekah dan Madinah) ke dunia Melayu-Nusantara, khususnya Aceh. Beberapa naskah koleksi Tanoh Abee menyebutkan terhubungnya murid-murid tarekat Syatariyah di sana tanpa melalui jalur Abdurrauf al-Fansuri di era yang sama. Demikian juga jaringan silsilah Syatariyah di Pidie dari tokoh utama adalah Muhammad bin Ahmad Khatib Langien di Pidie. Berada di Gampong (desa) Langien di wilayah kemukiman berada di Pidie (Kabupaten) yang jauh dari sentral Kesultanan Aceh (Banda Aceh).
Hubungan silsilah tarekat Syatariyah terjalin kuat antara ulama Nusantara, Arab dan India secara langsung ataupun tidak. Konsep ajaran yang disebarkan di Nusantara –khususnya Aceh- tidak berbeda jauh dengan konsep di tempat lahir dan berkembangnya tarekat ini. Walaupun belum didapatkan tokoh Arab atau India dalam tarekat ini yang langsung berkiprah di Aceh, seperti peran Nūr al-Dīn al-Ranirī periode Iskandar Tsani (w. 1641) dan pamannya, Hamīd al-Rānirī di masa Iskandar Muda (w. 1630), yang mengembangkan tarekat Qadiriyah di Aceh.
Tarekat Syatariyah masuk dan berkembang di Aceh hampir bersamaan dengan atau setelah tarekat Qadiriyah. Sejauh ini, ‘Abd al-Raūf al-Fansuri memiliki jaringan terluas di Nusantara, dan dapat dipastikan yang pertama. Dengan pengalamannya selama 19 tahun di Jazirah Arab dan “berguru Syatariyah” kepada Ahmad al-Qushāshī dan Ibrāhim al-Kurānī hingga dipercayakan untuk mengembangkan ajaran tarekat di Nusantara. Ia mampu mengorbitkan ulama-ulama dalam tarekat Syatariyah di seluruh wilayah Melayu-Nusantara, diantaranya Burhanuddin Ulakan, (w. 1699 M) dari Pariaman, Sumatra Barat, Abdul Muhyi (w. 1738 M) dari Pamijahan, Tasikmalaya, Jawa Barat, Yusuf al-Makassari (w. 1999 M) dari Sulawesi, dan Syaikh Abdul Malik bin Abdullah atau Tok Pulau Manis (1678-1736) dari Terengganu.

Tradisi Maulid Nabi di Aceh dalam Manuskrip Aceh

KATA maulod atau maulid berasal dari kata serapan bahasa Arab yang dimaknai hari lahir. Maulid Nabi Muhammad SAW adalah peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW, yang diperingati atau dirayakan pada setiap 12 Rabiul Awal dalam penanggalan Hijriyah. Perayaan Maulid Nabi merupakan tradisi yang berkembang di masyarakat Islam jauh setelah Nabi Muhammad wafat.
Secara subtansi, peringatan ini adalah ekspresi kegembiraan dan penghormatan kepada Nabi Muhammad. Perayaan Maulid Nabi, kabarnya pertama kali diperkenalkan oleh Abu Said al-Qakburi, seorang gubernur Irbil di Irak pada masa pemerintahan Sultan Salahuddin al-Ayyubi (1138-1193). Dan ada sumber lain yang berpendapat bahwa idenya justru berasal dari Sultan Salahuddin al-Ayyubi sendiri.
Tujuannya adalah untuk membangkitkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW, serta meningkatkan semangat juang kaum muslimin saat itu, yang sedang terlibat dalam Perang Salib melawan pasukan Kristen Eropa dalam upaya memperebutkan kota Yerusalem dan sekitarnya. Akan tetapi, dalam perkembangan berikutnya tradisi ini menyebar ke daerah-daerah sentral Muslim dalam kegiatan peringatan keagamaan untuk meningkatkan kecintaan kepada Nabi Muhammad, hingga akhirnya berkembang bukan hanya pada pembacaan syair-syair mahabbah kepada Rasulullah, akan tetapi juga pada ranah sosial budaya dan adat-istiadat yang "dikawal" secara turun-temurun.

Melacak "Nasib" Naskah Tajus Salatin di Aceh

Naskah Tajus Salatin tba-tiba menjadi perhatian saya, yang sebelumnya sudah sejak lama saya mengincar untuk membacanya. Kabarnya naskah tersebut merupakan asas manajemen pemerintahan Kesultanan Aceh sejak periode Sultan Alaidddin Riayat Syah (997-1011 H (1589-1604) karya dari Bukhari al-Jauhari. Sosok tokoh ini juga belum terungkap, dan akhirnya melahirkan tanda tanya dan beberapa asumsi asal usul tokoh tersebut, apakah ia berasal dari Bukhara, ataukah ia dari Johor dengan gelar "al-Jauhari" atau al-Johori. (lihat link: http://www.iranicaonline.org/articles/taj-al-salatin). Semua dapat dilakukan penelitian lebih mendalam untuk perkembangan keilmuan dan intelektual di alam Melayu Nusantara secara umum, dan Aceh khususnya.
Mengapa khusus Aceh, sebab naskah ini dianugerahkan kepada kepada Sultan Aceh. Terlepas dari euforia kejayaannya, tapi warisan ini cukup sulit ditemui di Aceh pada zaman modern ini, padahal isinya mungkin cukup relevan untuk dijadikan cerminan dengan sekarang, (lihat: http://hermankhan.blogspot.com/2011/07/asas-pemimpin-dalam-tajus-salatin.html), setidaknya "belajar" mempertahankan tradisi dan mengembangkan visi. 
Prof. Iskandar menyebutkan bahwa proses transliterasi ke aksara Jawi sekitar tahun 1603 M di Aceh pada masa Sultan Alaiddin Riayat Syah. Pedoman sistem kenegaraan tersebut merujuk kepada karya Persia, mungkin disusun di India, karena bukti internal menunjukkan bahwa penulis memiliki pengetahuan puisi Persia.
Hal tersebut dapat dilihat pada sosok Nuruddin al-Raniry yang mengabdikan dirinya kepada Sultan Aceh di wilayah Kerajaan Aceh. Padahal tokoh tersebut -dalam beberapa penelitian- pernah eksis Pahang dan Haramain, demikian juga asal negerinya di India, akan tetapi kemudian karyanya belum ditemui bahwa ia menulis di Pahang dan atau di Haramain. Kecuali beberapa kitab (3 kitab) yang ditulis di India pasca kepulangannya dari Aceh.
Karena itulah, Bukhari al-Jauhari -dan banyak ulama Aceh-Melayu lainnya- juga meninggalkan banyak tanda tanya tentang dirinya, walaupun harus diakui tradisi penulis di tanah Aceh-Melayu selalu tak ingin dikenal, sebuah sifat tasawuf (sufisme) dalam karya mereka tanpa mengharap apresiasi dari manusia.
Halaman Awal Naskah Tajus Salatin koleksi Malaysia disalin tahun 1967

Sejak Prof. Farish Noor dari Singapura menanyankan tentang keberadaan naskah Tajus Salatin dari negeri asalnya, Aceh, di beberapa media jejaring sosial, yang akhirnya juga mendarat ke inbok elektronik saya. Saya bertambah penasaran dan tanda tanya, salah satunya adalah naskah manuskrip yang dianggap sebagai pedoman tatanegara Kesultanan Aceh yang dipakai beberapa periode lamanya, tak pernah (atau lebih bijak -belum-) ditemukan di Aceh.
Sebut saja, pedoman yang dirujuk dalam naskah Tajus Salatin kemudian masih diaplikasi setengah abad berikutnya, periode Safiyatuddin Syah Tajul Alam terpilih sebagai Sultanah Kerajaan Aceh, tokoh perempuan yang memiliki kontropersi ideologi di dunia Muslim Nusantara, termasuk Jazirah TImur Tengah. 
Sebenarnya hal ini bukan hal yang baru bagi saya, sebab naskah-naskah fenomenal lainnya di Aceh juga bernasib sama, sebut saja Bustanus Salatin karya Nuruddin Ar-Raniry juga tak pernah muncul di koleksi negara atau swasta. Benar atau tidak, memang kita -pemerintah dan masyarakat- sama-sama sepakat tidak menghiraukan karya-karya indatu (leluhur), atau turut bekerjasama "menjajah" karya sendiri bersama dengan penjajah intelektual.
Nasib naskah Tajus Salatin memiliki nasib yang hampir serupa, sepertinya harus diperoleh naskah-naskah lebih tua dan autoritatif untuk mendapatkan informasi lebih kongkret dan detail atas keberadaan naskah itu sendiri, termasuk sosok penulisnya yang kian terlupakan. Tapi sepertinya jalan masih panjang, semoga masih ada harapan naskah itu terselip di rak lemari rumah masyarakat Aceh, wallahu'alam...

Alfiyyah Ibnu Malik dan Pidie

Naskah Alfiyyah
Koleksi Tarmizi A Hamid, Banda Aceh
Bagi sebagian orang, mungkin mendengar kitab berjudul Alfiyyah sudah umum, bahkan bagi dunia dayah dan pesatren salafi sudah mempelajarinya, sebagai bagian dari ilmu alat dalam pengembangan grammatical bahasa Arab. Tapi bagi saya, ini memiliki keistimewaan tersendiri.

Pada Sabtu malam, bapak Tarmizi mengajak saya untuk mengecek dan "mengacak" naskahnya, ada beberapa naskah yang kami buka, tidak terlalu banyak tapi beragam, salah satunya kitab ini (Alfiyyah), karena naskah ini lengkap dari segi fisiknya, mulai pembukaan (mukaddimah), halaman tengah lengkap, hingga kolofon naskah, yang disalin oleh Abdurrahman pada tanggal 5 Ramadhan (tanpa tahun). Jika diterawang kertas naskah, akan terlihat watermark (cap air) bergambar jangkar laut (anchor) dan tulisan AZULAU, kuat dugaan kertas ini diproduksi oleh Roma sekitar tahun 1640 M.
Keunikan lainnya, tiba-tiba kami menemukan sehelai kertas di dalam naskah, entahlah, mungkin ia bagian dari naskah tersebut yang telah lama terlelap diantara lembaran-lembaran naskah, hanya saja dia bukan bagian dari matan naskah.


Di lembaran tersebut tertanggal 12/4/1951 bahwa "Tgk Brahim (Ibrahim) atau Tgk Samalanga telah meminjamkan salah satu kitab tafsir dari pemilik kitab Tgk Imum Fakeh dan Tgk Mat Kasim, negeri Triengdjading (Trieng Gadeng), Pidie, ditulis oleh Djamal". Informasi tersebut menjadi penting bahwa naskah ini –diantara naskah-naskah lainnya- masih eksis dan terus dipelajari.

Selain itu, catatan ini juga juga bermakna karena pada tahun tersebut (1951) Aceh bukan lagi sebagai daerah pengembangan dunia intelektual, akan tetapi sudah menjadi bagian dari Sumatera Utara sejak tahun 1950. Sejak itulah, kekecewaan dan benih pemberontakan mulai menggeliat akibat Jakarta (Pusat) tidak bisa berterima kasih kepada Aceh. Dan Pidie menjadi sentral dalam pemberontakan ketidakadilan tersebut. 

"Pasang Surut" Ilmu Faraid

Teks Naskah Ilmu Warisan (Faraid)
Ilmu Waris atau Mawaris sebenarnya sudah menjadi wajib diketahui oleh setiap individu muslim, sebab pembagiannya merupakan ketentuan dari Allah sebagaimana yang telah ditentukan dalam Al-Qur'an (QS An-Nisa': 11).

Anjuran untuk mempelajarinya juga sudah ditegaskan oleh Rasulullah akan hal ini, karena jika tidak ada orang yang mempelajari ilmu faraid atau waris ini, maka telah terjadi kecurangan dan ketidakadilan.

Sepanjang perkembanagan ilmu waris sejak diimplementasikan Rasulullah di periodenya hinga saat ini, maka telah muncul tehnik-tehnik atau tatacara penghitungan warisan yang lebih simpel dan praktis hingga saat ini.

Lahirnya metode penghitungan warisan melalui program-program modern dianggap salah satu kemajuan tersendiri dalam ilmu ini, walaupun persoalan lain belum teratasi sepenuhnya, seperti pengetahuan masyarakat untuk membagikan warisannya sesuai ketentuan fiqih (agama). Mempelajari ilmu faraid (ilmu mawaris) memang hukumnya fardhu kifayah, artinya kalau dalam segolongan umat sudah ada orang yang mengerti dan memahami ilmu faraid (ilmu mawaris), yang lain dari kelompok itu tidak lagi diwajibkan mempelajarinya. Sebaliknya, apabila dalam segolongan umat sama sekali tidak ada yang mengerti ilmu faraid (ilmu mawaris), maka segolongan umat itu berdosa.

Dalam perkembangan ilmu ini, beberapa naskah klasik (manuskrip) juga pernah membuat format untuk penghitungan dan penghapalan ilmu waris supaya lebih efisien dan mudah. Manuskrip di Aceh banyak menyebutkan tentang warisan, penulisan warisan ini tentu dapat diasumsikan oleh beberapa sebab, diantaranya pembelajaran, pengenalan ilmu waris, hingga juga disebutkan warisan dari seseorang yang sengaja ditulis untuk dibacakan ketika ia meninggal, biasanya ini untuk menghindari perselisihan di kemudian hari.

Hadirnya ilmu waris ini sebagai penegak terhadap hak-hak mereka yang tertindas, terzalimi, ataupun memberantas monopoli dari salah satu di antara para ahli waris, problema ranah keluarga ini menjadi sangat sensitif karena dapat menimbulkan perpecahan dalam keluarga, baik langsung ataupun tidak langsung. Selain itu juga dapat berbahaya pada seseorang, jika ia mengambil hak waris orang lain, itu sama dengan mencuri atau memakan yang bukan haknya.

Oleh karena itu, pemerintah yang berkompoten dan yang berada dalam ranah ini harus mensosialisikan dan mengembangkan ilmu waris ini di masyarakat, setidaknya setiap satu desa memiliki satu orang yang paham dalam bidang ini, baik teungku, imum mesjid, alim ulama, atau para intelektual, sehingga masyarakat dan setiap orang dapat bertanya kepada ahlinya dan terhindar dari pertikaian antar keluarga yang akan berdampak lebih besar terhadap ukhuwah islamiyah.


Meulaboh Dalam Lintas Sejarah Aceh

Penulis (paling kanan baju warna merah) bersama dengan Wakil Bupati
Rektor UTU Meulaboh dan pembedah buku


Buku "Meulaboh Dalam Lintas Sejarah Aceh" diluncurkan dan dibedah pada hari Senin (25/11/2013) di kantor Bupati Aceh Barat yang dibuka oleh Wakil Bupati Aceh Barat, Drs. H. Rachmat Fitri HD, MPA, mewakili Bupati Aceh Barat, H. T. Alaidinsyah.
Buku ini ditulis oleh Ketua Dewan Kesenian Aceh (DKA) Aceh Barat, HT Ahmad Dadek bersama Dosen UIN Ar-Raniry Banda Aceh yang juga ahli manuskrip Aceh, Hermansyah, serta editor Arif Ramdan, wartawan Serambi Indonesia di Aceh.

Peluncuran buku ini dipadukan dengan bedah buku oleh Dr.Gunawan Adnan, MA., Ph.D, yang menurut beliau hadirnya buku ini patut diapresiasi dan dibaca, sebab ini dapat menjadi rujukan utama karena kajian dalam buku ini dipadu dari sumber-sumber primer, manuskrip dan buku-buku Belanda.

Buku tersebut berisi tiga dimensi periode. Meliputi Meulaboh dalam literatur klasik; Kesultanan Aceh, orang-orang Pribumi, Teungku dan Datuk: literatur klasik Manuskrip; 

Periode kedua merupakan periode Kolonial Belanda, sejak menginjak kakinya di Meulaboh pada tahun 1877. Pada bagian ini antara lain terdapat Hikayat-hikayat Aceh versi van Langen, Hikayat Teungku di Meukek, dan Hikayat Ranto, West Kust van Atjeh, dan lain-lain.


Manuskrip Ilmu Matematika di Aceh dan Melayu-Nusantara

Manuskrip mengenai ilmu matematika (hisap) ini agak sulit ditemui di Aceh, termasuk wilayah Melayu-Nusantara. Namun, perkembangan ilmu ini sudah ada di tanah Asia Tenggara sejak sebelum Islam hadir, walaupn rumusan ilmu tersebut dapat disimpulkan periode Islamisasi di Nusantara. Sebab ilmu ini sudah menjadi kajian menarik sejak Islam ada di Jazirah Arab, sebab sangat berkaitan dengan ilmu waris, ilmu falak, dan ilmu-ilmu lainnya.
Dalam lintas sejarah Islam, ilmu matematika telah dikembangkan sejak abad ke-8 Masehi, beberapa tokoh penting seperti Al-Hajjaj bin Yusuf bin Matar (786-883 M), Muhammad bin Musa al-Khawarizmi, Al-Qalasadi, Abdul Qadir al-Sakhawi, Al-Abbas bin Said al-Jawhari, Abdul Hamid bin Turk, Ya'qub bin Ibn Ishaq al-Kindi, Banu Musa, Al-Bahani, Al-Khazin, Al-Kharaji, Abul Wafa al-Buzjani, Umar Kayyam, Al-Batani, dan lain sebagainya, merupakan pengasas dan pengembang ilmu matematika.
Dari beberapa sumber literatur menyebutkan bahwa Bangsa Semit menggunakan huruf abjad Arab. Mereka membakukan angka dengan abjad ini. Demikian juga halnya mengenai huruf abjad pada zaman Rasulullah. Pada abad pertama Hijriyah para ilmuwan muslim menggunakan huruf-huruf abjad dalam menuliskan karangan-karangan mereka. Setiap huruf mempunyai angka khusus untuk menunjukkannya. Huruf alif melambangkan angka 20, huruf lam melambangkan angka 30 dan seterusnya.
Pengenalan angka-angka India-Arab serta perluasan penggunaannya di dunia Arab dan Islam adalah berkat jasa ilmuwan terkenal, Muhammad bin Musa al-Khawarizmi (164-235 H/781-850 M), yang menulis buku tentang angka-angka India-Arab. Dengan demikian, bentuk-bentuk dari angka-angka India-Arab mulai menempati huruf-huruf abjad.
Cara penulisan angka-angka di kalangan orang India, oleh para ilmuwan muslim, terlihat mudah dan jelas serta tidak mempunyai kerumitan apa pun. Karena itu, para ilmuwan muslim mengambil gagasan tentang angka-angka dari orang India, tetapi dalam pengcmbangannya mereka mengambil arah yang berbeda dalam hal tertentu dari arah yang diambil oleh orang India. Bagaimanapun, saya melihat, sebaiknya angka-angka, dinamakan angka India-Arab karena gagasan awalnya berasal dari India. Sedangkan angka 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9 adalah angka-angka Arab. Sekalipun akar-akarnya berasal dari angka-angka India-Arab, bangsa Arab-lah yang telah memasukkan ke dalamnya berbagai penyesuaian dan penyederhanaan sehingga terkenal di dunia dalam bentuknya yang sekarang. Bangsa Arab telah mengenal angka kosong (nol) sejak semula.
Naskah Ilmu Matematika yang ditemui di Aceh
karya Abdul Qadir bin Ali as-Sakhawi, 

Naskah ini menunjukkan bagaimana Abdul Qadir al-Sakhawi juga senada dengan penggunaan nama angka ini, disebut dalam naskah tersebut "Yaqulu rahimallahu rabbahu Abdul Qadir  bin Ali as-Sakhawi as-Syafi'i amilahum Allah bikhaffi lafzhihi fi ad-Dunya wal Akhirah, Hadha Mukhtashar fi Ilmu al-Hisab Sahhala Lil-Mubtadi nafi'ah, insyaAllah Ta'ala, wa-rattabahu 'ala Muqaddimah, wa ahada 'asyara baban, wa-khatimah. 
Fa-al-Muqaddimah fi sifat al-ahruf al-Hindiyyah wa-hiya tis'atu asykalin..." (Terjemahan: Abdul Qadir bin Ali as-Sakhawi as-Syafii -Allah memudahkan mereka di dunia dan akhirat- disebutkan bahwa ini Ringkasan Ilmu Hidab (Matematika) untuk memudahkan para pemula, Insya Allah bermanfaat. Maka disusun terdiri dari Mukaddimah, 11 bab, dan penutup. Maka, dipembukaan ini disebut karakter huruf Hindi (India) yaitu ada 9 bentuk...)
Pada dasarnya, tokoh Abdul Qadir bin Ali as-Sakhawi terkenal di wilayah Melayu-Nusantara berkat Syekh Ahmad al-Fathani yang mengkaji kitab (karya) beliau berjudul matan Ilmu Hisab. Kemungkinan termasuk kitab ini merupakan hasil kerja keras Syekh Ahmad Fathani.
Tidak banyak ditemui pembicaraan beliau tentang ilmu hisab itu dalam bahasa Melayu. Ini kerana Sheikh Ahmad al-Fathani lebih banyak menulisnya dalam bahasa Arab. Tulisan beliau dalam bahasa Arab mengenai ilmu hisab dimulai dengan penerbitan kitab Matn as-Sakhawiyah fi ‘Ilmil Hisab karya Sheikh Abdul Qadir as-Sakhawi. Penerbitan dan pentahqiqan dilakukan pada tahun 1304 H/1886 M. Kemudian kitab tersebut beliau syarah pula dalam bahasa Arab.

 

Education

Loading...

adsense

National Geographic Photos

Manuscript

Loading...