Thursday, July 14, 2016

NEW
Ini menjadi edukasi awal belajar bahasa Aceh, yang agak sedikit sulit dan tanpa struktur (?) dalam penulisannya. Sejauh ini pun di Aceh belum ada panduan belajar baca tulis bahasa Aceh. Selain itu, penulisan Arab-Jawi dalam bahasa Aceh ini tidak lagi diajarkan di sekolah-sekolah Aceh, walaupun ceritanya ingin mengembalikan sejarah, identitas, marwah dan sebagainya. Walhasil banyak generasi buta akan bahasa Aceh, terutama penulisannya. 
Dan tentu ini akan bermanfaat bagi peneliti dan pembaca di luar Aceh yang berminat tentang "ke-Aceh-an". Bagi penulis sendiri juga ini merupakan ajang belajar membaca bahasa tulisan Aceh, sebab selama ini tidak ada di kurikulum sekolah, mulai dari dasar hingga perguruan tinggi.

Berikut ini dasar bacaannya, nomor ganjil (baris pertama) bahasa Melayu, dan nomor genap (baris kedua) bahasa Aceh.

1) Bab         adapun        tetapi         jikalau                jika              maka        itu           yaitu   
2) Pinto       napeu          bit peu      beukeusut         beukeu       teuma       nyan       yang nyan



1) Ini           ia                 jua            kemudian           dahulu          pada            daripada 
2) Nyo        nyan            jeh (?)        dudoe                 dilee              bak            nibak


Salah satu naskah koleksi Museum Aceh, Banda Aceh terdapat dua  halaman naskah tentang belajar bahasa Jawi (Melayu) - Aceh, tentu dengan penulisan (aksara) Arab-Jawi. Naskah ini merupakan kumpulan karangan, nomor Inv. 07.185. Beberapa halamannya sudah belobang dan rusak beberapa bagian dan bekas lumpur, sepertinya pernah terendam air atau lumpur selama berada di tangan masyarakat

Akan berlanjut pada sesi berikutnya.. 







Belajar Baca Tulis Bahasa Aceh (1)

Read More

Friday, July 08, 2016


Berita di Serambi Indonesia tentang musibah  kebakaran rumah di Gampong Pante Aree Garot, Kec. Delima, Kab. Pidie pada tanggal 18 April 2016, pukul 22.20 WIB silam bukan hanya menghanguskan tiga rumah dan harta benda pemilik yang digunakan sehari-hari. Tetapi juga menghanguskan manuskrip-manuskrip yang tersimpan di rumah tersebut.

Alkisah, kejadian kebakaran rumah masyarakat tersebut di malam hari tidak dapat menyelamatkan berang-barang mereka lebih banyak, termasuk manuskrip-manuskrip tersebut sebagai pusaka warisan indatu yang disimpan di dalam rumah. Sehingga semua pusaka penting -baik milik pribadi ataupun warisan- hangus terbakar.

Selama ini, masyarakat menyimpan manuskrip berharga tersebut ala kadarnya; di rak buku, lemari kayu, atas plafon rumah, bahkan di tempat yang kurang layak. Sejauh ini, tidak ada pengamanan yang baik bila terjadi musibah seperti kebakaran ataupun banjir. Hal ini dapat dimaklumi karena, selain tanpa ada dana untuk penyimpanan yang layak, masyarakat juga kurang memahami bagaimana memperlakukan dan menyelamatkan naskah-naskah tersebut. Mayoritas mereka hanya mewarisi dari keluarga sebelumnya.


Lembaran-lembaran naskah yang terbakar dikumpulkan dalam ember hitam


Gambar di atas merupakan lembaran-lembaran mushaf al-Qur'an yang telah hangus terbakar saya peroleh dari sdr. Irfan M Nur kiriman dari sdri. Qurratun Ainiah. Manuskrip  tutong (naskah terbakar) ini saya istilahkan setelah manuskrip-manuskrip itu terbakar sebagian besarnya yang tidak dapat dibaca lagi, dan tersisa sebagian kecilnya yang terlihat tulisannya.

Manuskrip tersebut berada di rumah korban kebakaran pada saat itu dan dikumpulkan kembali pasca kebakaran, sayangnya banyak lembaran-lembaran yang tidak dapat diselamatkan.

Wilayah Pidie memang menjadi salah satu sentral penyimpanan dan penyebaran naskah-naskah di Aceh, bahkan di sini terdapat naskah-naskah penting yang tidak dimiliki di Banda Aceh. Sebab, Negeri Pedir (sekarang Pidie dan Pidie Jaya) menjadi salah satu sentral kerajaan Aceh periode kolonial Belanda, saat Banda Aceh dan Aceh Besar (Tiga Sagi) mulai dalam genggaman Belanda, maka Sultan Aceh dan seluruh pemimpin mengungsi ke Keumala Pidie.

Inilah babak baru dari sejarah Pidie yang pernah dimilikinya sebelum Banda Aceh (Kesultanan Aceh) berjaya. Semua sentral pergolakan dan perlawanan, pendidikan dan pengembangan keilmuan serta penyalinan manuskrip pindah ke Pidie. Namun, sejauh manakah perhatian Pidie terhadap khazanah dan warisan indatunya.? Tentu sangat miris dan jauh dari harapan.

Sejauh ini, naskah-naskah kuno di sana hanya tersimpan di rumah sang kolektor naskah atau di rumah-rumah pewaris manuskrip. Semua naskah tersebut kurang mendapat perawatan, dan sejauh ini juga -menurut beberapa pengoleksi naskah- belum pernah mendapat perhatian pemerintah setempat (Pidie) atau pemerintah Aceh, baik dalam rangka penyelamatan, perawatan ataupun identifikasi. Sebagian dari pengoleksi naskah tersebut hanya mendapat kunjungan dari negeri peneliti negeri jiran, atau beberapa peneliti dalam proses identifikasi, digitalisasi ataupun penelitian yang bersifat sementara.

Sudah saatnya, Pemerintah Kab. Pidie memiliki program berkelanjutan dalam penyelamatan manuskrip-manuskrip tersebut, sebab inilah kekayaan Pidie yang tidak dimiliki di daerah lain. Ini menjadi langkah awal untuk memperkenalkan kekayaan khazanah Aceh (khususnya Pidie) kepada publik. Pidie sudah memiliki kekayaan berharga yang selama ini belum diberdayakan, salah satunya manuskrip-manuskrip di Pidie.  Salah satu program yang dapat dilakukan adalah mengidentifikasi kembali manuskrip koleksi masyarakat Pidie, kemudian digitalisasi untuk backup data dan menerbitkannya dalam bentuk katalog.

Note: Terima kasih foto naskah tutong dari sdr. Irfan M Nur, bersumber dari sdri. Qurratun Ainiah

Manuskrip Tutong di Pidie

Read More

Sunday, July 03, 2016

Setelah 1157 tahun bersemanyam salah satu perpustakaan tertua di dunia dibuka untuk umum, terletak di Fez, Maroko, tepatnya di al-Qarawwiyin University. Perpustakaan kini terus mendapat renovasi dan mempercantik diri, kini tampilannya menunjukkan keangungan Islam di sana, terutama untuk memamerkan koleksi-koleksi baru untuk dunia, khususnya peneliti, pelajar dan masyarakat umum.

"Koleksi emas" yang dimiliki koleksi ini adalah, mushaf al-Qur'an abad ke-9 Masehi yang masih ditulis dengan khat Kufi (Kaufi), salah satu bentuk khat (tulisan) kaligrafi paling tua dan terawal yang digunakan periode pra-Islam dan pada masa Rasulullah.

Mushaf al-Quran tulisan khat Kufi pada abad ke-9 Masehi

Sepertinya, jika melihat lembaran yang ditampilkan di websitenya, mushaf ini merupakan kitab "salinan" terawal yang masih menggunakan titik satu dan titik dua di beberapa huruf hijaiyyah, tetapi belum digunakan titik tiga. Selain itu, ini merupakan bukti konkret tentang penjilidan dan penyebaran Islam di benua Afrika, termasuk penulisan-penulisan kitab suci dalam bentuk aslinya.

Selain itu, naskah asli "Muqaddimah" Ibnu Khaldun juga tersimpan di sini. Nama lengkapnya, Abu Zayd 'Abdurrahman ibn Muhammad ibn Khaldun al-Hadrami (lahir 27 Mei 1332 - meninggal 19 Maret 1406), adalah seorang sejawran muslim dari Tunisia dan mendapat julukan bapak pendiri ilmu historiografi, sosiologi dan ekonomi. karya terkenalnya adalah "Muqaddimah".

Kitab Muqaddimah Ibnu Khaldun, intelektual Muslim terkenal di dunia


Menurut beberapa sumber, mesjid dan universitas al-Qarawiyyin telah dijadikan sebagai "Muslim Heritage" karena masih menyimpan originalitas seni hias dan arsitektur Islam pada masa lampau. Selain itu, universitas ini juga menyimpan 4000 manuskrip dalam berbagai bidang keilmuan, baik karya-karya ulama atau intelektual Islam terkenal ataupun karya-karya lainnya yang tidak diketahui (anonim). Demikian juga menyimpan beberapa koleksi utama sebagai "warisan" Islam yang sangat berharga.

Setelah sebulan dibuka untuk umum, perpustakaan dan museum ini para pengunjungnya membludak.
Lihat beberapa tampilannya klik disini 




Reseources:
  http://www.techinsider.io
  - http://www.fez-guide.com
  - http://www.muslimheritage.com

4000 Manuskrip Penting di Al-Qarawiyyin University

Read More

Wednesday, June 29, 2016



Rumoh Aceh tempat menyimpan naskah ini terbagi tiga, sebagaimana umumnya arsitektur Rumoh Aceh di Aceh, yaitu terdiri dari Seuramo Keue atau Seuramoe Reungeun (Serambi Depan atau Serambi Tangga), Seuramoe Teungoh (serambi tengah) yang biasanya disebut juga Seuramoe Inoeng (Serambi Perempuan) atau ruang utama keluarga, dan ketiga; Seuramoe Likoet (serambi belakang) yang biasanya digunakan untuk dapur.

Kami berada di serambi depan, dan saat pemilik rumah mengambil beberapa naskah di serambi belakang untuk dipersembahkan di hadapan kami, saya sudah familiar dan membaca perbagian secara sepintas, terdapat beberapa judul yang termasuk langka ditemui naskah di Aceh saat ini.

Namun, saat saya dipersilahkan melihat ke serambi belakang, tempat disimpannya naskah, saya terkejut karena naskah disimpan dalam satu lemari dengan kondisi yang sangat mengkhawatirkan, saya jamah satu baris saja mengingat waktu yang sempit, beberapa naskah memang tidak dapat terbaca lagi. Dari sepintas lemari tersebut saya melihat beberapa mushaf di tempat himpitan paling bawah.

Lebih menyedihkan saat sang pemilik berkata "dalam umpang dan plastik mirah nyan kertah-kertah kitab sion-on yang lon peusapat" (Dalam empang dan plastik merah itu lembaran naskah yang sudah copot saya kumpulkan). Padahal awalnya saya menduga itu adalah bagian perkakas dapur.

Lemari penyimpan naskah yang sebenarnya digunakan untuk simpan gelas, piring dan bahan-bahan dapur

Dalam kondisi seperti ini, kita bersyukur naskah belum musnah akibat bencana alam. Tetapi tidak dapat dipungkiri naskah-naskah tersebut tidak akan bertahan lama dari kerusakan alami yang memang terjadi secara alamiah. 

Bagaimanapun pemerintah harus memberi perhatian lebih kepada perawat-perawat naskah yang telah menghabiskan sebagian hidupnya dan hartanya untuk penyelamatan ini. Bagi saya akan aneh bila ingin dibandingkan bahwa bagi perawat benda cagar budaya seperti benteng, mesjid tuha, candi dan artefak lainnya selalu mendapatkan kucuran dana pemerintah bahkan digaji perbulan untuk jasa perawatan tersebut. Tetapi, mengapa untuk perawat naskah atau lebih kepada khazanah intelektual dan kekayaan budaya Aceh tidak mendapat perhatian apa-apa.

Pemerintah Aceh agar dapat menginventarisir pemilik-pemilik naskah (koleksi) dan bekerjasama dengan mereka dalam bentuk perawatan dan penyelamatan. Para kolektor manuskrip menjadi "partner kerja" bukan "objek kerja" alias "proyek tarek peng", mereka dapat dibiayai negara sebagai penjaga khazanah dan benda-benda cagar budaya, yang -sebenarnya-  sama fungsinya dengan penjaga benteng, mesjid tua, candi, ataupun petugas di museum, perpustakaan dan badan arsip, yang sama-sama tugasnya menjaga khazanah warisan budaya. 

Tentunya hal ini dapat menghemat biaya dinas-dinas (Pemerintah Aceh) daripada membeli naskah-naskah tersebut dengan harga tak terjangkau, sebab selama ini selalu berkilah tidak cukup anggaran. Hal itu itu mengajarkan masyarakat itu merawat khazanahnya, keterlibatan dan kepedulian masyarakat Aceh merupakan hal penting untuk keberlangsungan khazanah di Aceh.

Kolofon Kitab Syarah Matan Fi 'Isyrin, selesai disalin pada malam 24 Ramadhan waktu Isya'.

Masih ada beberapa naskah yang bisa diselamatkan, baik fisik ataupun isinya. Naskah-naskah ini menjadi bahan kajian kepada para pelajar, peneliti dan intelektual di dalam maupun luar negeri, baik pada saat ini ataupun di kemudian hari. Kita patut belajar dari Malaysia, Leiden Belanda, Inggris dan Jerman, mereka mengumpulkan banyak literatur-literatur lama dari berbagai negara dan membuka peluang bagi peneliti untuk berkunjung ke negaranya, dengan demikian telah memberikan investasi kepada negeri melalui pendidikan dan kerjasama penelitian -sekaligus meningkatkan devisa negara-, yang mereka sebut investasi jangka panjang dan berkesinambungan akan memberi dampak positif kepada bidang-bidang lainnya.

Misal diantaranya mengkaji kembali hubungan bisnis Aceh dengan negara luar, baik dalam perdagangan rempah-rempah dan bisnis kertas. Kertas salah satunya di bawah ini merupakan produksi Sanderstead, London UK dicetak pada tahun 1788 dan beberapa tahun kemudian diperdagangkan. Aceh pada posisi tersebut sudah mulai lemah dari sisi ekonomi bisnis dan kekuasaannya, tetapi masih sanggup membeli kertas produk Inggris yang harga melangit karena kualitas bagus.

Salah satu lembaran yang menunjukkan watermark (cap kertas) (Sanderstead, London 1788 M)
Lantas, sampai kapan naskah di Aceh dapat selamat di tangan-tangan koleksi pribadi masyarakat yang mereka awam terhadap manuskrip. Jika mereka tidak disuguhi dengan pengetahuan cara baik dan bijak merawat naskah, tidak diberi pengetahuan tentang penyelematannya, tidak diinformasikan pentingnya karya ulama dan intelektual diwariskan. Maka, saat musnah semuanya Aceh dikenal bangsa tidak punya sejarah dan tidak berperadaban, maka pemerintah Aceh (dan kita) menyuguhkan "Aceh negeri dongeng" kepada generasi selanjutnya.



Baca sebelumnya bagian 1

Manuskrip Lampanah: Antara Kepedulian dan Warisan (bag. 2)

Read More

Tuesday, June 28, 2016



SUDAH dua pekan menjalani puasa di Jerman, terutama di Hamburg. Kota Hamburg merupakan kota kedua terpadat dan salah satu kota tersibuk di dunia, itu sebab posisinya dialiri sungai Elbe dan Alster yang menjadi andalan utama sebagai kota maritim dan pelabuhan ternama di Eropa.
Hamburg juga memiliki populasi muslim yang cukup banyak, terutama dari Turki, Albania, Afrika Arab dan (baru-baru ini) dari Timur Tengah, khususnya dari Syiria.

Ramadhan tahun ini merupakan puasa pertama kali saya di Eropa, sebagai negara minoritas muslim, tentu banyak perbedaan dan pastinya memiliki keunikan dan tantangan tersendiri.
Hamburg, kota dengan pelabuhan tersibuk di Eropa

Tantangan utama adalah waktu berpuasa siang hari sangat panjang, hal tersebut dikarenakan puasa kali ini berada pada puncak musim panas, dan Jerman salah satu negara yang terkena siklus tersebut. Waktu Subuh atau imsak 2.55 pagi hari, sedangkan Maghrib atau berbuka pada pukul 9.50 malam.
Itu artinya muslim di sana berpuasa dari Imsak Subuh hingga menjelang berbuka selama 19 jam. Dan sisanya 4 jam lagi harus digunakan semaksimal mungkin untuk shalat Magrib, Isya’, Terawih dan persiapan sahur.

Tidak hanya waktu berpuasa 19 jam, suhu udara panas mencapai 30-32 celcius dan diterpa angin laut juga menjadi cobaan untuk beraktifitas di luar.

Beruntungnya 2-3 hari dalam sepekan ini diguyur hujan dan mendung menyelimuti wilayah Hamburg Tantangan lainnya tidak kalah sengit, yaitu muslim berpuasa di antara mayoritas orang-orang yang tidak berpuasa. Mereka yang menikmati hidangan di restoran, market, mall, jual makanan, minuman, eskrim dan lainnya di setiap sudut kota, stasiun, dan tempat-tempat umum.
Salah satu sudut daerah Staindamm di kota Hamburg, sentral masyarakat Muslim mayoritas bekerja di sektor gastronomi

Itu merupakan godaan bagi seseorang yang sedang menunaikan ibadah puasa dan menahan hawa makan dan minum. Termasuk warung dan restoran Muslim tetap buka siang hari, walaupun pengunjung muslim berkurang, tetapi pelanggan non-muslim tetap harus dilayani dengan baik. Mayoritas pendatang muslim di Jerman bekerja di sektor gastronomi atau terkait dengan dunia kuliner dan waralaba makanan.

Uniknya lagi, warung dan restoran Islam di sini tidak tutup saat Jumat berlangsung, bila tiba waktu Jumat para pelayan diganti oleh kaum perempuan atau lelaki non-muslim, sedangkan para lelaki berangkat ke mesjid. Demikian juga menjelang shalat terawih. Hal tersebut dilakukan karena pelanggan yang ada banyak berasal dari orang-orang Eropa -terutama Jerman- yang bukan Islam.
Tantangan alam dan lingkungan menjadi ujian berpuasa bagi muslim hidup di Eropa, terlebih lagi jauh dari pangawasan aparat bersifat simbolistik.

Semua kembali pada diri masing-masing untuk kontrol dan taat beragama. Bagi seorang muslim, tantangan tersebut sebagai uji kekebalan iman dan spiritual dalam menjalani puasa, maka saya cukup salut jika kemudian melihat mesjid-mesjid di Jerman selama Ramadhan tidak pernah sepi dari pemuda dan orang tua di siang dan malam hari untuk membaca al-Qur’an.


Pembangunan dan peletakan menara di salah satu mesjid Turki di Staindamm Hamburg. Ini adalah salah satu mesjid yang mendapat izin untuk menggunakan menara.


Tentu tantangan tersebut berbeda jauh dengan di Aceh dan Indonesia, durasi waktu berpuasa lebih cepat dan ditambah lagi aturan larangan berjualan dan membuka warung siang hari hingga menjelang sore untuk ketentraman. Memang, lain ladang lain ilalang, lain lubuk lain ikannya.

Tulisan ini sudah dipublikasi di Serambi Indonesia >>Klik here

Menikmati Tantangan Puasa di Jerman

Read More

Tuesday, June 21, 2016

Berawal dari informasi ibu Nurul, salah seorang dosen di UIN Ar-Raniry Banda Aceh, kami bersama-sama dengan beberapa orang para dosen UIN Ar-Raniry Banda Aceh mengunjungi pemilik naskah di kawasan Aceh Besar, Gampong Lampanah, di sebuah rumah dengan konstruksi kayu peninggalan masa lalu, disebut rumoh Aceh. Walau kelihatan tonggak kayu utama miring, tetapi masih kokoh. Rumah yang telah mengalami beberapa tahap renovasi dan penambahan dapur ke bawah itu memberikan kami informasi penting, betapa kaya ilmu tersimpan di rumah yang sederhana dan berumur tua.

Perjalanan ditempuh satu jam dari Kota Banda Aceh melalui jalan utama Banda Aceh-Medan, kemudian memasuki kawasan Gampong Lampanah, Kemukiman Lampanah, Aceh Besar. Rumah penduduk disini termasuk kawasan padat, tampak sepanjang jalan gampong tidak ada lagi lahan dan tempat bermain di tanah lapang, pilihan terakhir adalah bermain di bawah rumah panggung dan rumoh Aceh, atau di halaman sekolah dan halaman mesjid.

Tujuan utama melihat manuskrip tersebut di rumah salah seorang pemilik dan pewaris dari kakeknya secara turun-temurun. Kami hanya mendapat sedikit informasi bagaimana naskah-naskah ini berada di tangannya sekarang, termasuk perlakuan dan perawatan. Namun, kami kaya akan banyak data yang tersimpan di dalam naskah-naskah kuno yang mayoritasnya sudah tidak sempurna lagi, setidaknya itu harapan pertama. Menurut ahl bait pewaris naskah, semua naskah ini dibawa dari Pidie, saat mereka hijrah ke Aceh Besar, di sini (Lampanah) kakeknya membuka dayah atau tempat pengajian kepada penduduk setempat saat itu (tahun ?).

Kitab Mujib An-Nida' Ila Syarah Qatr An-Nida', termasuk kitab langka dalam ilmu bahasa dan grammatika, daripada kitab utamanya Qatr An-Nida' yang banyak salinannya di Aceh.

Ini merupakan informasi awal, kami menduga bahwa kitab-kitab (manuskrip) di sini umumnya dalam bidang al-Quran dan tafsir, fiqih dan faraid, tauhid dan tasawuf,  baik dalam bahasa Arab ataupun bahasa Jawi (Melayu).  Dan kemungkinan besar didominasi oleh teks-teks berbahasa Arab, karena di sini sentral pengajian untuk Gampong Lampanah dan sekitarnya.

Saat kami mulai ditunjukkan tiga naskah, sangat disayangkan, naskah-naskah yang disimpan tidak terawat dengan baik, walaupun menurut pemilik sudah menjaga dengan baik. Namun, saya memaklumi atas hal demikian karena ini adalah pengetahuan mereka, maka yang terbersit dalam benak saya adalah membangunkan pemerintah Aceh -terutama SKPA terkait- yang terlena dan tertidur selama ini. Paling utama perlu adanya edukasi kepada masyarakat yang masih "setia" menyimpan naskah, mereka tidak menggadai ke luar negeri, mereka tidak tergiur dengan mata uang asing, jadi harus ada pengetahuan bagaimana mereka merawat dan menyimpan naskah dengan baik.

Edukasi yang diperlukan ini baik dalam bentuk sosialisasi ataupun pelatihan-pelatihan yang diberikan Pemerintah Aceh kepada mereka, misalnya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Dispudbar), Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB), Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB), Kemenag, Badar Arsip dan Perpustakaan (BAP) Lembaga Wali Nanggroe (LWN), Badan Dayah Aceh (BDA) dan Majelis Adat Aceh (MAA), atau lembaga lainnya yang memiliki tugas fungsi dalam penyelamatan khazanah dan budaya Aceh. Semua lembaga tersebut memiliki keistimewaan dan karakteristik di Aceh terutama pada khazanah warisan Aceh, bukan pada proyek "infrastruktur" semata.

Kondisi ini tidak bisa ditunda dan dibiarkan, sebab setiap harinya naskah-naskah ini akan rusak secara alami, baik dimakan rayap, aus ketajaman zat tinta, bencana alam, dan sebagainya. Salah satunya kitab di bawah ini, kitab Tafsir yang semakin hari akan hancur kertas akibat ketajaman tinta. Maka perlu segera penanganan lebih lanjut, antaranya digitalisasi atau foto naskah untuk penyelamatan isi kandungan manuskrip tersebut.

Teks Tafsir al-Qur'an.
Kepedulian sang pewaris telah berusaha semaksimal dan dengan segala penuh upaya menyelamatkan manuskrip tersebut dari dulu; mulai sejak periode perang Aceh-Belanda, konflik Aceh-Indonesia, gempa-tsunami Aceh, dan hingga kini era damai. Butuh kepedulian dari masyarakat dan terutama pemerintah Aceh (dinas-dinas) untuk penyelamatan ini, lantas lembaga apalagi yang perlu di Aceh agar naskah-naskah kuno itu selamat? (bersambung bag. 2)





Manuskrip Lampanah: Antara Kepedulian dan Warisan (bag. 1)

Read More

Tuesday, June 14, 2016


Tidak banyak manuskrip Aceh yang mencatat hal-hal keseharian yang (mungkin) dianggap tidak ada kaitannya dengan agama, tasawuf dan pendidikan. Tetapi bukan berarti tidak ada sama sekali, salah satunya catatan akte kelahiran. Di Aceh, manuskrip yang mencatat hal-hal demikian masih terbilang jari, atau sebaliknya selama ini filologi dan peneliti sejarah pernaskahan belum konsen dengan perihal tersebut.

Misalnya, catatan harian harga sembako masa kerajaan Aceh, di mana salah seorang ibu rumah tangga mencatat barang-barang dan harga yang dibelinya di pasar dengan mata uang yang digunakan pada masa itu seperti dirham (deureuham),  kupang, pardu, tahil, atau Aceh pernah menggunakan riyal dan ringgit Aceh. Pada saat ini, tentu itu menjadi penting, bukan hanya untuk bidang sejarah dan arkeologi, tetapi juga perbankan dan ekonomi, bagaimana kemudian Aceh mentransformasi dan konversi penggunaan uang hingga menjadi rupiah.

Demikian dengan catatan kelahiran anak, akan menjadi sangat penting saat mereka menjadi besar, dan lebih utama lagi ia mengetahui nasab nenek moyangnya, tidak salah jika kemudian di Aceh muncul istilah "aneuk ureung meupo, cucoe  ureung meuso,  kawom peudong nanggroe". Bahkan dalam Islam diwajibkan mengetahui silsilah kepada kakeknya hingga tujuh level ke atas. Lantas mampukah diingat jika tidak direkam (catat) dalam tulisan.

Salah satu temuan di sini adalah Abu Chik Tanoh Abee yang sadar akan hal tersebut dan mencatatnya dalam kumpulan kitab. Dengan demikian, sudah barang tentu kitab ini pernah berada di tangan ulama besar dan berpengaruh di Aceh dan merupakan salah seorang mursyid utama dalam tarekat Syattariyah di Aceh abad ke-19 M.

Abu Chik Tanoh Abee dikenal dengan Teungku Chik Tanoh Abee dengan nama aslinya Syekh Abdul Wahab al-Baghdady, menurut Muhajir al-Fayrusi dalam bukunya Teungku Chik Tanoh Abee hidup antara 1810-1894, itu artinya beliau hidup dalam dua situasi Aceh, pra dan periode perang Aceh melawan Belanda mulai tahun 1873. Tentunya beliau menjadi salah satu saksi, pejuang dan penasehat perang Aceh. Hal tersebut senarai dengan Abdullah M Saad dan Zainuddin bahwa Teungku Chik Tanoh Abee seperiode (atau lebih tua) dari Teungku Chik Di Tiro, Panglima Polem dan Teungku Chik Abbas Kutakarang.

Dari sisi intelektual, Teungku Chik Tanoh Abee merupakan orang sangat berjasa yang banyak menyalin dan merawat manuskrip di Tanoh Abee, yang hingga kini masih bisa kita lihat dan temukan ratusan -bahkan ribuan sebelum perang Aceh dengan Belanda- koleksinya di Tanoh Abee. Salah satu catatannya yang tersimpan di dalam naskah ini yang dikoleksi oleh British Library Inggris dengan nomor Or. 16768, di halaman 17r disebutkan:

"Adapun kemudian daripada hijrah Nabi saw 1248 tahun, pada tahun "ba", pada hari Kamis pada waktu Dhuha, pada bulan Jumadil Akhir, ketika itu maka jadi seorang kanak-kanak laki-laki anak Teuku Abu Tanoh Abee, pada negeri Bithaq. Allahumma thawil 'umrahu wa-katssir rizqahu wa-shahhih badanahu wa-tasbbit qalbahu 'ala tha'atika ya arhama ar-rahimin. Amin."

Jika dikonversi bulan Jumadil Akhir 1248 H bertepatan dengan Oktober/November 1832 M. Tepat berada pada periode Sultan Muhammad Syah (1823-1838), jauh periodenya sebelum Belanda menyerang Aceh tahun 1873. Namun, dalam catatan tersebut tidak ditulis nama anaknya, itu artinya catatan tersebut antara hari 1-6 sebelum pemberian nama pada hari ke tujuh. Sisi lain, dengan adanya tempat dan hari kelahiran tentu dapat diketahui dikemudian dari keturunannya siapa yang lahir di Bithaq, Kuta Cot Glie Aceh Besar.

Naskah ini merupakan kumpulan teks setebal 42 halaman, kertas Eropa dengan kondisi teks masih bagus dan terbaca. Pada halaman 1-14 berisi penggalan ayat al-Qur'an, Halaman 15-16 dengan lembaran lebih kecil bukan bagian dari naskah utama berisikan tentang pembelajaran tajwid metode Qurani. Halaman 17 kolofon teks Anis al-Muttaqin, setelahnya terdapat catatan kelahiran seorang anak laki-laki dari keluarga Abu Chik Tanoh Abee. Dan teks terakhir tentang fiqh yang membahas apakah wajib memenuhi nazar atau tidak. Naskah ini dapat diakses online di website British Library (Or. 16768).

Lihat linknya: http://www.bl.uk/manuscripts/FullDisplay.aspx?ref=Or_16768

Catatan Abu Chik Tanoh Abee

Read More

Thursday, June 09, 2016

Flohmark, begitulah tulisan di pamplet dan kertas sebaran yang tertempel di beberapa tempat umum di Jerman, khususnya di Hamburg. Begitu mendengar atau melihat kata flohmark, para warga setempat ataupun pendatang yang berdomisili di sana akan riang dan gembira, baik yang berumur tua, kawula muda, laki-laki ataupun perempuan akan menjajakinya. Bagi mereka, ini merupakan kesempatan baik untuk sesuatu yang selama ini diincar sesuai dengan minat dan kecenderungan tersendiri, tidak terkecuali bagi saya.

Arti dari flohmark adalah pasar loak atau pasar kaget yang menjual barang bekas atau baru dengan harga (sangat) murah. Barang-barang disini dijajakan oleh orang-orang yang memiliki latar belakang beragam, misalnya sang kolektor, penjual barang-barang pecah belah, ataupun pribadi seseorang yang tidak memiliki jiwa usaha tetapi ingin menjual barang-barang yang tidak diinginkannya lagi. Mayoritas dari mereka menjual segala jenis pakaian, mainan, sepatu, tas, barang rumah tangga, alat dapur, alat sekolah, perkantoran, buku-buku, vcd, prangko lama dan lainnya. Harganya tentu jauh di bawah harga pasar ataupun supermarket, sebab itu barang bekas (second) -walaupun sebagiannya terdapat yang barang baru-, dan kedua sang pemilik tidak ingin lagi memilikinya.

Di salah satu tempat di Elshorm, di luar kota Hamburg, flohmark kali ini diadakan pada musim panas, tepat sehari sebelum puasa Ramadhan 1437 H (2016). Klai ini, saya tidak mencari barang keperluan rumah atau lainnya, namun punya misi tersendiri dan lebih khusus, mencari manuskrip di pasar loak (flohmark) Jerman. Bagi saya tentu akan menarik jika menemukan sesuatu yang tidak pernah diduga sebelumnya, terlebih -kadang- dapat menemukan manuskrip-manuskrip Aceh ataupun Jawi (Melayu-Nusantara) di Jerman. Tentu, itu punya nilai tersendiri.

Hal tersebut tidak menutup kemungkinan adanya, sebab jaringan-jaringan orang Aceh dan Melayu terdahulu telah terhubung dengan Eropa, dan Jerman adalah salah satu negara adikuasa di Eropa. Terlepas apakah ia punya hubungan langsung dengan Asia Tenggara khususnya Melayu Nusantara ataupun tidak, namun yang pasti  Aceh lebih awal mencapai puncak keselarasan  sebelum hancur akibat agresi Belanda 1873-1942. Pada saat yang sama Jerman baru terbentuk yang dikenal era Jerman modern sekitar tahun 1871, atau lebih awal saat terbentuk konfederasi Jerman pada tahun 1815 yang diprakarsai oleh Kerajaan Prusia, dan ia mengalami kehancuran pada Perang Dunia II (PD II) tahun 1939-1945. Namun, negara bekas kekaisaran ini cepat "move on" dan mengorbit produk-produk terbaik dan bergengsi seperti Mercedes-Benz, BMW, Airbus, Siemen, Volkswagen, Allianz, Nivea dan lainnya, yang membuatnya negara dengan ekonomi terbesar dan terkuat di Eropa.


Menikmati pasar flohmark yang tertib dan teratur menjadi merupakan salah satu bagian yang dinikmati oleh pengunjung. Saya  berjalan mengitari lapak-lapak satu persatu, dan setiap bertemu dengan area lapak menjual buku-buku tua saya lihat periksa satu persatu. Bagi sang penjual tidak akan mengatakan apa-apa, sebab harga jual barang biasa sudah diletakkan diantara barang-barang tersebut, kisaran 1-5 euro. Apabila barang bagus akan lebih mahal lagi, tetapi tidak semahal harga di supermarket ataupun toko.

Hingga pada satu lapak, saya menemukan perangko dan buku-buku lama era PD II yang di dalamnya ditulis beberapa syair (sajak) dan kisah lainnya dalam bahasa Jerman. Menariknya, sang penulis mencantumkan tempat dan penanggalan saat ia menulis tersebut, tahun 1925. Dengan gelagat meyakinkan berbahasa Jerman dengan grammar yang belum benar, saya bertanya harga untuk salah satu buku tersebut "Wie viel Preis dieses Buch?" kira-kira artinya Berapakah harga buku ini?. Sang penjual berkata "drei euro fünfzig sen" (3 euro 50 sen), berkisar 50 ribu rupiah.  Sebuah harga yang murah dengan catatan berharga masa lampau.


Sejauh ini, dan pada flohmark kali ini, saya belum menemukan manuskrip-manuskrip Aceh ataupun Melayu yang "terdampar" ke Jerman, berharap kedepan juga tidak pernah ada di pasar loak tersebut. Cukup, ia terpelihara dengan baik di negerinya sendiri oleh generasi yang waras akan pentingnya warisan "khazanah indatu".  


Mengincar Manuskrip di Flohmark Jerman

Read More

Tuesday, May 31, 2016


Tanggal 20 Juli 1969 bertepatan pada 5 Jumadil Awal 1389 H, pertama kalinya NASA terbang ke bulan dan berhasil menginjak kakinya di sana yang masyhur dengan tokoh Neil Amstrong dan timnya.
Salah satu laporan yang mengejutkan bahwa lapisan luar bulan terdapat garis lurus besar yang mengitari bulan menunjukkan bahwa bulan yang berbentuk bulat seperti bola seakan-akan dilem dua sisinya. NASA-pun mengkonfirmasi bahwa bulan pernah terbelah dengan melihat permukaan kedua sisinya.

Adalah Tom Watters peneliti dan pakar dari Smithsonian National Air and Space Museum NASA mengakui bahwa ada tanda lekatan hasil tabrakan keras material kedua sisi bulan sehingga meninggal bekas dengan permukaan yang berbeda.

Hasil wawancaranya kemudian dipublikasi di media online dan dapat diakses di Youtube. Pasca hasil penemuan sensasional tersebut, banyak para ilmuwan mengkaji lebih jauh fenomena langka yang pernah terjadi dan tidak banyak diketahui orang.

Memang, empat belas ribu abad silam, bulan yang menghiasi malam kita pernah terbelah dua, bagaikan belahan dua sisi bola.

Demikian fakta tersebut disinggung dalam manuskrip Hikayat Nur Muhammad dan Hikayat Nabi Meucukoe dalam bahasa Aceh, dan di naskah Nur Yaqin berbahasa Jawi (Malay), sebuah karya ulama Aceh-Nusantara yang begitu melekat pada masyarakat Aceh tempo dulu, yang kini beralih pada bacaan dongeng fiktif produk luar.

Peristiwa bulan terbelah terjadi pada masa Rasulullah masih di Makkah, saat para kaum Quraysh Mekkah meminta Nabi membuktikan kerasulannya dan utusan terakhir.

maka mereka akan masuk Islam dan mereka percaya atas kenabiannya.
Sebaliknya, jika tidak mampu maka Nabi Muhammad dianggap pembohong dan siap menerima hukuman. Permintaan tersebut tentu tidak masuk akal manusia pada zaman tersebut dan zaman sekarang, akan tetapi Nabi menyanggupinya walaupun para sahabat yang sudah Islam resah atas peristiwa tersebut.

Dalam Hikayat Nur Muhammad menyebutkan;
Lom talakee bak Muhammad bulen musyahadah dengo suara
Teuma neuyu bak Muhammad tayu ek u langet pinta sigra
Troeh u langet lom tahilah tayu neuplah bulen purnama
Siblah u masyriq siblah u magrib dumna rakyat leumah nyata.

(Lagi-lagi kamu pinta pada Muhammad untuk memanggil bulan.
Kamu pinta Muhammad naik ke langit untuk memintanya segera.
Sampai di langit kamu minta belah bulan purnama
sebelah ke barat, sebelahnya ke timur, dan semua orang melihatnya nyata)

Allah menunjukkan kekuasaannya melalui Rasul akhir zaman untuk membelah bulan. Dalam surat al-Qamar : 1-2 terekam "Telah dekat datangnya kiamat itu, dan telah terbelah bulan. Dan jika mereka melihat sesuatu tanda (ayat/mukjizat), mereka berpaling dan berkata ini adalah sihir yang terus-menerus".

Bulan pun terbelah dua, jarak bulan antar kedua sisi sejauh renggangan tangan Rasulullah. Maka dalam riwayat literatur Islam terkenal dengan bulan keluar dari kedua tangan Rasulullah.

Sebutan tersebut menunjukkan bahwa Rasulullah bukan sihir yang mengelabui sekejap mata manusia, tetapi ia benar-benar melakukannya secara nyata sebagai tanda mukjizat diberikan Allah kepadanya.
Sedangkan sebagian para ulama menafsirkan bahwa ayat tersebut menjelaskan bahwa kejadian bulan terbelah sudah disebutkan dalam kitab-kitab agama Samawi sebelum Islam, bahwa salah satu mukjizat nabi terakhir (Muhammad) dapat membelah bulan.

Ketika itu, dari Hadist Atsar para sahabat-sahabat Nabi yang masuk Islam pertama menjadi saksi dan membenarkan kejadian tersebut. Alhasil, sebagian kaum Mekkah beriman, tetapi tidak sedikit yang mengingkarinya.

Pasca wafatnya Rasulullah banyak orang-orang mendeklarasi dirinya nabi, baik pada masa sahabat hingga zaman sekarang.

Tetapi semua orang dan agama tidak ada yang percaya, sebab salah satu mukjizat nabi terakhir yang disebut dalam kitab adalah membelah bulan, lalu nabi palsu manakah yang mampu melakukannya?
Di era modern nan serba canggih, hasil penelitian dan pengakuan NASA tahun 1969 selaras dengan Hikayat Aceh dua ratus tahun lalu, bahwa 14 abad silam bulan terbelah sebagai bukti kenabian Muhammad dan rasul terakhir.

Maka kini, nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan.


Dipublish di Serambi Indonesia http://aceh.tribunnews.com/2016/05/29/lihat-bulan-sudah-terbelah

Lihat, Bulan Sudah Terbelah

Read More

Wednesday, May 18, 2016

Siapa sangka, secuil catatan kecil diujung tulisan teks tauhid keagamaan menunjukkan informasi penting akan keberadaan sebuah lembaga pendidikan keagamaan yang aktif dalam beragam kegiatan.  Di dalam teks naskah tanpa judul disebutkan “ Tammat kitab pada malam Seunayan, waktu Isya’ pada maqam Syaikhina Abdurrauf, Zawiyah Meunara”. Hal tersebut menunjukkan tempat penulisan-penyalinan (scriptorium) yang terkenal di Banda Aceh, yaitu Zawiyah Menara (Aceh: Meunara).

Sebelumnya, banyak sumber penelitian yang menunjukkan akan eksistensi Mesjid Raya Baiturrahman sebagai sentral kegiatan keagamaan bagi raja-raja (Sultan) Aceh mulai abad ke-16 masehi hingga awal peperangan Aceh melawan Belanda (1873). Di komplek Mesjid Baiturrahman, yang berada di pusat kota Banda Aceh sebagaimana disebut oleh A. Hasjmy dan Said, merupakan sentral pendidikan –bahkan- perguruan tinggi yang fokus pada beberapa bidang konsentrasi keilmuan.

Selain itu, Zawiyah Tanoh Abee juga disebut sebagai sentral dan pusat scriptorium manuskrip era Kesultanan. Di zawiyah tersebut tersimpan ribuan teks dalam beragam bahasa; Arab, Jawi dan Aceh.
Transmisi keilmuan juga terekam di beberapa tempat di Aceh, tempat-tempat tersebut menjadi pusat belajar mengajar, khususnya penulisan dan penyalinan manuskrip. Zawiyah-zawiyah (sejenis lembaga pendidikan seperti dayah) yang memiliki fungsi lebih luas telah berkembang di Banda Aceh, yaitu ibukota Kesultanan Aceh, yang fokus terhadap pada pendidikan keagamaan dan perdagangan (perekonomian).

Tradisi keilmuan di era kesultanan Aceh, bagi siapa saja yang ingin mendapatkan ilmu dan informasi diwajibkan menyalin kembali teks (manuskrip) dari gurunya. Ada tradisi talaqqi, salinan ulang, syarah matan, dan pengajian yang tumbuh cukup banyak dan merata. Kerajaan-kerajaan sendiri memiliki koneksi dengan zawiyah-zawiyah sebagai tempat rujukan dan referensi sang raja (Sultan).

Salah satunya adalah Syeikh Abdurrauf al-Jawi al-Fansuri atau dikenal Abdurrauf Syiah Kuala, ulama besar dan terkenal pada era empat Sultanah (Raja Perempuan) di Aceh, antara 1661-1693 M.

Syeikh Abdurrauf tiba kembali ke Aceh antara tahun 1660-1661 yang menuntut ilmu di Haramain (Mekkah-Madinah) selama 19 tahun. Ia kembali  pada masa pemerintahan Sultanah Safiyatuddin Syah Tajul Alam (1641-1675) putri dari Sultan Iskandar Muda.  Keberadaan Syeikh Abdurrauf cepat bersinar di kalangan pemerintahan, setahun ia berada di Aceh telah diminta oleh Sultanah untuk menyusun dua kitab penting, antaranya Mir’at ath-Thullab di bidang fikih dan kitab Turjuman al-Mustafid yang merupakan bidang Tafsir dan terjemahan berbahasa Melayu (Jawi) pertama di dunia.
Syeikh Abdurrauf tinggal dan membuka zawiyah (dayah) di Banda Aceh, tepatnya di Gampong Deah Raya, wilayah Kuala Aceh, atau tempat pemakamannya sekarang.

Menurut beberapa catatan literatur Belanda menyebut wilayah Lamdingin dan sekitarnya merupakan wilayah keraton Sultanah Safiyatuddin Syah sebelum pindah ke Meuligoe (red. Pendopo) sekarang akibat gempa-tsunami.

Sebagai tokoh utama dan ulama besar di Nusantara, pusat konsultasi keagamaan bagi masyarakat dan kesultanan, dan juga merupakan tokoh utama afiliasi tarekat Syattariyah di Aceh, menjadikan Syeikh Abdurrauf sebagai orang penting dan memiliki cukup banyak pengikut. Tempat pendidikannya menjadi ramai dan sebagai sentral penulisan manuskrip di Aceh, tak pelak ia pun mengarang tak kurang dari 40 kitab dalm beragam ilmu.

Sepertinya, Zawiyah Menara merupakan “nama ” yang melekat pada lembaga pendidikan Syeikh Abdurrauf saat itu, di sini, saban seperti di zawiyah-azwiyah  Aceh umumnya,  merupakan pustaka ilmu, sentral kegiatan pendidikan dan juga pusat keagamaan.  Teks tersebut menunjukkan kegiatan penulisan dan penyalinan manuskrip masih berlangsung pasca meninggalnya Syeikh Abdurrauf, dan entah sampai kapan kegiatan itu redup dan tidak aktif lagi. Namun, Zawiyah Menara merupakan salah satu bukti pustaka ulama di Banda Aceh.

Sumber: Pernah dipublish di media Kota Banda Aceh

Zawiyah Menara: Pustaka Ulama di Banda Aceh

Read More

Hermankhan Google+ Followers

Copyright © 2015 Herman Khan | Portal Manuskrip Aceh dan Malay | Distributed By Blogger Template | Designed By Blogger Templates
Scroll To Top