Wednesday, May 20, 2020

NEW
Naskah ini koleksi Perpustakaan Leiden, Belanda. Sejauh ini, belum ditemukan varian teks lainnya, termasuk di Aceh, asal mula hikayat ini lahir. Hikayat di dalamnya dimulai tentang kisah asal usul Gayo hingga geografis gampong2 yang ada di "pulau di tengah dunia" yang kental dengan sejarahnya.

Naskah yang memiliki 206 halaman ini disusun (dikarang) oleh Muhammad Nurdin bin Haji Muhammad Ali berasal dari Gampong Pie Meuraksa, Aceh Besar.

Berikut awal isi kandungan teks:

Bismillahirrahmanirrahim
Nyo Hikayat Kisah Nanggroe Gayo Alas Batak

Ulon peuphon ngon bismillah # ngon nan Allah phon lon mula
Lango lon kisah nanggroe Gayo # Saboh pulau teungoh donya

Terjemahan:
Saya mulai dengan bismillah # dengan nama Allah pertama kumulai
Dengarlah kukisah Negeri Gayo # Sebuah pulau di tengah dunia.


Tunong han tok, baroh han tok # Lam nyan pucok krueng Tripa
Nyang peuhaba Nyak Puteh # jih peusareh laot tawar

Terjemahan:
Arah selatan tak sampai, utara juga tak sampai # di dalamnya hulu sungai Tripa
Yang menceritakan namanya Nyak Puteh # Dia jelaskan tentang Laut Tawar

Naskah ini ditulis di kertas Eropa pada abad akhir abad ke-19, atau awal abad ke-20, dengan tulisan watermark "G.Kolff & Co" dengan tujuh garis horizontal mengikuti teks naskah.

Hikayat Gayo

Read More

Monday, May 18, 2020

Teks ini dimulai dengan “Bismillah ar-Rahmani ar-Rahim”. Hadha [al-]Bayan Ma la budda minhu minal furudh al-wajibah ‘ala madhhab al-Imam asy-Syafi’i rahimahu Allahu ‘alaihi dikenal juga kitab “al-Bayan". Kitab ini memiliki judul lengkap "Al-Bayan fi Fiqh Madhhab al-Imam asy-Syafi’i”. Sebagian kitab cetakan tidak menyebut "

Ini adalah salah satu kitab fikih rujukan dalam mazhab al-Syafi’i yang disusun oleh  al-Imam Yahya bin Abu al-Khair Salim al-‘Imrani al-Yamani (489-558H). Beliau adalah seorang tokoh ulama mazhab al-Syafi’i yang terkenal pada zamannya.

Kitab al-Bayan adalah uraian (syarah) bagi kitab Al-Muhaddhab karya Imam Abu Ishaq Ibrahim bin Ali al-Fayruzabadi al-Syirazi (476H).  Kitab al-Bayan merupakan antara kitab huraian bagi kitab al-Muhazzab yang paling terkenal dan menjadi rujukan para ulama selepasnya dalam menghasilkan karya-karya fiqh dalam mazhab Syafi’i.

Halaman pertama teks Al-Bayan


Kitab al-Bayan dinilai sebuah kitab berharga dan memberikan kontribusi besar dalam dunia fikih (syariah dan hukum). Imam Muhyiddin Abu Zakariyya Yahya bin Syaraf  al-Nawawi (676H) dalam kitabnya al-Majmu’ telah menyebutkan nama kitab al-Bayan sebagai karya fiqh yang sangat bermutu dan besar faedah.

Teks Al-Bayan ini merupakan kumpulan teks dalam sebuah naskah tenpa sampul. Manuskrip ini koleksi masyarakat di Lhokseumawe yang kami telusuri tahun 2018. Pada saat ini, kami tidak tahu nasib naskah ini masih dimiliki atau sudah berpindah tangan (lokasi) di Aceh, atau ke luar Aceh.
Halaman Akhir Teks Al-Bayan.

Sedangkan Kitab Al-Bayan ini telah diterbitkan oleh Dar al-Minhaj dalam 14 jilid termasuk jilid fihris (isi kandungan) nya. Jilid fihris diasingkan. Jilid tersebut mengandungi fihris ayat Quran, Hadis, Athar, akhbar, A’lam, fawa’idul bayan, asy’ar, kalimah masyruhah, mawarid mualif, masodir tahqiq dan sebagainya yang berkaitan.


Kitab Al-Bayan dapat didownload disini:

http://www.waqfeya.com/book.php?bid=2690

Kitab Al-Bayan fi Madhhab al-Imam Asy-Syafi’i di Aceh

Read More

Wednesday, April 08, 2020

Belanda menyerang kerajaan Aceh secara sepihak tanpa ultimatum perang pada tanggal 26 Maret 1873. Sejak tanggal itu, Jenderal Belanda F.N. Nieuwenhuyzen, yang memimpin pasukan Belanda dari kapal Citadel van Antwerpen didukung oleh kapal 6 buah kapal perang dinamai "Djambi", "Marnix", "Soerabaja", dan "Sumatra". Ditambah dukungan dua kapal perang milik Belanda dinamai "Marnix" dan “Coehoorn" dari Pulau Pinang.

Selain itu, dua kapal 2 buah kapal angkatan laut pemerintah ("Siak" dan "Bronbeek"), 5 buah barkas, 8 buah kapal peronda, 1 buah kapal komando, 6 buah kapal pengangkut, serta 5 buah kapal layar, masing-masing ditarik oleh kapal pengangkut, yaitu 3 buah untuk pasukan artileri, kavaleri dan pekerja-pekerja, 1 buah untuk amunisi dan perlengkapan, serta 1 buah untuk orang-orang sakit.

Kapal Perang Belanda "Soerabaia" tahun 1905. Lihat: http://www.netherlandsnavy.nl/JVH.htm

Tampaknya, mulai tanggal 26 Maret sampai 3 April telah terjadi perang di laut, namun sayangnya belum ada informasi mendetail tentang perang di laut tersebut antara kapal laut Aceh dengan kapal perang Belanda.

Merujuk ke beberapa sumber, Belanda mulai masuk melalui perairan Aceh antara tanggal 4 atau 6 April. Pada tanggal tersebutlah perang di darat terjadi, tepatnya di Pantai Ceureumen Ule Lheue dan kemudian di area sekitar Mesjid Raya Baiturrahman.

Pendaratan pertama Belanda di Aceh pada awal bulan April 1873 di Pantai Ceureumen, Ulee Lheue Banda Aceh
Merujuk ke beberapa sumber, Belanda mendarat tanggal 6 April untuk pertama kali di Pantai Ceureumen, sebelah Timur Ulèe Lheue, mereka dipukul mundur oleh pejuang-pejuang Aceh yang telah berjaga di pos-pos kerajaan Aceh.

Dan, barulah pada tanggal 8 April berikutnya seluruh induk pasukan Belanda didaratkan di bumi Aceh yang berjumlah 3600 pasukan militer. Pendaratan ini dipimpin oleh mayor jenderal
J.H.R. Köhler, dibantu oleh wakilnya merangkap komandan infanteri kolonel E.C. van Daalen.

Pada hari pendaratan pertama saja kapal perang "Citadel van Antwerpen" memperoleh dua belas tembakan meriam lila (meriam kecil) milik pasukan kerajaan Aceh.


Bencana Awal April 1873 di Aceh

Read More

Wednesday, April 01, 2020

Dalam dunia pernaskahan, kolofon (colophon) menjadi salah satu bagian penting terhadap identitas sebuah naskah kuno atau manuskrip. Bagian kolofon akan diperoleh berbagai informasi penting, yang sebagiannya, di luar kandungan utama teks.

Merujuk ke KBBI, kolofon adalah catatan penulis yang pada umumnya terdapat diakhir naskah atau terbitan, berisi keterangan mengenai tempat, waktu, dan penyalin naskah.

Menurut Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia (1995), kolofon adalah catatan yang terdapat pada halaman akhir teks, biasanya berisi keterangan mengenai penyalin, tarikh dan tempat penyalinan teks.

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia (2018) seirama dengan sebelumnya, yaitu paragraf dalam naskah yang biasanya berisi keterangan tentang tarikh serta tempat penulisannya, umumnya ditulis di awal atau di akhir teks.

Fungsi kolofon  menjadi bagian penentu usia teks dan penulisan naskah, khususnya penyalinan teks itu terjadi. Penentuan usia naskah dapat diketahui mudah saat dijumpai kolofon, karena di dalamnya tertera selesai penyalinan. Biasanya dalam teks Melayu (termasuk Aceh) ditulis dengan kata “Tamat”, mengadopsi kata Arab “Tammat”.

Kolofon juga dapat menjadi penentuan posisi naskah itu sendiri, apakah teks autograf, arketip, atau hiperketip. Sehingga sangat membantu para pengkaji naskah dalam membandingkan teks dan naskah, sehingga dapat ditemui naskah yang tua dan naskah salinan yang paling muda.

Kadang kala kolofon juga menyertai waktu dan tempat secara detail. Informasi tersebut tentu akan membantu para pengkaji naskah dalam mendeskripsikan naskah, informasi naskah, dan jaringan naskah itu sendiri.

Walaupun demikian belum tentu semua naskah memiliki kolofon dengan berbagai faktor, misalnya sikap rendah hati seorang penyalin atau empunya naskah.

Sedangkan sebagian besarnya naskah-naskah di Alam Melayu, khususnya di Aceh terdapat kolofon dengan beragam informasi dan narasi yang sebagian besarnya berbentuk segitiga, sebagaimana contoh-contoh di bawah ini:


Kandungan teks:

Tammat at-Tafsir (Red. Turjuman al-Mustafid) Faqir al-Haqir wahiya al-Hajj Al-imam Abdus Shamad bin Talib fi Zawiyah Lampaseh  fi al-waqti adh-Dhuha fi yaum Arbi’a, Arba’ata al-Ayyam Syahr Rabi’i al-Awwal min sana hal-Ba. Hijrah Nabi Sh (Shallallahu ‘Alaihi Wasallama). Seribu Dua Ratus Empat Puluh Dulapan [Delapan) Tahun. Adapun yang menyurat di orang yaitu Abdus Shamad dan Abdul Mu’thi. Wabillahi at-Taufiq. 1248 H.

Informasi Tafsir lebih lanjut di sini  ***

Teks lainnya yang menunjukkan kolofon:

Kandungan teks:

Tammat al-Kitab bi'aunillah al-Malik al-Wahhab al-Musamma bi-Asrar as-Suluk. Ta'lif Syaikhuna Faqih Jalaluddin, nafa'a Allah bihi. Amin ya Rabb al-'Alamin.
Wa-Sahibuhu wa katibuhu Faqir al-haqir al-mu'taraf bid-dhanbi wa at-Taqshir minallah ma'a qillati al-'ilmi wa al-'amal. 
Tammat al-kitab min Syahr Rabi'i al-Awwal min yaum al-Jum'at, dakhalat yaumuhu tsamaniyyah, wa Shallallahu 'ala Sayyidina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi Ajma'in. Amiin. Tamma

Dapat dimaknai "Tamat kitab atas pertolongan Allah yang Maha Menguasai dan Yang Maha Anugerah dinamainya dengan Asrar as-Suluk. Pengarang adalah syekh kita Fawih Jalaluddin, semoga Allah memberinya manfaat. Amin Ya Rabbal 'Alamin.
Dan pemiliknya dan penulisnya fakir lagi hina dipenuhi dengan dosa dan kekurangan kepada Allah disertai ilmu dan amal yang sedikit.
Tamat kitab pada bulan Rabiul Awal di hari Jumat, telah masuk penanggalannya delapan hari bulan. Segala salawat kepada Sayyidina Muhammad, keluarganya dan seluruh sahabatnya. Amin".

Kolofon yang ke dua menunjukkan beberapa informasi kolofon yang kurang lengkap, antaranya dengan sengaja tidak disebut nama penyalin atau penulis. Juga, tidak tercantum tahun penanggalan penulisan teks tersebut.

Terdapat juga kolofon lebih ringkas:

Kandungan teks:

Tammat al-Kitab *** Hadist al-Arba'in fi Syahri Dhi-Hijjah fi yaumi al-Isnaini. Amin. Amin.

Artinya: Tamat kitab *** Hadist Arbain (Hadist 40) pada bulan haji pada hari Senin. Amin- Amin".


Dengan demikian, kolofon menjadi identitas dan informasi tentang teks, biasanya terletak di bagian paling akhir teks atau penghujung kitab.

Kolofon Manuskrip

Read More

Friday, March 27, 2020



Jika sekarang sedang terjadi epidemi Corona (Covid-19) yang diyakini berasal dari Wuhan Cina, dan telah menjalar ke seluruh negara, di Timur dan Barat. Mulai dari negara-negara miskin hingga negara adidaya dan negara-negara kaya.

Epidemi penyakit menular juga sudah terjadi beberapa tahun silam, tidak hanya di Aceh, tetapi juga di Eropa dan Amerika. 

Pada tahun 1873-1874, epidemi penyakit menular juga menimpa dunia ini. Salah salanya adalah pulau Sumatera dan Kesultanan Aceh Darussalam. Maka menarik untuk mengulas tentang dari mana kolera sampai di Aceh pada tahun tersebut yang sebagian masyarakat meyakini penyakit yang dibawa oleh penjajah Belanda.

Mohammad Said (II) menyebutkan bahwa Jenderal Belanda van Swieten si penjahat tersebut telah membawa kolera ke  Aceh saat pendarat kedua pada akhir November 1873. Pendaratan perang Belanda dengan 60 buah kapal di perairan perbatasan Banda Aceh dan Aceh Besar. Ia menyebutkan “Belanda sudah sengaja merencanakan menguntukkan penyakit kolera itu disebarkan kepada rakyat Aceh”.

Beberapa fakta argumennya bahwa orang-orang yang telah menjalar penyakit kolera di Batavia (Jakarta) telah diberangkatkan lebih awal dari Tanjung Priok, tanpa dikarantina kapal tersebut di pulau tanpa orang. Van Swieten telah mengirim kawat pertama melalui Penang ke Jakarta tentang korban yang ditimpa penyakit kolera dengan jumlah 77 orang terinfeksi.


Fumigasi atau disinfektan penumpang dari Marseille. Kolera di Eropa (www.collection.nlm.nih.gov)


Fakta lainnya yang diungkapkan oleh Moh. Said adalah tentang pensiunan tentara Italia di Mincio bernama Nino Bixio. Ia ditawarkan menjadi nakhoda kapal pengangkut “Maddaloni”, yaitu kapal miliknya sendiri yang kemudian dijual ke Belanda. Nino Bixio sepertinya menjadi korban penipuan Belanda antara “bisnis dan kolera” dalam perang.


Iklan kapal Maddaloni yang dijual tertulis in consequence of the death of general Bixio (sebagai konsekuensi dari kematian Jenderal Bixio) 
(lihat: http://www.tynebuiltships.co.uk/M-Ships/maddaloni1873.html)

Ia menjadi korban pertama kolera itu saat masih berada dalam kapal tersebut dan mayatnya dibuang ke daratan, di salah satu pantai Aceh dan ditinggalkan di sana. Laporan “Parlementaire redevoeringan van I.D Fransesn” (1886) menyebutkan bahwa kuburan (yang kena penyakit kolera) dibongkar, mayat sengaja diantar ke darat, supaya rakyat Aceh ketularan kolera. Kuburan dibongkar dan dipindahkan, bahkan juga mungkin dibakar.

Buku Biografi Nino Bixio berbahasa Italia
(https://www.amazon.it/crociera-Maddaloni-Vita-morte-Bixio/dp/B008BIA0DK)

Paul van't Veer lebih mengerikan dalam bukunya (1985:71) "Pada tanggal 9 Desember 1873 satu dari ketiga brigade (yang keempat dalam cadangan dikirim ke Padang) sesudah melakukan gerakan tipu didaratkan ke pantai rawa. Pendaratan itu dilakukan terlalu cepat, karena bila tinggal lebih lama di kapal yang kotor dan menyesakkan napas, bencana kolera akan menimpa. Karantina 14 hari lamanya dengan gerakan berhati-hati barulah pasukan induk ditempatkan di  sekitar Kampung Peunayong di tepi Sungai Aceh, letaknya satu setengah kilometer dari keraton Aceh. 

Lanjutnya, pada akhir Desember meninggal 150 orang pasien kolera. Dalam rumah sakit tenda, yang sebentar-sebentar harus dipindahkan ke tempat yang lebih kering, dirawat 500 pasien; "dirawat" berarti ditempatkan dalam suatu perkemahan dengan jerami basah tanpa perawatan. 18 orang perwira dan 200 orang bawahan harus dibawa dalam keadaan sakit ke Padang, karena bahkan rumah sakit darurat sekalipun tidak punya tempat untuk mereka". 


Pasukan Belanda pasien kolera ditempatkan di gubuk-gubuk dan di atas tanah di kawasan Peunanyong

Penyakit kolera yang berkembang di Aceh membuat banyak rakyat Aceh menjadi korban, salah satu antaranya Sultan Aceh, SUltan Mahmud Syah II pada 28 Januari 1874 di Kampung Pagar Ayé (sekarang Pagar Air) kemudian ia dimakamkan di Cot Bada dekat Samahani.  Penyakit kolera yang menimpa Aceh sejak akhir tahun 1873 membuat beliau dan para pembesar Aceh yang berada di kawasan keraton "Dalam Sultan" eksodus ke wilayah Aceh Besar.  Namun, korban di dalam keraton Aceh telah meninggal sekitar 150 orang akibat kolera, sebagaimana dilaporkan Panglima Tibang ke Belanda di kemudian hari. 

Penyakit kolera telah menjadi wabah dunia pada tahun tersebut, merujuk kepada beberapa referensi seperti US National Library of Medicine yang banyak menunjukkan penyakit kolera di Eropa dan Amerika Serikat sejak awak tahun 1870an telah menelan banyak korban.




Pandemi Kolera Pertama di Aceh

Read More

Sunday, October 27, 2019


Zawiyah atau Dayah adalah lembaga pendidikan Islam dan umum telah eksis sejak awal Islam menetap di Aceh. Seiring zaman, tokoh dan waktunya, zawiyah pun tumbuh dan tutup sesuai dengan kondisinya. Dua di antaranya yang pernah eksis terkenal seantero Alam Melayu adalah Zawiyah Menara dan Zawiyah Meucat, keduanya di Banda Aceh, sentral ibukota Kerajaan Aceh Darussalam.

Zawiyah Menara adalah pusat kajian Islam yang dipimpin oleh Syekh Abdurrauf al-Jawi al-Fansuri (m. 1693), seorang ulama Aceh yang paling banyak mengarang kitab daripada ulama-ulama lainnya di Aceh, dan Qadhi di 4 periode orang Sultanah di Kesultanan Aceh.

Posisi Zawiyah Menara sekarang ini berada di area makam Syekh Abdurrauf di desa/gampong Deah, Kec. Kuala Aceh, Banda Aceh. Sentral penyebaran tarekat Syattariyah di Alam Melayu dan Nusantara (Indonesia).


Sedangkan Zawiyah Meucat, (saya) belum ada informasinya. Sesuai dengan informasi manuksrip ini, zawiyah tersebut masih di Banda Aceh.

Zawiyah Menara dan Zawiyah Meucat

Read More

Tuesday, August 06, 2019


“Misschien interesseert het U te vernemen, dat naar aanleiding van een verleden maand gehouden onderhoud met den vice-consul van Amerika te Medan, in Amerika een verslag zal verschijnen over ‘t belang der patchouly-cultuur in Atjeh”
Mungkin anda tertarik pada kenyataan bahwa, setelah pertemuan dibulan lalu dengan wakil konsul Amerika di Medan, sebuah laporan akan muncul di Amerika tentang pentingnya budidaya nilam di Aceh.
Itulah sebagian poin laporan Belanda di Aceh pada bulan April 1925 ke Batavia (Jakarta) melalui telegram untuk diteruskan ke Amsterdam, Belanda.
Maksud dari laporan tersebut bahwa Belanda dengan sangat serius ingin memonopoli nilam di kawasan jajahannya untuk diekspor ke Eropa dan Amerika.
Praktek ekspor nilam telah dimulai pada akhir abad ke-19 atau puncaknya awal abad ke-20, dan berakhir sekitar tahun 1930an. Demikian laporan “Atjeh Patchouli-Olie” (Minyak Nilam Aceh) yang diungkap oleh Ir. W. Spoon. (1932)
Nilam Aceh telah dipaket untuk diekspor ke Penang-Malaysia dan ke Singapura, 1924

Pada awalnya, minyak nilam yang diproduksi di Aceh hanya dikirim ke Singapura dan sebagian ke Penang (Malaysia), di mana minyak nilam Aceh itu akan dicampur dan disuling dengan minyak daun lainnya di pabrik-pabrik penyulingan di Singapura, kemudian baru diekspor ke negara-negara lain dengan label “minyak Singapura” bukan nama “minyak Aceh”.

Sedangkan minyak nilam dari yang berasal dari Jawa Barat dan Timur, tidak dipasarkan melalui Singapura, mereka punya jalur khusus dan memiliki cara pemasaran tersendiri; sebagian masuk ke Jepang, mayoritas ke Eropa, yaitu Perancis, Jerman dan Belanda.
Memang, kualitasnya agak berbeda dari minyak nilam Aceh, baunya tidak terlalu intensif; perbedaan-perbedaan itu mungkin terkait dengan kondisi pertumbuhan; tanah dan iklim tampaknya secara alami lebih menguntungkan bagi tanaman di Aceh daripada di Jawa. Demikian laporan peneliti Belanda.

Mobil Kendaraan Belanda untuk mengangkut Nilam Aceh 

Selain kualitas, jumlah ekspor juga lebih banyak dari Aceh daripada ekspor Jawa, misalnya tahun 1924, Aceh mengekspor 1.097 ton, dan Jawa hanya 5 ton. di tahun 1931 Aceh mengekspor 3.468 Kg, dan Jawa 1.865 Kg (netto).
Oleh karena melihat keuntungan yang besar, masih dalam laporan tersebut, untuk pertama kalinya Belanda mengirim langsung nilam Aceh dari pelabuhan Aceh ke Belanda (110 Kg/netto) dan ke Amerika Utara (38 Kg/netto).
Belanda cukup serius membangun pabrik-pabrik pengolahan dan penyulingan nilam di Aceh, khususnya Tapak Tuan (Aceh Selatan) sejak tahun 1921, kemudian juga dibangun pabrik di dekat Kutaraja Banda Aceh, satu pabrik lagi di Meulaboh. Tahun berikutnya Belanda membangun 3 pabrik lagi di Tapak Tuan.
Faktanya bahwa selama tahun 1931 dan awal tahun 1932, Departemen Museum Perdagangan Belanda menerima sampel minyak nilam yang diimpor dari Aceh untuk diuji laboratorium. Namun, walau hasilnya telah diperoleh, tetapi ekspor nilam Aceh tersebut terhenti akibat dampak dari Perang Dunia II di Eropa sejak awal tahun 1939. []
Tulisan ini telah dipublish di Rubrika.id

Laporan Belanda: Nilam Aceh Idola Dunia

Read More

Saturday, May 25, 2019


Beberapa hari lalu, teman-teman di media sosial (medsos) mengirim sebuah teks naskah ramalan dari sebuah tulisan di situs tentang ramalan Syekh Abdurrauf al-Fansuri atau dikenal juga Teungku Syiah Kuala yang bernama kitab Mandiyatul Badiyah.

Tulisannya berjudul “Pergantian Presiden Tahun 2019 (1440 H) menurut Kitab Mandiyatul Badiah karya Teungku Syiah Kuala Negeri Aceh” yang meramal Aceh dan Indonesia masa lalu, saat ini dan masa mendatang.

Dengan dalil-dalil yang lemah, penulis artikel tanpa menggunakan nama asli yang berinisial Abu Qurma al-Masyriqy (AQM) tersebut mangaduk dan merunut kejadian-kejadian yang telah berlalu dengan ramalan dusta, bercampur mitos dan fakta-fakta yang pernah terjadi.

Semua prediksi dan ramalan dalam tulisannya tersebut adalah dusta. Kebohongan yang dibangun dalam beragumentasi sangat jelas, selain manuskrip bodong alias palsu bin hoax, juga mengaitkan kebohongan tersebut dengan membawa nama ulama besar Aceh dan alam Melayu, Syaikh Abdurrauf bin Ali al-Jawi al-Fansuri yang dikenal sekarang Syekh Syiah Kuala.

Beberapa kepalsuan yang nyata jelas terlihat di antaranya, Pertama; Kitab Mandiyatul Badiyah bukanlah karya Abddurrauf Syiah Kuala, sebab judul yang umum "Mawa'idul Badi'ah" (Petuah-petuah berharga) yang membahas seputar hadist Nabi dan tasawuf . Sejauh ini, Abddurrauf Syiah Kuala tidak pernah mengarang kitab dengan judul tersebut. Penelusuran dan penelitian saya pribadi, peneliti local, nasional bahkan internasional tidak pernah menyentil judul ini.



Kekeliruan kedua disebutkan “ramalan Syiah Kuala yang wafat pada tahun 1699 H ini memberikan gambaran tentang perjalanan Negeri Aceh (Bilad al-Asyi) dulu dan masa mendatang” adalah kekeliruan luar biasa. Pada hakikatnya, Syiah Kuala meninggal 1693 M, sedangkan tahun 1699 adalah meninggalnya (turun tahta) Sultanah Zainatuddin Kamalat Syah (Sultan perempuan ke-4 di Kesultanan Aceh). Sehingga tahun ramalan jauh setelah Abdurrauf Syiah Kuala meninggal.

Dusta yang ketiga adalah menghubungkan ramalan dengan sejarah Aceh yang tidak linier, bahkan mengada-ngada. Seperti wasiat Nabi Khidir untuk Sultan Iskandar Muda (1606-1637) dan Abdurrauf Syiah Kuala (1661-1693). Keduanya berbeda periode dan tidak saling jumpa, sehingga tidak mungkin mewasiatkan satu sama lainnya tentang ramalan tersebut.

Poin paling penting adalah sisi kajian filologis dan kodikologis, selembar kertas (di Aceh dikenal arakate atau sarakata) tidak disebut kitab. Struktur kitab tidak memenuhi manuskrip secara umum yang ditulis oleh Syekh Abddurauf terdiri dari pembukaan, selawat, sebab, nasab, judul dan isi. Sedangkan sisi paleo-kodikologis menunjukkan teks tulisan periode modern, sebab itulah ditulis "dinukilkan dari pada Syekh Abdurrauf Fansuri (Syiah Kuala)" bahwa kata Syiah Kuala hadir pada tahun 1960an. Sedangkan ukuran kertas jauh dari ukuran normal kertas naskah kuno umumnya.  

Alasan selanjutnya bahwa, Syiah Kuala sendiri menentang ramalan-ramalan yang bersifat mistis dan tidak sesuai dengan syariat. Hal tersebut diungkap dalam kitabnya tentang sakaratul maut. Pada saat itu, ia menentang tentang paganism dan sinkritisme di masyarakat Aceh di saat seseorang meninggal akan bercahaya dengan warna (aura) sesuai perilaku seseorang.

Oleh karena itu, perihal tersebut menunjukkan AQM telah bersembunyi dalam selimut kepalsuan dan mengatasnamakan ulama besar Aceh untuk kepentingan politik praktis dan untuk pribadinya saja. Kejahatan ini harus ditindak oleh lembaga  pemerintah terkait keagamaan di Aceh seperti Dinas Syariat Islam (SI), Majelis Permusyawaratan Aceh (MPU), ataupun seperti Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA) supaya tidak terus berkembang ramalan hoax dan telah mencatut nama ulama Aceh untuk kepentingan tertentu. []

Mandiyatul Badiyah Manuskrip Hoax

Read More

Monday, March 11, 2019

James Loudon (1872-1873) hanya menjabat satu tahun sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda sebagai pengambil keputusan untuk memerangi Aceh. Perang yang diperkirakan hanya berlangsung beberapa minggu, ternyata tidak berjalan sesuai dengan rencana. Bahkan, petaka perang paling lama dengan kerugian paling besar dalam sejarah Pemerintah Hindia Belanda.

Bukan hanya sebatas itu, perang ini juga merupakan tragedi paling merugikan bagi Belanda, di mana 75% keuangan negara harus dialokasi untuk memerangi pejuang Aceh. Pantas, negeri-negeri jajahan lainnya dipaksa kerja bertahun, tanpa gaji dan tidak ada tunjangan demi menutupi kerugian tersebut.

James Loudon kelahiran tahun 1824 berdarah keturunan Inggris yang datang dan masuk ke Hindia Belanda. Ia menjadi warga negara Belanda dan jadi pengusaha monopoli gula. Itu sebabnya kedekatan Belanda-Inggris pada tukar guling wilayah yang akan dijajah dan terjajah beberapa tahun sebelum perang pecah.

Kini, tak lama menjabat, dia harus menanggung malu dan berselisih pendapat terhadap keputusannya tersebut dengan para pejabat di Belanda. Akibatnya, sejumlah Menteri Kabinet Belanda mengundurkan diri sebagai tanda tidak setuju. Sebagian lainnya menentang untuk secepatnya dihentikan. Alhasil, Loundon pun akhirnya terpaksa berhenti juga setelah mengalami kekalahan pada perang Belanda-Aceh pertama.

Gubernur Jenderal Hindia Belanda, James Loudon (1872
James Loundon juga orang yang paling bertanggung jawab atas banyaknya kematian selama agresi pertama terjadi, bukan hanya terhadap orang-orang Aceh, tetapi juga terhadap bumiputera (orang lokal) yang disewa Belanda, para perwira Belanda dan terkhusus terhadap Jenderal Köhler.

Köhler yang terkenal itu mengalami sial saat hendak merayakan kemenangannya di tanah Aceh, beberapa hari melihat kondusi semakin kondusif, berharap pasukan mujahidin Aceh telah kalah dan mundur dari Mesjid Raya Baiturrahman. Tetapi, di depan mesjid raya, ia tewas ditembak oleh pejuang Aceh. Akibatnya, pasukan ini harus kembali lebih awal ke Batavia (Jakarta).


Dalam laporan James Loundon di Bogor, bulan Mei 1873, menyebutkan bahwa saat mengetahui Jenderal Kohler mati, maka saya (red. Loundon) mengangkat Jenderal Verspijck menjadi Kepala Staf Armada. Sementara para komisaris Pemerintah Belanda urusan Aceh mulai mempertimbangkan untuk berhenti bertempur dengan Aceh, dan mencari alasan yang tepat atas penarikan pasukan  untuk dilaporkan ke Pemerintah di Belanda.

Salah satu alasan yang dibuat-buat adalah musim penghujan sudah tiba dan menghambat hubungan antara daratan dengan tempat-tempat kapal berlabuh. Dengan tidak adanya hubungan pasokan dari kapal utama ke para prajurit Belanda di darat, maka sudah tepat untuk kembali ke Batavia dan menunggu cuaca yang mendukung, sekaligus mencari dana dan kekuatan yang lebih besar. Sebab, agresi pertama ini Belanda mengalami kerugian besar.

James Loudon (source: Wikipedia)

Walaupun James Loundon mengucapkan “selamat datang kembali (kepada armada agresi pertama) di tengah-tengah kami semua....”, yang pada akhirnya ia pun berhenti (dipecat) atas kegagalan ini.

Dalam laporannya juga disebutkan bahwa, para prajurit Belanda berbahagia, sebab pejuang-pejuang Aceh tidak menembak kapal-kapal dengan meriam yang dimiliki. Hingga saat berlayar kembali, semuanya tampak kondisi tenang dan kondusif, walaupun gejolak keduanya tidak dapat dibendung.

Tentu saja masih banyak pertanyaan yang harus diuraikan tentang teknik dan strategi orang Aceh berperang, apakah membiarkan musuh yang telah merusak tatanan di Aceh dibiarkan pergi, atau memang kondisi Aceh yang tidak memiliki persenjataan besar lagi, seperti meriam untuk membantai kapal-kapal Belanda yang bersandar di perairan Aceh.
Penjelasan tentang Perang Aceh dengan Belanda tertera di bagian ruang di Museum Bronbeek, Belanda. Photo: Hermankhan

Namun, amatan saya juga melihat duka mendalam bagi para pejuang Aceh, selain mesjid terbakar akibat meriam bola api, juga syahidnya Imam mesjid raya (anonim). Syahidnya sang Imam Mesjid Raya Baiturrahmah terekam jelas pada catatan di dalam Mushaf Aceh yang kini disimpan di Perpustakaan Universitas Leiden.

Baca juga tentang Mushaf Mesjid Raya Baiturrahman: Darah Imam di Mushaf Mesjid Raya Baiturrahman


*Rujukan dari berbagai sumber  

Loudon: Selamat Jalan Kohler, Aku Dipecat.

Read More

Saturday, March 02, 2019

Jumat pagi, 7 Maret 1873, cuaca cerah menyinari kota Batavia. Upacara pelepasan pasukan Belanda dengan senjata penuh menuju perairan Aceh telah disiapkan. Kapal-kapal perang dan kapal laut sipil siap dikerahkan ke perairan Aceh. Belanda cukup mengetahui kekuatan Aceh, walau tidak sehebat dan setangguh periode sebelumnya. Informasi tentang itu sepertinya diperoleh dari internal orang Aceh, atau orang dari serumpun (yang kemudian diistilahkan dengan bumiputera). Memang, kemunduran Aceh diawali konflik (perang) internal di Kesultanan Aceh disebabkan perebutan (pembagian) kekuasaan, sebagaimana disebut dalam Hikayat Po Tjut Muhammad.

Kekuatan Belanda yang dikerahkan pada agresi pertama sebenarnya tergolong besar. Tidak kurang dari 7 tujuh kapal perang berlayar menuju Aceh, kapal perang milik Belanda "Citadel van Antwerpen", "Marnix", "Coehoorn", "Bronbeek". Kapal pemerintahan sipil (kemungkinan kapal milik kesultanan lainnya di kepulauan Melayu dan Nusantara) bernama "Siak", "Djambi", "Soerabaja", dan "Sumatra" yang dioperasionalkan untuk mengangkut para pekerja dan pasukan bayaran dari daerah lain.


Secara detail terdapat 5 barkas (kapal laut kecil), 8 buah kapal peronda, 1 buah kapal komando, 6 buah kapal pengangkut, serta 5 buah kapal layar, masing-masing ditarik oleh kapal pengangkut, yaitu 3 buah untuk pasukan artileri, kavaleri dan para pekerja, 1 buah untuk amunisi dan perlengkapan, serta satu buah kapal untuk kedokteran dan palang merah.

Komandan armada ialah kapten laut J.F. Koopman. Angkatan darat dan laut itu yang seluruhnya terdiri dari 168 orang perwira (140 orang Eropah, 28 orang bumiputera), 3198 orang bawahan (1098 orang Eropah dan 2100 orang bumiputera), 31 ekor kuda untuk perwira, 149 ekor kuda pasukan, 1000 orang pekerja paksa dengan 50 orang mandor, 220 orang wanita bumiputera (8 orang setiap kompi) serta 300 orang laki-laki bumiputera sebagai pelayan perwira-perwira, dipimpin oleh mayor jenderal J.H.R. Köhler, dibantu oleh wakilnya merangkap komandan infanteri kolonel E.C. van Daalen, disertai pula oleh kepala dan wakil kepala staf, ajudan-ajudannya, komandan-komandan batalion, Zeni, kesehatan dan topografi.

Keberangkatan kapal-kapal perang tersebut diharapkan pertengahan bulan Maret 1873, sehingga sebelum ultimatum itu dikumandangkan, kapal-kapal telang memblokade perairan Aceh. Tujuannya untuk menutupi akses laut Aceh dari bala bantuan dan hubungan Kesultanan Aceh dengan negara-negara tetangga atau yang masih mengakui kedaulatan Aceh. Tujuan lainnya untuk menunjukkan bahwa pihak Belanda memiliki kekuatan penuh yang dapat menaklukkan Aceh seketika.

Kapal Perang Ustmani Ertugrul sekitar tahun 1863. Kemungkinan besar kapal perang sejenis ini digunakan di Aceh pada periode abad ke 18-19 M.  (Project Ertugrul/Syamina)

Namun sejauh ini, perlu dikaji kembali apakah pasukan Aceh pernah menyerang kapal-kapal Belanda yang akan berlabuh dan mengepung Aceh pada detik-detik hubungan Aceh dengan Belanda semakin panas. Sebagaimana dalam riwayat, bahwa Kesultanan Aceh memiliki kapal perang, kapal laut sipil dan beberapa kapal yang ditakuti di jalur selat Malaka dan perairan Aceh [Bersambung]




Detik-detik Perang Belanda-Aceh: Pasukan dan Peralatan Perang Belanda (2)

Read More

Copyright © 2015 Herman Khan | Portal Manuskrip Aceh dan Malay | Distributed By Blogger Template | Designed By Blogger Templates
Scroll To Top