Thursday, August 06, 2020

NEW
Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) adakan peluncuran dan bedah tiga buku sekaligus, antaranya buku Smong Purba, Khutbah Jum’at Kebencanaan dan Jejak Bencana di Aceh. 

Acara peluncuran dan bedah buku diadakan pada hari Kamis 19 Desember 2019 di Aula BPBA Banda Aceh yang dipandu oleh Hermansyah, dosen filologi di Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry Banda Aceh sekaligus salah seorang penulis buku tersebut.

Acara yang langsung diresmikan oleh Kepala Pelaksana BPBA, Ir. Sunawardi, M. Si ini dalam sambutannya menginformasikan bahwa 70 (tujuh puluh) peserta yang hadiri kegiatan ini terdiri dari masyarakat umum dan para akademisi kampus.

“Penanganan bencana hanya 30% tugas BPBA dan BPBD namun upaya mitigasi merupakan tugas semua lapisan masyarakat dan ini yang harus kita maksimalkan” ungkap Sunawardi.
Beliau menambahkan bahwa BPBA tidak hanya menerbitkan 9 (sembilan) buku pada tahun 2019 ini BPBA juga masuki jalur sosialisasi dengan lagu-lagu dan jingle-jingle kebencanaan bahkan baru-baru ini film karya anak bangsa berjudul “Ajari Aku Aceh” banyak mendapatkan perhatian dari Pemerintah Nasional.

Registrasi Acara Peluncuran dan Bedah Buku (Foto: BPBA)

Turut pula menghadiri Asisten II Sekda Aceh sekaligus sebagai penulis buku Smong Purba dan Jejak Bencana di Aceh, H.T. Ahmad Dadek, SH. Beliau mengingatkan masyarakat dan akedemisi agar meningkatkan budaya menulis dan membaca khususnya dalam bidang kebencanaan demi memperkaya ilmu mitigasi bencana individu masing-masing keluarga dan masyarakat luas pada umumnya.

“Buku Smong Purba ini tidak hanya tentang smong saja tapi juga menceritakan sejarah tsunami di Aceh dengan nama-nama yang berbeda sebagai contoh bahwa masyarakat Simeulu berhasil menggunakan istilah ini dan mewariskan ke generasi selanjutnya” Jelas Dadek.

Beliau juga berharap dengan penerbitan buku-buku kebencanaan oleh BPBA ini dapat memperkaya literasi sejarah Aceh tentang bencana-bencana yang pernah terjadi sehingga korban akibat bencana tersebut dapat berkurang dengan mitigasi yang baik melalui informasi turun-menurun dari generasi ke generasi.

“Kita dianggap bernilai bukan dari apa yang kita bicarakan tapi dari karya apa yang kita hasilkan” tutup Dadek.

Bpk Kalak BPBA Aceh, Ir. Sunawardi, M.Si., dan para Narasumber Bpk T. Ahmad Dadek, Yarmen Dinamika, Ust. Masrul Aidi, dan moderator Bpk. Hermansyah (Foto: BPBA)

Pimpinan Dayah Babul Maghfirah, Ustaz Masrul Aidi yang juga turut berkontribusi dalam penulisan buku Khutbah Jum’at Kebencanaan mengemukakan alasan kenapa informasi kebencanaan disampaikan melalui kutbah jum’at , tidak lain dikerenakan keyakinan masyarakat Aceh yang lebih mempercayai apa yang agama mereka katakan.

“Pendekatan agama menjadi mitigasi bencana paling tepat yang digunakan oleh BPBA saat ini dan saya setuju itu” sebut Ust. Masrul.

Peserta yang hadir dalam acara Peluncuran dan Bedah Buku (Foto BPBA)

Lanjutnya untuk membuat persepsi yang bagus kepada jama’ah khutbah maka pesan kebencanaan harus dengan kesan dan cara yang tepat.

“Mudah-mudahan dengan kita sudah patuh kepada ajaran agama untuk menjaga alam maka kita juga akan dengan mudah mengikuti peraturan negara yang mengikatnya demi kesiapan menghadapi bencana” tutup Ustaz Masrul mengakhiri.

Source: BPBA
Baca juga: satuacehnews.com

Peluncuran dan Bedah Buku Khutbah Kebencanaan di Aceh

Read More

Tuesday, August 04, 2020

Dasar tulisan Jawi merujuk kepada huruf hijaiyyah, kecuali beberapa huruf tambahan yang mengikuti fonetik Melayu ditambah (dipinjamkan) huruf Parsi. Tulisan Jawi adalah tulisan Melayu yang memakai aksara Arab atau aplikasi huruf Arab dalam bahasa Melayu, yaitu tulisan yang banyak dipakai di kawasan Asia Tenggara sejak periode Kesultanan hingga saat ini yang telah tumbuh yang diperkirakan telah muncul pada abad ke-14 M.

Kini dapat disebut juga digunakan di Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Indonesia, Thailand Selatan (Patani, Yala, dan Narathiwat), dan Philipina Selatan (Mindanao dan sekitarnya) 

Teks Tata Bahasa Arab yang diterjemah dalam bahasa Melayu menggunakan aksara Jawi. MS Koleksi Museum Aceh Cod. 07.518
Teks Tata Bahasa Arab yang diterjemah dalam bahasa Melayu menggunakan aksara Jawi. MS Koleksi Museum Aceh Cod. 07.518

Pada dasarnya tulisan Jawi merupakan tulisan Arab yang dipakai secara utuh dan ditambahkan beberapa huruf yang diubah dengan menambah titik-titiknya guna menyesuaikan dengan konsonan yang berlaku dalam bahasa Jawi.


Teks Shirat al-Mustaqim karya Syekh Nuruddin Ar-Raniry
Teks "Shirat al-Mustaqim" karya Nuruddin Ar-Raniry pada abad ke-17 M yang menyebutkan "mutarajjaman bi-bilisan al-Jawi, menterjemahkan daripada bahasa Arab kepada bahasa Jawi"

Bukti tertua tentang munculnya tulisan Jawi di Asia Tenggara adalah ditemukannya Batu Bersurat Trengganu yang bertanggal 4 Rajab 702 H (22 Februari 1303 M) yang bertulis huruf Jawi yang berisi undang-undang dan hukum Islam yang berlaku di Trengganu adad ke-14 M. 


Mir'at at-Thullab karya Abdurrauf al-Jawi al-Fansuri

Teks "Mir'at ath-Thullab" karya Syekh Abdur Rauf al-Jawi al-Fansuri yang menyebutkan "Dua orang saudarakuk yang salih lagi fadhil lagi fashahah keduanya pada bahasa Jawi itu"

Setelah itu, juga ditemukan Batu Bersurat di Pahang dengan pertanggalan lebih muda hampir dua abad dari temuan pertama, yaitu 15 Syawal 900 H (7 Juli 1495) dengan jenis tulisan yang sama. Dengan demikian, berarti tulisan Jawi sudah dipakai dalam penulisan pada abad ke-14 M dan setelah itu tulisan tersebut telah dipakai sebagai media penulisan naskah-naskah dalam berbagai bentuk. 




Artikel lengkap: KESULTANAN PASAI PENCETUS AKSARA JAWI (TINJAUAN NASKAH-NASKAH DI NUSANTARA)

Tulisan dan Aksara Jawi [Periode Awal Kesultanan Aceh]

Read More

Monday, July 13, 2020



Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menginformasikan gempa terjadi pada Senin (13/7/2020) sekitar pukul 07.58 WIB. Pusat gempa berada di 121 km barat daya Banda Aceh, Aceh.

Pusat gempa berada di koordinat 5,12 Lintang Utara dan 94,32 Bujur. Gempa terjadi di kedalaman 10 km.


Gempa ini bertepatan dengan 21 Zulqa'dah 1441 H. Atau dikenal bulan haji. Pada bulan ini gempa menjadi bersejarah bagi Aceh pada tahun 2004, tepatnya 26 Desember 2004 atau bertepatan 14 Zulqa'dah 1425 H.

Gempa tersebut menelan banyak para syuhada, tak terkecuali calon jamaah haji yang bersiap berangkat ke Tanah Suci.  Asrama Haji di Kota Banda Aceh porak-poranda menjadi saksi derasnya hempasan gelombang tsunami.

Maka untuk menolak segala bala dan kemungkinan buruk terjadi, umat Islam dianjurkan membaca doa.

Inilah doa ketika gempa bumi.
بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ 


اَللَّهُمّ إِنّيْ أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا فِيْهَا، وَخَيْرَ مَا أَرْسَلْتَ بِهِ؛
 وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا، وَشَرِّمَافِيْهَا وَشَرِّمَا أَرْسَلْتَ بِهِ

Bismillāhirrahmānirrahīm
"Allahumma innī as'aluka khairahā, wa khaira mā fīhā, wa khaira mā arsalta bihi, 
wa a'udhubika min syarrihā, wa syarri mā fīhā wa syarri mā arsalta bihi"



Artinya:
Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kehadirat-Mu kebaikan atas apa yang terjadi, dan kebaikan apa yang didalamnya, dan kebaikan atas apa yang Engkau kirimkan dengan kejadian ini. Dan aku memohon perlindungan kepada-Mu dari keburukan atas apa yang terjadi, dan keburukan atas apa yang terjadi didalamnya, dan aku juga memohon perlindungan kepada-Mu atas apa-apa yang Engkau kirimkan."

Halaman awal Teks Naskah Kuno Tabir Gempa


Doa Ketika Gempa Bumi

Read More

Thursday, June 25, 2020

Pasca Menteri Agama RI mengumumkan pemerintah Indonesia tidak memberangkatkan Jamaah Haji pada tahun ini (1441 H/2020 M) atau ditunda untuk tahun depan, maka pupuslah harapan banyak calon jamaah haji tahun ini yang telah menahun menunggu untuk menunaikan rukun Islam kelima tersebut.

Bukan hanya Indonesia yang membatalkan keberangkatan jamaah haji, beberapa negara yang memiliki penduduk muslim seperti Brunai Darussalam, Malaysia, Singapura, Mesir, dan Uzbekistan juga menunda keberangkatan hingga tahun depan.

Penundaan tersebut akibat dampak dari wabah Covid-19 melanda dunia, di mana Arab Saudi sampai saat ini (Syawal 1441 H/ Juni 2020 M) belum membuka pelayanan haji.

Aceh menjadi salah satu dampak terparah akibat dari penundaan ini. Sebab, merujuk ke laman Kemenag, provinsi Aceh menjadi salah satu wilayah yang mendapat masa tunggu paling lama dari beberapa provinsi lainnya, kisaran 26-30 tahun lama antrean.

Pada saat penundaan haji seperti tahun ini, tentu semakin memperpanjang masa tunggu calon jamaah haji dan umrah asal Aceh.

Namun, beberapa hari belakangan ini, senator Aceh di DPR RI, Fadhil Rahmi, mengemukakan bahwa kemungkinan jamaah haji asal Aceh dapat menunaikan ibadah haji secara independen berdasarkan amanah UUPA 2006 Pasal 16 dan ketersediaan fasilitas Aceh di Mekkah, salah satunya wakaf Baitul Asyi yang telah terjalin cukup lama.




Wakaf Baitul Asyi
Kabar wakaf Baitul Asyi (Rumoh orang Aceh) di Mekkah dan pemanfaatannya bagi jamaah haji Aceh bukan lagi berita baru. Sejak tahun 2006 hingga 2019 setiap jamaah haji asal Aceh telah menikmati kompensasi Baitul Asyi, sebagai ganti pemanfaatan dari tanah wakaf dan bangunan (hotel) di atasnya.

Menurut Adli (Serambi Indonesia (SI) 12/3/2018 dan SI 9/8/2019), wakaf indatu Aceh di Mekkah terdapat di beberapa lokasi. Beberapa telah dimanfaatkan untuk jamaah haji dan masyarakat asal Aceh, namun sebagian lagi belum jelas statusnya. Bahkan pada tahun 2018 sempat terjadi polemik wakaf Baitul Asyi yang di kenal wakaf Habib Bugak menjadi berita utama Serambi Indonesia dan ruang opini (lihat SI 19/3/2018).

Nama pewakaf Baitul ASyi "Habib bin Buja' al-Asyi al-Jawi" 

Sebenarnya, salah satu wakaf Baitul Asyi yang sering disebut-sebut dan telah diterima manfaat oleh jamaah haij adalah bernama al-Haj Habib bin Buja’ al-Asyi al-Jawi. Sederhananya, disebut Haji Habib anak Buja’ dari negeri Aceh-Jawi (yaitu negeri berbahasa Jawi/Melayu).

Pada baris bawah Nama Pewakaf Baitul Asyi "al-Mukarram al-Haj Habib bin Buja' al-Asyi" 







Dalam teks tidak tertulis “Habib min Bugak” (Habib dari Bugak). Namanya secara jelas dicatat/tulis dua kali dalam ikrar di depan Mahkamah Syariah Mekkah tertanggal 18 Rabiul Akhir 1224 H (2 Juni 1809 M), tidak ada nama samaran yang secara tekstual sudah tsiqah (kuat).

Maka, pewakaf Baitul Asyi adalah Haji Habib bin Buja’ al-Asyi bukanlah Habib Bugak sebagaimana yang berkembang selama ini, kemungkinan juga bukan habib yang berasal dari Bugak, bukan juga Habib Abdurrahman al-Habsyi  al-Asyi.

Sejauh ini belum ada dokumen manapun yang menyebut keduanya sama atau berasal dari sana, kedua adalah tokoh yang berbeda. Silahkan Pemerintah Aceh membuka dan membaca kembali dokumen akta ikrar yang telah diterima dua kali dari Nazir Wakaf pada tahun 2002 dan 2006.

Hal ini penting diungkapkan, supaya manfaat jariah wakaf Baitul Asyi yang diterima oleh jamaah haji asal Aceh dengan benar tersampaikan kepada nama yang telah tertera dalam ikrar tersebut.

Tanah dan Bangunan di atasnya dengan label tertulis "Wakaf Habib Buja' al-Asyi (2)"


Nasib Haji Aceh (Dulu dan Sekarang)
Fakta kasus masa antrean yang cukup lama berangkat haji dan pemanfaatan Baitul Asyi untuk calon jamaah haji bukan kali ini saja. Jika kita bersedia menoleh ke belakang, pada tahun 2010, Muhammad Nazar (saat itu menjadi Wakil Gubernur Aceh 2007-2012) juga mengeluh antrean panjang calhaj Aceh dan belum dapat memanfaatkan wakaf Baitul Asyi untuk Aceh.

Saat peresmian “peusijuek” pembangunan pemondokan baru jamaah haji Aceh tahun 2010, dan rampung tahun 2014 yang dapat menampung 5.000 jamaah. Harapan Wakil Gubernur saat itu dapat menampung jamaah haji asal Aceh.

Jika merujuk data jamaah haji Aceh tahun 2019 sebanyak 4.393 jemaah haji Aceh, dan tahun rencananya tahun ini (2020) sebanyak 4.187 jamaah sudah tertampung dalam satu hotel tersebut.

Tentu ini akan memudahkan pengontrolan dan pengawasan jamaah haji Aceh dalam satu area hotel. Ini sekaligus menyelesaikan persoalan pemondokan yang dikeluhkan jamaah Aceh setiap tahunnya, baik kualitas, jarak dan pelayanannya.

Sayangnya, Menteri Agama telah mengirimkan surat kepada pihak Pemerintah Arab Saudi (9//6/2020) pemberitahuan pembatalan jamaah haji seluruh WNI baik reguler/mujamalah, khusus/furada, dan seluruh WNI untuk tahun ini.

Itu artinya, jamaah haji Aceh masih memegang paspor Indonesia terkena imbasnya. Oleh karena itu, sedikit peluang untuk tahun ini dan butuh diplomasi intens serta lobi serius dari segala lini untuk mewujudkan mimpi tersebut.

Jika pelayanan haji dibuka oleh Pemerintah Arab Saudi, maka pemanfaatan Baitul Asyi tahun ini dapat diwujudkan, sebab kemungkinan besar tidak digunakan untuk jamaah lain. Namun persoalan tersebut tidak gampang, izin keberangkatan dan pelayanan jamaah haji masih berada di tangan Pemerintah Indonesia (BPIH/Kemenag)

Kecuali untuk tahun ini, persiapan juga harus difokuskan untuk ke depan pemanfaatan hotel Baitul Asyi yang dapat memangkas masa tunggu jamaah Aceh (29-30 tahun). Diplomasi ini dapat dilakukan dengan pihak pengembang dan lembaga wakaf Baitul Asyi di Mekkah. Lebih baik dapat menunaikan ibadah haji secepatnya, daripada menikmati bagi hasil Baitul Asyi dengan masa tunggu yang lama.

Perjuangan dan pengorbanan orang Aceh telah tercatat cukup lama, sejak masa perompak kolonial di laut Arab masa kerajaan Aceh, era perang Belanda dan masa konflik. Semua tidak dapat meredam semangat dan tekad untuk “syahid” di tanah mulia (Mekkah-Madinah).

Keyakinan fundamental tersebut telah tertanam sejak dini untuk memenuhi rukum Islam kelima. Kini, menjadi PR untuk Pemerintah Aceh dan DPRA untuk memenuhi “mimpi” calon jamaah haji.

Ini tidak dapat dilakukan dari satu pihak saja, tapi keterlibatan BPIH Aceh-Indonesia, Pemda Aceh, DPRA dan DPR RI, Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Arab Saudi sangat penting. Pertanyaannya, mampukah lobi itu terwujud.?

Mewujudkan Aceh "Haji Independen", Mungkinkah.

Read More

Monday, May 18, 2020

Teks ini dimulai dengan “Bismillah ar-Rahmani ar-Rahim”. Hadha [al-]Bayan Ma la budda minhu minal furudh al-wajibah ‘ala madhhab al-Imam asy-Syafi’i rahimahu Allahu ‘alaihi dikenal juga kitab “al-Bayan". Kitab ini memiliki judul lengkap "Al-Bayan fi Fiqh Madhhab al-Imam asy-Syafi’i”. Sebagian kitab cetakan tidak menyebut "

Ini adalah salah satu kitab fikih rujukan dalam mazhab al-Syafi’i yang disusun oleh  al-Imam Yahya bin Abu al-Khair Salim al-‘Imrani al-Yamani (489-558H). Beliau adalah seorang tokoh ulama mazhab al-Syafi’i yang terkenal pada zamannya.

Kitab al-Bayan adalah uraian (syarah) bagi kitab Al-Muhaddhab karya Imam Abu Ishaq Ibrahim bin Ali al-Fayruzabadi al-Syirazi (476H).  Kitab al-Bayan merupakan antara kitab huraian bagi kitab al-Muhazzab yang paling terkenal dan menjadi rujukan para ulama selepasnya dalam menghasilkan karya-karya fiqh dalam mazhab Syafi’i.

Halaman pertama teks Al-Bayan


Kitab al-Bayan dinilai sebuah kitab berharga dan memberikan kontribusi besar dalam dunia fikih (syariah dan hukum). Imam Muhyiddin Abu Zakariyya Yahya bin Syaraf  al-Nawawi (676H) dalam kitabnya al-Majmu’ telah menyebutkan nama kitab al-Bayan sebagai karya fiqh yang sangat bermutu dan besar faedah.

Teks Al-Bayan ini merupakan kumpulan teks dalam sebuah naskah tenpa sampul. Manuskrip ini koleksi masyarakat di Lhokseumawe yang kami telusuri tahun 2018. Pada saat ini, kami tidak tahu nasib naskah ini masih dimiliki atau sudah berpindah tangan (lokasi) di Aceh, atau ke luar Aceh.
Halaman Akhir Teks Al-Bayan.

Sedangkan Kitab Al-Bayan ini telah diterbitkan oleh Dar al-Minhaj dalam 14 jilid termasuk jilid fihris (isi kandungan) nya. Jilid fihris diasingkan. Jilid tersebut mengandungi fihris ayat Quran, Hadis, Athar, akhbar, A’lam, fawa’idul bayan, asy’ar, kalimah masyruhah, mawarid mualif, masodir tahqiq dan sebagainya yang berkaitan.


Kitab Al-Bayan dapat didownload disini:

http://www.waqfeya.com/book.php?bid=2690

Kitab Al-Bayan fi Madhhab al-Imam Asy-Syafi’i di Aceh

Read More

Wednesday, April 08, 2020

Belanda menyerang kerajaan Aceh secara sepihak tanpa ultimatum perang pada tanggal 26 Maret 1873. Sejak tanggal itu, Jenderal Belanda F.N. Nieuwenhuyzen, yang memimpin pasukan Belanda dari kapal Citadel van Antwerpen didukung oleh kapal 6 buah kapal perang dinamai "Djambi", "Marnix", "Soerabaja", dan "Sumatra". Ditambah dukungan dua kapal perang milik Belanda dinamai "Marnix" dan “Coehoorn" dari Pulau Pinang.

Selain itu, dua kapal 2 buah kapal angkatan laut pemerintah ("Siak" dan "Bronbeek"), 5 buah barkas, 8 buah kapal peronda, 1 buah kapal komando, 6 buah kapal pengangkut, serta 5 buah kapal layar, masing-masing ditarik oleh kapal pengangkut, yaitu 3 buah untuk pasukan artileri, kavaleri dan pekerja-pekerja, 1 buah untuk amunisi dan perlengkapan, serta 1 buah untuk orang-orang sakit.

Kapal Perang Belanda "Soerabaia" tahun 1905. Lihat: http://www.netherlandsnavy.nl/JVH.htm

Tampaknya, mulai tanggal 26 Maret sampai 3 April telah terjadi perang di laut, namun sayangnya belum ada informasi mendetail tentang perang di laut tersebut antara kapal laut Aceh dengan kapal perang Belanda.

Merujuk ke beberapa sumber, Belanda mulai masuk melalui perairan Aceh antara tanggal 4 atau 6 April. Pada tanggal tersebutlah perang di darat terjadi, tepatnya di Pantai Ceureumen Ule Lheue dan kemudian di area sekitar Mesjid Raya Baiturrahman.

Pendaratan pertama Belanda di Aceh pada awal bulan April 1873 di Pantai Ceureumen, Ulee Lheue Banda Aceh
Merujuk ke beberapa sumber, Belanda mendarat tanggal 6 April untuk pertama kali di Pantai Ceureumen, sebelah Timur Ulèe Lheue, mereka dipukul mundur oleh pejuang-pejuang Aceh yang telah berjaga di pos-pos kerajaan Aceh.

Dan, barulah pada tanggal 8 April berikutnya seluruh induk pasukan Belanda didaratkan di bumi Aceh yang berjumlah 3600 pasukan militer. Pendaratan ini dipimpin oleh mayor jenderal
J.H.R. Köhler, dibantu oleh wakilnya merangkap komandan infanteri kolonel E.C. van Daalen.

Pada hari pendaratan pertama saja kapal perang "Citadel van Antwerpen" memperoleh dua belas tembakan meriam lila (meriam kecil) milik pasukan kerajaan Aceh.


Bencana Awal April 1873 di Aceh

Read More

Wednesday, April 01, 2020

Dalam dunia pernaskahan, kolofon (colophon) menjadi salah satu bagian penting terhadap identitas sebuah naskah kuno atau manuskrip. Bagian kolofon akan diperoleh berbagai informasi penting, yang sebagiannya, di luar kandungan utama teks.

Merujuk ke KBBI, kolofon adalah catatan penulis yang pada umumnya terdapat diakhir naskah atau terbitan, berisi keterangan mengenai tempat, waktu, dan penyalin naskah.

Menurut Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia (1995), kolofon adalah catatan yang terdapat pada halaman akhir teks, biasanya berisi keterangan mengenai penyalin, tarikh dan tempat penyalinan teks.

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia (2018) seirama dengan sebelumnya, yaitu paragraf dalam naskah yang biasanya berisi keterangan tentang tarikh serta tempat penulisannya, umumnya ditulis di awal atau di akhir teks.

Fungsi kolofon  menjadi bagian penentu usia teks dan penulisan naskah, khususnya penyalinan teks itu terjadi. Penentuan usia naskah dapat diketahui mudah saat dijumpai kolofon, karena di dalamnya tertera selesai penyalinan. Biasanya dalam teks Melayu (termasuk Aceh) ditulis dengan kata “Tamat”, mengadopsi kata Arab “Tammat”.

Kolofon juga dapat menjadi penentuan posisi naskah itu sendiri, apakah teks autograf, arketip, atau hiperketip. Sehingga sangat membantu para pengkaji naskah dalam membandingkan teks dan naskah, sehingga dapat ditemui naskah yang tua dan naskah salinan yang paling muda.

Kadang kala kolofon juga menyertai waktu dan tempat secara detail. Informasi tersebut tentu akan membantu para pengkaji naskah dalam mendeskripsikan naskah, informasi naskah, dan jaringan naskah itu sendiri.

Walaupun demikian belum tentu semua naskah memiliki kolofon dengan berbagai faktor, misalnya sikap rendah hati seorang penyalin atau empunya naskah.

Sedangkan sebagian besarnya naskah-naskah di Alam Melayu, khususnya di Aceh terdapat kolofon dengan beragam informasi dan narasi yang sebagian besarnya berbentuk segitiga, sebagaimana contoh-contoh di bawah ini:


Kandungan teks:

Tammat at-Tafsir (Red. Turjuman al-Mustafid) Faqir al-Haqir wahiya al-Hajj Al-imam Abdus Shamad bin Talib fi Zawiyah Lampaseh  fi al-waqti adh-Dhuha fi yaum Arbi’a, Arba’ata al-Ayyam Syahr Rabi’i al-Awwal min sana hal-Ba. Hijrah Nabi Sh (Shallallahu ‘Alaihi Wasallama). Seribu Dua Ratus Empat Puluh Dulapan [Delapan) Tahun. Adapun yang menyurat di orang yaitu Abdus Shamad dan Abdul Mu’thi. Wabillahi at-Taufiq. 1248 H.

Informasi Tafsir lebih lanjut di sini  ***

Teks lainnya yang menunjukkan kolofon:

Kandungan teks:

Tammat al-Kitab bi'aunillah al-Malik al-Wahhab al-Musamma bi-Asrar as-Suluk. Ta'lif Syaikhuna Faqih Jalaluddin, nafa'a Allah bihi. Amin ya Rabb al-'Alamin.
Wa-Sahibuhu wa katibuhu Faqir al-haqir al-mu'taraf bid-dhanbi wa at-Taqshir minallah ma'a qillati al-'ilmi wa al-'amal. 
Tammat al-kitab min Syahr Rabi'i al-Awwal min yaum al-Jum'at, dakhalat yaumuhu tsamaniyyah, wa Shallallahu 'ala Sayyidina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi Ajma'in. Amiin. Tamma

Dapat dimaknai "Tamat kitab atas pertolongan Allah yang Maha Menguasai dan Yang Maha Anugerah dinamainya dengan Asrar as-Suluk. Pengarang adalah syekh kita Fawih Jalaluddin, semoga Allah memberinya manfaat. Amin Ya Rabbal 'Alamin.
Dan pemiliknya dan penulisnya fakir lagi hina dipenuhi dengan dosa dan kekurangan kepada Allah disertai ilmu dan amal yang sedikit.
Tamat kitab pada bulan Rabiul Awal di hari Jumat, telah masuk penanggalannya delapan hari bulan. Segala salawat kepada Sayyidina Muhammad, keluarganya dan seluruh sahabatnya. Amin".

Kolofon yang ke dua menunjukkan beberapa informasi kolofon yang kurang lengkap, antaranya dengan sengaja tidak disebut nama penyalin atau penulis. Juga, tidak tercantum tahun penanggalan penulisan teks tersebut.

Terdapat juga kolofon lebih ringkas:

Kandungan teks:

Tammat al-Kitab *** Hadist al-Arba'in fi Syahri Dhi-Hijjah fi yaumi al-Isnaini. Amin. Amin.

Artinya: Tamat kitab *** Hadist Arbain (Hadist 40) pada bulan haji pada hari Senin. Amin- Amin".


Dengan demikian, kolofon menjadi identitas dan informasi tentang teks, biasanya terletak di bagian paling akhir teks atau penghujung kitab.

Kolofon Manuskrip

Read More

Friday, March 27, 2020



Jika sekarang sedang terjadi epidemi Corona (Covid-19) yang diyakini berasal dari Wuhan Cina, dan telah menjalar ke seluruh negara, di Timur dan Barat. Mulai dari negara-negara miskin hingga negara adidaya dan negara-negara kaya.

Epidemi penyakit menular juga sudah terjadi beberapa tahun silam, tidak hanya di Aceh, tetapi juga di Eropa dan Amerika. 

Pada tahun 1873-1874, epidemi penyakit menular juga menimpa dunia ini. Salah salanya adalah pulau Sumatera dan Kesultanan Aceh Darussalam. Maka menarik untuk mengulas tentang dari mana kolera sampai di Aceh pada tahun tersebut yang sebagian masyarakat meyakini penyakit yang dibawa oleh penjajah Belanda.

Mohammad Said (II) menyebutkan bahwa Jenderal Belanda van Swieten si penjahat tersebut telah membawa kolera ke  Aceh saat pendarat kedua pada akhir November 1873. Pendaratan perang Belanda dengan 60 buah kapal di perairan perbatasan Banda Aceh dan Aceh Besar. Ia menyebutkan “Belanda sudah sengaja merencanakan menguntukkan penyakit kolera itu disebarkan kepada rakyat Aceh”.

Beberapa fakta argumennya bahwa orang-orang yang telah menjalar penyakit kolera di Batavia (Jakarta) telah diberangkatkan lebih awal dari Tanjung Priok, tanpa dikarantina kapal tersebut di pulau tanpa orang. Van Swieten telah mengirim kawat pertama melalui Penang ke Jakarta tentang korban yang ditimpa penyakit kolera dengan jumlah 77 orang terinfeksi.


Fumigasi atau disinfektan penumpang dari Marseille. Kolera di Eropa (www.collection.nlm.nih.gov)


Fakta lainnya yang diungkapkan oleh Moh. Said adalah tentang pensiunan tentara Italia di Mincio bernama Nino Bixio. Ia ditawarkan menjadi nakhoda kapal pengangkut “Maddaloni”, yaitu kapal miliknya sendiri yang kemudian dijual ke Belanda. Nino Bixio sepertinya menjadi korban penipuan Belanda antara “bisnis dan kolera” dalam perang.


Iklan kapal Maddaloni yang dijual tertulis in consequence of the death of general Bixio (sebagai konsekuensi dari kematian Jenderal Bixio) 
(lihat: http://www.tynebuiltships.co.uk/M-Ships/maddaloni1873.html)

Ia menjadi korban pertama kolera itu saat masih berada dalam kapal tersebut dan mayatnya dibuang ke daratan, di salah satu pantai Aceh dan ditinggalkan di sana. Laporan “Parlementaire redevoeringan van I.D Fransesn” (1886) menyebutkan bahwa kuburan (yang kena penyakit kolera) dibongkar, mayat sengaja diantar ke darat, supaya rakyat Aceh ketularan kolera. Kuburan dibongkar dan dipindahkan, bahkan juga mungkin dibakar.

Buku Biografi Nino Bixio berbahasa Italia
(https://www.amazon.it/crociera-Maddaloni-Vita-morte-Bixio/dp/B008BIA0DK)

Paul van't Veer lebih mengerikan dalam bukunya (1985:71) "Pada tanggal 9 Desember 1873 satu dari ketiga brigade (yang keempat dalam cadangan dikirim ke Padang) sesudah melakukan gerakan tipu didaratkan ke pantai rawa. Pendaratan itu dilakukan terlalu cepat, karena bila tinggal lebih lama di kapal yang kotor dan menyesakkan napas, bencana kolera akan menimpa. Karantina 14 hari lamanya dengan gerakan berhati-hati barulah pasukan induk ditempatkan di  sekitar Kampung Peunayong di tepi Sungai Aceh, letaknya satu setengah kilometer dari keraton Aceh. 

Lanjutnya, pada akhir Desember meninggal 150 orang pasien kolera. Dalam rumah sakit tenda, yang sebentar-sebentar harus dipindahkan ke tempat yang lebih kering, dirawat 500 pasien; "dirawat" berarti ditempatkan dalam suatu perkemahan dengan jerami basah tanpa perawatan. 18 orang perwira dan 200 orang bawahan harus dibawa dalam keadaan sakit ke Padang, karena bahkan rumah sakit darurat sekalipun tidak punya tempat untuk mereka". 


Pasukan Belanda pasien kolera ditempatkan di gubuk-gubuk dan di atas tanah di kawasan Peunanyong

Penyakit kolera yang berkembang di Aceh membuat banyak rakyat Aceh menjadi korban, salah satu antaranya Sultan Aceh, SUltan Mahmud Syah II pada 28 Januari 1874 di Kampung Pagar Ayé (sekarang Pagar Air) kemudian ia dimakamkan di Cot Bada dekat Samahani.  Penyakit kolera yang menimpa Aceh sejak akhir tahun 1873 membuat beliau dan para pembesar Aceh yang berada di kawasan keraton "Dalam Sultan" eksodus ke wilayah Aceh Besar.  Namun, korban di dalam keraton Aceh telah meninggal sekitar 150 orang akibat kolera, sebagaimana dilaporkan Panglima Tibang ke Belanda di kemudian hari. 

Penyakit kolera telah menjadi wabah dunia pada tahun tersebut, merujuk kepada beberapa referensi seperti US National Library of Medicine yang banyak menunjukkan penyakit kolera di Eropa dan Amerika Serikat sejak awak tahun 1870an telah menelan banyak korban.




Pandemi Kolera Pertama di Aceh

Read More

Sunday, October 27, 2019


Zawiyah atau Dayah adalah lembaga pendidikan Islam dan umum telah eksis sejak awal Islam menetap di Aceh. Seiring zaman, tokoh dan waktunya, zawiyah pun tumbuh dan tutup sesuai dengan kondisinya. Dua di antaranya yang pernah eksis terkenal seantero Alam Melayu adalah Zawiyah Menara dan Zawiyah Meucat, keduanya di Banda Aceh, sentral ibukota Kerajaan Aceh Darussalam.

Zawiyah Menara adalah pusat kajian Islam yang dipimpin oleh Syekh Abdurrauf al-Jawi al-Fansuri (m. 1693), seorang ulama Aceh yang paling banyak mengarang kitab daripada ulama-ulama lainnya di Aceh, dan Qadhi di 4 periode orang Sultanah di Kesultanan Aceh.

Posisi Zawiyah Menara sekarang ini berada di area makam Syekh Abdurrauf di desa/gampong Deah, Kec. Kuala Aceh, Banda Aceh. Sentral penyebaran tarekat Syattariyah di Alam Melayu dan Nusantara (Indonesia).


Sedangkan Zawiyah Meucat, (saya) belum ada informasinya. Sesuai dengan informasi manuksrip ini, zawiyah tersebut masih di Banda Aceh.

Zawiyah Menara dan Zawiyah Meucat

Read More

Tuesday, August 06, 2019


“Misschien interesseert het U te vernemen, dat naar aanleiding van een verleden maand gehouden onderhoud met den vice-consul van Amerika te Medan, in Amerika een verslag zal verschijnen over ‘t belang der patchouly-cultuur in Atjeh”
Mungkin anda tertarik pada kenyataan bahwa, setelah pertemuan dibulan lalu dengan wakil konsul Amerika di Medan, sebuah laporan akan muncul di Amerika tentang pentingnya budidaya nilam di Aceh.
Itulah sebagian poin laporan Belanda di Aceh pada bulan April 1925 ke Batavia (Jakarta) melalui telegram untuk diteruskan ke Amsterdam, Belanda.
Maksud dari laporan tersebut bahwa Belanda dengan sangat serius ingin memonopoli nilam di kawasan jajahannya untuk diekspor ke Eropa dan Amerika.
Praktek ekspor nilam telah dimulai pada akhir abad ke-19 atau puncaknya awal abad ke-20, dan berakhir sekitar tahun 1930an. Demikian laporan “Atjeh Patchouli-Olie” (Minyak Nilam Aceh) yang diungkap oleh Ir. W. Spoon. (1932)
Nilam Aceh telah dipaket untuk diekspor ke Penang-Malaysia dan ke Singapura, 1924

Pada awalnya, minyak nilam yang diproduksi di Aceh hanya dikirim ke Singapura dan sebagian ke Penang (Malaysia), di mana minyak nilam Aceh itu akan dicampur dan disuling dengan minyak daun lainnya di pabrik-pabrik penyulingan di Singapura, kemudian baru diekspor ke negara-negara lain dengan label “minyak Singapura” bukan nama “minyak Aceh”.

Sedangkan minyak nilam dari yang berasal dari Jawa Barat dan Timur, tidak dipasarkan melalui Singapura, mereka punya jalur khusus dan memiliki cara pemasaran tersendiri; sebagian masuk ke Jepang, mayoritas ke Eropa, yaitu Perancis, Jerman dan Belanda.
Memang, kualitasnya agak berbeda dari minyak nilam Aceh, baunya tidak terlalu intensif; perbedaan-perbedaan itu mungkin terkait dengan kondisi pertumbuhan; tanah dan iklim tampaknya secara alami lebih menguntungkan bagi tanaman di Aceh daripada di Jawa. Demikian laporan peneliti Belanda.

Mobil Kendaraan Belanda untuk mengangkut Nilam Aceh 

Selain kualitas, jumlah ekspor juga lebih banyak dari Aceh daripada ekspor Jawa, misalnya tahun 1924, Aceh mengekspor 1.097 ton, dan Jawa hanya 5 ton. di tahun 1931 Aceh mengekspor 3.468 Kg, dan Jawa 1.865 Kg (netto).
Oleh karena melihat keuntungan yang besar, masih dalam laporan tersebut, untuk pertama kalinya Belanda mengirim langsung nilam Aceh dari pelabuhan Aceh ke Belanda (110 Kg/netto) dan ke Amerika Utara (38 Kg/netto).
Belanda cukup serius membangun pabrik-pabrik pengolahan dan penyulingan nilam di Aceh, khususnya Tapak Tuan (Aceh Selatan) sejak tahun 1921, kemudian juga dibangun pabrik di dekat Kutaraja Banda Aceh, satu pabrik lagi di Meulaboh. Tahun berikutnya Belanda membangun 3 pabrik lagi di Tapak Tuan.
Faktanya bahwa selama tahun 1931 dan awal tahun 1932, Departemen Museum Perdagangan Belanda menerima sampel minyak nilam yang diimpor dari Aceh untuk diuji laboratorium. Namun, walau hasilnya telah diperoleh, tetapi ekspor nilam Aceh tersebut terhenti akibat dampak dari Perang Dunia II di Eropa sejak awal tahun 1939. []
Tulisan ini telah dipublish di Rubrika.id

Laporan Belanda: Nilam Aceh Idola Dunia

Read More

Saturday, May 25, 2019


Beberapa hari lalu, teman-teman di media sosial (medsos) mengirim sebuah teks naskah ramalan dari sebuah tulisan di situs tentang ramalan Syekh Abdurrauf al-Fansuri atau dikenal juga Teungku Syiah Kuala yang bernama kitab Mandiyatul Badiyah.

Tulisannya berjudul “Pergantian Presiden Tahun 2019 (1440 H) menurut Kitab Mandiyatul Badiah karya Teungku Syiah Kuala Negeri Aceh” yang meramal Aceh dan Indonesia masa lalu, saat ini dan masa mendatang.

Dengan dalil-dalil yang lemah, penulis artikel tanpa menggunakan nama asli yang berinisial Abu Qurma al-Masyriqy (AQM) tersebut mangaduk dan merunut kejadian-kejadian yang telah berlalu dengan ramalan dusta, bercampur mitos dan fakta-fakta yang pernah terjadi.

Semua prediksi dan ramalan dalam tulisannya tersebut adalah dusta. Kebohongan yang dibangun dalam beragumentasi sangat jelas, selain manuskrip bodong alias palsu bin hoax, juga mengaitkan kebohongan tersebut dengan membawa nama ulama besar Aceh dan alam Melayu, Syaikh Abdurrauf bin Ali al-Jawi al-Fansuri yang dikenal sekarang Syekh Syiah Kuala.

Beberapa kepalsuan yang nyata jelas terlihat di antaranya, Pertama; Kitab Mandiyatul Badiyah bukanlah karya Abddurrauf Syiah Kuala, sebab judul yang umum "Mawa'idul Badi'ah" (Petuah-petuah berharga) yang membahas seputar hadist Nabi dan tasawuf . Sejauh ini, Abddurrauf Syiah Kuala tidak pernah mengarang kitab dengan judul tersebut. Penelusuran dan penelitian saya pribadi, peneliti local, nasional bahkan internasional tidak pernah menyentil judul ini.



Kekeliruan kedua disebutkan “ramalan Syiah Kuala yang wafat pada tahun 1699 H ini memberikan gambaran tentang perjalanan Negeri Aceh (Bilad al-Asyi) dulu dan masa mendatang” adalah kekeliruan luar biasa. Pada hakikatnya, Syiah Kuala meninggal 1693 M, sedangkan tahun 1699 adalah meninggalnya (turun tahta) Sultanah Zainatuddin Kamalat Syah (Sultan perempuan ke-4 di Kesultanan Aceh). Sehingga tahun ramalan jauh setelah Abdurrauf Syiah Kuala meninggal.

Dusta yang ketiga adalah menghubungkan ramalan dengan sejarah Aceh yang tidak linier, bahkan mengada-ngada. Seperti wasiat Nabi Khidir untuk Sultan Iskandar Muda (1606-1637) dan Abdurrauf Syiah Kuala (1661-1693). Keduanya berbeda periode dan tidak saling jumpa, sehingga tidak mungkin mewasiatkan satu sama lainnya tentang ramalan tersebut.

Poin paling penting adalah sisi kajian filologis dan kodikologis, selembar kertas (di Aceh dikenal arakate atau sarakata) tidak disebut kitab. Struktur kitab tidak memenuhi manuskrip secara umum yang ditulis oleh Syekh Abddurauf terdiri dari pembukaan, selawat, sebab, nasab, judul dan isi. Sedangkan sisi paleo-kodikologis menunjukkan teks tulisan periode modern, sebab itulah ditulis "dinukilkan dari pada Syekh Abdurrauf Fansuri (Syiah Kuala)" bahwa kata Syiah Kuala hadir pada tahun 1960an. Sedangkan ukuran kertas jauh dari ukuran normal kertas naskah kuno umumnya.  

Alasan selanjutnya bahwa, Syiah Kuala sendiri menentang ramalan-ramalan yang bersifat mistis dan tidak sesuai dengan syariat. Hal tersebut diungkap dalam kitabnya tentang sakaratul maut. Pada saat itu, ia menentang tentang paganism dan sinkritisme di masyarakat Aceh di saat seseorang meninggal akan bercahaya dengan warna (aura) sesuai perilaku seseorang.

Oleh karena itu, perihal tersebut menunjukkan AQM telah bersembunyi dalam selimut kepalsuan dan mengatasnamakan ulama besar Aceh untuk kepentingan politik praktis dan untuk pribadinya saja. Kejahatan ini harus ditindak oleh lembaga  pemerintah terkait keagamaan di Aceh seperti Dinas Syariat Islam (SI), Majelis Permusyawaratan Aceh (MPU), ataupun seperti Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA) supaya tidak terus berkembang ramalan hoax dan telah mencatut nama ulama Aceh untuk kepentingan tertentu. []

Mandiyatul Badiyah Manuskrip Hoax

Read More

Copyright © 2015 Herman Khan | Portal Manuskrip Aceh dan Malay | Distributed By Blogger Template | Designed By Blogger Templates
Scroll To Top