Monday, May 07, 2018

NEW
"Wa kāna al-farāgh min taswīd hādhā al-qirtas fī syahr Jumādi al-Akhir fī Lailati al-Khamis fi Ziwāyah Lamkruet [Lam Kruet], wa hiya maqām syaikhunā Ahmad Lampu'uk, radhiya 'anhu. Wa shāhibuhu wa kātibuhu Muhammad Sa'id at-Tiro'i baladuhu wa baituhu"

Begitulah kira-kira isi catatan terakhir dalam sebuah kitab agama yang ditulis oleh Muhammad Sa'id Tiro saat berada di zawiyah (pondok/pesantren) Lam Kruet.

Tidak ada informasi lebih jauh biografi pemilik sekaligus penulis kitab tersebut, Muhammad Sa'id asal Tiro. Tiro di Pidie merupakan sentral perkembangan tarekat pada abad ke-18 M dan pusat pertahanan Kesultanan Aceh satu periode berikutnya.

Demikian juga tidak banyak informasi tentang sosok Syaikh Ahmad Lampu'uk, kecuali disimpulkan bahwa beliau berasal dari Lampu'uk, Aceh Besar. Lampu'uk yang hari ini terkenal sebagai tempat wisata pantai laut yang indah, dan sekaligus wilayah terparah saat gempa-tsunami Aceh 2004 menimpa.



Fokus utama lainnya adalah, Ziwayah atau zawiyah Lam Kruet. Salah satu tempat utama (sentral) pendidikan berasrama di wilayah Lhok Nga (red. Lhoknga). Dalam amatan saya, Zawiyah Lam Kruet menjadi pusat kegiatan keagamaan dan pendidikan, saban seperti Zawiyah Tanoh Abee dan Zawiyah Awee Geutah. Alasan utamanya adalah, Muhammad Sa'id asal Tiro Pidie menuntut ilmu dan menyelesaikan kitabnya di Lhoknga Aceh Besar.

Zawiyah memiliki kekhususan dan karakter tersendiri, berbeda dengan Dayah, Meunasah dan Balee Beut (Balai Pengajian). Peran ziwayah pun dikemudian hari tergulung oleh kolonialisme Belanda, yang menghapus peranan zawiyah dan menghentikan aktifitas keagamaan di Aceh periode tersebut.

Kolonial Belanda bukan satu-satunya pemain periode tersebut. Para aristokrat Aceh ketika itu juga ikut menghancurkan lembaga pendidikan tersebut. Atas dalil tak mampu bersaing dengan modernitas dan globalisasi. Salah satunya, memasukkan anak-anak untuk bisa baca tulis aksara Latin dan menanggalkan tulisan Jawi, mewajibkan bacaan buku Belanda dan meninggalkan bacaan buku agama dalam bahasa Arab dan Jawi.

Alhasil, buktinya saat ini, tidak banyak kita ketahui nama-nama zawiyah serta tempatnya di Aceh, sebagai tempat pusat pendidikan agama dan mentalitas orang Aceh, pembinaan akhlak dan karakter orang Aceh, sekaligus sentral pengetahuan dan pembentukan pemikiran orang Aceh terhadap agama, bangsa dan negaranya.

Ziwayah Lam Kruet terkenal sebagai area domisili Syaikh Ahmad Lam Pu'uk, tokoh agama setempat yang dihormati. Penyebutan tenpat pendidikan menunjukkan wilayah tertentu, yang kadang kala tetap dipertahankan pada periode tertentu, misalnya Zawiyah Menara (red. Meunara) yang merupakan lembaga pendidikan Syaikh Abdurrauf al-Jawi al-Fansuri atau disebut juga Syiah Kuala, tokoh utama pengembang tarekat Syattariyah di Nusantara, penasehat Kesultanan Aceh, dan ulama terkemuka.

Baca juga: Zawiyah Menara: Pustaka Ulama di Banda Aceh

Namun, itu bukan standar baku penggunaannya di dalam masyarakat, sebagian lainnya  menggunakan nama daerah atau gampong sebagai bagian dari lembaga pendidikan, misalkan Zawiyah Tanoh Abee, Zawiyah Lampeune'eun, ataupun Zawiyah Awee Geutah, dan sebagainya.

Catatan sampul kitab "Asrar as-Suluk" oleh Teungku Muhammad Dahlan al-Fairusy al-Baghdadi
Nazir Zawiyah Tanoh Abee.


Namun demikian, peranan zawiyah -dalam persepsi saya- lebih besar dari sebuah lembaga dayah, institusi yang sama-sama bergelut dalam dunia pendidikan keagamaan dan kemasyarakatan. Akan tetapi jenjang-jenjang pendidikan memiliki perbedaan satu dengan lainnya, baikt tingkat pelajaran, kurikulum maupun sistem. Perbedaan-perbedaan tersebut telahpun disinggung oleh Prof. Ali Hasjmy (alm) dan Prof. Hasbi Amiruddin.

Dalam catatan historis,  zawiyah terus berkurang dan lenyap di Aceh. Sebaliknya dayah terus bertahan dan berkembang di beberapa wilayah, walaupun perannya terus menurun. Faktor lenyapnya ziwayah inilah yang perlu terus dikaji, bahkan pada era kemerdekaan Indonesia, tidak ada catatan satupun berapa jumlah zawiyah di Aceh, sistem pendidikan, kurikulum, metode hingga kitab apasaja digunakan.

Setali tiga uang, dayah-dayah di Aceh yang disebut masih ada, pun terus mengalami penurunan dari  peran dan ruang yang sesungguhnya. Lembaga yang mengembangkan baca tulis Arab-Jawi mulai lenyap, beralih ke dunia lain sebab mereka tidak mendapat peran dan ruang di berbagai tempat, mereka dikungkung, diasingkan oleh media dan pemerintahnya sendiri. Padahal daerah-daerah lain di Indonesia terus menghidupkan tulisan lokal (etnis) nya seperti Jawa, Batak, Bugis dan lainnya.

Ruang-ruang untuk berkarya seperti dilakukan oleh Tgk Sa'id Tiro dan Tgk Dahlan Tanoh Abee tidak ada lagi (halusnya semakin berkurang). Kongkretnya, sebut saja mana zawiyah dan dayah di Aceh yang masih eksis mengembangkan penulisan Arab-Jawi?. Dan lucunya, Pemerintah Aceh yang berperan dalam hal itu ikut andil menguburkannya. []



Ziwayah Lam Kruet dalam Rekaman Sa'id Tiro

Read More

Monday, February 19, 2018

Selain manuskrip (naskah klasik) karya Nuruddin Ar-Raniry berjudul Shirat al-Mustaqim berkaitan dengan fiqih ibadah, seperti membahas persoalan thaharah (bersuci), shalat, puasa, zakat dan haji, dan segala persoalan yang terjadi di setiap bagian.

Karya lainnya -telah dikupas sebelumnya- adalah karya Abdurrauf al-Jawi al-Fansuri berjudul Tarjuman al-Mustafid sebagai kitab tafsir berbahasa Melayu (Indonesia) pertama di Dunia. Karya dan sumber penafsirannya  merujuk kepada beberapa kitab ulama tafsir mu'tabarah, seperti Tafsir al-Bawdhawi.

Adalah manuskrip tentang Hadist yang juga disinggung oleh Ust. Abdus Somad. Hal tersebut begitu penting sebagaimana disebut dalam ceramahnya di Banda Aceh. Kitab Hadist Arba'in (Hadist Empat Puluh) sebuah naskah yang dicari-cari oleh beliau. Hadist Arba'in adalah kitab hadist yang memuat  40 pilihan Hadist Nabi Muhammad, berkaitan dalam beragam hal dan persoalan. Temanya juga beragam.

Banyak riwayat menyebutkan keutamaan menghafal dan mempelajari kitab Hadist Arba'in. Dalam catatan para ulama, beberapa Hadist Nabi mengisyaratkan akan keutamaan Hadist Arba'in, walaupun riwayat-riwayat tersebut dikategorikan Hadist Dhaif, dan ada juga yang Hasan.  Imam al-Nawawi dalam mukaddimah kitabnya al-Arba'in al-Nawawi menyebutkan bahwa setiap orang yang menghapal 40 Hadist dari perkara agamanya, maka dia akan dikelompokkan ke golongan para fuqaha (ahli fiqih) dan para ulama.

Baca juga; Manuskrip Incaran Ust Abdus Somad (1)

Ternyata, hasil penelusuran saya tentang Hadist Arba'in di Aceh-Nusantara cukup beragam. Beberapa teks tersebut menunjukkan perbedaan konten Hadist, isi bahasan dan pendahuluannya. Variasi kandungan tersebut menunjukkan keluasan pengetahuan dan keberagaman pemahaman dalam penyampaian ilmu Hadist oleh ulama-ulama dan Ahli Hadist terdahulu.

Varian konten tersebut dapat diasumsikan sebagai sumber rujukan hadist dari ulama yang berbeda, dan juga diakibatkan kondisi dan situasi saat penulisan ataupun penyalinan teks. Tentu ada beberapa faktor lainnya yang melatar belakangi lahirnya teks yang berbeda tersebut.

Akan tetapi, Hadist Arba'in di Aceh -dan kemungkinan di Nusantara- paling banyak merujuk pada versi berikut ini.

Salah satu Hadist Arba'in yang menjadi kajian ulama Aceh dan Nusantara adalah manuskrip Hadist Arba'in koleksi Museum Aceh nomor 07.0578, yang ditulis atau disalin dalam bentuk terjemahan berbaris. Matan teks dalam bahasa Arab dan terjemahan miring dalam aksara Jawi berbahasa Melayu/Indonesia.
Gb. 01 Halaman awal teks Hadist Arba'in. Ms. 07.578 Koleksi Museum Aceh
Teks naskah Ms. 07.0578 dimulai bahasan Hadist pertama dengan "Ash-Shalat 'imād ad-dīn..." dengan terjemahan dibawahnya "Sembahyang itu tiang agama..." Sebagaimana Gb. 02 di bawah ini

Gb. 02 Halaman dua teks Hadist Arba'in. Ms. 07.578 Koleksi Museum Aceh.

Baca juga: Manuskrip Incaran Ust. Abdus Somad (2)

Hadist yang sama juga terdapat pada naskah lainnya koleksi masyarakat di Aceh Besar. Namun sayang, naskah ini telah dijual ke luar Aceh. Saya sempat mengabadikan beberapa halaman pada tahun 2016.

 Gb. 03. Halaman awal teks Hadist Arba'in. Ms Koleksi Pribadi Masyarakat.
Hadist Arba'in  ini juga koleksi Museum Aceh di Banda Aceh, nomor aktuil 07.1197. Sebagaimana teks di atas tentang sistem penulisan matan dan terjemahannya, maka pada teks ini juga ditemukan yang sama. Matan teks ditulis di baris atas dengan font lebih besar, sedangkan terjemahan ditulis di bawah teks mata dengan posisi miring.

Naskah lainnya di koleksi yang sama dengan nomor 07.1223 juga memiliki teks yang sama dengan versi  di atas. Walaupun teks ini disalin dengan kurang baik tetapi juga memiliki terjemahan berbaris.

Gb. 04. Halaman dua teks Hadist Arba'in. Ms. 07.1223 Koleksi Museum Aceh.

Masih banyak manuskrip Hadist Arba'in khususnya yang belum dikupas, di koleksi Museum Aceh saja tak kuran dari 10 naskah Hadist Arba'in. Hal tersebut tentu belum ditelusuri di koleksi masyarakat dan lembaga perseorangan, misalnya Yayasan Ali Hasjmy dan Zawiyah Tanoh Abee.

Sebalik itu, ilmu Hadist dan kajian Hadist masih kurang populer di Aceh bila dibandingkan dengan kajian ilmu fiqih dan tasawuf. Hal tersebut jelas terlihat dari jumlah kuantitas khazanah yang tersebar saat ini. Namun, hal tersebut bukan berarti kajian Hadist terabaikan, akan tetapi kadangkala terintegrasi dalam kajian-kajian lainnya. Sebab jika melihat tradisi terjemahan berbaris pada naskah-naskah di atas, maka tradisi penulisan (pengajaran) dan transmisi keilmuan Hadist pernah berkembang di Aceh. Wallahu a'lam.

Manuskrip Incaran Ust. Abdus Somad (Final)

Read More

Wednesday, January 03, 2018

Manuskrip ataupun kitab kedua yang menjadi pembahasan Ust. Abdus Somad saat "Zikir International" di Banda Aceh adalah Shirat al-Mustaqim. Kitab fiqih 'ubudiyah pertama dalam bahasa Jawi adalah karya Shaykh Nuruddin bin Ali Hasanji Ar-Raniry. Sesuai dengan nisbahnya, ia berasal dari Ranir, India. Pada tahun 1637, ia tiba dan berkiprah di Kesultanan Aceh Darussalam.
Halaman Pertama Kitab Shirat al-Mustaqim karya Nuruddin Ar-Raniry (Koleksi Museum Aceh)
Beberapa penelitian menyebutkan kitab Shirat al-Mustaqim telah ditulis pada saat Nuruddin Ar-Raniry tiba di Aceh era Sultan Iskandar Tsani, namun baru diselesaikan pada Sultanah Safiyatuddin Syah Tajul Alam (1641-1675) sebelum Nuruddin Ar-Raniry kembali ke India.

Dalam salah satu teks Shirat al-Mustaqim menyebutkan  selesainya penulisan pada hari Selasa 19 Safar  1054 H bertepatan dengan 9 November 1644.

Judul Naskah "Shirat al-Mustaqim" merupakan bagian dari iftitah al-Quran. 
Itu artinya, tahun tersebut merupakan tahun terakhir Nuruddin Ar-Raniry di Aceh, karena di tahun yang sama, ia kembali ke India dan tak pernah kembali lagi ke Aceh, tanah yang menempatkannya di posisi srategis dan telah melahirkan banyak karya disini.

Memang, ulama asal India ini masih kontroversi. Namun demikian, karya-karyanya sangat bermanfaat dan masih menjadi referensi hingga hari ini. Termasuk Shirat al-Mustaqim yang menjadi salah satu rujukan bagi ulama-ulama di Nusantara. Bahkan kitab ini menjadi pedoman untuk kerajaan-kerajaan Islam di luar Nusantara (sekarang: Indonesia), seperti di Malaysia, Thailand Selatan, Filipina, Brunai Darussalam dan lainnya.

Dalam ceramah Ust. Abdus Somad, ia menyampaikan bahwa Kitab Shirat al-Mustaqim menjadi rujukan utama atas lahirnya kitab Sabil al-Muhtadin lit-Tafaqquh fi Amri ad-Din (Sabilal Muhtadin) yang menjadi bacaan wajib di dayah-dayah di Aceh. Kitab tersebut karya Shaykh Muhammad Arsyad al-Banjari seabad setelah meninggal Nuruddin Ar-Raniry di India.

Baca juga: Manuskrip Incaran Ust. Abdus Somad (1)

Shirat al-Mustaqim salah satu bagian sumber rujukan ataupun pedoman yang digunakan oleh Shaykh Arsyad al-Banjari dalam kitabnya. Di pembukaan kitabnya disebutkan:
Kitab Sabilal Muhtadin merujuk pada Kitab Shirat al-Mustaqim (Koleksi Museum Aceh)

"Adapun kemudian daripada itu, maka berkata seorang faqir yang sangat berkehendak kepada Tuhannya yang Maha Besar yang mengaku ia dengan dosa dan taqsir yaitu, Muhammad Arsyad anak Abdullah dalam daerah negeri Banjar. Mudah-mudahan kiranya mengampuni baginya dan bagi sekalian Islam Tuhannya yang menjadikan sekalian Alam. Bahwasanya kitab seorang alim yang lebih yaitu Shayk Nuruddin Ar-Raniry nama negerinya, yang dinamai ia Shirat al-Mustaqim pada ilmu fiqih atas madhab Imam Syafi'i radhiya Allah Ta'ala 'anhu, daripada sebaik-baik kitan yang dibahasakan dengan bahasa Jawi, karena bahwasanya segala masalahnya diambil ia dari beberapa kitab fiqih yang berbilang istimewa pula." (Sabil al-Muhtadin lit-Tafaqquh fi Amri ad-Din)

Kitab fiqih Shirat al-Mustaqim karya Nuruddin Ar-Raniry menjadi inspirasi untuk Shaykh Muhammad Arsyad al-Banjari dalam mengarang kitab Sabil al-Muhtadin yang juga menelaah tentang fiqih. Selain kekagumannya terhadap manfaat dari kitab Shirat al-Mustaqim pada periode Nuruddin ar-Raniry dan satu abad berikutnya di periode Muhammad Arsyad al-Banjari (1710-1812).
Judul Kitab Sabilal Muhtadin Lit-Tafaqquh fi Amr ad-Din karya Muhammad Arsyad al-Banjari


Selain itu, Muhammad Arsyad al-Banjari juga menyebutkan beberapa alasan lainnya terhadap  penulisan kitabnya. Dalam pandangan Shaykh Muhammad Arsyad al-Banjari bahwa tidak ada lagi naskah (kitab) orisinil karya tangan Nuruddin Ar-Raniry, sehingga mengakibatkan terjadi beberapa perbedaan pada kitab-kitab salinan.

Alasan lainnya, Kitab Shirat al-Mustaqim karya Nuruddin Ar-Raniry telah disisipi beberapa kosakata bahasa Aceh, sehingga tidak dapat dipahami oleh pelajar non-Aceh. Istilah-istilah tersebut semakin banyak ditemukan pada naskah-naskah salinan yang tersebar.
Salah satu halaman salinan naskah  "Shirat al-Mustaqim" yang dipenuhi catatan-catatan (hasyiah) (Koleksi Museum Aceh)

Parateks (salah satu bagian dari ilmu Filologi)  jadi catatan menarik dan penting bagi para peneliti naskah, sebab goresan tambahan tersebut sangat penting untuk memahami konteks dan situasi saat itu. Sering kali, teks yang sama judul dan pengarang belum tentu sama kualitas naskah diakibatkan beda penyalin. Kadang, satu naskah memiliki catatan-catatan pinggiran, sedangkan yang lain tidak sama sekali. Disinilah keunikan mengkaji naskah atau manuskrip. 

Jika ditinjau kandungannya, kitab ini membahas pokok-pokok ibadah yang terdapat dalam Rukun Islam, mulai shalat dan bahasan terkait lainnya (wudhu', tayammum, dan lainnya), juga mengkaji tentang puasa, zakat. dan haji. Walaupun pembahasannya dasar-dasar peribadatan dan keagamaan, namun ia merujuk kepada kitab-kitab muktabar dari para ulama-ulama besar di Jazirah Arab.  

Kitab Sirat al-Mustaqim merujuk kepada kitab-kitab berikut ini:
1. Kitab Minhaj al-Thalibin karya Imam Nawawi. Ulama tersohor ini bernama lahir di kampung Nawa, Syiri 631 H /1233 M dan meninggal  di wilayah yang sama tahun 676 H / 1277.

2. Kitab Manhaj al-Thullab karya Abi Zakariyya Anshari. Kitab penting dalam meninterpretasi (syarah) kitab tersebut di atas, Minhaj al-Talibin. Ulama ini bernama lengkap Zakariya ibn Muhammad ibn Abn ibn Zakariyya, lahir di Sanika- Mesir tahun 823 H/ 1420 M.

3. Kitab Fath al-Wahhab adalah kitab komentar terhadap Manhaj al-Thullab merupakan pengarang yang sama, Imam Abi Zakariyya Yahya Ansari.

4. Kitab Hidayat al-Muhtaj Sharh ila Mukhtasar Ibn Hajj karya Imam Shihab ad-Din Ahmad Shaykh Ibn Hajar Makki (909-974 H/ 1504-1567). Dia adalah salah seorang alim yang bermazhab Syafi'i di Mesir, dan kemudian wafat di Mekkah.

5. Kitab al-Anwar li-'Amal al-Abrar karya Imam Ardabili, Yusuf Ibrahim, Jamaluddin Ardabili dari Azerbaijan, meninggal 799 H/ 1397

6. Kitab 'Umdat as-Salik wa 'Uddat an-Nasik karya Imam Ahmad ibn an-Naqib al-Misri (meninggal 769 H/ 1368). Lahir di Kairo Mesir 702 H.

Kitab Sirat al-Mustaqim dapat disebut salah satu kitab terkenal dan menyebar secara luas di Asia Tenggara, terutama daerah-daerah yang memiliki kerajaan Islam. Hal tersebut tidak terlepas dari kebijakan Kesultanan Aceh (red. Pemerintah) dalam menyebarluaskan karyanya tersebut.

Dukungan Kerajaan Aceh, khususnya peran dari Sultanah Safiyatuddin Syah Tajul Alam yang memberikan dukungan penuh untuk penyelesaian kitab fiqih berbahasa Melayu perdanan di Melayu Nusantara telah menempatkan posisi Aceh di puncak keselarasan. Peran pemerintah dalam legalitas pemerintahan yang baik, memberikan dukungan dan fasilitas lainnya kepada ulama untuk melahirkan satu karya yang fenomenal.

Saat ini, kitab Shirat al-Mustaqim dapat dijumpai di banyak tempat koleksi manuskrip di Aceh, baik pribadi ataupun lembaga. Koleksi Museum Aceh dapat ditelusuri nomor Inv. 07.0219, No. 07.1199, No. 07.670, No. 07.878, No. 07.532, No. 07.953, No. 07.793 dan No. 929. Sedangkan di Ali Hasjmy No. 134/FK/6/YPAH/2005, 211/FK/5/YPAH/2005 dan 160/FK/4/YPAH/2005.

Sedangkan Kitab Sabilal Muhtadin juga dapat dijumpai di Museum Aceh berjumlah 4 manuskrip dengan Nomor Inv. 07.001, No. 07.463, No. 07.464 dan 07.905.

Selain kedua lembaga di atas, Zawiyah Tanoh Abee Aceh Besar juga banyak mengoleksi kedua kitab tersebut. Tentunya juga dikoleksi pribadi di masyarakat Aceh. Namun sayang, tidak ada data inventarisasi naskah-naskah di koleksi pribadi seluruhnya Aceh, termasuk di Pemerintah Aceh.




Referensi dari berbagai sumber jurnal, media cetak dan online serta manuskrip



Manuskrip Incaran Ust. Abdus Somad (2)

Read More

Monday, January 01, 2018

Selasa, 26 Desember 2017 merupakan hari bersejarah bagi Aceh dan bagi Ust. Abdus Somad. Pada hari tersebut tokoh fenomenal alumni Mesir dan Maroko tersebut hadir ke Aceh untuk menyampaikan tausiyah pada acara “Zikir Internasional” dalam rangka memperingati 13 tahun gempa-tsunami Aceh 2004. Acara tersebut dihadiri puluhan ribu jamaah.

Selain itu, momen yang tidak terlupakan juga bagi Ust. Abdus Somad, adalah sehari sebelumnya ia dideportasi oleh otoritas imigrasi Hongkong. Karena itulah, hikmah dan obat hati dari kejadian tersebutlah membawanya ke negeri Serambi Mekkah  di ujung Pulau Sumatera, wilayah yang menjadi salah satu sumber ilmu dan inspirasi baginya.

Ust. Abdus Somad menyampaikan tausiyah lebih dari satu jam, bahasannya berbagai topik, antaranya persoalan ummat di zaman sekarang, Syariat Islam, ukhuwah Islamiyyah, antisipasi LGBT, etika bermazhab, hingga khazanah keilmuan ulama-ulama di Aceh.

Khazanah keilmuan yang ia sebutkan terkait ulama Aceh yang produktif mengarang atau menulis kitab. Peran para ulama Aceh telah mencerdaskan masyarakat tidak hanya di Aceh, tapi juga Melayu-Nusantara hingga sekarang. Para ulama-ulama ini telah berhasil membangunkan khazanah keilmuan dengan karyanya yang menjadi rujukan berabad-abad.

Memang, kekaguman Ust. Abdus Somad terhadap karya ulama Aceh tersebut sering disampaikan dalam beberapa ceramahnya dalam konten bahasan tentang Aceh. Bahkan ia pun penasaran dengan beberapa manuskrip yang belum dijumpainya dan dilihat isinya. Namun demikian, pengetahuan tentang ulama-ulama Aceh dan karya-karyanya, dalam pandangan saya, cukup mumpuni dan sangat baik. Sebab, jarang tokoh dan alim terkenal di Indonesia yang menyampaikan rujukan-rujukan kitab ulama sendiri.

Dan, syukurlah manuskrip-manuskrip yang disebutkan masih tersimpan di beberapa koleksi pribadi dan lembaga di Aceh, salah satunya di koleksi Museum Negeri Aceh Banda Aceh.

Antara tokoh dan kitab yang disebutkan oleh Ust. Abdus Somad adalah: Pertama, Syaikh Abdurrauf al-Jawi al-Fansuri yang mengarang kitab tafsir pertama dalam Bahasa Jawi/Melayu, Tarjuman al-Mustafid.

Biografi Singkat ‘Abdurrauf al-Fansuri 
Nama lengkap pengarang kitab Tarjuman al-Mustafid adalah ‘Abdurrauf bin ‘Ali al-Jawi al-Fansuri, sebagaimana sering ia sebutkan dalam kitab-kitabnya, tanpa as-Singkili.  Tidak ada sumber yang secara jelas menyebutkan tanggal kelahirannya, namun menurut DA. Rinkes5 sebagaimana yang dikutip oleh Azyumardi Azra, ‘Abdurrauf dilahirkan sekitar tahun 1024 H/1615 M. Ia meninggal dunia pada tahun 1105 H/1693 M, dengan usia 78 tahun dan dimakamkan di gampong Kuala Aceh, Lamdingin, di Banda Aceh.

‘Abdurrauf menuntut ilmu di Jazirah Arab selama 19 tahun, ia kembali ke Aceh sekitar tahun 1661 M. Ia aktif mengembangkan ajaran tarekat tasawuf Syattariyah dan menulis atau mengarang kitab multidisiplin ilmu. Hingga saat ini telah teridentifikasi karya mencapai 40 judul kitab. Termasuk kitab Tafsir yang dikarangnya pada masa Sultanah Safiyatuddin Syah (berkuasa 1644-23 Oktober 1675 M).


Kitab Tafsir Melayu Pertama 
Tafsir Tarjuman Al-Mustafid merupakan tafsir pertama berbahasa Melayu yang ditulis lengkap tiga puluh juz. Bahasa Melayu dan aksara Jawi sangat identik dengan Islam karena memang hubungan Melayu dengan Islam sudah terjadi sejak eksis kerajaan Pasee di Aceh menyebar ke wilayah Melayu Nusantara. Kerajaan Samudera Pasee adalah kerajaan pertama yang melegalkan dan mengasas aksara Jawi yang didasari pada tulisan Arab.

Selama lebih daripada tiga abad ia dikenali sebagai terjemahan Tafsir al-Baydhawi. Kitab ini tersebar di pelosok negeri Melayu-Nusantara (Indonesia) sebagai Terjemahan Tafsir al-Baydhawi. Beberapa cetakan yang ada turut menggunakan judul tersebut "at-Tarjamah al-Jawiyyah Lit-Tafsir al-Musamma Anwar al-Tanzil wa Asrar at-Ta'wil lil-Imam al-Qadi al-Baydhawi" atau dikenal dengan istilah "Tafsir al-Baydhawi" dalam bahasa Melayu.
Kitab Cetakan "Tarjuman al-Mustafid" yang menyebutkan terjemahan dari Tafsir "al-Baydhawi"
Cetakan Mustafa al-Bab al-Halabi, Mesir 1370 H/1951 M.

Namun demikian, beberapa peneliti menyebutkan bahwa Kitab Tarjuman al-Mustafid melebihi atau terdapat unsur dan teknik yang berbeda dalam Tafsir Baidhawi, sehingga tidak dapat disebut ia kutipan lansung seluruhnya dari al-Baydhawi.

Kitab Tarjuman al-Mustafid tidak hanya dikenal di tanah Melayu Nusantara, akan tetapi juga dikenal hingga ke Turki, Mesir, Mekah, dan beberapa negara lainnya. Persebaran “santri” yang menuntut ilmu di berbagai wilayah menjadikan kitab tersebut sebagai salah satu rujukannya. Bahkan, ia terus menjadi rujukan hingga ke hari ini, khususnya bagi peneliti dan para al-mufassirin. Dengan demikian, kitab ini menjadi tafsir al-Quran yang lengkap digunakan hampir tiga abad sebelum lahirnya kitab-kitab tafsir yang lain.

Beberapa catatan peneliti menyebutkan bahwa cetakan pertama Kitab Tarjuman al-Mustafid saat Syeikh Muhammad Zain al-Fatani membawa manuskrip Tarjuman al-Mustafid ke Turki dan ditunjukkan kepada sultan Turki. Sang Sultan tertarik dengan karya besar dan penting tersebut, hingga akhirnya dicetak di Istanbul. Ini merupakan cetakan pertama oleh Matba’ah al-Utmaniyyah pada tahun 1302H/1884M dan 1324H/1906M.

Kemudian Kitab Tarjuman al-Mustafid  dicetak di Qahirah oleh Matba’ah Sulayman al-Maraghi, Maktabah al-Amiriyyah di Mekah, Bombay (India), Singapura, Jakarta dan Pulau Pinang. Edisi terakhir ialah cetakan Jakarta pada tahun 1981.

Saat ini, beberapa manuskrip atau tulisan tangan kitab Tarjuman al-Mustafid masih dapat dijumpai dibeberapa koleksi di Aceh, terutama di Museum Aceh dengan nomor inventarisir 07.0269, 07.351, 07.420, dan 07.441.  Selain itu, koleksi Museum Ali Hasjmy Banda Aceh dengan nomor 1/TF/5/YPAH/2005.


Bersambung: Manuskrip Incaran Ust. Abdus Somad (2)


Dikutip dari berbagai sumber.

Manuskrip Incaran Ust. Abdus Somad (1)

Read More

Sunday, December 31, 2017

Sultan Iskandar Muda yang berkuasa pada 1607-1636, adalah sultan termashyur dan termegah selama Kesultanan Aceh berdaulat (1496 – 1903).

Namanya terukir hingga ke Eropa, melampaui zamannya.

Di wilayah Asia dan Timur Tengah, periode Sultan Iskandar Muda dikenal sebagai penguasa Selat Malaka dan laut sekitarnya.

Ia melanjutkan agresor ayah dan kakeknya dalam mempertahankan eksistensi Kesultanan Islam di Melayu-Nusantara dari tangan-tangan penjajah Eropa.

Pada saat itu, Portugis adalah salah satu musuh besar bagi Kerajaan Aceh.

Sejak 5 April 1607, Iskandar Muda resmi memangku posisi sebagai Sultan menggantikan saudaranya Sultan Ali yang meninggal sehari sebelumnya.

Keterlibatannya dalam Kesultanan Aceh bukan pertama kali.

Pada tahun 1606 ia sudah terlibat langsung dalam perang menyerang Portugis di Selat Malaka, karenanya kemudian ia terkenal Perkasa Alam dengan kapal laut terkenalnya.

Pengalamannya di laut Aceh dan semenanjung Melayu telah menjadi pelajaran penting dalam menangkal berbagai serangan asing, yang terjadi selama beliau menjabat sebagai Sultan Kerajaan Aceh.

Terutama penempatan pasukan militer laut, kapal-kapal perang, strategi perang, dan jaringan hubungan internasional.

Kapal laut satu-satunya alat media perang paling canggih yang dilengkapi beragam meriam, sebab pada saat itu belum tersedia tank ataupun pesawat tempur.


Hikayat Malem Dagang

Hikayat Malem Dagang, sebagian berpendapat sama dengan Hikayat Meukuta Alam, adalah sebuah hikayat yang berisi catatan perjalanan Sultan Iskandar Muda, merebut kembali Malaka dari Portugis.

Hikayat Malem Dagang ini ditulis oleh Tgk Chik Pante Geulima, untuk membangkitkan semangat orang Aceh dalam berperang melawan Belanda.

Dalam hikayat ini, Tgk Chik Pante Geulima menulis tentang beberapa kapal perang yang dimiliki Kerajaan Aceh di bawah pimpinan Sultan Iskandar Muda.

Sebagaimana tradisi hikayat-hikayat Aceh lainnya, bahwa hikayat merupakan salah satu tradisi lisan atau tradisi tutur yang hidup dan kental di masyarakat. Para "penghikayat" yang cukup handal dan mampu menghapal alur cerita akan tampil dengan baik dalam berhikayat, baik alur cerita, irama, hingga intonasi dalam hikayat.

Kapal-kapal ini digunakan untuk tujuan pelayaran, perdagangan, perang, diplomasi, dan keperluan investasi.

Dari beberapa kapal laut yang dimiliki Kerajaan Aceh, yang paling sering digunakan oleh Sultan Iskandar Muda adalah kapal bernama Cakra Donya.

Kapal Cakra Donya ini memiliki catatan khusus dalam memori para prajurit angkatan laut Portugis.

Espando del Munto 

Sejarawan Spanyol, Manuel Faria Y Sousa (1590 – 1649) dalam bukunya “Asia Portuguesa” yang diterbitkan di Lisboa (1666-1675) menulis, setiap kali melihat kapal ini, para prajurit angkatan laut Portugis berteriak “Espanto del Mundo” (teror dunia).

Manuel Faria Y Sousa juga mendeskripsikan kehebatan kapal perang milik Kerajaan Aceh ini.

Menurutnya, kapal ini memiliki panjang hingga 200 jengkal (kira-kira 100 meter), mempunyai tiga tiang, dan dilengkapi 100 meriam di sisi kanan dan kiri.

Faria Y Sousa pun menggambarkan rasa takjubnya, “tidak sia-sialah kapal itu diberi nama ‘teror dunia’. Betapa hebatnya, betapa kuatnya, betapa indahnya, betapa kayanya. Meskipun mata lelah karena sering terheran melihat benda-benda indah, kami semua terbelalak melihat yang ini (Kapal Cakra Donya-pen)”.

Catatan Manuel Faria Y Sousa tentang Kapal Cakra Donya ini ditulis kembali oleh Sejarawan Prancis, Denys Lombard dalam buku berjudul “Kerajaan Aceh” yang diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia tahun 1986.

Kembali ke Hikayat Malem Dagang, kapal Cakra Donya ini membawa tiga lonceng besar hadiah dari Dinasti Ming (sekitar 1469) kepada Kerajaan Pasai pada tahun keempat zaman Cheng Hua.

Salah satu dari tiga lonceng ini, kini dipajang di Komplek Museum Aceh, di Banda Aceh.

Memang, hubungan Pasai dengan beberapa kerajaan di luar “negeri bawah angin” cukup baik, termasuk Eropa, Turki, dan Arab.

Selain kapal Cakra Donya dengan kapasitas 800 orang dan dilengkapi beragam ukuran meriam, terdapat beberapa kapal lainnya yang digunakan untuk mengawal kapal induk, seperti Cakra Alam, Rijalul ‘Asyiqin, Nurul ‘Isyqi, Cari Lawan, dan Naga Kentara. (Profil kapal-kapal ini akan ditulis terpisah)

Kapal-kapal tersebut masih digunakan setelah Sultan Iskandar Muda mangkat tanggal 27 Desember 1636 di Kutaraja (sekarang Banda Aceh), terutama untuk menjaga kedaulatan Kerajaan Aceh dan Islam Melayu.

Hikayat Meukuta Alam tidak mendeskripsikan detail bentuk kapal, namun kehebatannya dalam menangani Portugis cukup menunjukkan besar dan hebatnya kapal tersebut.


Tulisan ini telah dipublish di Serambi Indonesia

Espanto del Mundo: Kapal Mahkota Alam Kesultanan Aceh

Read More

Tuesday, September 26, 2017

Pengadilan Jakarta Pusat, Kamis (24/8/2017) menggelar sidang lanjutan perkara gugatan Asrizal H Asnawi terhadap Bank Indonesia (BI) yang menerbitkan gambar pahlawan wanita asal Aceh, Cut Meutia tanpa penutup kepala di uang pecahan Rp 1.000.
Untuk diketahui, Asrizal H Asnawi yang menggugat gambar Cut Meutia pada uang kertas Rp 1.000, saat ini menjabat sebagai Anggota DPR Aceh, sekaligus Ketua Fraksi PAN DPRA.
Kuasa hukum penggugat, Safaruddin SH dalam pesan Whatapps kepada Serambinews.com mengatakan, sidang lanjutan dengan agenda pembuktian ini dimulai pada pukul 14.30 WIB. Dengan majelis hakim, Tafsir Sembiring Meliala SH MH (ketua), Abdul Kohar SH MH, dan Desbenneri Sinaga SH MH.
Safaruddin yang mendampingi Asrizal H Asnawi dalam persidangan tersebut mengatakan pihaknya mengajukan sejumlah bukti untuk memperkuat alasan menggugat.
1. Catatan Ahli Sejarah Aceh, Hermansyah dengan judul: Peuteupat (meluruskan) Sumber Sejarah Pahlawan, yang mengkaji tentang foto Cut Meutia yang digunakan oleh Bank Indonesia dalam uang pecahan Rp1000,-.
Foto perempuan Aceh, karya Christiaan Benjamin Nieuwenhuis (1901) yang diduga sebagai cikal bakal gambar Cut Meutia. (KITLV)
Dalam hal ini dapat merujuk kepada dua alternative/versi:
1. Foto versi lainnya Cut Mutia dalam buku resmi Belanda-Indonesia berjudul "Perang Kolonial Belanda di Aceh" (1977) (Gambar 113. Hal. 153) Pelukis: Gambiranom (antara tahun 1960-1970). Walaupun tidak wajah asli Cut Mutia, tetapi foto ini yang digunakan dalam buku tersebut resmi.
2. Versi kedua mereproduksi kembali sketsa Cut Mutia merujuk kepada foto cucu perempuannya.
Sketsa tersebut dapat dilakukan seperti gambar Pocut Meurah Biheue oleh Gambiranom di dalam buku yang sama (Gb. 107 hal. 147). Atau sketsa tokoh Tgk Chik Di Tiro atau Tgk Chik Abbas Kutakarang oleh Belanda.
Pihak penggugat juga mengajukan sederet bukti dokumen lainnya. Seperti, Bahagian Buku Aceh Bumi Srikandi yang diterbitkan oleh Pemerintah Aceh tahun 2008, yang menerangkan sosok Cut Meutia sebagai pahlawan Aceh.
Bahagian Buku: Aceh Tanah Rencong, yang diterbitkan oleh pemerintah Aceh tahun 2008, yang menerangkan sosok dan rekaan wajah Cut Meutia dengan memakai hijab.
Bahagian Buku: Ensiklopedi Aceh yang diterbitkan oleh Pemerintah Aceh tahun 2008, yang menerangkan tentang pakaian Cut Meutia pada masa itu. Serta referensi Gambar Cut Meutia dari berbagai sumber.
"Sidang akan dilanjutkan pada tanggal 7 September 2017 dengan agenda pemeriksaan saksi fakta dan saksi ahli dari penggugat," kata Safaruddin yang juga menjabat Ketua Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA).

Penggugat Uang Seribu Ajukan Sederet Bukti Ke Pengadilan

Read More

BANDA ACEH - Anggota DPD RI asal Aceh, Ghazali Abbas Adan meminta pihak Bank Indonesia (BI) dan pihak terkait lainnya mengganti gambar Cut Meutia yang tak berhijab di uang kertas pecahan Rp 1.000 tahun emisi 2016 dengan gambar Cut Meutia berhijab. Selain tidak sesuai fakta sejarah, gambar pahlawan perempuan Aceh tak berhijab di mata uang juga akan berpengaruh tak baik terhadap penegakan syariat Islam di Aceh.

Pandangan itu disampaikan Ghazali Abbas Adan saat memberikan kesaksiannya sebagai saksi fakta pada sidang lanjutan perkara gugatan untuk menghijabkan gambar Cut Meutia pada uang pecahan Rp 1.000 di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, Selasa (19/9). Perkara yang dikenal “gugatan uang seribu” ini diajukan Anggota DPRA Asrizal H Asnawi bersama pengacaranya dari Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA), Safaruddin SH.



“Gambar Cut Meutia di uang seribu harus diganti dengan yang berhijab. Karena seperti sudah disampaikan dua saksi ahli tadi, ada rujukan lukisan pihak kolonial Belanda yang melukis Cut Meutia memakai penutup kepala,” kata Ghazali Abbas Adan, seperti dikutip pengacara penggugat, Safaruddin SH, melalui pesan tertulis kepada Serambi kemarin.

Sidang kemarin dipimpin oleh Tafsir Meliala Sembiring. Di depan majelis hakim, Ghazali juga memaparkan bahwa berdasarkan cerita dan beberapa literatur yang dipaparkan dua saksi ahli yang dihadirkan pada sidang kemarin, Cut Meutia adalah pahlawan yang juga sosok ulama perempuan. Hal ini terbukti dengan penabalan namanya pada sejumlah masjid di Aceh, termasuk masjid bersejarah di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.

Ghazali mengatakan, dengan fakta-fakta tersebut sungguh tidak masuk akal jika seorang pahlawan yang berjuang di jalan Allah tidak memakai penutup kepala. Menjawab pertanyaan pengacara penggugat, Ghazali juga mengatakan sungguh tidak elok jika gambar Cut Meutia yang tidak berhijab itu ditempelkan di masjid-masjid yang mengabadikan nama Cut Meutia.

Ghazali Abbas juga membacakan bunyi Pasal 125 dan Pasal 127 UUPA tentang pelaksanaan syariat Islam di Aceh. “Saya pikir tidak ada ruginya bagi Bank Indonesia jika menggantikan gambar Cut Meutia yang tidak berhijab dengan gambar Cut Meutia yang berhijab. Nanti saya juga akan bicarakan hal ini dengan Deputi Bank Indonesia dan Menteri Keuangan RI,” kata Ghazali saat menanggapi pertanyaan dari perwakilan pengacara BI. Sidang akan dilanjutkan Selasa (26/9) dengan agenda mendengarkan saksi dari pihak BI


Adapun dua ahli yang dimintai pendapatnya dalam sidang itu kemarin adalah Dr Husaini Ibrahim selaku Kepala Laboratorium Sejarah FKIP Unsyiah sekaligus Dosen Sejarah FKIP Unsyiah dan Anggota Pemangku Adat pada Majelis Adat Aceh (MAA) Provinsi Aceh. Sementara saksi ahli kedua adalah Hermansyah selaku Dosen Filologi dan Kajian Manuskrip pada Prodi Sejarah Kebudayaan Islam di Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry serta Ketua Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) Provinsi Aceh.

Kedua ahli sejarah ini berpendapat tidak ada satu pun bukti bahwa foto Cut Meutia yang digunakan pada uang pecahan Rp 1.000 adalah foto asli. “Itu adalah foto palsu. Gambar itu awalnya merupakan gambar seorang model yang dipotret di studio foto milik Belanda di Kutaraja (Banda Aceh sekarang) untuk tujuan membuat post card,” kata Hermansyah di depan majelis hakim.

Untuk menguatkan keterangannya, Hermansyah juga melampirkan sejumlah bukti foto-foto perempuan Aceh pada masa Belanda yang menggunakan hijab saat berada di tempat umum. Dokumen-dokumen yang diperoleh dari website KITLV ini kemudian diserahkan oleh Hermansyah kepada majelis hakim. Dengan berbagai bukti tersebut, kedua ahli ini juga berharap agar pemerintah meninjau kembali penerbitan foto Cut Meutia.


Source: Serambi Indonesia

Gambar Cut Meutia Harus Diganti

Read More

Sunday, August 20, 2017

Kabupaten Blora menorehkan catatan sejarah perjuangan bangsa Indonesia dalam perlawanannya melawan penjajahan. Banyak pahlawan bangsa yang dilahirkan dari kota ini, banyak pula yang menghembuskan nafas terakhir di kota ini. Salah satu pejuang tanah air yang wafat di kota Mustika ini adalah Putjut Meurah Intan, Sang Singa Betina Perang Aceh.

Putjut Meurah Intan merupakan bangsawan–pejuang dari kesultanan Aceh. Pejuang wanita yang wafat dalam usia hampir seratus empat puluh tahun ini merupakan pemimpin gerilya Perang Aceh di kawasan Laweung dan Batee (sekarang termasuk kabupaten Pidie, Provinsi Aceh).

Didampingi panglima perangnya, Pang Mahmud dan tiga putranya, Putjut Meurah Intan mengobarkan pertempuran satu abad yang harus dihadapi oleh Kolonial Belanda dalam rangka menguasai kesultanan di ujung barat nusantara ini.

Pada 26 Maret 1875 bertepatan dengan 26 Muharram 1290 H, Kolonial Belanda mengeluarkan pernyataan perang kepada Kesultanan Aceh. Sepuluh hari kemudian secara serentak para bangsawan Aceh yang menolak kolonialisasi melancarkan serangan perang gerilya di seluruh wilayah kekuasaan kesultanan.

Sayangnya, tidak semua bangsawan aceh menolak Kolonialisasi. Suami Putjut Meurah Intan, Tuanku Abdul Majid bin Tuanku Abbas bin Sultan Alaiddin Jauhar Alamsyah menyerah sebelum Kolonial Belanda mengumumkan perang. Kenyataan ini tidak membuat ciut nyali Srikandi Aceh ini.

Putjut Meurah Intan dibuang ke Blora pada tahun 1901, bersama dengan panglima perangnya, Pang Mahmud dan dua puteranya, Tuanku Nurdin dan Tuanku Budiman. Seorang puteranya, Tuanku Muhammad dibuang ke Menado Sulawesi Utara.

Putjut Meurah Intan meninggal di Blora pada tanggal 20 September 1937 dalam usia yang mendekati seratus empat puluh tahun. Beliau dimakamkan di pemakaman umum dukuh Punggur Tegalan desa Temurejo Kecamatan Blora Kota.

Keberadaan makam pejuang Aceh ini bermula dari sepucuk surat dari salah satu anggota DPRD Blora tahun 1956 yang bernama M. Achmad kepada pimpinan umum surat kabar “Pemandangan“, Tamar Djaya. Dalam suratnya yang bertanggal 16 November 1956 itu, M. Achmad menulis bahwa di desa Tegalan kecamatan Kota Blora terdapat makam “Mbah Tjut“. Mbah Tjut merupakan nama yang digunakan oleh masyarakat Tegalan saat itu untuk menyebut Putjut Meurah Intan.

Pada 18 April 1985, Bupati Blora H. Sumarno SH bersama dengan rombongan dari masyarakat Aceh melakukan ziarah ke Makam Putjut Meurah Intan. Ziarah bupati Blora tersebut merupakan titik tolak pemuliaan makam sang pejuang wanita Aceh ini.

Dewasa ini, perhatian dan perawatan makam ini tampaknya sangat diperlukan mengingat jasa Putjut Meurah Intan dalam perjuangan mempertahankan tanah air.

Sumber    : Kliping Artikel Surat Kabar sepanjang tahun 1985 oleh H. Amran Zamzany S.E (Ketua Umum Persatuan Ex- Tentara Pelajar Resimen II Aceh, Divisi Sumatera) Jakarta 19 Desember 1985.

http://www.bloranews.com/ada-apa/putjut-meurah-intan-singa-betina-yang-terbaring-di-kota-mustika

Pocut Meurah Intan: Pejuang Aceh di Tanah Blora

Read More

Monday, July 17, 2017



Kitab Ar-Rahmah fi al-Tibb wa al-Hikmah merupakan karya Syaikh ‘Abbas Kutakarang, salah seorang ulama masyhur dan aktif dalam dunia intelektual dan transmisi keilmuan di Aceh (termasuk dunia Melayu) antara abad ke 18-19 Masehi. Keilmuannya tidak hanya fokus pada bidang agama saja, tetapi juga ikut serta berkonstribusi dalam dunia pendidikan, dakwah, astronomi, peperangan, perobatan dan sebagainya. Ia juga mennjadi penasehat Kerajaan Aceh dalam bidang keagamaan sekaligus pemimpin perang Aceh melawan kolonial Belanda hingga meninggal dunia. 

Karya Syaikh 'Abbas Kutakarang dalam bidang kedokteran dan medical (perobatan) dapat dianggap spesial dan intelektual. Terus terang,  kajian ini di Aceh -dulu dan sekarang- sangat minim sekali, bahkan hampir tidak terekam sama sekali. Walaupun memiliki tradisi pengobatan tradisional, sebagian masyarakat Aceh hanya tahu sekilas Kitab Tajul Muluk, sebagai salah satu kitab perobatan klasik. 

Pada dasarnya, Kitab Ar-Rahmah fil Tibb wal Hikmah salah satu kitab perobatan dan kedokteran paling lengkap di Aceh yang lahir sejak abad ke-19. Ia memiliki kandungan lengkap tentang teori dan praktik perobatan yang telah dikombinasikan dengan konteks Aceh dan Melayu, baik dari sisi material (bahan) obat-obatan, proses mekanisme dan sebagainya.  Kitab ini juga masih sangat relevan dengan kedokteran zaman kekinian (perobatan modern). 

Khusus dalam kitab perobatan ini, Syekh 'Abbas Kutakarang menyebutkan secara ringkas biografinya dalam pembukaan (oxordium) kitabnya;
“Adapun kemudian dari itu, maka berkata hamba Allah yang dinamai dengan ‘Abbās yang mengharap Tuhannya, Allah Ta‘ālā yang Tuhan sekalian manusia, Shāfi’i nama madhhabnya, Aceh nama negerinya, masjid al-Jami’ Ulee Susu tempatnya kediaman dan kejadiannya”.

Kitāb Ar-Raḥmah dibagi ke dalam 5 bab utama, antaranya:
1. Bab I tentang ilmu tabi’at dan karakteristik manusia.
2. Bab II tentang makanan baik dan sehat, mengandung khasiat, obat dan bermanfa’at.
3. Bab III tentang hal yang baik kesehatan badan.
4. Bab IV tentang perobatan untuk penyakit spesifik di tubuh.
5. Bab V tentang pengobatan secara umum dan bersifat temporer di badan.
Apabila menilik kitab Ar-Raḥmah fil Tibb wal Hikmah, maka dapat disebut Syaikh ‘Abbas Kutakarang termasuk ulama dan penulis aktif di Aceh periode ke-19-20 M. Kitab tersebut semakin menambah referensi bagi para ilmuwan untuk melihat Aceh dalam beragam perspektif dan multidisiplin ilmu. Terutama jaringan keilmuan Aceh-Melayu-Arab yang terus direkat pada akhir-akhir masa Kesultanan Aceh dan era kolonial Belanda-Inggris di dunia Melayu dan Nusantara. 

Kitab ini diterjemahkan dari kitab berbahasa Arab, dengan judul yang sama, dimulai penyalinan dan penerjemahan kitab ini mulai 2 Muharram 1266 H, hingga selesai kurang lebih 4 (empat) tahun lamanya. Itu bukan waktu yang singkat, kerja kerasnya tersebut bukan sebatas menyalin huruf perhuruf, tetapi ia juga menerjemahkan, mempelajari dan menganalisi resep-resep perobatan di dalam kitab tersebut, sehingga itu menunjukkan ia menguasai beberapa hal dalam bidang perobatan.

Saat ini, manuskrip Ar-Rahmah fil Tibb wal Hikmah adalah satu-satunya (codex unicus) koleksi Yayasan Pendidikan dan Museum Ali Hasjmy (YPMAH) di Banda Aceh, lembaga yang menyimpan beribu dokumen penting yang diprakarsai oleh (alm) Ali Hasjmy. Setelah membaca keseluruhan isinya, ternyata manuskrip koleksi YPMAH merupakan salinan dari kitab sebelumnya, itu artinya masih ada varian teks [manuksip] lainnya selain koleksi YPMAH di muka bumi ini, walaupun masih misterius atawa belum ditemukan.  

Melihat manuskrip yang langka dan pentingnya kandungan tersebut, maka buku ini merupakan transliterasi/transkripsi teks tersebut dalam aksara Latin disertai aksara Jawi (Arab-Aceh/Melayu). Kami berusaha semaksimal mungkin untuk menghadirkan teks manuskrip sedetail dan sebaik mungkin. Oleh karena itu, buku yang hadir dalam "wajah baru" itiu merupakan kolaborasi kajian teks-naskah (filologi) dan medical scientis.

Maka buku ini hadir dalam 5 (lima) bagian:
1.  Tentang naskah (sejarah, biografi penulis dan asbab kitab)
2.  Transliterasi/transkripsi teks ke dalam aksara Latin
3.  Glosari 
4.  Teks dalam aksara (huruf) Jawi.
5.  Bibliografi dan Index.


Buku ini dikaji oleh Dr. Affendi Shafri (pensyarah di IIUM Pahang Malaysia) dan Hermansyah (Dosen di UIN Ar-Raniry-Aceh) diterbitkan oleh Klasika Media Malaysia

Serah terima buku dari perwakilan Pengkaji dengan Penerbit

Ar-Rahmah fi al-Tibb wa al-Hikmah: Manuskrip Perobatan Aceh-Melayu

Read More

Tuesday, May 30, 2017

MS [manuskrip] ini hadiah dari Kapten JHA IJssel de Schepper, yang menemukannya pada tubuh “Imam Aceh” yang syahid setelah penyerbuan Masjid Agung (Missigit) di Koetaradja  dalam perang Aceh pertama. MS diterima oleh Michael Jan de Goeje di Leiden. MS dikirim dari “Bivouac Zeestrand” Aceh ke Belanda pada 27 April 1873.


Itulah kalimat pengantar di sampul dalam Mushaf al-Quran dari Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh yang kini dikoleksi di Perpustakaan Leiden Belanda. Tulisan tangan dalam Bahasa Belanda tersebut ditandatangani oleh Scheeper sendiri kepada Michael Jan de Goeje (1836-1909), yang tak lain adalah Profesor Bahasa Arab di Universitas Leiden. Profesor Goeje kemudian menghibahkannya ke Universitas Leiden hingga saat ini.

Tak butuh waktu lama sejak disimpan di Belanda, tepat pada 9 Juli di tahun yang sama, Mushaf Aceh yang indah ini dipublikasi di koran “Leidsch Dagblad”, yang dinilai memiliki illuminasi (hiasan figura) yang cantik dan dipenuhi dengan warna hitam, merah dan emas dari awal hingga akhir halaman. Sampul Mushaf dibinding dari kulit dan memiliki ornamen Timur Tengah, selain itu terdapat tetesan-tetesan darah mengering di Mushaf ini.

Pernyataan Schepper bahwa ditemukan di tubuh Imam Masjid yang syahid saat invasi pertama Belanda ke Aceh sangat mengejutkan. Sebab, selama ini, sejarah dan mayoritas masyarakat Aceh hanya mengetahui J.R Kohler yang mati pada serangan Belanda pertama di Aceh 14 April 1873. Ia merupakan Jenderal Belanda yang memimpin KNIL agresi pertama di Aceh. Peluru snipper Aceh mengenai dadanya pada saat ia ingin menguasai Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. Dan sejarah mencatat, Aceh menang atas kematian pimpinan Belanda.

Akan tetapi, merujuk kepada catatan dalam Mushaf Aceh, patut menjadi sebuah duka besar bagi Aceh, karena di pihak Aceh sendiri kehilangan seorang Imam Mesjid, walaupun Masjid Raya tidak dapat  dikuasai. Meninggalnya Imam Besar Mesjid Raya ini mungkin menjadi salah satu kelemahan Aceh dalam mempertahankan Mesjid Raya pada agresi kedua yang dipimpin oleh Jenderal J. van Swieten di akhir tahun yang sama, dan dapat dikuasai Januari 1974.

Menurut Paul van’t Veer “Perang Aceh: Kisah Kegagalan Snouck Hurgronje” bahwa Belanda telah “salah alamat” dalam invansi tersebut, karena Belanda menduga bangunan yang dikelilingi beton tebal beratap rumbia tersebut adalah keratin, dan rakyat Aceh pun mempertahankan mati-matian bangunan tersebut. Hal tersebut menunjukkan bahwa “masjid” dan “masyarkat” adalah satu kesatuan dalam amalan dunia dan akhirat.

Museum Mushaf al-Quran Baiturrahman
Megahnya Mesjid Baiturrahman pasca rehab dan rekon, perbaikan halaman dan perbaikan infrastruktur telah menambah daya tarik tersendiri bagi para pengunjung dan masyarakat Aceh untuk menunaikan ibadah atau melakukan kegiatan lainnya. Akan tetapi, sejauh ini Mesjid Raya Baiturrahman belum dilengkapi dengan “penguatan sejarah” dan “ruh” sebuah masjid yang bersejarah, terutama saat-saat perjuangan Mesjid Raya melawan Belanda.

Dengan ditemukannya kembali Mushaf al-Quran Aceh yang disita setelah syahidnya Imam Mesjid Raya tahu 1873, maka Pemerintah Aceh untuk membangun museum Masjid Raya Baiturrahman dan mereproduksi kembali mushaf asli Mesjid Raya yang kini di koleksi Leiden Belanda. Seiring dengan tujuan mulia tersebut akan membuka ruang lain, seperti mengkaji dan menerbitkan Mushaf resmi Aceh.

Sisi lain juga menjadi media untuk mengoleksi dan menyimpan semua sebaran mushaf-muhaf  yang ada di Aceh. Sebaran ini sangat penting untuk dilakukan sebagai bentuk kepedulian Pemerintah Aceh dalam melestarikan, merawat dan mewariskan khazanah Aceh tempo dulu. Hal tersebut perlu diwujudkan sebagaimana Belanda –yang dianggap musuh- telah lama mewujudkannya dan menjadikannya sebagai sentral kajian sumber primer di Asia Tenggara, khususnya wilayah Nusantara.

Jika anda meminta dibangun monumen Kohler, jangan jadi  keturunan penjajah Belanda. Tetapi, mintalah Museum dan Monumen Mushaf al-Quran Aceh di Mesjid Raya, karna al-Quran buku tuntunan Muslim, dan Mesjid tempat terbaiknya. []



Darah Imam di Mushaf Masjid Raya Banda Aceh

Read More

Hermankhan Google+ Followers

Copyright © 2015 Herman Khan | Portal Manuskrip Aceh dan Malay | Distributed By Blogger Template | Designed By Blogger Templates
Scroll To Top