Thursday, December 31, 2015

Bendera Aceh (2) di Denmark


Bendera Aceh bukanlah sebuah polemik besar bagi setiap orang yang mengetahui sejarah Aceh. Sebab, sejak era Kesultanan Aceh sudah memiliki bendera, hal tersebut dapat ditelusuri dari berbagai sumber sejarah Aceh di luar negeri. Bendera-bendera di atas, misalnya, adalah hasil sketsa seorang Belanda yang bertugas di Aceh era perang Belanda dengan Aceh antara 1873-1945 yang menunjukkan bendera tersebut telah digunakan, bahkan untuk kerajaan-kerajaan kecil.

Selain bendera sketsa Belanda itu, hasil penelusuran leinnya juga ditemui oleh KMPD (Komite Monitoring Perdamaian dan Demokrasi) perwakilan Eropa dan ASF di Denmark yang menemukan ratusan khazanah kejayaan masa lalu Aceh (Atjeh) yang tersimpan di Museum Nasional Denmark (Nationalmusset) di København. Peninggalan Aceh zaman dahulu tersimpan di dalam gedung istana lama yang sangat besar.

Hasil usaha KMPD dan ASF sangat membanggakan dan memberikan informasi yang lebih, bahwa terdapat selembar Bendera Kedaulatan (Kesultanan) Atjeh di antara tahun 1850-1900. Bendera berlatar warna merah, dihiasi dua peudeung (pedang), tiga titik di antaranya, dan bulan bintang bercahaya delapan, bintang dan dua pedang.

Bendera Aceh koleksi Museum Nasional Denmark

Jika dilihat lebih lanjut, bendera versi Belanda dengan koleksi museum Denmark hampir memiliki kesamaan pada gambar Belanda paling bawah kanan. Kemiripan pada latar belakang warna bendera dan dua pedang saling berhadapan dengan ujung mengarah keluar.

Sejauh ini, bendera Aceh dengan motif pedang biasanya digunakan pada saat perang di kapal-kapal perang Aceh. Jika demikian, bendera itu sudah digunakan pada era kolonial Belanda (1873) atau sebelumnya saat-saat genting Aceh sebagai sinyal diplomasi politik dengan negara-negara berdaulat khususnya di Eropa.


Menurut Bente Wolff, kepala bagian India, Asia Tenggara dan Oceania di koleksi etnografis, Museum Nasional di København tersebut tidak kurang 140 barang antik bersejarah yang sangat bernilai berasal dari Aceh. Selain bendera di atas, terdapat juga selendang dan celana berbenang emas, perisai, kain kepala, topi dan kalung, anting-anting dan rem dari perak, batang rokok dan bungkusnya,tembakau dan gunting, tikar yang berdesain indah dan penutup makanan dibuat dari daun pisang dan kertas berwarna cerah, lampu berhiasan burung kecil, serta pisau perak. Koleksi barang-barang etnografis itu dikumpul oleh penjelajah, pedagang, antropolog atau pelayar yang membawa barang-barang dari Aceh.

Peninggalan tersebut merupakan kekayaan warisan sejarah dan peradaban Aceh. Tentu, pemerintah Aceh harus memiliki "hati" untuk membuka matanya menidaklajuti kajian-kajian pada warisan yang telah disimpan oleh Museum Denmark dengan baik hati.

Harapan itu juga tersirat dari Bente Wolff yang menaruh harapan "akan lebih baik kalau pribumi dari negara asal barang di koleksi etnografis melihatnya dengan mata sendiri". Tentu harapan tersebut sebagaimana dilakukan negara-negara yang terus meneliti dan mengkaji berbagai warisan di dunia dan menjadikan negeranya sebagai sentral ilmu pengetahuan. Kini, Pemerintah Aceh harus berbenah dari "kolotnya pola pikir" terhadap warisan indatu, tidak hanya slogan pemanis mulut apabila ingin memajukan Aceh ke arah yang lebih baik [].

Dikutip dari berbagai sumber:
- Tarmizi Age (Mukarram)
National Museum of Denmark
- Bendera Aceh di Museum Nasional Copenhagen Denmark
- 10 Negara Eropa yang menyimpan peninggalan Indonesia (I)
Post a Comment

Hermankhan Google+ Followers

Copyright © 2015 Herman Khan | Portal Manuskrip Aceh dan Malay | Distributed By Blogger Template | Designed By Blogger Templates
Scroll To Top