Thursday, June 17, 2010

Membedah, Tiga Manuskrip Aceh tentang Kedokteran dan Kesehatan

Daerah Aceh amat kaya dengan bahan obat tradisional. Di kawasan-kawasan terpencil pemakaian obat asli Aceh itu masih dipraktekkan hingga sekarang; walaupun dalam jumlah terbatas.  Beberapa waktu lalu, lirikan terhadap obat tradisional juga pernah bangkit di Aceh. Hal ini dapat dibuktikan dengan diwujudkannya “Taman Obat Tradisional” Universitas Syiah Kuala  di Banda Aceh. Amat disayangkan, akibat kemarau panjang taman obat ini tidak berumur panjang; mudah-mudahan mampu dibangkitkan  lagi di masa mendatang!.
Perhatian terhadap obat  bukanlah hal baru..  Ini terbukti  dengan adanya tiga buah buku(kitab) yang ditulis pada masa kesultanan Aceh. Pembahasan tertua mengenai obat dan organ-organ tubuh manusia telah ditulis Syekh Abdussalam pada tahun 1208 H. Tulisan ini merupakan  dua  bab dari tujuh bab dari kitab Tambeh Tujoh (Tujuh Tuntunan).
Karya kedua mengenai obat, merupakan sebagian  isi kitab Tajul Muluk(Mahkota Raja) yang disusun Syekh Ismail Aceh pada zaman sultan Ibrahim Mansur Syah(1837-1870 M). Kitab tersebut  juga ditulis atas perintah sultan Aceh ini. Kitab obat ketiga adalah naskah yang diterjemahkan oleh Syekh Abbas Kutakarang dari naskah bahasa Arab. Penterjemahannya dilakukan tahun 1266 H, yakni 24 tahun sebelum pecah perang Aceh-Belanda tahun 1290 H.
Judulnya : Kitaburrahmah  Fitthibbu Walhikmah, yaitu sesuai dengan judul aslinya. Kitab ini lebih tebal dari dua naskah sebelumnya, yakni sejumlah  226 halaman.
Ada beberapa hambatan  dalam mengaktualkan kembali ketiga naskah ini, tetapi  ada  dua hambatan terpenting diantaranya. Pertama,  ketiganya ditulis dalam huruf Arab Jawi (Jawoe), yang sudah kurang dipahami masyarakat Aceh sekarang. Kedua, nama-nama tumbuh-tumbuhan yang tidak dapat kita kenal seluruhnya; baik dalam bahasa Indonesia atau Aceh.
Terhadap kitab kedokteran/obat Tambeh Tujoh,  saya tidak mengalami hambatan. Naskah ini  ditulis dalam bahasa Aceh berhuruf Jawoe dengan bentuk syair atau nadham. Manuskrip Tajul Muluk memiliki hambatan yang lebih banyak. Pasalnya, banyak nama tanaman obat atau ramuan yang tidak saya tahu padanannya
dalam bahasa Aceh atau Indonesia. Walaupun demikian, Tajul Mulok ini telah saya salin
(transliterasikan) ke dalam hiruf Latin  Nama-nama tanaman obat yang tidak saya kenal pasti; tetap saya alihkan/gantikan ke huruf Latin; namun nama aslinya dalam huruf Arab Melayu/Jawoe juga saya sertakan di dalam tanda kurung. Hasil transliterasi ini saya beri judul “Resep Obat Orang Aceh”. Tetapi sayang, sampai hari ini belum tercetak. Dapat ditambahkan, Tajul Muluk yang telah saya salin itu dicetak di Qahirah/Cairo, Mesir tahun 1938 M. Tajul Muluk yang masih beredar sekarang terbitan Surabaya, Jawa Timur.
Dapat ditambahkan, salah satu obat yang pernah saya  praktekkan dari isi kitab Tajul Muluk adalah obat pelupa, yakni dengan meminum air jahe(halia) atau bubuk jahe yang telah ditumbuk. Agar tidak terasa perih/pedas, air jahe itu saya campur dengan telur setengah matang. Setelah meminum satu sendok teh  bubuk jahe setiap pagi  setelah makan selama dua bulan, alhamdulillah penyakit lupa saya sembuh. Asal mula penyakit lupa adalah akibat kecelakaan lalu lintas yang saya alami yang banyak mengeluarkan darah.
Mungkin bagi orang yang berpenyakit maag, tidak cocok ikut mempraktekkan pengalaman saya ini!.
Mengenai kitab kedokteran/kesehatan ‘Kitaburrahmah Ftthibbu Walhikmah; hasil terjemahan Syekh Abbas Kutakarang; disamping ada hambatan ‘menggalinya’, juga mengandung beberapa kemudahan.  Diantara kemudahannya, yakni sebagian  dari tanaman obat dan nama penyakit; selain disebut dalam bahasa Melayu juga ada sinonimnya dalam bahasa Aceh. Saya belum menyalin manuskrip ini ke huruf Latin karena agak tebal (226 halaman). Memang, pernah saya cari sponsor ke WHO Perwakilan Jakarta dan Kanwil Kesehatan Aceh; tetapi gagal. Oleh karena hanya manuskrip Tambeh Tujoh yang lebih mudah dikaji dibandingkan dua manuskrip lainnya, maka buat selanjutnya naskah Tambeh Tujoh sajalah yang saya upayakan lebih banyak membedahnya!.
Mungkin Anda heran, mengapa sebuah naskah lama yang sebagian isinya tentang pengobatan penyakit seperti Tambeh Tujoh ini samasekali tidak menyinggung obat-obat yang disebabkan jin, hantu, kuntilanak dan makhluk halus yang jahat lainnya. Padahal kitab sejenis, yakni Tajul Mulok banyak sekali menyebutkan berbagai do’a dan ayat Alquran buat azimat dan mantera-mantera “meurajah” lainnya.
Mengenai sumber penyakit, Tambeh Tujoh hanya menyebut dua asalnya. Pertama,  akibat makan-minum yang tidak teratur (tak diadatkan) serta terlalu banyak memakannya (berlebih-lebihan). Kedua, rusak atau hilangnya keseimbangan dari empat kekuatan dalam tubuh seseorang.
Keempat kekuatan pada tubuh manusia ialah Jaziyah, Maas’ikkamat, Hadhimat dan Dafaat. Fungsi Jaziyah adalah kekuatan menelan/menarik kedalam,  Maas’ikkamat fungsinya menahan/benteng  dari  penyakit, fungsi Hadhimat menghancurkan makanan, sedang fungsi Dafaat mengeluarkan ampas makanan,  seperti keringat, kencing-tinja dan sebagainya. Jadi, bila salah satu dari keempat alat tubuh ini rusak/kurang berfungsi, maka timbullah penyakit pada manusia.
Bagi memastikan jenis penyakit, Tambeh Tujoh juga punya cara tersendiri buat mendeteksi,  yang sekarang sering disebut diagnosa penyakit. Ada empat obyek pemeriksaan pada tubuh manusia untuk mengetahui penyakitnya, yakni warna tubuh, perilaku, perbuatan dan tutur katanya. Sementara cara mengetahuinya sepuluh macam..
Kesepuluh cara itu adalah : Pertama, dengan memegang badan si sakit. Kalau tubuhnya panas berarti ‘adan sifatnya. Kedua, jika badannya gemuk berarti sejuk sifatnya. Ketiga, kalau rambutnya ikal-hitam artinya hangat sifatnya. Keempat, jika warna tubuhnya  putih berarti sejuk dan banyak darah kotor (balgham).  Tanda hangat banyak darah, putih-merah warna tubuhnya. Tubuh yang berwarna gandum atau kuning berarti panas. Kelima, melihat anggota badan.  Bila otot besar (urat rayek) kelihatan pada tangan dan kaki berarti bersifat panas. Kalau tidak  nampak berarti sebaliknya (sejuk). Keenam, melihat pada pekerjaannya. Kalau seseorang lincah bekerja berarti bersifat panas. Ketujuh, menilik kelakuannya.  Jika sedang-sedang saja berarti sejuk sifatnya. Kedelapan, memeriksa keadaan tidurnya. Kalau tidurnya banyak( le teungeut ngon jaga), berarti sejuk dan basah
sifatnya. Bila jaganya lebih banyak dari tidurnya berarti hangat dan kering sifatnya. Namun, jika tidur dan bangunnya seimbang adalah akhar sifatnya. Kesembilan,  memeriksa air kencing dan najis/beraknya. Kalau sangat berbau dan merah pula warnanya, maka panas sifatnya. Jika tanda-tanda itu tak ada berarti sejuk. Kesepuluh, memperhatikan prilaku tabib yang mengobatinya. Bila ia memiliki akal dan pemahaman yang tajam berarti ia bertabiat/sifat panas.
Konsep  pengobatan yang dianjurkan Tambeh Tujoh adalah prinsip-prinsip  yang “berlawanan”; bahwa  penyakit yang bersifat panas harus diobati dengan obat yang sejuk. Sebaliknya, penyakit yang bertabiat sejuk mesti diobati dengan obat yang bersifat panas. Demikian pula, sakit yang bersifat kering harus disembuhkan  dengan obat yang basah. Sementara penyakit basah perlu diberi obat yang bersifat  kering.
Kitab Tambeh Tujoh juga mengecam para tabib dan dukun yang mengobati orang  sakit; tetapi hanya sekedar untuk mencari keuntungan  pribadi. Padahal orang yang diobatinya tak pernah sembuh; bahkan malah semakin parah.
Pada bab dua, ketika menjelaskan ‘Ilmu Tasyrih’(Organ Tubuh), kitab Tambeh Tujoh menjelaskan bahwa jumlah bagian anggota tubuh manusia sebanyak 40 bagian (digabung laki-laki dan perempuan). Disebutkan,  bahwa pada  rahim seorang perempuan selalu didampingi dua buah pelir yang bentuknya seperti (maaf) zakar /kemaluan lelaki yang letaknya songsang.; berarti letaknya terbalik. Dijelaskan pula, bahwa mata kita berlapis tujuh, mata tersusun dari lemak(gapah), sedang air mata yang asin itu berfungsi agar lemak mata tidak hancur.
Sebagai penutup  baiklah saya nukilkan beberapa jenis obat yang dikandung manuskrip Tambeh Tujoh. Pertama,  Obat paling utama/penghulu  obat bagi segala penyakit (anggota badan) adalah air madu. Bagi yang pernah membaca riwayat hidup Yasser Arafat, tentu mengetahui betapa akrabnya tokoh pejuang Palestina ini dengan air madu. Dan semua kita pun tahu bagaimana tegarnya fisik tokoh ini dalam mengharungi badai per
juangannya. Kedua, Bagi mereka yang keracunan, maka air madu bersama-sama buah badam dapat dibuat haluwa(dodol) untuk dimakan setiap hari. Ketiga, rambut keguguran, maka biji sawi  dapatdijadikan obatnya. Keempat, bagi yang lemah/letih/lesu anggota badannya, maka telur ayam merupakan obat mujarabnya. Pada akhir pembicaraan pengobatan, kitab Tambeh Tujoh memcuplik Hadits Nabi Muhammad Saw yang berbunyi:’Wakullu daain lahu dawaaun illas salaama wal harma’, artinya: segala penyakit
ada obatnya, kecuali mati dan menjadi tua!.
(oleh T.A Sakti, source: http://tambeh.wordpress.com/2009/08/29/membedah-tiga-manuskrip-aceh/ )
Post a Comment

Hermankhan Google+ Followers

Copyright © 2015 Herman Khan | Portal Manuskrip Aceh dan Malay | Distributed By Blogger Template | Designed By Blogger Templates
Scroll To Top