Wednesday, July 13, 2011

Peran Sabang, Tersirat Dalam Manuskrip Aceh

Siapakah  rakyat di Republik ini yang tidak kenal dengan pulau Sabang? pulau paling barat di dari wilayah Indonesia bagian aset penting bagi Aceh. Namun, siapa yang mengetahui peranan Sabang dalam sejarah perjalanan Aceh dan Nusantara, terutama dalam manuskrip dan dokumen tertulis?


Belum ada yang meneliti peranan Sabang dalam kancah keilmuan dan peranannya dalam lintas intelektual antar negara. Selama ini, Sabang hanya dikaji dari bidang ekonomi secara geografis saja, sebagai pelabuhan internasional sejak zaman kesultanan Aceh, masa sultan Alauddin Riayat  Syah (1596-1604) dan berlanjut pada sultan Iskandar Muda (1604-1636). Peranan Sabang saat itu, jelas sekali,
sebagai pintu masuk via perairan laut wilayah Kesultanan Aceh.

Di daratan tinggi Sabang ditancapkan bendera kesultanan Aceh, sebagai pertanda setiap kapal layar atau dagang akan memasuki wilayah Aceh. Sebagaimana kapal utusan kesultanan Turki Mustafa Khan (1588-1604) memperbolehkan benderanya dipasang di kapal Aceh yang singgah di Sabang. Kapal dagang India, Portugis dan Inggris pada abad ke-17 dan 18 melewati dan singgah di Sabang.

Akhir abad ke-18 dan 19, Belanda pernah meminta menancapkan benderanya bergandengan dengan Aceh di daratan tinggi Sabang. Secara politis, sebagai tanda Aceh sudah dikuasai, dan perairan laut dikuasai oleh keduanya. Dalam sejarah abad 19, Sabang menjadi wilayah verbanen (tawanan bebas) untuk ulama, hulubalang dan petinggi Aceh yang dilakukan Belanda, diprakarsai Van Daalen. guna mengasingkan tokoh2 penting di Aceh, sama hal pembuangan yang dilakukan ke pulau Jawa, Ambon dan Ternate, seperti sultan Muhammad Daud Syah diungsikan ke Ternate tahun 1903 M.

Van Heutsz Gubernur Belanda di Batavia pernah berunding dengan tokoh2 tawanan bebas (ulama dan uleebalang) di Sabang (sekitar tahun 1905-1910), untuk menghentikan perlawanan di Aceh.

Perannya juga semakin jelas sebagai pelabuhan jamaah haji menuju ke Haramayn, Tgk Fakinah pada tahuun 1915 dan 1918 menunaikan ibadah haji beserta alim ulama dan muridnya dari Ulee Lheu ke Sabang, dan melanjutkannya ke Jeddah.

Tahun 1942, Belanda meminta Aceh menahan agresi Jepang masuk melalui Sabang. Namun tahun 1945 sekutu Nica (Jepang) mengirim surat dari Sabang kepada T. Nyak Arif cs, meminta masuk ke Aceh.

Dari peranan tersebut diatas, Sabang menjadi sentral perjalanan Aceh dari berbagai bidang, yang tak bisa dipisahkan dari perjalan kesultanan Aceh. Banyaknya ulama, uleebalang dan tokoh2 penting disana, pasti melahirkan kader intelektual dan keilmuan di masyarakat.

Sampai saat ini belum banyak para sarjana dan masyarakat yang mengetahui keberadaan naskah-naskah Sabang, khususnya dalam mendukung keilmuan dan peranannya antar negara. Dan juga, dalam naskah Bustan al-Salatin dan Hikayat Aceh, tidak terdapat nama Sabang. Nama Sabang hanya didapatkan dalam naskah laporan-laporan Belanda di Batavia (Jakarta) ataupun di Belanda sendiri.

Demikian juga belum banyak ditemukan tokoh-tokoh penting sepanjang perjalanan sejarah Sabang dalam manuskrip. Tapi tidak menutup kemungkinan semua itu ada, karna dari sejarah diatas menunjukkan peranannya di Aceh sangat besar. Termasuk sejauh mana perkembangan manuskrip di Sabang, tokoh pengarang dan penyalinnya.
Kini, dibutuhkan peranan pemerintah, khususnya yang berkaitan dengan bidang ini, baik dalam bidang kebudayaan pariwisata maupun keagamaan untuk dapat mengungkapkan kiprah dan perkembangan Sabang.


Post a Comment

Hermankhan Google+ Followers

Copyright © 2015 Herman Khan | Portal Manuskrip Aceh dan Malay | Distributed By Blogger Template | Designed By Blogger Templates
Scroll To Top