Thursday, June 07, 2012

Nasib 600 Manuskrip Aceh di Brunai Darussalam, Bagaimana?


The Museum of Brunai Darussalam
Wakil Gubernur Aceh, Muhammad Nazar menyatakan tekadnya untuk memboyong kembali sekitar 600 naskah kuno hasil karya ulama dan cendikiawan Aceh masa lalu, yang saat ini tersimpan di Brunei Darussalam. Wagub menyatakan tekad tersebut sebagai bagian dari usaha menyelamatkan dan melestarian sejarah Aceh.

Rencana pengembalian naskah kuno Aceh dari negara tetangga itu, diutarakan Wagub Muhammad Nazar dalam pertemuan dengan kepala Museum Nasional Dra Retno, SS,. M.Si di Gedung Museum nasional, Jalan Merdeka Barat, Jakarta, Selasa (25/8). Pertemuan tersebut dihadiri Kepala Museum Negeri Aceh (MNA), Drs Nurdin AR.

Selain di Brunei, naskah Aceh juga tersebar di Malaysia dan sejumlah perpustakaan dan arsip sejumlah negara Eropa. "Berbeda dengan Raja Melayu, Kerajaan Aceh banyak menuliskan buku-buku, paling banyak soal hukum dan kemiliteran," ujar Nazar yang mengaku menaruh minat sangat besar dalam bidang sejarah dan kebudayaan.

Disebutkan, nasakah kuno Aceh sebagai bagian dari karya sejarah Aceh harus diselamatkan. "Selama ini kalau mau membaca Aceh terpaksa kita harus berkunjung ke museum dan arsip luar negeri," katanya.
Kepala Museun Aceh Nurdin Ar mengaku prihatin dengan raibnya berbagai nasakah klasik Aceh dan belakangan banyak ditemukan di Malaysia. "Saya pernah dihubungi oleh pihak asing yang mencari naskah kuno Aceh. Tentu saja saya tolak," kata Nurdin AR. Kepala Museum Retno SS juga menyatakan keprihatinan serupa. Menurutnya harus ada usah-usaha untuk menyelamatkan naskah-naskah penting tersebut.

Menulis buku
Wagub juga menyampaikan pihaknya bersama sebuah tim sedang memulai melakukan riset untuk menulis buku yang berisi tentang diaspora (penyebaran) Aceh pra kolonial Belanda. "Karena itu kami ingin melihat silsilah raja dan negarawan Aceh yang tersebar di Jawa. Kami ingin mendapatkan naskah itu dari Museum ini," ujar Nazar, seraya menyebutkan bahwa tim tersebut juga akan berangkat ke Leiden Belanda, London dan lain-lain.

Hanya saja, Kepala Museum Nasional Dra Retno mengatakan lembaga yang dipimpinnya sama sekali tidak memiliki lagi naskah yang diharapkan. "Setelah Museum berpisah dengan Perpustakaan Nasional dan Arsip Nasional, sebagian besar dari naskah tersebut diboyong ke Perpustakaan dan Arsip. Di Museum tidak punya lagi," kata Retno sembari mempersilakan Wagub Nazar melakukan riset di Perpustakaan dan Arsip.(fik) (Serambi Indonesia)

Pertanyaan yang timbul dalam diri saya, bagaimana perkembangan naskah Aceh di Brunei Darussalam, semoga yang disampaikan dulu bukan hanya basa basi pemanis mulut, semoga naskah Aceh dapat kembali ke tanah airnya, setelah sekian lama di negeri orang.
source: http://serambinews.com/news/600-naskah-aceh-kuno-tersimpan-di-brunei-darussalam
Post a Comment

Hermankhan Google+ Followers

Copyright © 2015 Herman Khan | Portal Manuskrip Aceh dan Malay | Distributed By Blogger Template | Designed By Blogger Templates
Scroll To Top