Thursday, November 01, 2018

Kata Hermansyah Tentang Naskah Hikayat Aceh yang Didaftarkan ke UNESCO

BANDA ACEH - Dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry, Hermansyah, M.A.Hum., beserta rekan lainnya sejak tahun 2017, bersama Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI telah melakukan penelitian untuk mengajukan Hikayat Aceh didaftarkan sebagai Memory of The World (MoW) 2019, Unesco.

Pengajuan itu telah dibahas dalam Focus Group Discussion (FGD) Praregistrasi Hikayat Aceh sebagai Memory of The World 2019, di Aula Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh, 25 Oktober 2018.

Hermansyah mengatakan, naskah Hikayat Aceh terpilih karena merupakan salah satu naskah tertua tahun1600-an. Salinan itu semuanya ada tiga naskah dengan isi yang sama, dua naskah berada di Leiden, Belanda, dan satu lagi tersimpan di Perpusnas RI. Selain Hikayat Aceh, bersamaan dengan itu ada beberapa naskah dari wilayah Nusantara lainnya yang diajukan didaftarkan di Unesco, termasuk naskah dari Sunda.

“Hikayat Aceh ini menceritakan tokoh utama Sultan Iskandar Muda, dimulai dari masa kecilnya, kepemimpinan dan keberhasilannya dalam mengelola Kerajaan Aceh, hingga eksistensi Kesultanan Aceh dan pencapaian puncaknya pada awal masa kakeknya dan diteruskan oleh Sultan Iskandar Muda. Selain itu, naskah Hikayat Aceh merupakan kitab sastra yang istimewa karena mewakili tradisi penulisan sejarah yang ditulis atas dasar genre sastra Islam,” kata Hermansyah, 28 Oktober 2018.

Hermansyah mengatakan, para peneliti telah menentukan bahwa teks dari naskah tersebut dikarang antara tahun 1606-1636, karena menyebutkan pada periode-periode keemasannya, terutama gelar atasnya ‘Paduka Syah Alam’.

“Dalam naskah Hikayat Aceh, pengarang menyebutkan bahwa tokoh utama adalah Pancagah,  kemudian digelar dengan Johan Alam,  dan kemudian selanjutnya dikenal dengan Perkasa Alam.  Sedangkan nama Iskandar Muda tidak ditemui dalam naskah ini melainkan hanya dalam naskah Bustan as-Salatin dan dalam Hikayat Malem Dagang," ujarnya.

"Dalam teks naskah terakhir ini juga disebut nama Hikayat Meukuta Alam, nama Melayunya ‘Mahkota Alam’, selain teks Hikayat ‘Euseukanda’ bahasa Melayunya disebut ‘Hikayat Iskandar Muda’. Dalam suratnya kepada Raja James I Inggris pada tahun 1024 H/ 1612, di mana sultan menyebut dirinya ‘Seri Sultan Perkasa Alam Johan Berdaulat, yang bergelar Mahkota Alam’,” kata Hermansyah.

Hermansyah merincikan, bagian awal Hikayat Aceh menceritakan tentang asal usul raja-raja Aceh, silsilah dari pihak ayah dan ibu Iskandar Muda. Selanjutnya beralih kepada kebesaran dan kekuatan yang dimiliki oleh neneknya Sultan Iskandar Muda dari pihak ibu, Sultan Alauddin Riayat Syah Sayyid al-Mukammil atau Syah Alam. Berlanjut kepada kandungan Hikayat Aceh menceritakan kehebatan masa kecil Sultan Iskandar Muda,  belajar ilmu bela diri atau kegiatan-kegiatan yang terpuji lainnya.

"Maka Perth menyifatkan karya tersebut sebagai riwayat asal usul dan masa kanak-kanak seorang raja.  Sultan Iskandar Muda juga disebutkan banyak pengaruhnya di beberapa kerajaan  di Nusantara," ujarnya.

Menurutnya, karya-karya intelektual yang ditulis oleh para cendekiawan Aceh, pada zaman keemasan Aceh Darussalam abad ke-16 dan 17 M dengan berbagai disiplin ilmunya yang hingga saat ini berbagai naskah-naskah itu masih bisa ditemui tersimpan di berbagai museum, lembaga swasta dan koleksi personal. "Dan naskah-naskah yang dilahirkan dalam berbagai keilmuan yang lebih didominasi dalam bahasa Jawi (Melayu/Indonesia) daripada bahasa Aceh, kecuali naskah ranah hikayat," kata Hermansyah.

Zaman itu, kata Hermansyah, dalam perkembangan transisi keilmuan sudah menjadi kewajiban bagi seorang santri ataupun pengajar untuk menyalin naskah-naskah yang dibutuhkan. Lembaga pendidikan tradisional di Aceh seperti zawiyah ataupun dayah, seperti Zawiyah Tanoh Abee di Aceh Besar, sang guru akan mewajibkan muridnya untuk menyalin minimal tiga kitab/buku sebagai syarat menjadi murid ‘meudagang’ di lembaga pendidikan tersebut. Tradisi tersebut masih terawat hingga akhir abad ke-20 dan menjadi kekhassan tersendiri di zawiyah-zawiyah  di seluruh Aceh.

“Sayangnya, tradisi tersebut hanya terwarisi dalam naskah-naskah keagamaan dan tata bahasa Arab. Sedangkan naskah-naskah dengan tema lainnya seperti sejarah, perobatan, pemerintahan, etika dan termasuk hikayat akan sangat sedikit penyalinannya,” kata Hermansyah.

Mengingat naskah hikayat itu belum ditemukan halaman awal, maka tentunya tidak ditemukan judul asli terhadap naskah tersebut. Sebagaimana umumnya naskah-naskah klasik periode tersebut akan disebutkan pada pembukaan (exordium) sebagaimana naskah Taj as-Salatin, naskah Sulalat as-Salatin, dan juga Bustan as-Salatin.

Sedangkan naskah Hikayat Aceh dimulai dari pertengahan naskah. Sehingga judul naskah Hikayat Aceh bukan dari penyalin ataupun pengarang dalam judul naskah, akan tetapi kemungkinan besar  diambil dari teks salinan “Ini hikayat raja Aceh daripada asal turun temurun”.

Hermansyah membandingkan, jika pengarang Hikayat Aceh itu dalam gaya penulisannya dipengaruhi oleh judul-judul ketokohan seperti Hikayat Seri Rama, Hikayat Iskandar Zulkarnaen,  Hikayat Muhammad Hanafiyyah,  ataupun Hikayat Malem Diwa, karya-karya yang fokus pada nama tokoh utama dalam judulnya,  maka Hikayat Iskandar Muda adalah nama yang sesuai. Judul terakhir tersebut hampir serupa dengan judul Hikayat Mahkota Alam dalam versi bahasa Melayu,  sebagaimana yang telah dialihaksara oleh Cowan dan Imran Teuku Abdullah.

Sementara Braginsky sendiri dalam kajiannya lebih cenderung melihat bahwa Hikayat Aceh sangat dipengaruhi oleh genre sastra Persia yang menggambarkan pemerintahan hanya satu penguasa dalam bentuk yang lebih baik dalam riwayat naskah-naskah kesusasteraan dan sejarah.

“Braginsky  membandingkan tiga kandungan naskah antaranya Hikayat Aceh, dengan Malfuzat Timuri dan Akbar nama. Banyak persamaan yang ditemui ke dalam tiga naskah tersebut, mulai dari mitos putri dalam buluh, tanda kebaikan dan kehebatan, kekuasaan yang besar dan pujian lainnya,” kata Hermansyah.

Sumber: portalsatu.com
Post a Comment

Hermankhan Google+ Followers

Copyright © 2015 Herman Khan | Portal Manuskrip Aceh dan Malay | Distributed By Blogger Template | Designed By Blogger Templates
Scroll To Top