Saturday, December 29, 2018

Tradisi Mewarat Pengetahuan Mitigasi Gempa


Puluhan naskah Ta’bir Gempa memiliki struktur sama dalam penulisan secara periodik, mulai dari bulan Hijriyah, pergantian waktu pagi, siang, sore dan malam, serta waktu-waktu shalat lima waktu. Perbedaannya antara satu teks dengan teks gempa lainnya adalah dampak akibat gempa, yang selama ini dianggap sebuah tafsiran (ramalan). Potret dampaknya tersebut akan mencerminkan lokalitas naskah yang identik dengan penduduk setempat, misalnya pertanian, perdagangan, pemerintahan (kesultanan) dan pengetahuan agama.


Apabila dibandingkan seluruh naskah-naskah gempa akan ditemui perbedaan peristiwa dan dampak akibat gempa itu satu dengan lainnya yang menunjukkan rekaman gempa. Gempa-gempa yang terjadi ditulis (disalin) sesuai dengan kondisi alam, situasi politik, ekonomi dan tradisi pengetahuan masyarakat. Oleh karena itu, satu penyalin dengan penyalinnya akan berbeda cara pandang saat mengalami gempa yang sama karena berdasarkan situasi dan kondisi serta psikologi masyarakat saat itu.

Naskah koleksi Museum Negeri Aceh


Teks Ta’bir Gempa bukan sebatas tulisan dan bacaan, bahkan bukan ramalan yang disusun tempo dulu untuk menerawang masa depan. Akan tetapi Ta’bir Gempa merupakan ingatan kolektif masyarakat pada periode tertentu untuk mewariskan pengetahuan tentang bencana gempa. Oleh karena itu, teks-teks Ta’bir Gempa mayoritas berada di antara teks-teks naskah bacaan harian, seperti doa, zikir, hizib dan lainnya sebagai tanda menjadi salah satu bacaan umum untuk memahami bencana.


Sayangnya, tradisi merawat pengetahuan dalam bentuk dokumen (manuskrip) tidak menjadi fokus utama dalam bidang keilmuan kecuali dalam bidang keagamaan, tata bahasa dan tasawuf. Manuskrip-manuskrip yang ditemui pada saat ini mayoritasnya merupakan produksi di lembaga keagamaan, yang fokus terhadap bidang-bidang keagamaan dan pendidikan. Di lembaga keagamaan (zawiyah dan dayah) di Aceh dengan tradisi transfer knowledge dan tradisi transmisi keilmuan dalam bentuk tulisan masih kental terawat.

0 comments:

Copyright © 2015 Herman Khan | Portal Manuskrip Aceh dan Malay | Distributed By Blogger Template | Designed By Blogger Templates
Scroll To Top