Wednesday, June 09, 2010

Perpaduan Budaya Islam dan Nusantara

Tradisi penulisan, penyalinan, dan penyebaran naskah-naskah keagamaan di dunia Melayu-Indonesia memiliki keterkaitan dan berkolerasi dengan proses Islamisasi. Dalam buku Menemukan Peradaban Jejak Arkeologis dan Historis Islam Indonesia, Prof Dr Hasan Muarif Ambary (Arkeolog Indonesia) memaparkan kehadiran para pedagang berkebangsaan Arab. Persia, dan Gujarat di beberapa pelabuhan di wilayah nusantara pada tahap awal yang setidaknya telah memperkenalkan kepada penduduk setempat tata cara melaksanakan ibadah Islam.

Upaya pengenalan ajaran Islam ini dilakukan melalui fase-fase kontak sosial budaya antara para pedagang Muslim dan penduduk setempat. Salah satu bentuk kontak sosial budaya yang berlangsung di antara mereka dilakukan melalui perkawinan. Menurut Prof Ambary, dalam kurun waktu abad ke-7 hingga ke-10 M sangat mungkin terdapat hubungan perkawinan antara pedagang Muslim asing dan penduduk setempat sehingga mereka beralih menjadi Muslim.


Walaupun pada periode tersebut Jawa tidak disebut-sebut sebagi tempat persinggahan pedagang Muslim; di Leran, Gresik, terdapat sebuah batu nisan dari Fatimah binti Maimun yang wafat pada tahun 475 H/1082 M. Selama makam tersebut, ada beberapa makam yang tidak berangka tahun. Jenis nisan pada makam-makam itu seperti yang ditemukan di Campa. berisi tulisan yang ber jpa doa-doa kepada Allah.

Pengaruh Islam mulai kuat mengakar di wilayah nusantara selama kurun waktu abad ke-13 M hingga ke-16 M. Hal ini ditandai dengan mulai berdirinya beberapa kerajaan Islam di sejumlah wilayah di nusantara. Misalnya, Kerajaan Samudra Pasai di wilayah Aceh Utara pada awal abad ke-13 dan Kerajaan Malaka padaawal abad ke-14 di Semenanjung Malaysia. Sultan Mansyur Syah (wafat 1477 M) adalah sultan keenam Kerajaan Malaka yang membuat Islam sangat berkembang di pesisir timur Sumatra dan Semenanjung Malaka.

Di bagian lain Indonesia. Jawa saat itu sudah memperlihatkan bukti kuatnya peranan masyarakat Muslim, terutama di pesisir utara. Pusat-pusat perdagangan di pesisir utara, yakni Gresik, Demak, Cirebon, dan Banten, sejak akhir abad ke-15 dan permulaan abad ke-16, telah menunjukkan kegiatan keagamaan oleh para wali di Jawa.Seperti halnya peran para wali di wilayah Jawa, penyebaran Islam di wilayah lain juga berlangsung berkat peran dan andil para ulama setempat. Tercatat, beberapa ulama besar pribumi yang melakukan sosialisasi Islam di nusantara. Pada abad ke-17. dari Aceh muncul ulama-ulama besar yang karya-karyanya berperan secara luas di luar Aceh sampai ke tanah semenanjung. Para ulama tersebut antara lain Syamsuddin al-Sumatrani, Hamzah Fansuri. Nuruddin ar-Raniri, dan Syekh Abdul Rauf Singkel.

Ada pula Syekh Yusuf dan-Makassar yang menjadi ulama di Banten pada pertengahan abad ke-17 ketika diperintah oleh Sultan Ageng Tirtayasa. Ulama lain ialah Datu Bandang dari Sumatra Barat yang dipercaya! telah mengislamkan Makassar meskipun arus sosialisasi Islam di sana juga berasal dari para ulama Giri. Sunan Giri dan para ulama Giri lainnya juga berperan penting dalam sosialisasi Islam di Banjar, Ternate, dan Tidore. Kemudian, ada Syekh Nawawi al-Bantam yang berperan dalam Islamisasi Bima atau Sunan Gunung Jati di Cirebon dan Banten.

Tujuan penulisan

Penyebaran ajaran Islam oleh para ulama ini tidak hanya dilakukan melalui lisan, tetapi juga melalui tulisan. Karena itu. dikenal banyak sekali hasil karya tulis dari para ulama nusantara.Menurut Dosen Fakultas Adab dan Humaniora serta Pasca sarjana Universitas Islam-Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof Dr Uka Tjandrasasmita. keberadaan naskah-naskah keagamaan hasil karya para ulama tni sangat bermanfaat untuk menjaga kesinambungan peradaban Islam, mengingat naskah naskah tersebut mengandung informasi yang sangat lengkap tentang peradaban Islam.

Karya-karya para ulama ini. lanjut dia, pada umumnya berisi kajian keagamaan yang bersumber dari karya para sahabat pada masa Rasulullah SAW. Hal ini tentu bermanfaat untuk menjaga dan mengembangkan keaslian ajaran Islam pada masa mendatang. Tidak sedikit pula dari para ulama nusantara yang menulis kitab yang berisikan tentang seluk-beluk pemerintahan pada saat itu, seperti yang tertuang dalam Hikayat Raja-Raja Pasal

Hikayat Raja-Raja Pasai merupakan karya dalam bahasa Melayu yang bercerita tentang kerajaan Islam pertama di nusantara, yaitu Samudra Pasai. Dalam hikayat ini, Merah Silu bermimpi bertemu Nabi Muhammad yang kemudian mengislamkannya. Merah Silu kemudian menjadi Sultan Pasai pertama dengan nama Malik al-Saleh. Hikayat ini juga mencakup masa dari berdirinya Kesultanan Samudra Pasai sampai penaklukan oleh Kerajaan Majapahit. Karya seperti ini, menurut Prof Uka, bermanfaat untuk mengkaji model pemerintahan yang tepat menurut Islam.

Hal yang sama juga diungkapkan Nindya Noegraha, kepala Bidang Koleksi Khusus Perpustakaan Nasional. Menurutnya, naskah-naskah Islam karya para ulama terdahulu itu banyak berisi kisah dan ajaran agama. Ia menyebutkan, naskah klasik itu di antaranya berisi tentang ketuhanan, ajaran budi pekerti, sejarah, cerita rakyat, hikayat, teknologi, pengobatan, mantra, sastra, jimat. syair, politik, pemerintahan, undang-undang, hukum adat, hikayat, dan sebagainya.Dalam melahirkan karya tulis, para ulama nusantara yang hidup pada abad ke-13 hingga ke-17 M tidak menfokuskan pada satu ilmu saja, namun beragam sesuai dengan keahlian, bidang, kemampuan dan situasi di sekitarnya (etnografi) dan lokal fenomena.

Setiap karya tulisan yang dihasilkan oleh para ulama, tidak terlepas dari unsur-unsur keislama, ketuhanan dan kemurnia akidah, walau harus menghargai budaya masyarakat yang ada sebelumnya yang sudah melekat di dalam kehidupan dan keyakinan mereka masing-masing. Maka dengan memadukan dua unsur tersebut setiap karya tulisan yang dihasilkan oleh mereka diterima oleh masyarakat setempat, bahkan tidak sedikit yang disalin kembali di wilayah yang berbeda di Nusantara, bahkan di Asia. Hal tersebut bisa dilihat dalam buku-buku karya Nuruddin al-Raniry dan Abd al-Rauf al-Singkily yang banyak disalin dan menjadi rujukan para kaum ulama baik di Sumatera Barat, Jawa, Makasar (Bugis), Malaysia dan Fatani Thailand.

Sudah selayaknya karya para ulama terdahulu dalam tradisi tulisan digiatkan kembali dan dikembangkan sebelum kepada titik kepunahan dari hasil fisik karya mereka. Banyak naskah-naskah (manuscripts) yang dulu menjadi rujukan dan sumber sekarang tidak tahu keberadaannya, bahkan sebagian sudah berada di luar negeri. Sayangnya, pemerintah sepertinya masih enggan dan menganggap hal itu tidak terlalu penting bagi negeri ini, padahal keberadaan kebudayaan dan keagamaan tidak terlepas dari hasil dan karya mereka yang menjadi bacaan di dunia ini. wallahu 'alam.
Post a Comment

Hermankhan Google+ Followers

Copyright © 2015 Herman Khan | Portal Manuskrip Aceh dan Malay | Distributed By Blogger Template | Designed By Blogger Templates
Scroll To Top