Thursday, March 24, 2016

Hermansyah, Pemburu Manuskrip Perang Aceh

BANDA ACEH - Hermansyah, salah seorang pengkaji manuskrip dan naskah-naskah klasik di Aceh sekaligus dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry mengadakan kegiatan Jak Kalon Manuskrip (JKM) di Aceh. Kegiatan tersebut sekaligus melihat perkembangan naskah kuno di Aceh, terutama naskah-naskah perang Aceh melawan Belanda.

"JKM kali ini (20-21 Maret 2016) dilakukan di rumah kolektor manuskrip Aceh, Tarmizi A Hamid merupakan salah satu bagian dari kegiatannya menelusuri manuskrip-manuskrip tentang Perang Sabi Aceh melawan Belanda," kata Hermansyah.

Dalam inventarisasi yang dilakukan pada kegiatan tersebut ditemui beberapa naskah yang unik dan langka dari berbagai judul dan bidang ilmu, akan tetapi tidak ditemui dengan naskah perang Aceh.

Sebelumnya, kata Hermansyah, kegiatan tersebut juga sudah dilakukan di Museum Aceh selama dua kali berturut-turut. Di sana didapatkan 4 teks prang sabi Aceh yang ditulis pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, yaitu periode perang Aceh melawan Belanda.

"Penelusuran naskah-naskah Perang Aceh merupakan salah satu bagian dari kegiatan dalam memperingati perlawanan Aceh melawan Belanda sejak 143 tahun silam. Belanda mendeklarasikan pada dunia (Eropa) berperang dengan bangsa Aceh sejak 26 Maret 1873," katanya.

Sejak tahun tersebut, bencana peradaban menghancurkan Aceh. Kesigapan Aceh terhadap agresi luar, konflik internal, watak dan tabiat orang Aceh, hingga kepentingan kelompok menjadi bumerang terhadap masyarakatnya yang telah dibangun selama berabad-abad. Jati diri orang Aceh tergadai oleh harta dan tahta Belanda.

Sejauh ini, Hermansyah telah menginventarisir 60 manuskrip perang sabi, baik prosa ataupun syair (hikayat), seperti Hikayat Prang Sabi. Dari jumlah tersebut, 10 manuskrip ada di Aceh, selebihnya di luar negeri, terutama Leiden.

Hikayat Prang Sabi merupakan naskah yang mampu mengobarkan semangat melawan Belanda dan mati di jalan perang. Hingga, Belanda pun mengumumkan untuk membakar semua kitab Prang Sabi untuk menghapus jiwa nasionalisme Aceh. Namun, kemudian hari sebagiannya dibawa ke Belanda untuk dipelajari "pikiran" orang Aceh.

Source: http://portalsatu.com/read/histori/hermansyah-menelusuri-manuskrip-perang-aceh-8605

Post a Comment

Hermankhan Google+ Followers

Copyright © 2015 Herman Khan | Portal Manuskrip Aceh dan Malay | Distributed By Blogger Template | Designed By Blogger Templates
Scroll To Top