Friday, June 28, 2013

Gempa dalam Perspektif Agama dan Sains


Teks Naskah Gempa yang disalin di Aceh Besar 1906
 yang menunjukkan gempa di pantai Barat Aceh
berdampak hingga Aceh Besar
Banda Aceh – International Centre for Aceh and Indian Ocean Studies (ICAIOS) kembali mengadakan diskusi publik dengan tema menarik, “Gempa: Dialog Sains dan Agama” di Ruang seminar ICAIOS Darussalam, Kamis (27/6/2013).

Diskusi ini menghadirkan Hermansyah MTh MA Hum, filolog muda dan dosen Fakultas Adab IAIN Ar-Raniry beserta Dr Jamie Mc Caughey dari Earth Observatory Singapore (EOS)-Nanyang Technology University (NTU) Singapura. EOS merupakan lembaga riset yang fokus pada bencana dan perubahan iklim dan dampak keduanya terhadap kehidupan sosial, budaya, dan politik di Asia Tenggara.

Dalam paparannya, Hermansyah menjelaskan, tidak kurang dari 20 teks naskah tabir gempa yang telah teridentifikasi di seluruh koleksi, baik yang ada di Aceh maupun di luar negeri. Ada persamaan dan perbedaan di antara varian teks,” terangnya seperti dalam rilis yang diterima WartAceh.com.

Hermansyah menambahkan bahwa kesamaan struktur teks yang disalin dalam rentang waktu yang berbeda, antara abad ke-17 hingga ke-21 masehi merupakan salah satu ciri tradisi transfer knowledge di masyarakat setiap generasi. Pengalaman masyarakat Aceh tentang gempa sejak dahulu menciptakan sebuah persepsi dan keyakinan tertentu tentang fenomena alam tersebut.

Dari sudut pandang teologis, gempa dipandang sebagai sebuah cobaan bahkan teguran dari Maha Pemberi Peringatan. “Gempa 9.2 Skala Richter pada tahun 2004 memberikan gambaran yang jelas dimana masyarakat memandangannya sebagai sebuah teguran terhadap sikap umat muslim Aceh yang semakin menjauh dari ajaran agama,” kata Hermansyah.



Sedangkan dari persepktif sains, Dr Jamie menjelaskan bahwa sains modern terus berusaha memberikan penjelasan dari sudut pandangnya sendiri, gempa adalah gejala bumi yang normal yang hingga kini tidak dapat diprediksi. Ilmuwan lokal, nasional dan internasioanal terus berupaya menjelaskan dari sudut pandang logis bagaimana gempa dapat terjadi sehingga dampaknya dapat diminimalisir.

Menurut Jamie, Provinsi Aceh, seperti halnya daerah lain di Indonesia, berada di atas pertemuan lempeng Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik.

“Gesekan lempeng-lempeng tersebut menghasilkan gempa dengan kekuatan yang beragam; tergantung pada jenis gesekan dan kekuatan gesekan lempeng, kedalaman, episentrum gempa dan populasi manusia di atasnya. Gempa pada tahun 2004 adalah salah satu gempa terdasyat pada kurun waktu 50 tahun terakhir. Selain langsung mengakibatkan kerusakan, gempa tersebut juga memicu terjadinya gelompang Tsunami, yang juga merupakan salah satu gelombang terdasyat dalam kurun waktu lebih dari 90 tahun terakhir,” ujar Jamie.

Kedua pandangan, baik teologis dan sains, telah turut menciptakan model persiapan dan sikap yang berbeda terhadap gempa dan dampaknya.

Dalam diskusi yang dihadiri 17 peserta ini semakin menarik saat masuk pada sesi tanya jawab. Kegiatan ini merupakan bagian dari serial Young Scholars Discussion Series (YSDS) yang diprakarsai oleh ICAIOS bekerjasama dengan Bappeda Provinsi Aceh.[]


source: http://wartaaceh.com/soal-gempa-pakar-kaji-dalam-perspektif-agama-dan-sains/
see too: http://www.theglobejournal.com/Lingkungan/pakar-lokal-dan-asing-kaji-gempa-dalam-perspektif-agama-dan-sains/index.php
Post a Comment

Hermankhan Google+ Followers

Copyright © 2015 Herman Khan | Portal Manuskrip Aceh dan Malay | Distributed By Blogger Template | Designed By Blogger Templates
Scroll To Top