Tuesday, November 26, 2013

Meulaboh Dalam Lintas Sejarah Aceh

Penulis (paling kanan baju warna merah) bersama dengan Wakil Bupati
Rektor UTU Meulaboh dan pembedah buku


Buku "Meulaboh Dalam Lintas Sejarah Aceh" diluncurkan dan dibedah pada hari Senin (25/11/2013) di kantor Bupati Aceh Barat yang dibuka oleh Wakil Bupati Aceh Barat, Drs. H. Rachmat Fitri HD, MPA, mewakili Bupati Aceh Barat, H. T. Alaidinsyah.
Buku ini ditulis oleh Ketua Dewan Kesenian Aceh (DKA) Aceh Barat, HT Ahmad Dadek bersama Dosen UIN Ar-Raniry Banda Aceh yang juga ahli manuskrip Aceh, Hermansyah, serta editor Arif Ramdan, wartawan Serambi Indonesia di Aceh.

Peluncuran buku ini dipadukan dengan bedah buku oleh Dr.Gunawan Adnan, MA., Ph.D, yang menurut beliau hadirnya buku ini patut diapresiasi dan dibaca, sebab ini dapat menjadi rujukan utama karena kajian dalam buku ini dipadu dari sumber-sumber primer, manuskrip dan buku-buku Belanda.

Buku tersebut berisi tiga dimensi periode. Meliputi Meulaboh dalam literatur klasik; Kesultanan Aceh, orang-orang Pribumi, Teungku dan Datuk: literatur klasik Manuskrip; 

Periode kedua merupakan periode Kolonial Belanda, sejak menginjak kakinya di Meulaboh pada tahun 1877. Pada bagian ini antara lain terdapat Hikayat-hikayat Aceh versi van Langen, Hikayat Teungku di Meukek, dan Hikayat Ranto, West Kust van Atjeh, dan lain-lain.


Sedangkan periode terakhir yang dibahasa dalam buku ini pada periode kemerdekaan Indonesia, khususnya perjuangan rakyat Aceh dalam menegakkan kedaulatan Indonesia, periode Meulaboh post-disaster, dan prospek masa depan Meulaboh ke depan.

Rektor UTU Meulaboh, Drs Alfian Ibrahim MS menambahkan, buku ini sebuah terobosan yang sangat menarik karena kaya informasi tentang Meulaboh khususnya dan Aceh Barat umumnya dengan sumber yang seimbang.

Menurut Alfian, buku ini merupakan dokumen yang mengungkap beberapa kejadian di Meulaboh yang tidak terinformasikan. Seperti kejadian Teungku di Meukek atau juga namanya Teungku di Rundeng yang terbunuh oleh senjata Teuku Keujruen Muda Meulaboh. “Peristiwa ini menggambarkan bahwa di Meulaboh pernah terjadi perang saudara yang sangat besar dengan melibatkan politik adu domba Belanda”.

Bupati Aceh Barat, HT Alaidinsyah menyatakan gempa dan tsunami yang melanda Aceh pada akhir tahun 2004 lalu menyebabkan Aceh Barat kehilangan banyak hal, termasuk sejarah dan adat budaya. Tetapi dalam duka yang panjang masih tersimpan harapan dan semangat rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh Barat. Semangat tersebut telah mencetuskan hari lahir Kota Meulaboh dan Kabupaten Aceh Barat, daerah yang memiliki historis panjang dan berliku dalam tatanan Aceh.

Post a Comment

Hermankhan Google+ Followers

Copyright © 2015 Herman Khan | Portal Manuskrip Aceh dan Malay | Distributed By Blogger Template | Designed By Blogger Templates
Scroll To Top