Wednesday, November 20, 2013

Manuskrip Ilmu Matematika di Aceh dan Melayu-Nusantara

Manuskrip mengenai ilmu matematika (hisap) ini agak sulit ditemui di Aceh, termasuk wilayah Melayu-Nusantara. Namun, perkembangan ilmu ini sudah ada di tanah Asia Tenggara sejak sebelum Islam hadir, walaupn rumusan ilmu tersebut dapat disimpulkan periode Islamisasi di Nusantara. Sebab ilmu ini sudah menjadi kajian menarik sejak Islam ada di Jazirah Arab, sebab sangat berkaitan dengan ilmu waris, ilmu falak, dan ilmu-ilmu lainnya.

Dalam lintas sejarah Islam, ilmu matematika telah dikembangkan sejak abad ke-8 Masehi, beberapa tokoh penting seperti Al-Hajjaj bin Yusuf bin Matar (786-883 M), Muhammad bin Musa al-Khawarizmi, Al-Qalasadi, Abdul Qadir al-Sakhawi, Al-Abbas bin Said al-Jawhari, Abdul Hamid bin Turk, Ya'qub bin Ibn Ishaq al-Kindi, Banu Musa, Al-Bahani, Al-Khazin, Al-Kharaji, Abul Wafa al-Buzjani, Umar Kayyam, Al-Batani, dan lain sebagainya, merupakan pengasas dan pengembang ilmu matematika.

Dari beberapa sumber literatur menyebutkan bahwa Bangsa Semit menggunakan huruf abjad Arab. Mereka membakukan angka dengan abjad ini. Demikian juga halnya mengenai huruf abjad pada zaman Rasulullah. Pada abad pertama Hijriyah para ilmuwan muslim menggunakan huruf-huruf abjad dalam menuliskan karangan-karangan mereka. Setiap huruf mempunyai angka khusus untuk menunjukkannya. Huruf alif melambangkan angka 20, huruf lam melambangkan angka 30 dan seterusnya.

Pengenalan angka-angka India-Arab serta perluasan penggunaannya di dunia Arab dan Islam adalah berkat jasa ilmuwan terkenal, Muhammad bin Musa al-Khawarizmi (164-235 H/781-850 M), yang menulis buku tentang angka-angka India-Arab. Dengan demikian, bentuk-bentuk dari angka-angka India-Arab mulai menempati huruf-huruf abjad.

Cara penulisan angka-angka di kalangan orang India, oleh para ilmuwan muslim, terlihat mudah dan jelas serta tidak mempunyai kerumitan apa pun. Karena itu, para ilmuwan muslim mengambil gagasan tentang angka-angka dari orang India, tetapi dalam pengcmbangannya mereka mengambil arah yang berbeda dalam hal tertentu dari arah yang diambil oleh orang India. Bagaimanapun, saya melihat, sebaiknya angka-angka, dinamakan angka India-Arab karena gagasan awalnya berasal dari India. Sedangkan angka 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9 adalah angka-angka Arab. Sekalipun akar-akarnya berasal dari angka-angka India-Arab, bangsa Arab-lah yang telah memasukkan ke dalamnya berbagai penyesuaian dan penyederhanaan sehingga terkenal di dunia dalam bentuknya yang sekarang. Bangsa Arab telah mengenal angka kosong (nol) sejak semula.
Naskah Ilmu Matematika yang ditemui di Aceh karya Abdul Qadir bin Ali as-Sakhawi, 

Naskah ini menunjukkan bagaimana Abdul Qadir al-Sakhawi juga senada dengan penggunaan nama angka ini, disebut dalam naskah tersebut "Yaqulu rahimallahu rabbahu Abdul Qadir  bin Ali as-Sakhawi as-Syafi'i amilahum Allah bikhaffi lafzhihi fi ad-Dunya wal Akhirah, Hadha Mukhtashar fi Ilmu al-Hisab Sahhala Lil-Mubtadi nafi'ah, insyaAllah Ta'ala, wa-rattabahu 'ala Muqaddimah, wa ahada 'asyara baban, wa-khatimah. 

Fa-al-Muqaddimah fi sifat al-ahruf al-Hindiyyah wa-hiya tis'atu asykalin..." (Terjemahan: Abdul Qadir bin Ali as-Sakhawi as-Syafii -Allah memudahkan mereka di dunia dan akhirat- disebutkan bahwa ini Ringkasan Ilmu Hidab (Matematika) untuk memudahkan para pemula, Insya Allah bermanfaat. Maka disusun terdiri dari Mukaddimah, 11 bab, dan penutup. Maka, dipembukaan ini disebut karakter huruf Hindi (India) yaitu ada 9 bentuk...)"

Pada dasarnya, tokoh Abdul Qadir bin Ali as-Sakhawi terkenal di wilayah Melayu-Nusantara berkat Syekh Ahmad al-Fathani yang mengkaji kitab (karya) beliau berjudul matan Ilmu Hisab. Kemungkinan termasuk kitab ini merupakan hasil kerja keras Syekh Ahmad Fathani.
Tidak banyak ditemui pembicaraan beliau tentang ilmu hisab itu dalam bahasa Melayu. Ini kerana Sheikh Ahmad al-Fathani lebih banyak menulisnya dalam bahasa Arab. Tulisan beliau dalam bahasa Arab mengenai ilmu hisab dimulai dengan penerbitan kitab Matn as-Sakhawiyah fi ‘Ilmil Hisab karya Sheikh Abdul Qadir as-Sakhawi. Penerbitan dan pentahqiqan dilakukan pada tahun 1304 H/1886 M. Kemudian kitab tersebut beliau syarah pula dalam bahasa Arab.

Selain ilmu hisab yang biasa, yang dapat kita samakan dengan matematika, ada lagi ilmu hisab yang sangat erat hubungannya dengan ilmu falak. di ranah Melayu-Nusantara kedual ilmu hisab dan ilmu falak lebih banyak ditulis oleh Sheikh Ahmad al-Fathani berbanding ilmu hisab yang bercorak matematika. Karya beliau yang jenis kedua itu juga ditulis dalam bahasa Arab. Dalam tahun 1305 H/1887 M, Sheikh Ahmad al-Fathani telah mentahqiqkan kitab Wasilatut Thullab li Ma‘rifati A’mal al-Lail wa an-Nahar bi Thariq al-Hisab karya Syeikh al-Khaththab.

Di Aceh sendiri tokoh terkenal dan alim di bidang ilmu falak dan hisab adalah Syekh Abbas Kuta Karang. Namun sayang, belum banyak peneliti di Aceh dan Nusantara yang mengkaji tokoh ini, padahal karya sangat penting dalam perkembangan ilmu falak, hisab, mikat, dan tabib. Selain itu, kemungkinan juga karya Syekh Abbad Kuta Karang merujuk kepada tokoh ini, baik as-Sakhawi ataupun al-Khattab. Sehingga kajian tersebut membuka ruang keilmuan di Aceh yang tidak hanya bertumpu pada ilmu-ilmu praktis dan umum semata.
Post a Comment

Hermankhan Google+ Followers

Copyright © 2015 Herman Khan | Portal Manuskrip Aceh dan Malay | Distributed By Blogger Template | Designed By Blogger Templates
Scroll To Top