Tuesday, January 12, 2016

Gampong Aceh Eropa


Namun demikian, ketakjuban saya pada anak-anak Aceh yang lahir di negeri tersebut tidak membuat mereka lupa pada bahasa indatunya, padahal mereka sama sekali belum pernah menginjakkan kakinya di Aceh. Mereka mampu berbahasa Aceh dengan fasih melebihi anak Aceh di kota-kota di Aceh. Selain bahasa Aceh yang “meu-Aceh” juga belajar bahasa Denmark dan bahasa Inggris.

Selain itu, acara kenduri maulid Nabi juga menjadi istimewa sebab makanan yang disajikan seluruhnya khas citarasa Aceh, mulai dari makanan ringan hingga asoe hidang kenduri. Ini mengingatkan saya setelah sekian lama tidak menikmati makanan khas Aceh selama berada di Jerman.

Tahun ini, Maulid Nabi diselenggarakan bertepatan dengan peringatan 11 tahun gempa tsunami Aceh. Usai acara maulid dilanjutkan samadiyah dan doa kepada para syuhada Aceh dan lainnya pada bencana akbar tersebut.

Pada musim dingin, waktu malam lebih awal dan lebih lama daripada siang. Di dalam Meunasah Aceh tersebut, para pemuda dan masyarakat Aceh terus melantunkan dalae-dalae Maulid Nabi, tidak hanya dalam bahasa Arab, tetapi juga dalam bahasa Aceh.

Jamaah Meunasah Aceh baca Dalae Khairat "Berjanzi" saat Maulid Nabi, 1437 H/ 2015 M
Sehari penuh saya berada di sini, sepertinya sedang berada di “Gampong Aceh” Eropa, berinteraksi dengan masyarakat dari berbagai daerah di Aceh dengan cuaca dingin bersalju. Tidak berlebihan jika masyarakat Aceh di Negara-negara Eropa ingin menikmati Maulid Nabi seperti di Aceh cukup ke Denmark. Di sini, suasana Maulid Nabi meu-Aceh benar-benar kental.

Pada kesempatan emas ini, saya mendapat banyak informasi dari masyarakat Aceh di Denmark tentang kehidupan mereka dan orang-orang Denmark.

Banyak informasi positif yang saya petik, mulai dari pola pikir dan pola hidup masyarakat, sistem pemerintahan yang baik, petani adalah milioner, biaya hidup rakyat ditanggung pemerintah, peluang dan lapangan kerja bagi masyarakat, sistem sharing penghasilan hingga 38% persen, hingga integrasi pendidikan dimulai dari tingkat Taman Kanak-kanak (TK).

Sepertinya, Aceh harus banyak belajar pada Denmark yang sama-sama memiliki populasi penduduk lima juta jiwa, tetapi beda tingkat kesejahteraannya.

Baca: Maulid Nabi meu-Aceh di Denmark

Published on Citizen Reporter Serambi Indonesia

Post a Comment

Hermankhan Google+ Followers

Copyright © 2015 Herman Khan | Portal Manuskrip Aceh dan Malay | Distributed By Blogger Template | Designed By Blogger Templates
Scroll To Top