Tuesday, June 21, 2016

Manuskrip Lampanah: Antara Kepedulian dan Warisan (bag. 1)

Berawal dari informasi ibu Nurul, salah seorang dosen di UIN Ar-Raniry Banda Aceh, kami bersama-sama dengan beberapa orang para dosen UIN Ar-Raniry Banda Aceh mengunjungi pemilik naskah di kawasan Aceh Besar, Gampong Lampanah, di sebuah rumah dengan konstruksi kayu peninggalan masa lalu, disebut rumoh Aceh. Walau kelihatan tonggak kayu utama miring, tetapi masih kokoh. Rumah yang telah mengalami beberapa tahap renovasi dan penambahan dapur ke bawah itu memberikan kami informasi penting, betapa kaya ilmu tersimpan di rumah yang sederhana dan berumur tua.

Perjalanan ditempuh satu jam dari Kota Banda Aceh melalui jalan utama Banda Aceh-Medan, kemudian memasuki kawasan Gampong Lampanah, Kemukiman Lampanah, Aceh Besar. Rumah penduduk disini termasuk kawasan padat, tampak sepanjang jalan gampong tidak ada lagi lahan dan tempat bermain di tanah lapang, pilihan terakhir adalah bermain di bawah rumah panggung dan rumoh Aceh, atau di halaman sekolah dan halaman mesjid.

Tujuan utama melihat manuskrip tersebut di rumah salah seorang pemilik dan pewaris dari kakeknya secara turun-temurun. Kami hanya mendapat sedikit informasi bagaimana naskah-naskah ini berada di tangannya sekarang, termasuk perlakuan dan perawatan. Namun, kami kaya akan banyak data yang tersimpan di dalam naskah-naskah kuno yang mayoritasnya sudah tidak sempurna lagi, setidaknya itu harapan pertama. Menurut ahl bait pewaris naskah, semua naskah ini dibawa dari Pidie, saat mereka hijrah ke Aceh Besar, di sini (Lampanah) kakeknya membuka dayah atau tempat pengajian kepada penduduk setempat saat itu (tahun ?).

Kitab Mujib An-Nida' Ila Syarah Qatr An-Nida', termasuk kitab langka dalam ilmu bahasa dan grammatika, daripada kitab utamanya Qatr An-Nida' yang banyak salinannya di Aceh.

Ini merupakan informasi awal, kami menduga bahwa kitab-kitab (manuskrip) di sini umumnya dalam bidang al-Quran dan tafsir, fiqih dan faraid, tauhid dan tasawuf,  baik dalam bahasa Arab ataupun bahasa Jawi (Melayu).  Dan kemungkinan besar didominasi oleh teks-teks berbahasa Arab, karena di sini sentral pengajian untuk Gampong Lampanah dan sekitarnya.

Saat kami mulai ditunjukkan tiga naskah, sangat disayangkan, naskah-naskah yang disimpan tidak terawat dengan baik, walaupun menurut pemilik sudah menjaga dengan baik. Namun, saya memaklumi atas hal demikian karena ini adalah pengetahuan mereka, maka yang terbersit dalam benak saya adalah membangunkan pemerintah Aceh -terutama SKPA terkait- yang terlena dan tertidur selama ini. Paling utama perlu adanya edukasi kepada masyarakat yang masih "setia" menyimpan naskah, mereka tidak menggadai ke luar negeri, mereka tidak tergiur dengan mata uang asing, jadi harus ada pengetahuan bagaimana mereka merawat dan menyimpan naskah dengan baik.

Edukasi yang diperlukan ini baik dalam bentuk sosialisasi ataupun pelatihan-pelatihan yang diberikan Pemerintah Aceh kepada mereka, misalnya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Dispudbar), Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB), Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB), Kemenag, Badar Arsip dan Perpustakaan (BAP) Lembaga Wali Nanggroe (LWN), Badan Dayah Aceh (BDA) dan Majelis Adat Aceh (MAA), atau lembaga lainnya yang memiliki tugas fungsi dalam penyelamatan khazanah dan budaya Aceh. Semua lembaga tersebut memiliki keistimewaan dan karakteristik di Aceh terutama pada khazanah warisan Aceh, bukan pada proyek "infrastruktur" semata.

Kondisi ini tidak bisa ditunda dan dibiarkan, sebab setiap harinya naskah-naskah ini akan rusak secara alami, baik dimakan rayap, aus ketajaman zat tinta, bencana alam, dan sebagainya. Salah satunya kitab di bawah ini, kitab Tafsir yang semakin hari akan hancur kertas akibat ketajaman tinta. Maka perlu segera penanganan lebih lanjut, antaranya digitalisasi atau foto naskah untuk penyelamatan isi kandungan manuskrip tersebut.

Teks Tafsir al-Qur'an.
Kepedulian sang pewaris telah berusaha semaksimal dan dengan segala penuh upaya menyelamatkan manuskrip tersebut dari dulu; mulai sejak periode perang Aceh-Belanda, konflik Aceh-Indonesia, gempa-tsunami Aceh, dan hingga kini era damai. Butuh kepedulian dari masyarakat dan terutama pemerintah Aceh (dinas-dinas) untuk penyelamatan ini, lantas lembaga apalagi yang perlu di Aceh agar naskah-naskah kuno itu selamat? (bersambung bag. 2)





0 comments:

Copyright © 2015 Herman Khan | Portal Manuskrip Aceh dan Malay | Distributed By Blogger Template | Designed By Blogger Templates
Scroll To Top