Sunday, May 13, 2012

Mimpi Museum Manuskrip Aceh Bak Perpustakaan Alexandria


Di kawasan Asia, Aceh punya sejarah tersendiri tentang manuskrip kuno. Sebagai daerah "gudang naskah" sangat wajar jika kemudian Aceh sebagai daerah primadona penelusuran naskah periode kolonial dan kemerdekaan. Hingga naskah Aceh ada dimana-mana, menjadi barang berharga dan mendapat pengawalan esktra di berbagai museum negara.

Berbalik fakta dengan di Aceh, karya ulama dan indatu tidak mendapat perhatian serius hingga saat ini, walaupun naskah Aceh pernah ditelan konflik, dan dihantam tsunami. Ia (manuskrip) tetap tersimpan di kandang ayam atau jerjak meunasah (balai pengajian). Tidak ada museum manuskrip yang khusus menyimpan  naskah-naskah yang berharga. Aceh semestinya belajar ke berbagai museum di luar negeri, salah satunya Alexandrina Bibliotheca (Perpustakaan Alexandria).

Perpustakaan Alexandria adalah reinkarnasi indah perpustakaan kuno yang terkenal dari Alexandria, Mesir. Perpustakaan asli memegang manuskrip koleksi terbesar di dunia dan merupakan pusat belajar selama 600 tahun sampai terbakar pada abad ke-3. Meskipun pernah terbakar, perpustakaan ini mempunyai bentuk yang mengagumkan, menyerupai sebuah diskus miring atau matahari besar. Bangunan ini dirancang oleh arsitek Norwegia dengan biaya sekitar US$200 juta.


Adapun koleksi penting lainnya adalah manuskrip keagamaan termasuk salinan langka dari Al Qur'an. Koleksi buku di seluruh ruang baca merupakan sumbangan dari seluruh dunia dan mencakup berbagai subjek dan bahasa.

Pameran lainnya adalah koleksi ukiran asli, litograf, foto awal, peta Alexandria oleh seniman dari abad ke-15 dan ke-19, serta sebuah pameran permanen yang didedikasikan untuk karya sastra sinematik dan lukisan dari director, desainer produksi dan pembuat film Mesir, Shadi Abdel Salam.


Berada di perpustakaan, Anda bisa mengagumi rrsitektur yang modern dan mencolok dengan atap panel kaca berdiameter 160 meter yang miring ke arah laut seperti sebuah jam matahari.
Dinding luar, yang terbuat dari granit Aswan abu-abu diukir dengan simbol dari 120 skrip yang berbeda.

Salah satu bagian spektakuler dari perpustakaan adalah ruang baca utama yang meliputi lahan seluas 70.000 meter persegi dan dapat menampung 2.000 pembaca pada satu waktu. Selain itu, ada juga 200 ruang belajar untuk sarjana dan peneliti.

Untuk melihat naskah dan pameran galeri buku langka, Anda bisa menuju jantung perpustakaan dimana terdapat ruangan seluas 344 meter persegi. Ini terdiri dari 12 kotak pameran yang disumbangkan oleh Italia dan 20 kotak pameran buatan Mesir. Sekitar 120 manuskrip dan buku langka ditampilkan pada kotak ini.

Di dalam perpustakaan juga ada Museum Antiquities yang menampilkan artefak yang ditemukan di lokasi pembangunan perpustakaan modern. Koleksi ini terdiri dari sekitar 1.100 dokumen dari berbagai zaman peradaban Mesir mulai dari era Firaun sampai dengan periode Islam, termasuk peradaban Yunani, Romawi dan Koptik.

Bangunan Alexandrina Biblioteca juga terdiri dari laboratorium restorasi naskah, planetarium (kubah besar di atap) dan pusat konferensi besar.

Bila ingin berkunjung, perpustakaan Alexandria buka dari Sabtu-Kamis mulai pukul 11.00-19.00 waktu setempat sedangkan Jumat mulai pukul 15.00-19.00 waktu setempat. Tiket masuk perpustakaan EGP10 (sekitar Rp16 ribu) sedangkan untuk melihat pemeran lainnya Anda dikenakan biaya tambahan.(MI/*)

sebagian data diambil dari http://metrotvnews.com/read/news/2010/10/25/32376/Koleksi-Manuskrip-Kuno-di-Perpustakaan-Alexandria
Post a Comment

Hermankhan Google+ Followers

Copyright © 2015 Herman Khan | Portal Manuskrip Aceh dan Malay | Distributed By Blogger Template | Designed By Blogger Templates
Scroll To Top