Thursday, January 24, 2013

Maulid Nabi Dalam Manuskrip Aceh


"Dengan hati, jiwa dan raga, kami tetap memujimu ya Rasulullah".

Setiap tahunnya di seluruh belantara dunia ini akan memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad, termasuk di Aceh. Di negeri sejuta mesjid ini telah tersebar berbagai kegiatan (tradisi) untuk memperingati maulid Nabi, sehingga even ini menjadi khas dan istimewa yang terintegrasi dalam perkembangan agama Islam di Aceh.

Kekhasan tersebut dapat terlihat pada penyebutan bulan Hijriyah dalam bahasa Aceh, sebut saja Rabiul Awal bulan lahirnya Rasulullah dinamai Mulod / Maulod (dari kata Maulod), yaitu bulan memperingati kelahiran Nabi Muhammad. Pada bulan selanjutnya pun (Rabiul Akhir) disebut Adoe Mulod (secara literlek diartikan adik Maulid), atau secara bahasa Maulid Kecil, penamaan itu disebabkan pada penyebutan bulan Rabi' al-Akhir mengikuti Rabi' Awal, atau yang kecil mengikuti yang besar. Selanjutnya adalah bulan Jumadi al-Awwal akan disebut Mulod Seuneulheh (Maulid akhir), sebagai bulan penutup perayaan Maulid.

Penyambutan Maulid Aceh sungguh luar biasa, sehingga tiga bulan penuh itu dikategorikan sebagai bulan perayaan kelahiran Rasulullah. Walaupun ini dianggap sesuatu di luar tradisi Islam di Arab sendirinya, akan tetapi usaha tersebut sebagai pembelajaran untuk setiap generasi. Anak-anak setiap keluarga di Aceh, dan atau anak-anak yatim tidak pernah merasa sedih dan gundah, karena kegiatan sebagai tradisi masyarakat, bukan hanya sebagai ritual kerohanian, tetapi juga termasuk sosial kemasyarakatan.

Inilah interpretasi dari rahmatan lil-'alamin, yaitu sebagai melakukan kenduri, acara sosial dan keagamaan yang berada sekitar ritual sosial. Walaupun dalam hal ini, makna falsafah dari maulid  Nabi -hampir- sering terabaikan. Dalam tahapan ini, kita patut menjaga tradisi tersebut untuk membangkitkan inti dan ibrah dalam kehidupan Rasulullah dari segala lini.

Sungguh telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasih lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin (QS. At-Taubat : 128)

"Allah tidak mengatakan 'rasul dari kalian' tetapi mengatakan 'dari kaummu sendiri'," kata Sayyid Qutb saat menjelaskan ayat ini dalam Fi Zhilalil Qur'an, "ungkapan ini lebih sensitif, lebih dalam hubungannya dan lebih menunjukkan ikatan yang mengaitkan mereka. Karena beliau adalah bagian dari diri mereka, yang bersambung dengan mereka dengan hubungan jiwa dengan jiwa, sehingga hubungan ini lebih dalam dan lebih sensitif."

"Allah SWT menyebutkan limpahan nikmat yang telah diberikan-Nya kepada orang-orangy mukmin melalui seorang rasul yang diutus oleh-Nya dari kalangan mereka sendiri," tulis Ibnu Katsir saat menjelaskan ayat yang sama, "yakni dari bangsa mereka dan sebahasa dengan mereka."


Rasulullah merasakan beratnya penderitaan dan kesulitan umatnya, bahkan lebih berat bagi Rasulullah daripada apa yang dirasakan oleh umatnya sendiri. Maka setiap saat yang diperjuangkan adalah umat, yang dibela adalah umat, yang dipikirkan menjelang wafat adalah umat. "Ummatii... ummatii...", kata Rasulullah yang selalu memikirkan umatnya menjelang wafatnya.

Rasulullah juga sangat menginginkan umatnya memperoleh hidayah serta kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat. Maka segala hal yang diperintahkan Allah untuk disampaikan kepada umatnya telah beliau sampaikan. Segala hal yang mendekatkan ke surga dan menjauhkan dari neraka beliau paparkan. Bahkan Rasulullah menyimpan doa terbaiknya untuk umatnya kelak di yaumul hisab agar umatnya beroleh syafaat. Itulah bentuk-bentuk kasih sayang Rasulullah kepada umatnya.

Kini tergantung kita, apakah mau mengikuti petunjuk Rasulullah atau menentangnya. Mengambil sunnah atau membuangnya. Mengikuti ajarannya atau meninggalkannya. Meneladaninya atau mengabaikannya. Orang mukmin pasti memilih yang pertama, karena itulah bukti cintanya pada Allah dan Rasul-Nya, sekaligus jalan keselamatan dan kebahagiaan.
Post a Comment

Hermankhan Google+ Followers

Copyright © 2015 Herman Khan | Portal Manuskrip Aceh dan Malay | Distributed By Blogger Template | Designed By Blogger Templates
Scroll To Top