Friday, June 19, 2015

Tradisi Meugang di Kesultanan Aceh

Bab Faidah Fadilah Puasa Ramadhan, Sembahyang Lima waktu
dan Sembahyang Jumat
SETIAP menjelang Ramadhan, masyarakat Aceh akan menyambut bulan penuh berkah dengan cara khas, yakni tradisi mameugang atau meugang.
Tradisi ini dipercaya telah melekat sejak era Kesultanan Aceh, sebuah tradisi yang dijalankan oleh Sultan dan Sultanah di wilayahnya menjelang Ramadhan sebagai rasa syukur dan senang menyambut Ramadhan.
Cerita sejarah inilah yang diinvetarisir melalui teks-teks tertulis (manuskrip) masa lampau, guna melacak khazanah Aceh masa lampau dan direviitalisasi kembali menjadi sebuah paduan, dan tidak menjadi mitos belaka.
Tidak mudah untuk menemukan tradisi-tradisi tahunan yang berlaku di Aceh seperti meugang, meulaot, tradisi blang, hari Asyura, ataupun acara lainnya dalam catatan-catatan lokal. Hal ini banyak menyulitkan peneliti asing untuk melihat Aceh seacra komrehensif masa lampau.
Tradisi meugang di era kesultanan Aceh tercatat dalam naskah Adat Aceh yang dikoleksi di Verhandelingen di London di India Office Library, dan dua salinan lainnya ada di Perpustakaan Leiden. Kemudian Koninklijk Instituut voor Taal-, Land-, en Volkenkunde, (KITLV) Jilid XXIV, Den Haag-Belanda mengoleksinya.
Pada tahun 1850, Braddell menerjemahkan beberapa bagian teks. Dan G.W.J Drewes dan P. Voorhoeve pada tahun 1958 menerbitkan sebuah faximile yang direproduksi dalam bentuk foto memungkinkakn teks berhuruf Arab-Jawi itu bisa langsung dibaca. Pada tahun 1976 ditranskripsi kembali oleh Teungku Anzib Lamnyong.
Pada tahun 1985, melalui Departemen P dan K, Ramli Harun dan Tjut Rahma MA Gani mengalihaksara kembali teks “Adat Aceh” yang sama.
Di sinilah diketahui bahwa teks “Adat Aceh” tertanggal 3 Desember 1815 berasal dari W.E Philips yang menemukannya di Pulau Pinang (Penang) ketika ia menjadi gubernur di koloni Inggris sampai tahun 1824.
Oleh karena itu, sepertinya agak sulit menemukan varian lain di Aceh saat ini, walaupun di sisi lain kita masih bersyukur, khazanah indatu Aceh masih terselematkan dan tersimpan di banyak negara di luar negeri.
Teks bagian meugang diawali pada saat para petinggi Kesultanan Aceh bermufakat tentang awal puasa dan meugang.

“Maka orang kaya Seri Maharaja Lela duduk musyawarah sekalian majelis Raja, Majelis Hulubalang, Majelis Tabal pada hari mameugang Puasa, dan Majelis berangkat yang kedua Hari Raya dan Majelis Junjung Duli dan Majelis berangkat hari Jumat, dan Majelis berangkat bulan Safar dan Majelis jaga-jaga dan Majelis Bandar Darussalam sekalian tersurat.”
Majelis Tabal merupakan lembaga kerajaan yang mengurus meugang puasa.
“Alkisah maka tersebutlah perkataan Majelis Tabal pada hari mameugang puasa. Maka datanglah syahbandar dari Seri Rama Setia membawa antatan [hantaran] pada malam 30 hahri Sya’ban ke hadapan Biram serta menantikan bulan [hilal]. Jikalau tiada keliahatan bulan, maka bermalamlah dihadapan Biram serta dengan antatannya.”
Masih dalam sumber yang sama, adat hantaran mameugang disertai dengan bumbu masakannya yang diserahkan kepada Tun Diwa Berani berupa kerbau satu ekor, bawang putih satu cupak, jintan putih 1 cupak, ketumbar 1 cupak, dan kunyit kering 1 cupak.
Pada masa menunggu hilal para petinggi Kerajaan akan dijamu oleh Sultan Aceh di Istananya. Hadiah bawaan tersebut menjadi bagian dari hadiah jamuan nantinya selama satu atau dua hari.
Pengumuman awal Ramadhan dilakukan dengan cara unik.
“Kemudian maka berdirilah Bentara Blang, kemudian ditiup oranglah nafiri tujuh ragam, serunaipun tujuh ragam juga, kemudian dipalu oranglah gendering dong tujuh kali tujuh ragam.”
Kegiatan ini dilakukan dengan beragam agenda lainnya, termasuk juga iringan pawai akbar dengan pasukan kuda dan gajah sebagai rasa suka cita menyambutnya datangnya Ramadhan.
 “..Maka pada keesokan harinya diarak oranglah Raja Tajul Intan dikarang. Maka oleh orang yang beribu Raja Tajul itu citaraja dan yang menggerak gajah pun citaraja juga…”
Ini menunjukkan kesenangan dan kebahagiaan bagi sang Raja dan pengawal gajah dalam perayaan tersebut.
Pada saat acara berlangsung, Bentara Blang akan menulis surat pengumuman (Snouck menyebut: sranta. Aceh lebih dikenal sarakata atau arakata) yang akan dikirim atau dibawa pulang oleh setiap hulubalang (uleebalang) ataupun bentara di setiap sagoe, guna untuk diumumkan kepada seluruh masyarakat di desa-desa.
Bersamaan dengan itu, setiap mereka akan membawa pulang daging dari hantara yang diserahkan di awal.
Sepertinya pengaturan tersebut dilakukan oleh pihak Kerajaan dan Geuchik gampong untuk dibagikan kepada mustahik. Pemberitahuan awal puasa ini diiringi dengan peh tambo (beduk) di meunasah-meunasah dan balee pengajian.
Catatan mameugang di Kesultanan Aceh tidak dicatat lengkap oleh Snouck. Ia menyinggung sekilas fenomena meugang di Aceh dan keberagamannya di masyarakat.
Ia sepertinya meninjau pasar-pasar yang ada di Banda Aceh dan Aceh Besar, karenanya ia menyebut sranta atau pengumuman meugang tidak dilakukan atau dibuat atas nama Sultan.
Saya menilai, hal ini dapat dipahami, tradisi atau adata ini telah dijalankan oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa ada qanun atau aturan (sarakata) Sultan, dan pada akhir abad ke 20, “power Kesultanan” telah beralih fungsi ke struktural masyarakat, sehingga adat istiadat cukup dengan reusam kelembagaan Kesultanan (pemerintah).
Tentu, tradisi ini harus tetap dipertahankan sesuai dengan situasi dan kondisi waktu dan tempat.

HERMANSYAH, MA.Hum, Adalah dosen Bidang Teks Klasik dan Kajian Naskah pada Prodi SKI Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry, dan Peneliti Manuskrip.

http://aceh.tribunnews.com/2015/06/15/tradisi-meugang-di-kesultanan-aceh
Post a Comment

Hermankhan Google+ Followers

Copyright © 2015 Herman Khan | Portal Manuskrip Aceh dan Malay | Distributed By Blogger Template | Designed By Blogger Templates
Scroll To Top