Monday, September 26, 2016

Dari Meulaboh ke Negeri Daya


Sejauh ini sangat sedikit ditemukan catatan-catatan perjalanan seseorang yang ditulis oleh orang-orang terdahulu akan eksistensi dan keberadaannya pada suatu tempat saat itu. Catatan-catatan traveling (ravel) seperti yang dilakukan pelaut-pelaut Barat dan para musafir Timur Tengah.  Hal ini tentu menjadi sebuah tanda tanya mengapa masyarakat di Melayu Nusantara tidak menulis dirinya atau perjalanannya?. Jawabannya tentu akan banyak hal yang dapatkan. 

Namun, sebuah naskah koleksi Museum Aceh ini bagi saya, dan bagi peneliti manuskrip akan menarik. Menarik bukan karena ia menulis catatan perjalanannya, akan tetapi karena terdapat dua kolofon (catatan akhir) yang berbeda, dua nama yang berbeda dan dua tempat asal yang berbeda. 

Adanya dua kolofon yang berbeda sebenarnya juga terdapat di beberapa naskah Aceh dan Melayu. Lantas masih menarikkah naskah ini?. Tentu saja, salah satu keistimewaannya adalah naskah ini berasal dari barat selatan Aceh. Suatu wilayah yang jarang sekali didengar akan kiprahnya dalam dunia manuskrip dan tentunya sejarah. Daerah ini (Meulaboh dan Daya [sekarang Aceh Jaya]) adalah dua wilayah yang memiliki kiprah besar sejak Kesultanan Aceh berada pada puncak dan hingga kolonial Belanda, akan tetapi sedikit terekam dalam literatur sejarah. Hikayat Potjut Muhammad, Hikayat Tgk di Meukek dan Hikayat Ranto sudah cukup menjadi bukti keterlibatan Barat Selatan Aceh di Kutaradja, Aceh Besar, Pidie dan kawasan lainnya. 

"Yang empunya nadham ini Shayk
Hasan Lhoeng Meunasah Pudeung 
Zaman tertulis pada
Sanah 1335 pada
bulan Rabi' al-Awwal
Tammat kalam
Amin"

Berkaitan dengan Rabi' al-Awwal 1335 H bertepatan dengan akhir tahun 1916 atau awal 1917. Jika saja dikonversi tanggal 1 Rabi' al-Awwal 1335 H, maka akan bertepatan dengan hari Selasa 26 Desember 1916. Maka pada akhir tahun itulah Muhammad Saroeng Meulaboh menyelesaikan tulisan nadhamnya yang dipinjam dari Shayk Hasan Lhoeng Meunasah Pudeung. 

Di luar dari kolofon juga tertulis catatan tentang niat shalat gerhana bulan. Catatan-catatan seperti ini adalah hal biasa pada saat itu di naskah-naskah keagamaan yang ditulis oleh seseorang semasa atau setelahnya. Jika melihat karakter tulisan maka mulai  "Ini sembahyang gerhana bulan: ushalli Sunnat Khusuf rak'ataini lillahi Ta'ala. Artinya aku sembahyang akan sunnah gerhana bulan dua raka'at karena Allah Ta'ala", maka dapat disebut ini tulisan lain dari si penyalin. Ketebalan tinta dan jenisnya juga berbeda, karakter kaligrafi (khat) juga tidak sama pada banyak huruf.

Jika melihat laqap (gelar) Shayk yang ditabalkan pada Hasan Lhoeng, maka kemungkinan besar ini adalah senior di satu seperguruan atau memang gurunya di tempat pendidikan tersebut. Paling tidak, ia adalah sesepuh yang dihormati di tempat itu, yaitu di Negeri Daya (Aceh Jaya). Tampaknya pertemuan mereka di Negeri Daya (Aceh Jaya), bisa jadi antara guru-murid, atau antara senior (berumur tua) dengan junior (muda) 

"Yang tulis ini Nadham Muhammad
Saroeng Meulaboh zaman
musafir di Negeri Daya
Kuala Lambada
nama []
adanya"

Teks ini menunjukkan bahwa tulisan tangan yang tertera di dalam lembaran tersebut dari Muhammad Saroeng Meulaboh yang melakukan perjalanan (musafir) ke Aceh Jaya. Barangkali untuk saat ini, ia seorang tokoh yang dikenal atau teungku di Meulaboh atau Aceh Jaya yang masih dikenal, sebab tahun penulisan masih pada abad ke-20 masehi.

Peta di bawah ini menunjukkan tempat para musafir para penuntut ilmu, hubungan antara Aceh Besar, Aceh Jaya dan Meulaboh (Aceh Barat). Bila disebut tahun penulisan, maka dapat diasumsi saat itu sudah dapat ditempuh dengan jalur darat antara satu dengan lainnya, walaupun memerlukan beberapa hari untuk mencapai tempat tujuan.


Tentu jaringan antara Barat Selatan-Aceh Darussalam sebagai sentralnya- dengan Timur Utara Aceh telah terjalin sejak dulu. Jaringan bisnis, kedaulatan kerajaan, hingga hubungan personal antara satu dengan lainnya. Hubungan itu terjalin sejak keduanya belum terhubung jalan aspal Belanda, melewati pergunungan, lembah, hutan belantara, atau jalur melalui jalur laut.

Sayangnya, daerah-daerah (jalur) pesisir pantai barat ini musnah akibat tsunami beberapa kali, bukan kali tahun 2004 saja, tetapi kuat dugaan juga terjadi pada tahun 1906/1907 dan sebelumnya, yang disebut oleh orang Nias sebagai smong, orang Aceh Rayeuk mengatakan ie beuna, dan orang-oran di Meulaboh mengenalnya Pasie Karam.


Post a Comment

Hermankhan Google+ Followers

Copyright © 2015 Herman Khan | Portal Manuskrip Aceh dan Malay | Distributed By Blogger Template | Designed By Blogger Templates
Scroll To Top