Saturday, December 03, 2016

Bukan Akhir Perjuangan Aceh




Pernyataan Belanda di Museum Bronbeek, Arnhem-Belanda "Kenangan Pahit yang harus dikenang".

Hampir semua lini masyarakat Aceh mengambil bagian melawan Belanda pada era kolonial. Bukan hanya murni pejuang, para Sultan, Uleebalang, ulama, kepala-kepala Mukim, perempuan, dan termasuk anak-anak. Banyak korban (syahid) dari pihak Aceh, bukan berarti berhenti dari perjuangan. Bahkan, perlawanan, demi perlawanan terus digalakkan untuk merebut wilayah-wilayah yang dikuasai Belanda.

Menurut Belanda, tahun-tahun terakhir syahidnya para "keluarga Tiro" merupakan akhir dari perjuangan dan perlawanan Aceh terhadap Belanda. Sebab setelah melumpuhkan Kesultanan Aceh, menguasai Mukim-mukim Aceh Besar, sentral perang Aceh pindah ke Pidie,  mampu mengubur "Kesultanan Pidie", beralih pada kepemimpinan ulama.

Dalam tahun 1910-1911 dianggap akhir dari perjuangan Tiro, karena pada tahun ini hampir semua keluarga Tiro syahid. Pada tahun 1910 yang syahid banyak nama-nama pejuang dan ulama pejuang Aceh. Di wilayah Aceh Utara, tewas Teungku Di Buket (21 Mei 1910), Teungku Tjhi' Harun alias Teungku Di Pineung (21 Mei 1910), dan Teungku-teungku ulama; Teungku Ali dari Teutue, Teungku Ismail Gluempang Payeung, Teungku Pi dari Iboih, Teungku Jit dari Lho' Kayu, Teungku Deah dari Geumpang, Teungku Saleh dari Tangse, Teungku Rahman dari Tiro (Said, 459), dan Teungku Mahyiddin alias Teungku Chik Mayet.

Nama terakhir adalah putra kedua Teungku Chik Saman di Tiro yang syahid pada 5 September 1910. Teungku Mahyiddin Tiro pernah mengirim surat kepada Tuanku Raja Keumala dan para pemimpin di Samalanga bahwa ia akan terus berjuang melawan Belanda hingga syahid. Surat itu ditemukan Belanda yang berisikan beberapa peristiwa dalam waktu itu. Baca: Surat Peunutoh Teungku Mahyiddin Tiro

Cap/stempel yang ditemukan pada jenazah Teungku Chi' Maye't syahid 5 September 1910
Tulisannya: Mahyiddin bin Syekh Muhammad Saman Tiro
(The seal with the inscription "Mahyiddin bin Syekh Muhammad Saman Tiro", found on the body or Teungku Chi' Maye't, who died on September 5, 1910)

Pada tahun 1911 masih terjadi perang di seluruh Aceh dan beberapa orang ulama syahid. Pada tanggal 21 Oktober 1911 Teungku Mohamad Akbar bin Aridin, pada September 1911 juga Teungku Alee Tu tue, Teungku Maruful Krus, Teungku Abdul Wahab Tanah Abe alias Teungku Di Cot Minyeu (29 September 1911). Teungku Saleh bin Mohamad Amin Di Tiro (3 Desember 1911). dan tanggal 3 Desember 1911 syahid Teungku Ma'at, putera terakhir dari Teungku Di Tiro. Kejadian ini dianggap oleh Belanda adalah akhir dari "garis Tiro" dan berakhirnya perang Pidie, sebab semua keluarga Tiro telah meninggal. Penilaian itu ternyata salah, bahkan perang terus berkecamuk dan meluas.



Cap/stempel ditemukan pada jenazah Teungku Ma'at, syahid 3 Desember 1911.
inkripsinya "Sahèh Syaikh Ma'at bin Muhammad Amin Tiro.
(Seal found on Teungku Ma'at body, who died on December 3, 1911, with the inscription: Sahèh Syaikh Ma'at bin Muhammad Amin Tiro)

Esoknya, tanggal 4 Desember 1911 dijadikan hari berduka karena meninggalnya Teungku Ma'at sebagai generasi terakhir dari Teugnku Chik Muhammad Saman di Tiro. Setahun sebelumnya pahlawan-pahlawan perang dari keluarga Tiro juga ikut syahid. Oleh tanggal inilah Hasan Tiro mendeklarasikan gerakannya sebagaimana disebutkan dalam bukunya "The Price of Freedom" (h. 15).

Namun demikian,  perjuangan dan perlawanan Belanda tetap berkecamuk, pada tahun yang sama kepemimpinan perang dipimpin oleh setiap panglima di negeri masing-masing, Aceh Besar kepada Pang Bintang, Pang Abaih dari Kulu (25 Mukim) dan Pang Mat dari Pijeueng dari 22 Mukim. Bahkan perang meluas hingga ke Gayo, Rojo Kahar, Lahidin, Teungku Muda Pendeng dan Pang Manaf di Gayo adalah bagian pemimpin dan pejuang yang syahid di Gayo (1914). (Said, 461).

Meriam Aceh di Museum Bronbeek Arnhem Belanda, Latar belakang foto Jendral Belanda "Si Mata Satu"

Perjuangan di Tiro adalah bagian kecil dari peperangan dan perjuangan besar Aceh. Jika melihat kalkulasi korban selama perang Aceh yang disebut Said, maka masih banyak bagian-bagian Aceh yang belum terekam. Menurut data jumlah yang mati dalam perang menurut catatan  resmi Belanda  selama agresi di Aceh dari tahun 1873 s/d 1914.
  • >> Tewas sebanyak 1216 orang
  • >> Luka-luka 13011 di antaranya meninggal kemudian 793 sehingga yang tewas berjumlah 2009.
  • >> Jumlah serdadu Belanda sakit karena tugas antara 1873 s/d 1880 menurut Kielstra 6898, menurut Kruisheer yang sakit antara 1893 s/d 1896 = 818 orang. 
  • >> Untuk 10 tahun 7716. Yang meninggal akibat sakit antara 1873 sampai dengan 1914 = 10.000 orang. 
  • >> Jumlah orang hukuman yang tewas sampai dengan 1881 saja sekitar  8250. Menurut Sid bahwa orang-orang yang terkena hukuman turut dijadikan umpan perang dan "pion" terdepan.

Bila dikalkulasikan kerugian Belanda dari tahun 1873 s/d 1914 sebanyak 2009 orang tewas, 10.500 orang meninggal karena sakit, 25.000 orang karena hukuman. Dengan sendirinya angka tewas di pihak Belanda tanpa memasukkan orang-orang yang terkena hukuman 2009 + 10.500 = 12.509.

Sedangakn merujuk pada catatan resmi Belanda mengenai syahidnya para pejuang Aceh dalam masa:
  • >> Tahun 1873 s/d 1880 sebanyak 30.000 orang. 
  • >> Tahun 1899 s/d 1914 berjumlah 23.198 orang. 
  • >> Total keseluruhan yang syahid berjumlah  53.198 orang. 
Kalau dihimpun dengan masa 17 tahun, antara 1881 s/d 1898 menjadi semua dalam waktu yang sama seperti diatas berkisar antara 70.000 orang. Taksiran Encyclopedia van Ned. Indie menurut Paul van 't Veer jiwa penduduk Aceh ditahun 1890 sebanyak 500.000 orang, atas dasar angka kematian 50.000 orang, maka dapat dicatat setiap 10 orang tewas orang Aceh 10%. Menurut Said,  angka kematian itu sangat dilebih-lebihkan oleh pihak Belanda, tapi dapat dicatat bahwa semua rakyat Aceh telah mengambil bagian aktif berjuang. (h. 462)

Maka, jika merujuk kembali pada kerugian ril dan materil, Aceh mengalami banyak kerugian, walaupun tetap mampu bertahan, dan tidak seperti wilayah lainnya di Indonesia. Sepatutnya, survival masyarakat Aceh tersebut dijadikan momentum dan pembelajaran untuk ke depan, bertahan dalam beragam bencana yang terjadi, sebab ini semua bukan akhir dari perjuangan Aceh. []


Sumber:
Mohammad Said, Aceh Sepanjang Abad II. Diterbitkan oleh: PT. Harian Waspada Medan, dicetak oleh: PT. Percetakan Prakarsa Abadi Press. Tp. h. 462
Tim. Perang Kolonial Belanda di Aceh, Bandung: PT. Harapan Offset, 1977.
Hasan Tiro, The Price of Freedom: the Unfinished Diary of Tengku Hasan di Tiro. Published by National Liberation Front of Acheh Sumatra, 1984.
Post a Comment

Hermankhan Google+ Followers

Copyright © 2015 Herman Khan | Portal Manuskrip Aceh dan Malay | Distributed By Blogger Template | Designed By Blogger Templates
Scroll To Top